Sabtu, 31 Januari 2009

embak dewi

Mbak Dewi

Ini adalah cerita tentang masa laluku, Namaku Willy, ketika itu aku berusia 21 tahunan, kala itu aku bekerja di salah satu perusahaan swasta. Aku datang dari sebuah kota di Jawa Barat. Karena saudara-saudaraku jauh dari tempat kerjaku, terpaksa aku harus mencari tempat kost yg dekat dengan kerjaanku.
Singkat cerita, aku dapat tempat kost di wilayah kwitang, jakarta pusat. Lumayan gak bagus tapi bisa nyenyak tidur, murah lagi bayarannya, cuma ya kamar mandinya masih bareng-bareng dengan warga sekitar. Kebetulan yg punya kost adalah orangtuanya temen kerjaku.
Tak terasa enam bulan sudah aku kost, makin banyak kenal juga aku dengan penduduk sekitar. Tapi herannya kenapa aku susah kenalnya dengan tetangga yang persis di samping tempat kostku. Kalo ketemu sih saling sapa cuma gak pernah ngobrol, dia adalah istri seorang pegawai Departemen Kehakiman, kalo dengan suaminya sih akrab, malah suka ngongkrong bareng ketika santai, sedangkan istrinya yang berwajah ayu yg kebetulah kelahiran daerah Jawa Tengah tidak begitu akrab, padahal kalo berpapasan….uhhhhh pandangannya itu menjadi tanda tanya bagi insting nakalku….tembus kedalam hati.
Si istri tersebut bernama Dewi, aku memanggilnya Mbak Dewi, kegiatan sehari-harinya adalah mengelola salon kecantikan yang tak jah lokasinya dari tempat kostku. Hampir setiap berpapasan tatapan matanya tak pernah lepas dari pandanganku sampai aku malu sendiri dan kalah pandangan. Dia selalu memandang dengan senyumnya yang manis. Kebetulan memang orangnya hitam manis.
Suatu ketika aku pulang larut dari kerjaan, sekitar jam 22.30, aku selalu melewati derah kamar mandi menuju ke kamar kost ku….tersentak hatiku melihat sosok wanita jongkok sedang cebok..krecek krecek…krecek bunyi airnya kala itu. Dia tak memperhatikan suasana sekitar dan tak tahu aku sedang mengamatinnya sambil pura-pura membetulkan tali sepatu……….dia langsung bangun dan membetulkan celana dalamnya setelah cebok. Deg deg deg jantungku berdebar melihat bokongnya yang mulus.
“Eh..ada orang…kirain sepi:, kaget dia ketika melihatku…berada sekitar dua meter darinya. Eh emmmba agak gugup aku, tali sepatuku lepas mbak…aku kira juga gak ada orang, kataku sambil menyeringai agak malu.
Hmmmm, betulin sepatu apa hmmmmm, katanya kepadaku. Semakin malu aku dibuatnya..”willy, kamu liatin mbak yah tadi”, katanya dengan pelan. Eng..engga mbak, mang mbak lagi ngapain, jawabku. “yang beneerrrrrrrrr”, serunya lagi. Hmmmm dikit mbak heheheh kataku sambil ketawa kecil. Tak sadar penisku sdah tegang, sehingga celana bagian depan menyembul.
“Dasar kamu tuh yah”, katanya lagi sambil mencubit tanganku dan langsung masuk ke rumahnya.
Setelah kejadian itu, malamnya aku gak bisa tidur membayangkan bercita dengan Mbak Dewi. Tak tahan aku, akhirnya melakukan onani sambil membayang kan apa yang baru aku lihat beberapa jam yang lalu.
***
Semakin hari semakin terbayang wajah Mbak Dewi, tak tahan rasanya ingin menyentu mbak Dewi. Ketika malam tiba aku nongkrong di depan kamar kostku, berharap bertemu mbak Dewi, sejam dua jam hingga 9 malam kala itu, terlihat mbak Dewi turun dari taxi, berdebar rasa jantungku, memikirkan rencana bagai mana caranya berdekatan dengannya.
Hampir sampai dia ke dekatku,aku berdiri pura pura mau jalan ke arahnya….seperti biasa tatapan dan senyumnya yang menggoda menembus hatiku..”dari mana mbak, kok malam pulangnya” tanyaku. Abis belanja cat rambur, kebetulan jalannya macet jadi kemalaman deh, jawabnya sambil tersenyum. Sambil berpapasan kuberanikan diri tuk menempelnya agak bertubrukan, …nyelllll terasa ada benda yg kenyal menyentuh sikutku…detik itu juga kemaluanku tegang. “Mmmaaf mbak gak sengaja”, kataku….”hehehehhehe kamu tuh bisa aja, ga apa apa kok wil, gak sengaja kan”, jawabnya sambil tersenyum dan melanjutkan perjalanan ke rumahnya.
Ampuuuuuuuuuuuuun, makin bingun aku dengan sikap mbak Dewi, seolah olah meberi lampu hijau kepadaku. Semakin gila imajinasiku terhadap mbak Dewi. Semakin hari semakin senewen.
Akhirnya pada suatu hari aku mempunya ide tuk bertemu langsung dengannya, dengan cara mendatangi salonnya, dengan alasan memotong rambut. Hari itu aku tidak kerja, demi menjalankan misiku yang penuh gairah. Kudatangi salon mbak Dewi sekitar jam 11 siang. Kebetulan dia bekerja sendiri tanpa asisten.
“Siang mbak”, salamku terhadapnya. :Siang, eh willy ada apa, tumben kesini”, jawabnya. Mau potong rambut mbak, dan panjang neh biar rapih aja. oooo, boleh tunggu yah, kata mbak Dewi.
Hari itu dia memakan rok hitam dan kaos putih bak orang training, senyum dan pandangannya tidak berubah tetap menggoda hatiku. “ayo wil katanya mau potong rambut” tanya nya. Iya mbak, langsung aku duduk di kursi, dan mbak dewi siap memotong rambutku. Tak karuan rasa hatiku ketika mbak Dewi mulai memotong rambutku. Berkeringat tubuhku, “kenapa wil, gerah”, tanyanya. Nggak Mbak Dewi, nggak gerah kok, jawabku. “Nah itu berkeringat” tanya nya lagi sambil tersenyum.
“Mmmmm, aku berkeringat karena dekat dengan mbak Dewi “, upsss kelepasan aku ngomong….”hihihihihi mbak Dewi ketawa geli, kenapa kok deket saya jadi gerah emangnya saya kompor” katanya lagi.
Tak tahan dengan hasrat ku, kulepaskan penutuh tubuhku yang dijadikan alas rambut. Kutarik mbak Dewi ke bagian belakang…sini dulu bentar mbak…wilyyyy, ada apa sih, kata mbak Dewi tapi tetap menuruti ajakanku.
Setibanya di belakang, langsung kupeluk dia dengan erat, ohh mbak ini yg akuharapkan dari mbak, “wil, apa-apan sih kamu nanti takut ada tamu nih” gumam mbak dewi. Tpi tak kulepaskan pelukanku, semakin ganas diriku, ku pegang bokongnya yang membuat aku tergila-gila setelah dia pipis dulu. Dia sedikit berontak dan malah terjatuh ke dipan tempat creambath, dan posisi kami sekarang berubah. Dia berada dibawahku sementara aku menindih. Kusingkabkan rok hitamnya dan oohhhh terlihat sembulan indah yang terhalang celana dalam tipis warna putih.
Semakin jalang saja aku sambil menindih tangan kananku menyelinak ke celana dalamnya. ku elus-elus kemaluannya….hmmm mulai basah..”willllll kamu nih, pintunya belum ditutup biar aku tutup dulu pintunya” gumamnya dengan wajah yg mulai memerah. Takut itu hanya alasan akhirnya aku bilang, biar aku yg tutup pintunya, kalo mbak yg tutup nanti malah pergi mbak. sebelum pergi menutup pintu, kupelorotkan dulu celana dalamnya….oooohhh indahnya pemandangan kali ini, bulu vaginanya tipis. Langsung aku bergegas menutup pintu yg hanya berjarak tiga meter dari belakang.
Dengan penuh nafsu aku bergegas menuju belakang, alangkah kagetnya aku melihat mbak Dewi tidak ada di tempat Creambath…..langsung aku sibak gorden penghalang dekat kamar mandi belakang. Oh my god, leboh kaget lagi mbak dewi ternyata malah sudah telanjang bulat sambil tersenyum padaku…..langsung saja aku menyergapya, ooww putingnya sudah berdiri dan langsung saja aku menghisapnya, ohhhhohhhh, mbak dewi menggelinjang, tak kuhiraukan, bibirku menghisap terus putingnya yg mencuat, sementara tangan kiriku meremas-remas payudara kirinya. Tangan kananku tak mau kalah…bergerilya di sekitar kemaluannya yg sudah basah.
Begitu juga mbak Dewi, di tak mau kalah, tangannya memegang kemaluanku dengan penuh perasaan…..15 menit kamu melakukan pemanasan. “Mbak, aku mau masukin yah” pintaku dengan penuh nafsu..mbak dewi hanya mengangguk. Kutuntun mbak dewi ke tempat creambath, kucelentangkan dia…oohhh vaginanya mengangga, tanpa basa basi langsung saja kumasukan kemaluanku…blesssssssssssssssssssss, mbak dewi sedikit tersentak sambil menyeringai….bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess ooohhh bleess bleess bleess kukeluar masukan penisku dalam vagina mbak dewi……..ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh willllll, mbak dewi baru terdengan suara kerasnya…..ssssssssst jangan terlalu keras nanti kedengaran yg lain, kataku. Kulanjutkan pergerakan ku, kulipat kaki mbak dewi keatas sehingga kemaluannya menyempit kugoyang kemaluanku dengan penuh rasa….srep srep srep srep sreppppp kutahan dan ku putar kemaluanku dalam vaginanya…mbaaaaaaaaaaaaakkk aku…oooohhhh cretttttttttt cretttttt crettttttttt ooohhh mbak dewi memeluku dengan erah oooooohh dia juga berteriak, ternyata dia juga merasakan ejakulasi. ooooh tubuh akmi berdua penuh keringat. ku kecup bibir mbak dewi….”terima kasih mbak” kataku/….sama-sama will harusnya mbak yg terima kasih….”loh kok”, tanyaku bingung. Gini will, aku gak pernah dapet kepuasan dari suamiku, selain dia ejakulasi dini, penisnya itu loh, kuecil kealingan perutnya yg gendut. Makanya aku terimakasih sama kamu karena sudah setahun mbak gak ejakulasi dari making love. Cuppppppppph katanya sambil mengecup bibirku.
Berarti lain kali bisa lagi dong mbak hehehehe….pintaku…”terserah kamu will”, mbak jadi suka ma kamu, lalu kami berpelukan lagi dengan erat… dah dulu yah will, takut ada tamu…katanya.
Aku langsung mengenakan pakaian dan mengelap keringat, setelah itu aku langsung pulang ke kost an dengan hati yang riang atas keberhasilanku. Hampir gak percaya semua itu akan terjadi dan ternyata memang mbak Dewi membutuhkanku.

Bersetubuh Dengan Ibu Kandung

Hallo semua, namaku Boby, aku akan menceritakan pengalaman seks-ku yang luar biasa yang pernah kurasakan dan kualami. Sekarang aku kuliah di salah satu PTS terkenal di kedah, dan tinggal di rumah di kawasan elite di keah utara dengan ibu, adik dan pembatuku. Sejak mula lagi aku dan adikku tinggal bersama nenekku di kedah, sementara ibu dan ayahku tinggal di KL karena memang ayah mempunyai perusahaan besar di wilayah Persekutuan, dan sejak nenek meninggal ibu kemudian tinggal lagi bersama kami, sedangkan ayah hanya pulang sebulan atau dua bulan sekali seperti biasanya sebelum nenekku meninggal. Sebenarnya kami diajak ibu dan ayahku untuk tinggal di KL, namun adik dan aku tidak mau meninggalkan Kedah karena kami sangat suka tinggal di tempat kami lahir.
Saat itu aku baru lulus SPM dan sedang menunggu pengumuman hasil periksaan di Kedah, dan karena sehari-hari tidak ada kerjaan, ibu yang saat itu sudah tinggal bersama kami, meminta aku untuk selalu menjemputnya dari tempat aerobik dan senam setiap malam. Ibuku memang pandai sekali menjaga tubuhnya dengan senamerobik dan renang, sehingga walaupun usianya hampir 39 tahun, ibuku masih terlihat seperti wanita 27 tahunan dengan tubuh yang indah dengan kulit putih mulus dan dada yang masih terlihat padat dan berisi walaupun di wajahnya sudah terlihat sedikit kerutan, tetapi akan hilang bila ibu berdandan hingga kemudian terlihat seperti wanita 27 tahunan. Aku mulai memperhatikan ibuku karena setiap aku jemput dari tempat senamnya ibuku tidak mengganti pakaian senamnya dulu setelah selesai dan langsung pulang bersamaku, dan baru mandi dan berganti pakaian setelah kami sampai di rumah. Karena setiap hari melihat ibuku dengan dandanan seksinya, otak ku mulai membayangkan hal-hal aneh tentang tubuh ibuku. Bagaimana tidak, aku melihat ibuku yang selalu memakai pakaian senam ketat dengan payudara yang indah menonjol dan pantat yang masih padat berisi.
Suatu hari, saat aku telat menjemput ibuku di tempat senamnya, aku tidak menemukan ibuku di tempat biasanya dia senam, dan setelah aku tanyakan kepada teman ibuku, dia bilang ibuku sedang di sauna dan bilang agar aku menunggu di tempat sauna yang tidak jauh dari ruangan senam. Aku pun beegegas menuju ruangan sauna karana aku tidak mau ibuku menunggu terlalu lama. Saat sampai di sana, wow... aku melihat ibuku baru keluar dari ruangan hanya dengan memakai handuk yang hanya menutupi sedikit tubuhnya dengan melilitkan handuk yang menutupi dada perut dan sedkit pahanya, sehingga paha ibu yang mulus dan seksi itu terlihat dengan jelas olehku. Aku hanya terdiam dan menelan ludah saat ibuku menghanmpiriku dan bilang agar aku menunggu sebentar. Kemudian ibuku membalikkan tubuhnya dan kemudian terlihatlah goyangan pinggul ibuku saat dia berjalan menuju ruangan ganti pakaian. Tanpa sadar krmaluanku mengeras saat kejadian tadi berlangsung. Aku berani bertaruh pasti semua laki-laki akan terpesona dan terangsang saat melihat ibuku dengan hanya memakai tuala yang dililitkan di tubuhnya.
Di dalam perjalanan, aku hanya diam dan sesekali melirik ibuku yang duduk di sampingku, dan aku melihat dengan jelas goyangan payudara ibuku saat mobil bergetar bila sedang melalui jalan yang bergelombang atau polisi tidur. Ibuku berpakaian biasa dengan jeans yang agak ketat dan seluar panjang ketat, dan setiap aku melirik ke paha ibu terbayang lagi saat aku melihat paha ibuku yang putih mulus tadi di tempat mandi. "Bob... kenapa kamu diem aja, dan kenapa seluar kamu sayang?" tanya ibuku mengejiutkan aku yang agak melamun membayangkan tubuh ibuku. "tiada apa," jawabku gugup. Kami pun sampai di rumah agak malam karena aku telat menjemput ibuku. Sesampainya di rumah, ibu langsung masuk ke kamarnya dan sebelum dia masuk ke kamarnya, ibu mencium pipiku dan bilang selamat malam. Kemudian dia masuk ke kamarnya dan tidur.
Malam itu aku tidak bisa tidur membayangkan tubuh ibuku, gila pikirku dalam hati dia ibuku, tapi... akh.. masa bodoh pikirku lagi. Aku mencoba onani untuk "menidurkan burung"-ku yang berontak minta masuk ke sarang nya. Gila pikirku lagi. Mau mencari ewek malam boleh saja, tapi saat itu aku menginginkan ibuku. Perlahan-lahan aku keluar kamar dan berjalan menuju kamar ibuku di lantai bawah. Adik perempuanku dan pembantuku sudah tidur, karena saat itu jam satu malam. Otakku sudah mengatakan aku harus merasakan tubuh ibuku, nafsuku sudah puncak saat aku berdiri di depan pintu kamar ibuku. Kuputar kenop pintu nya, aku melihat ibuku tidur terlentang sangat menantang. Ibuku tidur hanya menggunakan tuala dan underware yang longgar. Aku berjalan mendekati ibuku yang tidur nyenyak, aku diam sesaat di sebelah ranjangnya dan memperhatikan ibuku yang tidur dengan posisi menantang. Kemaluanku sudah sangat keras dan meronta ingin keluar dari celana pendek yang kupakai.
Dengan gemetar aku naik ke ranjang ibu, dan mencoba membelai paha ibuku yang putih mulus dan sangat seksi, dengan tangan bergetar aku membelai dan menelusuri paha ibuku dan terus naik ke atas. Kemaluanku sudah sangat keras dan terasa sakit karena batang kemaluanku terjepit oleh spendaku. Aku kemudian membuka spendaku dan keluarlah "burung perkasa"-ku yang sudah sangat keras. Aku kemudian mencoba mencium leher dan bibir ibuku. Aku mencoba meremas payudara ibuku yang besar dan montok, aku rememas payudara ibu dengan perlahan. Takut kalau ia bangun, tapi karena nafsuku sudah puncak aku tidak mengontrol remasan tanganku ke payudara ibuku. Aku kemudian mengocok batang kemaluanku sambil meremas payudara ibu, dan karena remasanku yang terlalu bernafsu ibu terbangun, "Bobi... kamu... apa yang kamu lakukan, aku ibumu sayang..." sahut ibuku dengan suara pelan aku kaget setengah mati, tapi anehnya batang kemaluan masih keras dan tidak lemas. Aku takut dan malah makin nekat, terlanjur pikirku, aku langsung mencium leher ibuku dengan bernafsu sambil terus meremas payudara ibuku. Dalam pikiranku hanya ada dua kemungkinan, menyetubuhi ibuku kemudian aku kabur atau dia membunuhku. "Cukup Bobi.. hentikan sayang... akh..." kata ibuku. Tapi yang membuatku aneh ibu tidak sama sekali menolak dan berontak. Malah ibu membiarkan bibirnya kucium dengan bebas dan malah mendesah saat kuhisap leher dan di belakang telinganya, dan aku merasa burungku yang dari tadi sudah keras seperti ada yang menekannya, dan ternyata itu adalah paha ibuku yang mulus.
"Sayang kalau kamu mau...cakap aja terus terang.. Mami boleh kasi..." kata ibuku di antara desahannya. Aku terkejut setengah mati, berarti ibuku sangat suka aku perlakukan seperti ini. Aku kemudian melepaskan ciumanku di lehernya dan kemudian berlutut di sebelah ibuku yang masih berbaring. Batang kemaluanku sudah sangat keras dan ternyata ibu sangat suka dengan ukuran batang kemaluanku, ibu tersenyum bangga melihat batang kemaluanku yang sudah maksimal kerasnya. Ukuran batang kemaluanku 15 cm dengan diameter kira-kira 4 cm. Aku masih dengan gemas meremas payudara ibu yang montok dan masih terasa padat. Aku membuka tuala yang ibu pakai dan kemudian sambil meremas payudara ibu aku berusaha membuka bra yang ibu pakai, dan satelah bra yang ibuku kenakan terlepas, kulihat payudara ibu yang besar dan masih kencang untuk wanita seumurnya. Dengan ganas kuremas payudara ibu, sedangkan ibu hanya mendesah keenakan dan menjerit kecil saat kugigit kecil puting payudara ibu. Kuhisap puting payudara ibu dengan kuat seperti ketika aku masih bayi. Aku menghisap payudara ibu sambil kuremas-remas hingga puting payudara ibu agak memerah karena kuhisap.
Payudara ibuku masih sangat enak untuk diremas karena ukurannya yang besar dan masih kencang dan padat. "Bob kamu dulu juga ngisep susu ibu juga kaya gini..." kata ibuku sambil dia merem-melek karena keenakan puting susunya kuhisap dan memainkannya dengan lidahku. Ibu menaikkan pinggulnya saat kutarik celana pendeknya. Aku melihat seluar dalam yang ibu kenakan sudah basah. Aku kemudian mencium seluar dalam ibuku tepat di atas kemaluan ibu dan meremasnya. Dengan cepat kutarik seluar dalam ibu dan melemparkannya ke sisi ranjang, dan terlihatlah olehku pemandangan yang sangat indah. Lubang kemaluan ibuku ditumbuhi bulu halus yang tidak terlalu lebat, hingga garis lubang kemaluan ibuku terlihat. Kubuka paha ibuku lebar, aku tidak kuasa melihat pemandangan indah itu dan dengan naluri laki-laki kucium dan kuhisap lubang dimana aku lahir 18 tahun lalu. Kujilat kliteris ibuku yang membuat ibuku bergetar dan mendesah dengan kuat. Lidahku bermain di lubang senggama ibuku, dan ibuku malah menekan kepalaku dengan tangannya agar aku makin tenggelam di dalam selangkangannya.
Cairan lubang kemaluan ibu kuhisap dan kujilat yang membuat ibuku makin tak tahan dengan perlakuanku, dia mengelinjang hebat, bergetar dan kemudian mengejang sambil menengadah dan berteriak. Aku merasakan ada cairan kental yang keluar dari dalam lubang kemaluan ibu, dan aku tahu ibu baru orgasme. Kuhisap semua cairan lubang kemaluan ibuku hingga kering. Ibu terlihat sangat lelah. Aku kemudian bangun dan dengan suara pelan karena kelelahan ibu bilang, "Sayang sini Mami isep kontolmu," dan tanpa di komando dua kali aku kemudian duduk di sebalah wajah ibuku, dan kemudian dengan perlahan mulut ibuku mendekat ke burungku yang sudah sangat keras. Ibuku membelai batang kemaluanku tapi dia tidak memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya. Padahal jarak antara mulut ibuku dengan batang kemaluanku hanya tinggal beberapa centi saja. Aku sudah tidak tahan lagi dan kemudian kudorong kepala ibuku dan dengan leluasa batang kemaluanku masuk ke mulut ibu. dengan cepat dan liar ibuku mengocok batang kemaluanku di dalam mulutnya. Aku sudah tidak tahan lagi, kenikmatan yang kurasakan sangat luar biasa dan tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata, dan akhirnya aku sudah tidak tahan lagi dan... "Cret.. cret.. crett.." maniku kusemprotlkan di dalam mulut ibuku.
Ibu kemudian memuntahkannya dan hanya yang sedikiti dia telan, dan masih dengan liar ibuku membersihkan batang kemaluanku dari sisa-sisa air maniku yang menetes di batang kejantananku. Ibuku tersenyum dan kemudian kembali berbaring sambil membuka pahanya lebar-lebar. Ibuku tersenyum saat melihat batang kemaluanku yang masih dengan gagahnya berdiri, dan seperti sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam sarangnya yang hangat. Aku kemudian mengambil posisi di antara kedua paha ibuku, batang kemaluanku terasa berdenyut saat ibu dengan lembut membelai dan meremas batang kemaluanku yang sudah sangat keras. Dengan tangan yang bergetar kuusap permukaan lubang kemaluan ibuku yang dipenuhi bulu-bulu halus dan sisa cairan lubang kemaluan yang kuhisap tadi masih membasahi bibir lubang kemaluan ibuku yang terlihat sangat hangat dan menantang. "Ayo dong Sayang, kamu kan tahu dimana tempatnya..." kata ibuku pasrah, kemudian tangannya menuntun batang kemaluanku untuk masuk ke dalam lubang kemaluannya. Tanganku bergetar dan batang kemaluanku terasa makin berdenyut saat kepala batang kemaluanku menyentuh bibir lubang kemaluan ibu yang sudah basah, dan dengan perasaan yang campur aduk, kudorong pinggulku ke depan dan masuklah batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan ibu yang sudah agak membuka, dan tenggelam sudah batang kemaluanku ke dalam liang senggama milik ibuku.
Aku merasakan sensasi yang sangat dasyat saat dinding lubang kemaluan ibu seperti memijat batang kemaluanku, gila meski aku pernah setubuh dengan anak ABG, lubang kemaluan ibuku terasa sangat nikmat dan luar biasa di banding dengan yang lainnya. Aku menggoyang pinggulku naik-turun diimbangi dengan goyangan pinggul ibuku yang sangat dasyat dan liar. Kami kemudian berganti posisi dengan ibu berada di atasku hingga ia dapat menduduki batang kemaluanku, dan terasa sekali kenikmatan yang ibu berikan kepadaku. Goyangan yang cepat dan liar dan gerakan tubuh yang naik turun membuat tubuhku hanyut ke dalam kenikmatan seks yang kurasakan sangat dasyat. Tibalah saat ibuku orgasme, goyangannya makin cepat dan desahannya semakin tidak karuan, aku dengan nikmat merasakannya sambil kuhisap dan meremas pauyudara ibu yang bergoyang seirama dengan naik-turunnya tubuh ibuku menghabisi aku. Ibu mengerang dan mengejang saat kurasakan ada cairan hangat yang membasahi batang kejantananku yang masih tertanam di dalam lubang kemaluan ibuku.
Beberapa saat setelah ibu terkulai lemas aku merasakan bahwa aku akan mencapai puncak, dan dengan goyangan dan tusukan yang menghujam lubang kemaluan ibuku, "Cret... crett.. cret..." air maniku menghambur di dalam lubang kemaluan ibuku. Aku merasakan nikmat yang tidak dapat kukatakan. Saat aku masih menikmati sisa-sisa kemikmatan itu, ibu mencium bibirku dan berkata, " kamu orgasme biar di mulut Mami aja.. tapi Mami sedap..." Aku hanya terdiam dan malah mencium bibir ibuku yang masih menindih tubuhku dengan mesra. Kemudian ibuku berbaring di sampingku, aku memeluk dia dan kami berciuman dengan mesra seperti sepasang kekasih. Kami pun tertidur karena pertempuran yang sangat melelahkan itu.
Pagi harinya saat aku bangun ibuku sudah tidak ada di sebelahku, dan kemudian aku berpakaian dan menuju dapur mencari ibuku, dan kulihat ibuku tengah menyiapkan sarapan bersama adikku yang masih Sekolah. Aku bingung dan segan karena ibuku seakan-akan malam tadi tidak terjadi apa-apa di antara kami, padahal aku telah menyetubuhi ibu kandungku sendiri tadi malam. Seperti biasanya, aku menjemput ibuku dari tempat dia senam, dan saat perjalanan pulang kami berbual tentang persetubuhan kami tadi malam dan kami berjanji hanya kami yang mengetahui kajadian itu. Tiba-tiba saat kereta kami sedang berada di jalan yang sepi dan agak gelap, ibuku menyuruhku menghentikan mobil, aku menurut saja. Setelah mobil di pinggirkan, dengan ganas ibuku mengulum koteku. Kemudian membuka seluarku dan menghisap batang kemaluanku yang sudah keras saat ibuku mengulum bibirku tadi. Aku hanya terengah-engah merasakan batang kemaluanku dihisap oleh ibuku sambil mengocoknya, dan beberapa saat kemudian... "Cret.. cret.. crett.." maniku menyembur di dalam mulut ibuku dan dia menelan habis maniku walaupun ada sedikit yang meleler keluar. Ibuku kemudian membersihkan sisa maniku yang menetes di tangannya dan batang kemaluannku. Tak kusangka ibuku kembali menelan calon-calon cucunya ke dalam perutnya. Tapi aku sih asyik-asyik saja ibuku mau menghisap batang kemaluanku saat kami masih di dalam kereta.
Kami berciuman dan melanjutkan perjalana pulang dan kemudian tidur seranjang dan "bermain" lagi. Kami berdua terus melakukannya tanpa sepengetahuan orang lain. Sejak persetubuhan kami yang pertama, sebulan kemudian ibuku merasa dia hamil, dan ibu bilang bahwa sebelum bersetubuh denganku, ibu sudah lebih dari 3 bulan tidak bersetubuh dengan ayahku, karena memang ayahku terlalu sibuk dengan perusahaan, dan hotel-hotelnya. Ibuku cakap ibu hamil olehku karena selain dengan ayahku dan aku, ibu belum pernah perhubungan seks dengan lelaki lain. Ibu menggugurkan kandungannya karena dia tidak mau punya bayi dari aku. dan hingga sekarang...

Maafkan Saya Tante

Nama saya Doni, saya siswa kelas 3 SMP di bilangan Menteng, saya mau menceritakan pengalaman seks saya dengan tante saya. Saya memiliki tante yang bernama Nina (bukan nama sebenarnya). Ia adalah WNI keturunan, begitu pula saya. Tante Nina telah mempunyai dua anak (9 dan 11 tahun). Walaupun ia telah mempunyai anak, tubuhnya masih seperti mahasiswi. Kulitnya putih mulus, beratnya sekitar 50 kg, tampangnya seperti Vivian Chow.
Hari Minggu kemarin, saya pergi ke rumah kakek saya. Sebagai informasi, Tante Nina masih tinggal bersama dengan kakek dan nenek saya di Jakarta Timur. Saya dititipkan di rumah kakek saya soalnya orang tua saya ingin menghadiri pesta perkawinan bersama kakek dan nenek saya. Kebetulan Tante Nina sedang ada di rumah. Suaminya (adiknya Papa saya) sedang pergi ke Bandung.
Singkat cerita, saya pergi ke kamar mandi Tante Nina (soalnya yang paling dekat dengan tempat saya duduk). Begitu saya mau pipis, saya melihat vibrator di pinggir bath tub. Nampaknya vibrator tersebut habis digunakan. Soalnya masih tercium jelas bau vagina dari vibrator tersebut. Setelah keluar dari kamar mandi, saya dipanggil tante saya ke kamarnya. Sesampainya saya di kamarnya, ia meminta saya untuk mengambilkan tasnya di tempat yang tinggi. Saat itu Tante Nina sedang memakai T-shirt tanpa lengan berwarna putih. Dengan begitu, saya dapat melihat sedikit payudaranya. Dengan keadaan seperti itu, saya langsung terangsang. Saya tidak dapat menahan nafsu saya lagi, saya segera menutup pintu dan menguncinya. Saya menghampiri tante saya dan menjatuhkannya ke ranjang. Saya segera menyergap tante saya yang terkulai di tempat tidur. Tante Nina terus menerus berteriak, tapi nampaknya tidak ada yang mendengar, soalnya rumahnya kakek saya termasuk besar (1500 m2). Saya segera mengikat tangan Tante Nina ke kepala ranjang. Saya mulai menciumi wajahnya yang halus, lalu lehernya dan terus turun sampai ke dadanya. Saya segera melucuti T-shirtnya (walaupun sedikit susah, karena kakinya menendang-nendang). Akhirnya semua bajunya berhasil saya lucuti. Sehingga tidak ada seutas benang pun yang masih menempel di badannya. Lalu saya segera masukkan jari saya ke vaginanya. Sekitar 5 menit kemudian, Tante Nina mulai tenang dan mulai menikmati permainan jari saya di vaginanya.
Ia mendesah “Sshh.. sshh.. Ssshh.. Sshh. Masukin penis kamu dong Don, tante sudah kagak tahan.” Mendengar perkataan tante saya, saya segera membuka celana saya dan memasukkan penis saya ke liang vaginanya “Blless”. Amblas sudah penis saya ke dalam vaginanya. Lubang vaginanya masih tergolong sempit bagi wanita yang sudah tidak perawan lagi. Saya mulai memaju mundurkan penis saya. “Ennaak.. Don.. terus masukin, teriak tante saya. Setelah 10 menit kemudian tubuh tante saya mengejang dan “Aahh.. aahh.. aahh.” Nampaknya tante saya sudah orgasme. “Tunggu sebentar lagi tante, saya sedikit lagi juga mau keluar”, sahut saya. Saya percepat laju penis saya sambil meremas-remas payudaranya yang kenyal. Akhirnya “Aahh.. aakhh”, sperma saya muncrat di dalam vagina Tante Nina. Lalu saya segera tarik penis saya dan meminta tante saya untuk membersihkannya. Ia pun segera menjilatinya sampai bersih. Kami terkulai lemas di atas ranjang. Lalu saya melepaskan ikatan Tante Nina. Tante Nina hanya tersenyum dan berkata “Lain kali kalau mau ngeseks sama tante bilang saja, nggak usah malu-malu.” “Jadi, tante nggak marah sama Doni?” sambung saya. “Enggak tante kagak marah, cuman tadi rada kaget and nerveous, soalnya tante sudah lama kagak ngerasain ngeseks yang kayak begini nikmat. Habis om kamu itu cepet keluar, jadi tante terpaksa harus mastrubasi sendiri supaya puas.”
Akhirnya saya berdua dengan tante saya mandi bersama untuk membersihkan diri dan sempet main sekali lagi di kamar mandi. Lumayan khan pengalaman saya, sudah pernah mencoba vagina tante sendiri. Cerita di atas benar-benar terjadi. Nanti saya akan ceritakan lagi pengalaman seks saya dengan Tante Nina dan adiknya Tante Nina di apartmen kakek saya di Singapora.
TAMAT

Anakku Tersayang

Marlina, 35 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Penampilan Marlina sangat menarik. Sebagai wanita yang tinggal di kota besar, Bandung, cara berpakaiannya selalu sexy. Tidak sexy murahan tapi berkelas dan menarik. Dengan tubuh tinggi semampai, dada 36, dan kulit yang putih, walau sudah menikah dan punya anak yang sudah cukup dewasa, tapi masih banyak lelaki yang selalu menggodanya.
Anaknya yang paling besar, Jimmy, 16 tahun, seorang anak yang yang baik dan penurut pada orang tuanya. Anak kedua, Yenny, 14 tahun, seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Sedangkan suami Marlina, Herman, adalah seorang suami yang cukup baik dan perhatian pada keluarga. Bekerja sebagai seorang PNS di suatu instansi pemerintah.
Kehidupan sexual Marlina sebetulnya tidak ada masalah sama sekali dengan suaminya. Walau banyak lelaki yang menggoda, tak sedikitpun ada niat dia untuk mengkhianati Herman.
Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Marlina ketika suatu hari dia secara tidak sengaja melihat anak lelakinya, Jimmy, sedang berpakaian setelah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Marlina dengan jelas melihat Jimmy telanjang. Matanya tertuju pada kontol Jimmy yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.
Sejak saat itu Marlina pikirannya selalu teringat pada tubuh telanjang anak lelakinya itu. Bahkan seringkali Marlina memperhatikan Jimmy bila sedang makan, sedang duduk, atau sedang apapun bila ada kesempatan.
"Ada apa si Mam, kok liatin Jimmy terus?" tanya Jimmy ketika Marlina memperhatikannya di ruang tamu.
"Tidak ada apa-apa, Jim.. Hanya saja Mama jadi senang karena melihat kamu makin besar dan dewasa," ujar Marlina sambil tersenyum.
"Kamu sudah punya pacar, Jim?" tanya Marlina.
"Pacar resmi sih belum ada, tapi kalau sekedar teman jalan sih ada beberapa. Memangnya kenapa, Mam?" tanya Jimmy.
"Ah, tidak. Mama hanya pengen tahu saja," ujar Marlina.
"Kamu pernah kissing?" tanya Marlina.
"Ah, Mama.. Pertanyaannya bikin malu Jimmy ah..." ujar Jimmy sambil tersenyum.
"Yee.. Tidak apa-apa kok, Jim.. Jujur saja pada Mama. Mama juga pernah muda kok. Mama mengerti akan maunya anak muda kok..." ujar Marlina sambil menjewer pelan telinga Jimmy. Jimmy tertawa.
"Ya, Jimmy pernah ciuman dengan mereka," ujar jimmy.
"ML?" tanya Marlina lagi.
"ML apa sih artinya, Mam?" tanya Jimmy tidak mengerti.
"Making LOve.. Bersetubuh..." ujar Marlina sambil mempraktekkan ibu jarinya diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah.
"Wah kalau itu JImmy belum pernah, Mam.. Tidak berani. Takut hamil..." ujar Jimmy. Marlina tersenyum mendengarnya.
"Kenapa Mama tersenyum?" tanya Jimmy.
"Karena kamu masih sangat polos, sayang..." kata Marlina sambil mencubit pipi Jimmy, lalu bangkit untuk menyiapkan segala sesuatunya karena Herman akan segera pulang.
Malam harinya, Marlina, Jimmy, dan Yenny asyik menonton TV, sedangkan Herman sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.
"Ciuman rasanya gimana sih?" tanya Yenny ketika menyaksikan adegan ciuman di televisi.
"Ah, kamu.. Masih kecil! Tidak perlu tahu," ujar Jimmy sambil mengucek-ngucek rambut Yenny.
"Tidak boleh begitu, Jim.. Adikmu harus tahu tentang apapun yang dia tidak mengerti. Biar tidak salah langkah nantinya..." ujar Marlina sambil menatap Jimmy.
"Begini, Yen..." ujar Marlina.
"Ciuman itu tidak ada rasa apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Hanya saja, kalau kamu sudah besar nanti dan sudah merasakannya, yang terasa hanya perasaan nyaman dan makin sayang kepada pacar atau suami kamu..." ujar Marlina lagi.
"Ah, nggak ngerti..." ujar yenny.
"Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Sudah ngantuk..." ujar Yenny.
"Ya sudah, tidurlah sayang," ujar Marlina. Yenny kemudian bangkit dan segera menuju kamar tidurnya.
Ketika menyaksikan adegan ranjang di televisi, Marlina bertanya kepada Jimmy, "Apakah kamu sudah itu dengan pacarmu?".
"Jimmy belum punya pacar, Mam.. Mereka hanya sekedar teman saja," jawab Jimmy.
"Tapi kok kamu bisa ciuman dengan mereka?" tanya Marlina lagi sambil tersenyum.
"Ya namanya juga saling suka..." jawab Jimmy sambil tersenyum juga.
"Sudah sejauh mana kamu melakukan sesuatu dengan mereka?" tanya Marlina.
"Tidak apa-apa kok, Jim.. Bicara terbuka saja dengan Mama," ujarnya Marlina lagi. Jimmy menatap mata ibunya sambil tersenyum.
"Ya begitulah..." kata Jimmy.
"Ya begitulah apa?" tanya Marlina lagi.
"Ya begiutlah.. Ciuman, saling pegang, saling raba..." ujar Jimmy malu malu. Marlina tersenyum.
"Hanya itu?" tanya Marlina lagi.
Jimmy melirik ke arah ayahnya yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.
"Mama jangan bilang ke Papa ya?" ujar Jimmy.
Marlina tersenyum sambil mengangguk. Jimmy lalu beringsut mendekati Marlina.
"Jimmy pernah oral dengan beberapa teman wanita..." ujarnya sambil berbisik.
Marlina tersenyum sambil mencubit pipi Jimmy.
"Nakal juga ya kamu!" ujar Marlina sambil tersenyum.
"Rasanya bagaimana?" tanya Marlina sambil berbisik.
"Sangat enak, Mam..." ujar Jimmy.
"Tapi Jimmy dengar, katanya kalau punya Jimmy dimasukkan ke punya wanita rasanya lebih enak.. Benar tidak, Mam?" tanya Jimmy.
Marlina kembali tersenyum tapi tidak menjawab..
"Kamu mau tahu rasanya, Jim?" tanya Marlina sambil tetap tersenyum. Jimmy mengangguk.
"Sini ikut Mama..." ajak Marlina sambil bangkit lalu pergi ke ruang belakang. Jimmy mengikuti dari belakang.
Sesampai di ruang belakang, Marlina menarik tangan Jimmy agar mendekat.
"Ada apa sih, Mam?" tanya Jimmy.
"Karena kamu sudah dewasa, Mama anggap kamu sudah seharusnya tahu tentang hal tersebut," ujar Marlina dengan nafas agak memburu menahan gejolak yang selama ini terpendam terhadap anaknya tersebut.
"Ciumlah Mama sayang..." kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.
Jimmy diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Marlina terus melumat bibir anaknya itu sambil tanggannya masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy. Lalu dengan lembut diremas dan dikocoknya kontol anaknya. Karena tidak tahan merasakan rasa enak, Jimmy dengan segera membalas ciuman Marlina dengan hangat.
Sambil terus mengocok dan meremas kontol Jimmy, Marlina berkata, "Kamu ingin merasakan rasanya bersetubuh kan, sayang?".
"Iya, Mam..." ujar Jimmy dengan nafas memburu.
"Mama juga sama, Jim.. Mama ingin merasakan hal itu dengan kamu," ujar Marlina.
"Kapan, Ma?" tanya Jimmy sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur karena enak dikocok kontol oleh Marlina.
"Jangan sekarang ya, sayang..." ujar Marlina sambil melepaskan genggaman tangannya pada kontol Jimmy.
"Yang penting kamu harus tahu bahwa Mama sangat sayang kamu..." kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.
"Jimmy juga sangat sayang Mama," ujar Jimmy.
"Sekarang Mama harus tidur karena sudah malam. Nanti Papamu curiga..." ujar Marlina sambil meninggalkan Jimmy..Jimmy menarik nafas panjang menahan suatu rasa yang tak bisa diucapkan.. Tak lama Jimmy masuk ke kamar mandi.. Onani. Besok paginya, Herman sudah siap-siap pergi kerja sekalian mengantar Yenni ke sekolah karena masuk pagi. Sementara Jimmy masuk sekolah siang. Dia masih tidur di kamarnya.
Setelah Herman dan Yenni pergi, dengan segera Marlina mengetuk dan masuk ke kamar Jimmy. Jimmy masih tidur dengan hanya memakai celana Hawaii saja. Marlina tersenyum sambil duduk di sisi ranjang anaknya tersebut. Tangannya mengusap dada Jimmy. Dimainkannya puting susu Jimmy. Jimmy terbangun karena merasakan ada sesuatu yang membuat darahnya berdesir nikmat. Ketika matanya dibuka, terlihat mamanya sedang menatap dirinya sambil tersenyum.
"Bangun dong, sayang.. Sudah siang," ujar Marlina sambil tangannya berpindah masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy.
Diusap, dibelai, diremas, lalu dikocoknya kontol Jimmy sampai tegang dan tegak. Jimmy terus menatap mata MArlina sambil merasakan rasa nikmat pada kontolnya.
"Mau sekarang?" tanya Marlina sambil tetap tersenyum.
"Saya mau kencing dulu, Mam..." kata Jimmy sambil bangkit lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai, segera dia kembali ke kamarnya.
"Lama amat sih?" tanya Marlina.
"Jimmy kan sikat gigi dulu, Mam..." ujar Jimmy sambil duduk di pinggir ranjang berdampingan dengan Marlina.
"Kenapa Mama mau melakukan ini dengan Jimmy?" tanya Jimmy. Marlina tersenyum sambil mencium pipi anaknya itu.
"Karena Mama sangat sayang kamu. Juga Mama ingin mendapat kebahagiaan dari orang yang paling Mama sayangi.. Kamu," ujar Marlina sambil kemudian melumat bibir Jimmy.
Jimmy membalasnya dengan hangat pula. Kemudian Marlina bangkit lalu melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Jimmy terus menatap tubuh ibunya dengan kagum dan nafsu.
"Buka celana kamu dong, sayang," ujar Marlina.
"Iya, Mam..." ujar Jimmy sambil bangkit lalu melepas celana Hawaiinya.
"Sini, Jim..." ujar Marlina sambil berjongkok.
Tak lama mulut Marlina sudah mengulum kontol Jimmy. Jilatan dan hisapannya membuat Jimmy bergetar tubuhnya menahan nikmat yang amat sangat.
"Mmhh.. Enakk, Mamm..." desah Jimmy sambil agak menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Marlina melepas kulumannya, sambil tersenyum menatap wajah Jimmy yang tengadah merasakan nikmat, tangannya terus mengocok kontol Jimmy.
"Gantian, Jim..." ujar Marlina.
"Iya, Mam..." ujar Jimmy.
Marlina lalu naik ke ranjang anaknya. Lalu segera dibukanya paha lebar-lebar.. Jimmy langsung mendekatkan wajahnya ke memek Marlina. Lalu segera dijilatinya seluruh permukaan memek Marlina. Marlina terpejam menahan nikmat. Apalagi ketika jilatan lidah Jimmy bermain di kelentitnya.. Mata Marlina terpejam, tubuhnya bergetar sambil menggoyangkan pinggulnya.
"Ohh.. Enakk.. Teruss, Jimm..." desah Marlina.
Setelah sekian menit Marlina dijilati memeknya, tiba-tiba tubuhnya bergetar makin keras, ditekannya kepala Jimmy ke memeknya, lalu segera dijepit dengan pahanya.. Tak lama...
"Ohh.. Mhh.. Ohh..." desah Marlina panjang. Marlina orgasme.
"Ohh, enak sekali sayang.. Naik sini!" ujar Marlina.
Jimmy naik ke tubuh Marlina. Dengan segera Marlina melumat bibir Jimmy walau masih belepotan dengan cairan dari memek Marlina sendiri.
"Masukkin sayang..." bisik Marlina sambil menggenggam kontol Jimmy dan diarahkan ke memeknya.
Setelah itu, Jimmy langsung memompa kontolnya di memek Marlina. Mata Jimmy terpejam sambil terus mengeluarmasukkan kontolnya.
"Bagaimana rasanya, Jim?" tanya Marlina sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan Jimmy.
"Nikmat sekali, Mam..." ujar Jimmy.
Marlina tersenyum sambil terus menatap mata anaknya. Tak lama, tiba-tiba tubuh Jimmy mengejang, gerakannya makin cepat..
"Jimmy mau keluar, Mam," bisik Jimmy.
"Mmhh.. Keluarkan sayang, puaskan dirimu..." bisik Marlina sambil memegang pantat Jimmy lalu menekankan ke memeknya keras-keras.
Tak lama.. Crott! Crott! Crott! Air mani Jimmy muncrat banyak di dalam memek Marlina. Jimmy mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Marlina..
"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Marlina.
"Sangat nikmat, Mam.. Lebih nikmat daripada oral..." ujar Jimmy sambil mengecup bibir Marlina.
"Jimmy sangat sayang Mama," ujar Jimmy.
"Mama juga sangat sayang kamu," ujar Marlina.
Lalu mereka berpelukan telanjang.
*****
Sesuai dengan penuturan Marlina langsung kepada saya, sejak saat itu mereka selalu melakukan persetubuhan setiap ada kesempatan. Hanya saja ketika Jimmy harus kuliah di Jogja, mereka terpaksa harus berpisah. Tapi bila Jimmy datang liburan atau Marlina sengaja datang ke Jogja untuk menengok Jimmy, mereka pasti akan melakukan "tanda kasih sayang" mereka itu sampai sekarang..
Demikian kisah nyata ini saya paparkan.
E N D

Ibu mertuaku yang janda.....

Keluarga istriku terdiri dari ibunya yang tak lain adalah mertuaku. Namanya Heny, umurnya baru 38 tahun, kelahiran tahun 1964. Mertuaku yang peracik jamu ini adalah istri ketiga dari camat di kampungya dari pernikahannya yang menghasilkan tiga anak. Anak pertama Cheny, 24 tahun, bekerja pada salah satu toko swalayan di Bandung, kedua Venny yang menjadi istriku, 22 tahun, seorang karyawati di perusahaan swasta dan ketiga Nony masih 20 tahun, baru lulus SMU dan masih menganggur. Ketiga wanita inilah yang pernah menjadi santapan seksualku.
Mertuaku yang biasa kupanggil Mama ini pindah ke Bandung setelah suaminya meninggal dan tinggal di rumah anak dari istri pertama suaminya. Sebenarnya suaminya memiliki cukup banyak harta tetapi karena mertuaku kawin di bawah tangan, jadi dia tidak mendapatkan harta warisan apa-apa selain perhiasan-perhiasan dari suaminya itu. Karena ada perselisihan, mertuaku dan ketiga anaknya pindah dari rumah itu dan memulai usaha menjadi penjual jamu gendong untuk menafkahi ketiga anaknya. Namun karena sekarang ini dia merasa sudah tidak mempunyai tanggungan apa-apa lagi dan juga telah mempunyai rumah di pinggiran kota Bandung, dia sudah berhenti dari kegiatannya itu. Aku dan istri setiap akhir bulan selalu menyempatkan diri ke rumah mertuaku sekaligus membawa uang ala kadarnya sekedar untuk menambah biaya hidup sehari-hari.
Namun pada hari itu, Sabtu, entah kenapa istriku tidak enak badan dan menyuruhku pergi sendiri saja. Kubawa motorku ke arah selatan kota Bandung hingga satu jam kemudian aku sampai di rumah yang sederhana tapi kokoh itu. Rumah itu sepi namun pintunya terbuka lebar-lebar. Seperti biasanya kurebahkan tubuhku di bangku bale-bale bambu yang ada di ruang tamu untuk melepas lelah. Tak lama kemudian mertuaku datang. "Eh, Dik Willy, sudah lama Dik?" Dia menyapaku memang kesannya basa-basi tetapi sebenarnya tidak.
"Enggak, barusan kok", jawabku menyambut sapaannya. "Mana Ida?", tanyanya. "Lagi sakit, Ma. Katanya demam tuh, kusuruh istirahat saja" jawabku. "Oh, wah, wah, wah, jangan-jangan tanda-tanda mau punya anak tuh", ujar mertuaku senang.
Memang dia ini sangat mendambakan cucu dari pernikahan kami. "Mudah-mudahan, Ma"
"Ya sudah, sudah makan belum. Mama punya sayur asem sama ikan asin pake sambel terasi, kamu mau nggak?", mertuaku menawariku makan. "Iya, aku mau banget tuh" Bergegas aku ke ruang makan dan melihat hidangan yang ditawarkannya itu masih belum disentuh siapapun. Sambil makan kami mengobrol lagi. "Nony ke mana Ma?" tanyaku. "Katanya piknik sama temen-temennya ke luar kota, kemarin sore berangkatnya" "Oh", jawabnya. Memang mertuaku hanya tinggal berdua dengan Nony karena Cheny lebih memilih kost di dekat tempatnya bekerja. Kami mengobrol tentang macam-macam sampai obrolan yang nyerempet-nyerempet.
"Kamu ini sudah hampir dua tahun kok belum punya anak juga?" "Ya enggak tahu tuh, Ma" "Apa kamunya yang nggak bisa? Kalo nggak bisa sini Mama ajarin" "Ajarin apa, Ma?" "Mama buatin jamu biar subur" "Ah bisa aja Mama nih" Obrolan sengaja kupancing dan kuarahkan ke masalah seksual. "Ma saya boleh nanya nggak?" "Apa?" "Dulu Pa'e sering dibuatin jamu nggak?" "Ya kalo lagi sakit aja" "Untuk yang lain?" "Yang lain tuh apa?" "Jamu kuat lelaki misalnya?" "Ha, ha, ha, kamu ini ada-ada saja. Nggak usah pake begituan juga mertua lakimu itu sudah kuat, kok. Malah sebelum mati dia nambah lagi satu" "Jadi nggak pernah sama sekali, Ma?" "Pernah sich sekali-kali. Itu juga dia yang minta" "Terus Mamanya gimana?" "Ya tokcer lah, ha, ha, ha, eh, kamu kok tanya itu sih?" "Terus sekarang ini Mama kalo lagi pengen gimana?" Wajahnya sedikit memerah tetapi dijawabnya juga, "Ya, banyak-banyakin aja kerjaan, ya masak, nyuci piring, nyapu pekarangan, entar juga lupa, terus sudahnya, capek, ya tidur" "Oh", jawabku. "Kamu ini nanyanya ngawur, aja" "He, he, he.." "Sudah sore sana mandi"
"Iya Ma" Sementara aku mandi, kurasakan penisku yang sudah berdiri tegak. Kukocok penisku sambil membayangkan tubuh mertuaku. Mertuaku ini masih lumayan kencang walau sudah memiliki anak tiga. Menurut istriku, dia rajin luluran kulit sawo matang disertai dengan minum jamu rutin. Perutnya masih cukup ramping walaupun sudah ada sedikit lipatan-lipatan lemak. Buah dadanya yang berukuran 36B itu tetap kencang karena ramuan dari luar disertai jamu-jamuan demikian juga dengan bongkahan pantatnya. Satu hal lagi, dia ini tidak pernah memakai daster, atau baju apapun. Pakaian sehari-harinya adalah kain kebaya dengan kemben yang dililit hingga dadanya.
"Dik Yanto, nanti kalau sudah airnya diisi lagi ya?" "Iya, Ma". Setelah mandi kupompa air di luar kamar mandi sementara itu mertuaku berjongkok mencuci piring di bawah pancuran pompa tangan. Ember yang telah terisi kubawa ke kamar mandi untuk diisikan ke bak, begitu seterusnya hingga penuh. Sambil memompa kuperhatikan belahan buah dada mertuaku hingga membuat penisku berdiri lagi hingga tak sadar handukku terlepas. "Wah, semalem belum dikasih 'makan' ya?", begitu sindir mertuaku. "Iya nih, Ma" "Kenapa sih kamu kok cuma liat nenek-nenek aja langsung berdiri?" "Abis Mama montok sih", jawabku asal saja. "Hus, apanya yang montok" "Itu belahan teteknya, makanya saya jadi begini" "Oh ini, mau lihat?" "Iya, mau, mau Ma" Sejenak dia berbalik terus membuka kembennya hingga perutnya yang cukup ramping itu terbuka. "Nih, liat aja", katanya sambil kupegang buah dadanya. "Eh katanya cuma liat?" "Ya liat sama pegang, Ma"
Kuremas-remas buah dadanya hingga nafasnya tersengal. "Sudah To, sudah" Tapi aku terus saja meremasnya dengan bersemangat.
"Sudah To, Mama mau mandi dulu" "Bener mau mandi apa mau yang lain?" "Bener Mama mau mandi" "Nanti lagi ya?" Mertuaku tidak menjawab, hanya berlalu ke kamar mandi. Aku tunggu di kamar tidurnya hingga beberapa menit kemudian mertuaku sudah masuk ke kamarnya lagi. Tubuhnya hanya berbalut kain saja. Yang membuatku kaget adalah mertuaku membuka begitu saja kainnya di hadapanku yang masih berbaring. Kulihat buah dada yang cukup sekal tadi disertai dengan perut yang ramping dan pantat yang montok. Yang membuatku tak tahan adalah belahan vaginanya yang berbulu sangat lebat berbentuk segitiga. Pelan-pelan kudekati dia dengan pelukan yang cukup hangat dan ciuman yang kuat di bibirnya, mertuaku hanya pasrah saja. Kuteruskan tindakan yang tadi kulakukan di luar. Kali ini aku berjongkok lalu kumainkan vaginanya dengan mulutku sementara tanganku naik turun bergantian. Kuremas-remas bongkahan pantatnya yang padat itu dengan tangan kanan dan tangan kiriku memelintir-melintir puting susunya dengan sesekali menjumput dan meremas buah dadanya itu. Begitu terus bergantian dengan tangan kanan dan kiri. Pada saat yang bersamaan kuhisap-hisap dengan ...gemas bibir vaginanya. "Aghh, aghh, aghh", suara itu keluar dari mulut mertuaku di iringi dengan suara dari mulutku yang terus menghisap vaginanya yang banjir itu. Begitu seterusnya hingga, "Udahh, aghh, masukin aja punya kamu, To".
Aku rebahkan mertuaku ranjang dengan pantat dan pinggulnya berada di pinggir ranjang, kedua kakinya kuangkat ke bahuku. Aku berlutut di lantai dengan penisku berada tepat di pintu liang vagina itu. Kumain-mainkan dulu kepala penisku di kelentitnya dengan berputar-putar lalu baru kuturunkan ke vaginanya. Perlahan tapi pasti kumasukkan penisku ke liang vaginanya. "Eghh.., sstt, pelan-pelan, To"
"Mama kayak perawan aja" Setiap dorongan sepertinya ada yang mengganjal penisku di dalam vaginanya. "Eghh, aduh sakit, To"
"Hah, sakit?" Sambil mendorong kugoyang-goyangkan juga pinggulku ke kiri dan ke kanan supaya lorong vaginanya agak melebar. Setiap dorongan juga kutarik sedikit penisku keluar lalu kudorong lagi supaya bagian yang sulit ditembus itu agak terbuka. Lalu, sleb, sleb, sleb, dengan tiga kali dorongan penisku sudah masuk semua ke dalam rongga vagina mertuaku. Aku berdiam sesaat hingga kurasakan denyutan kecil seperti hisapan-hisapan lembut. Ternyata mertuaku mempunyai vagina yang bisa menghisap-hisap penis. Mungkin karena jamu-jamuan yang rutin diminumnya sehingga dia bisa seperti ini. "Ayo To, nunggu apa lagi?"
Kutarik dengan diiringi helaan nafasku, lalu ku dorong lagi hingga bless, bless, bless, penisku tertancap hingga pangkalnya. Keluar juga suara kecipak dari vagina mertuaku. Dari mulut kami juga keluar suara-suara desahan dan lenguhan nafas kami mewarnai suasana yang erotis. "Aghh, aghh, aghh, shh, ohh, aghh", begitu suara deru nafas mertuaku. Aku tetap berkonsentrasi supaya penisku tidak menembak lebih dahulu dan orgasme namun karena nikmatnya vagina mertuaku ini membuatku tak tahan. Namun dengan mengatur nafas aku bisa mengimbangi permainannya. Sudah hampir satu jam kami saling asyik masyuk sampai tanda-tanda akan orgasme terasa pada kami.
Kulihat gerakan mengejang dari perut mertuaku dan juga wajahnya yang semakin terlihat gelisah disertai keringat dan matanya yang turun seperti fly, kepalanya yang bergeser ke kiri dan ke kanan, tangannya juga berusaha menggapai apa yang bisa diremas. Itu biasanya gejala wanita yang akan orgasme. Tak lama kemudian, "Aghh, cepetan To, aku mau nyampe nih" "Aku juga, aghh" "Iiihh, aghh, ehmm, aghh"
Begitu jeritan kecil dari mulut mertuaku disertai deru nafasnya menandakan bahwa dia telah orgasme. "Ughh, ughh, ughh", begitu sisa nafasnya menikmati sensasi orgasme yang tiada tara. Aku juga merasakan hal yang sama dengan mengejangnya seluruh tubuhku dan menyemprotnya spermaku, entah berapa kali kusemprotkan cairan penuh kenikmatan ini ke dalam rahim mertuaku.
Tubuh kami langsung lunglai. Aku langsung berbaring telungkup diatas mertuaku dengan kondisi penis yang masih menancap di vaginanya. Tak lama kemudian peniskupun layu dan terlepas dengan sendirinya dari liang vagina yang nikmat itu. "Kamu hebat juga, To"
"Iya dong, Ma" "Jangan panggil Mama lagi" "Siapa dong?" "Heny aja" "Iya Hen, ughh gimana enak nggak?"m"Enak tenan, lho"
Mata mertuaku langsung sayu dan terpejam lalu tertidur. Aku turun dari tubuhnya dan juga merasa mengantuk sekali hingga aku juga tertidur. Tak terasa kami tertidur hingga aku terbangun dan mertuaku masih di sisiku sambil memeluk tubuhku. Tubuh kami masih telanjang bulat ketika itu. Tiba-tiba, "Ehmm, he, he, gimana kamu puas nggak?" "Iya Hen, aku puas banget. Aku sudah pengen begini sama kamu sejak lama tapi nggak tahu harus gimana dan takut kamunya marah" "Hhh", mertuaku menghela nafas lega. "Yah, kan sekarang sudah", kataku. "Tapi To, aku masih serr-serran lho", begitu katanya sambil menggenggam penisku yang sedari tadi agak lunglai terasa seperti ingin bangun lagi. Sepertinya mertuaku ini tahu bagaimana cara membangunkan kembali penis melalui tekanan-tekanan pada urat-urat di tempat lain. Aku langsung menciumi buah dadanya dan tanganku mengobok-obok vaginanya. Mertuaku mulai terangsang kembali dan dengan cepat aku berada di posisi siap di atas tubuhnya. Dengan sekali dorongan, penisku sudah menancap di dalam vagina yang sudah becek itu.
Mertuaku berkata, "To, aku yang di atas yah?" "Emangnya bisa?" "Bisa dong, kan udah nontonn filmnya Cheny", rupanya mertuaku sering menonton VCD blue film dengan anaknya, Cheny. Jadi tidak heran kalau dia faham posisi-posisi dalam bercinta. Dengan berguling kini posisi tubuhnya berbalik berada di atasku. Mertuaku mencoba duduk dengan melipat kakinya lalu dia mulai bergoyang maju-mundur dan memutar ditingkahi dengan suara dari vaginanya hingga menambah gairahnya untuk memacu goyangannya. Aku dari bawah hanya memegangi buah pantatnya dan tanganku yang satu memainkan kelentitnya yang berada tepat berada di perutku. Hanya sekitar setengah jam mertuaku mulai menampakkan gejala ingin orgasme. Dalam hitungan detik dia sudah orgasme. Tubuhnya kembali lunglai dan berbaring di atas dadaku. Namun aku belum, hingga secepat kilat aku berbalik dan berada di atasnya dan langsung bergoyang untuk mengejar orgasmeku. "Aduhh udahh To, aughh, gelii, To..", hingga beberapa detik kemudian aku merasakan orgasmeku yang kedua begitu nikmat dengan tembakan spermaku yang masih cukup kuat. Kami kemudian mengobrol hal-hal yang berbau pornografi dan erotis hingga terangsang kembali dan kami bersenggama lagi, begitu seterusnya hingga subuh. Entah sudah berapa kali kami melakukan hal yang sebenarnya merupakan aib bagi keluarga kami sendiri. Sekarang ini mertuaku sudah mempunyai cucu dan lebih menjaga jarak denganku. Dia merasa hal yang sudah kami lakukan itu adalah aib dan tidak sepantasnya dilakukan, dan jika kusinggung soal hal itu dia nampaknya agak marah dan tidak suka. Dia telah menjadi nenek yang baik bagi anakku.

Pengalaman Bersama Suami Adiku Sendiri

Edwin mendesah panjang. Nafasnya memburu, sementara goyangan tubuh bagian bawahnya mendesak kedua pahaku semakin terbuka lebar. Kedua lengannya berdiri tegak menahan badannya di kiri-kanan kepalaku. Dadanya menutupi semua pandanganku. Aku hanya bisa melingkarkan lengan kepunggungnya. Tanpa bisa kutahan, desahanku terdengar keras mengikuti irama gerakan Edwin. Derit ranjang
tempat kami bercinta semakin cepat. Kulirikan mataku keatas, kulihat mata Edwin terpejam sambil menggigit bibir bawahnya. Aku berusaha menyilangkan kaki ke atas pinggulnya, terlihat Edwin tersenyum tanda ia senang akan apa yang aku perbuat. Lengannya tertekuk sedikit dan bibirnya mengecup dahiku. Ketekan pantatku ke bawah, mulutnya bergumam. “Ouh…enak San, lagi…,” Edwin merengek meminta saya melakukan hal yang sama berulang-ulang, sementara ia terus menggoyangkan pantatnya. Merasa nikmat, Edwin malah semakin buas. Nikmat sekali memang jika gerakannya semakin cepat seperti itu. Pelan-pelan aku rasakan puncak kenikmatan semakin dekat. Mataku mulai terpejam, ah…, saat-saat seperti ini yang aku tunggu setiap bercinta dengan laki-laki. Desahku semakin terdengar tak beraturan. Darah ditubuhku mengalir dengan cepat. Dan, tak berapa lama, tubuhku terasa bergetar. Aku menggelinjang, punggung Edwin aku dekap erat, sementara kakiku menekan pantatnya sekuat tenaga. “Terus Win…terus….” Gerakan Edwin semakin cepat. “Sedikit lagi…sedikit lagi.” Kenikmatan itu aku rasakan semakin dekat, dan….. “Ooooooh…..,” desahku panjang dan terdengar keras. Kakiku menghentak-hentakkan pantatnya, nafasku memburu, dan pinggulku terlonjak-lonjak. Edwin memperlambat gerakannya dan melihatku sambil tersenyum.
Kemudian, nafasku mulai tenang. Mataku masih terpejam saat Edwin mencium bibirku lembut. Aku membuka mata. Edwin mulai lagi bergerak dengan buas. Penisnya menghujam vaginaku tanpa ampun. Hanya reda beberapa saat, desahku mulai kembali
memburu, demikian juga dengan Edwin. “Uuh…uh, Ayo Win,…aku sudah,” Aku bergumam berusaha memacunya agar cepat menyelesaikan adegan percintaan ini. Penisnya terasa makin keras, guratan di sekujur alat kelaminnya terasa sekali membentur dinding vaginaku. “Sandraaaa!!!” teriaknya memanggil namaku. Seketika, goyangannya terputus-putus, tubuhnya bergetar, desahnya membahana memenuhi ruangan, diiringi denyut penisnya, dan cairan hangat yang memenuhi kemaluanku. Ia terjerebab menimpaku. Aku memeluknya erat dan menciumi dadanya yang menimpa wajahku. Edwin tergolek lemas, kepalanya terkulai di atas dadaku, ia tampak berusaha mengatur nafasnya. Lantas tubuhnya terguling ke sisiku. Di wajahnya tersungging senyum tanda kepuasan. Kuhampiri wajahnya, dan kurebahkan kepalaku ke dadanya. “Enak, Win?” Ia mengangguk dan membuka matanya. Tanpa berkata-kata, ia mencium bibirku dan
memelukku erat. Ia tersenyum lagi dan mencium dahiku lembut. Kami berpelukan agak lama. Keringat terasa membasahi tubuh kami. Aku usap dahinya yang berpeluh. Ia membelai rambutku lembut, kucium lengannya yang kekar dan mendekapnya. “Yuk, kita tidur…,” ajak Edwin. Aku mengangguk dan menarik selimut. Namun, hingga setengah jam kemudian, aku masih belum bisa tidur. Kupandangi
Edwin yang tertidur pulas meyimpulkan kenikmatan bagi dirinya. Kulihat wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi besar tergolek lemas di sampingku. Ah, saya masih tak habis pikir, bagaimana semua ini bisa terjadi? Kekhilafan itu seakan melupakan kita akan status masing-masing yang seharusnya aib jika melakukan hubungan layaknya hubungan suami istri. Pikiranku menerawang jauh, tak ada
duanya memang, sensasi yang kami lakukan.——– Namaku Sandra, lengkapnya Sandra Damayanti. Anak keempat dari lima bersaudara.
Ketiga kakakku semuanya laki-laki, hanya aku dan adikku, Shinta, yang perempuan. Jarak usiaku dengan ketiga kakakku cukup jauh. Dengan kakak sulung, Mas Adi, saya berselisih hampir sepuluh tahun. Sementara dengan Mas Oki dan Mas Nanto, masing-masing delapan dan lima tahun. Hanya aku dan Shinta yang dekat sekali (satu tahun), sehingga wajar jika aku dan Shinta menjadi amat akrab. Aku bukan gadis alim. Jujur saja, di SMA aku sudah mengenal hubungan intim pria-wanita. Ah, pengalaman masa muda yang sulit dilupakan. Usiaku saat ini 25 tahun. Di keluarga, hanya aku satu-satunya yang belum menikah. Calon sudah ada, Rico, tapi peresmiannya masih harus menunggu pacarku selesai sekolah. Kedekatanku dengan Shinta juga yang membuatku bisa menumpang di rumahnya. Shinta sudah menikah bulan Juli tahun lalu dengan pria mapan seusia Mas Adi. Saat menikah, Shinta masih amat lugu. Sebagai anak bungsu, ia memang dilarang ayah dan ibuku bersekolah di luar negeri seperti halnya aku dan ketiga kakakku. Kepindahannya ke Jakarta mengikuti suaminya, mungkin adalah yang pertama baginya keluar dari kota kelahiran kami, sebuah kota di Jawa Tengah. Tak lama setelah Shinta menikah, aku selesai sekolah dan kembali ke Indonesia. Tawaran tinggal di Jakarta datang dari Shinta. Tentunya Shinta berpikir lebih baik aku menetap di Jakarta agar lebih mudah mencari kerja. Apalagi, rumahnya, di daerah elit Jakarta, hanya dihuni berdua dengan suaminya. Tawaran tersebut aku sambut baik. Aku hijrah ke Jakarta mengikuti apa yang dikatakan Shinta, Desember tahun lalu. Di Jakarta, saya sibuk melamar pekerjaan. Pahit juga nasibku, disaat lulusan-lulusan luar negeri dengan mudahnya memperoleh pekerjaan, saya justru terbalik.
Lama-lama, tidak enak juga tinggal di rumah orang, walaupun itu adik sendiri, tanpa memberikan kontribusi apapun. Dengan kesadaran sendiri, aku mengurus rumah sebagaimana layaknya ibu rumah tangga. Shinta juga bukan pemalas, di tengah kesibukannya berkarir, ia masih sempat mengurus rumah sebelum dan sesudah bekerja. Ia tidak tersinggung ketika perlahan-lahan tugas utamanya di rumah
mulai aku ambil alih. Memasak adalah pekerjaan rutin saya di rumah. Situasi berubah kira-kira tujuh bulan yang lalu. Shinta mendapat kesempatan belajar di AS dari kantornya. Tentunya, kesempatan ini tidak disia-siakan Shinta. Suaminya setuju melepas Shinta untuk masa kurang lebih dua tahun. Pesan Shinta kepadaku sebelum ia berangkat amat singkat, hanya satu kalimat. “Mbak, tolong urus Mas Edwin selama Shinta di Amerika, ya.” Sepeninggal Shinta, aku dan Edwin hanya berdua di rumah. Agak aneh memang, tinggal serumah dengan laki-laki yang bukan suami. Aku memang menggantikan peran Shinta di rumah. Semua kebutuhan Edwin aku yang menyiapkan. Shinta yang meminta aku melakukan ini. Kecuali kebutuhan biologis, bisa dikatakan semua kebutuhan Edwin aku layani. Paling tidak hingga lima bulan kemudian. Memasuki bulan ketiga, aku dan Edwin mulai sering mencari hiburan di luar rumah berdua. Biasanya, kami pergi nonton film atau makan malam. Sesekali, Edwin menemaniku melihat pameran rumah atau lainnya. Beberapa kali, kami juga hinggap ke cafe-cafe. Dan tampaknya, hobi datang ke cafe ini adalah yang paling kami nikmati. Aku dan Edwin jadi keranjingan mendatangi cafe. Satu persatu kami jelajahi. Coba di sini, coba di sana, pokoknya hampir semua kami coba. Sedikit mendengar musik, ngobrol, dan minum, cukup membuat kami segar kembali. Shinta juga tahu kebiasaan kami ini. Dia juga yang menyuruh suaminya menemaniku jalan-jalan. Dari aksi jalan-jalan ini saya jadi tahu, Edwin memang seorang pria lembut. Seiring dengan itu, kerinduanku dengan Rico semakin memuncak. Maklum, sudah hampir setahun kami berpisah. Dulu, saat masih bersama, aku dan Rico tinggal serumah, sehingga kebutuhan biologis bukanlah masalah yang serius. Beruntung, aku punya kesibukan di rumah, sehingga selama ini semua keinginan untuk berhubungan intim bisa kuredam. Namun, setiap pulang dari cafe, apalagi di sana aku juga mengkonsumsi minuman beralkohol (walaupun tidak banyak), keinginan tersebut kerap muncul. Dan, seringkali aku memupuskannya dengan cepat tidur, sehingga lupa. Sampai suatu hari, aku agak lepas kontrol dalam menenggak minuman. Singkatnya, aku sedikit mabuk. Berjalan ke mobil aku memang masih bisa, tapi sesudahnya tubuhku lemas dan setibanya di rumah, badanku terasa berat dan sulit untuk bisa beranjak keluar mobil. Edwin-pun sama, walaupun kadarnya masih lebih banyak aku. Ia masih bisa mengendalikan diri dan membantuku berjalan. “Ayo San, aku bantu,” ujarnya sambil melingkarkan tangannya ke pinggangku. Aku rangkul pundaknya dan kepegang tangannya erat. Pelan-pelan kami berjalan ke
kamar. Edwin membantuku merebahkan tubuh di ranjang. “Mau air putih?” tanyanya. Aku menggeleng. “Thanks Win. Sorry, aku kebanyakan
minum,” ujarku. “Ngga pa-pa, biasa kok, sekali-sekali mabuk itu normal.” Ia berjalan hendak keluar kamar. Apa yang aku rasakan mendadak berubah. Lima bulan tinggal bersama di rumah ini, atau setahun lebih sejak aku pindah, baru sekali ini Edwin menyentuh tubuhku. Rasanya memang berbeda, tubuhku terasa bergetar. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba aku seperti ingin diperlakukan lebih. Aku tersenyum memandang wajahnya. Edwin juga tersenyum. Edwin mengurungkan niatnya untuk keluar kamar. Ia mendekat dan membelai rambutku. Kusambut belaiannya dengan mencium tangannya. Tangannya menggenggam tanganku dan tanpa aku sadari, kutarik tubuhnya mendekati tubuhku. Sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Tanpa pikir panjang, aku sambut kecupannya dan akhirnya kami bercumbu.
Pengaruh alkohol seakan semakin memanaskan adegan percintaan kami. Tangan Edwin mulai meraba sekujur tubuhku, membuat aku semakin lepas kendali. Kecupannya juga sudah merambat ke leher. Aku hanya bisa memeluknya erat dan menarik polo shirtnya ke atas. Kuciumi pundaknya dengan ganas. Edwin meronta kegelian, dan kini giliran lidahnya menari-nari diatas dadaku. Kerah kaus yang aku pakai
semakin turun dan sedikit demi sedikit lidahnya terasa membasahi dadaku. Edwin semakin ganas, tanpa meminta persetujuanku, kancing di kausku mulai terbuka satu per satu. Dengan sigap, tangannya juga melepas bra hitam milikku. Ia tersenyum menyaksikan payudaraku polos dihadapannya. Dirabanya lembut seluruh permukaan payudaraku itu. Kami kembali berciuman, kali ini lebih ganas. Aksi pagut-memagut
terjadi. Sambil terus berciuman, ia mulai membuka kancing celanaku dan perlahan-lahan menurunkannya. Jemarinya menelusup ke sela-sela celana dalamku. Seketika aku mendesah keras saat jari-jari menyentuh organ paling intim di tubuhku. Rabaannya halus dan sungguh merangsang nafsu birahiku. Tak sampai sepuluh menit, kami sudah berpelukan polos tanpa batas. Nikmat sekali rasanya didekap oleh tangan Edwin yang kekar. Bulu-bulu tubuhnya seperti menggelitik sekujur tubuhku. Kami makin lupa diri. Tanpa perlawanan, aku
memang rela menyerahkan tubuhku pada Edwin dalam kondisi seperti itu. Edwinpun sepertinya semakin bernafsu. Nafasnya semakin memburu. Penisnya mulai menyentuh bibir vaginaku, seperti hendak mencari jalan masuk. Saat itu, bagiku tidak ada pilihan selain menerima penisnya terbenam di liang vaginaku, setahun lebih aku menanti saat-saat seperti ini. “San…?” Aku mengangguk pelan dan sesaat kemudian tubuhnya mulai menekan tubuhku. Kugenggam penisnya dan membantunya mengarahkan ke vaginaku. Sekali lagi ia
menciumku, tak lama kemudian penisnya sudah bersarang di vaginaku tanda sebuah perselingkuhan telah terjadi.
——–
Aku terbangun oleh bunyi telepon yang berdering kencang. Edwin terlonjak dari tidurnya dan berjalan menuju ruang tengah. Tubuhnya masih telanjang. Seadanya aku mengenakan kimono. Langkahku terhenti di pintu dan menguping pembicaraan Edwin.
“…Iya sayangku, sebentar lagi aku berangkat,…baru keluar kamar mau sarapan,….ada, di kamar,…iya..iya nanti aku sampaikan,…kamu di
mana?….ooh, kasihan…, capek?….Ya udah, kamu cepat pulang terus istirahat,…nanti aku telpon dari kantor….baik,…i love you too, bye…”
Mata Edwin beralih ke diriku. Sorot matanya sedikit berbeda dibanding tadi malam. “Shinta…?”
Edwin mengangguk. Aku menunduk, tak terasa, ada genangan air di mataku. Edwin mendekat dan memeluk diriku erat. Ia membelai rambutku dan mencium keningku. “Maafkan aku San. Aku khilaf,” ujarnya singkat. Aku tak kuasa berkata-kata, mulutku seperti kaku. Aku memang jahat, telah mengkhianati adikku sendiri, adikku yang paling aku sayangi. “Kita semalam mabuk,” ucap Edwin berusaha mencari pembenaran. Aku tetap diam tak bereaksi apa-apa. Aku hanya bisa memandang wajahnya dan tersenyum tipis. Ia membalas senyumku dan kembali memeluk erat tubuhku. Aku segera menyadari, hubungan kami tidak akan seperti lima bulan terakhir, karena pembatas itu sudah
jebol, walaupun lewat sebuah perselingkuhan. Pagi itu, aku merasa semakin dekat dengan Edwin. Aku seperti mendapat peran
tambahan, seperti menjadi istri baru bagi Edwin. Untuk pertamakalinya, aku mengantarnya berangkat ke kantor sampai ke mobil. Edwin terlihat senang sekali diperlakukan seperti itu. Sebelum pergi, ia mencium bibirku lembut, persis seperti yang dilakukannya pada Shinta. Ah, kejadian malam itu seakan mengubah semua sikap kami berdua. Malam itu, habis-habisan kami bertempur. Dua jam kami
bergumul di ranjang kamarku sampai akhirnya kami kelelahan. Kenikmatannya memang tiada tara, ada sensasi tersendiri yang terasa menyelinap. Kenikmatan yang sama selalu kami usahakan berulang lagi. Aku selalu siap melayaninya kapan saja ia butuh, demikian juga dengannya. Tanpa pernah menolak, Edwin selalu meladeni permintaanku. Rasanya, aku tak bisa melewatkan satu hari
tanpa bertemu dengan penisnya yang sudah memberikan kenikmatan padaku. Jadwal rutin kami adalah pagi sebelum Edwin berangkat ke kantor dan malam hari. Di hari libur, frekuensinya meningkat. Tanpa mengenal waktu, setiap saat kami bisa melakukannya sesuka kami. Lebih-lebih jika kami khusus pesiar ke suatu tempat. Bak pengantin baru, kami memuaskan diri dengan hubungan intim yang luar biasa.
Kemampuannya memang lain dibanding Rico. Jika kekasihku itu punya kelebihan dalam mencari variasi baru dan membuatku nyaman, maka Edwin lain lagi. Daya tahannya memang bagus. Mungkin akibat ia rutin berolahraga. Nafsunya juga besar, melihat aku memakai pakaian sedikit seksi saja, ia langsung mendekapku dan biasanya berakhir dengan persetubuhan. Jiwa petualangannya juga sedikit di luar
batas. Dalam dua bulan ini saja, sudah berulangkali ia mengajakku berhubungan intim di tempat-tempat yang agak mengandung resiko. Yang paling saya ingat adalah saat ia mengajakku bersetubuh di kolam renang sebuah hotel di Bandung. Padahal, saat itu banyak orang di sekitar kita. Caranya memang unik. Tanpa keluar dari kolam, ia mengeluarkan penisnya di dalam air dan memasukkannya ke
vaginaku sambil berdiri. Aku disuruhnya tetap diam dan ia yang mengontrol permainan kami. Maksudnya agar orang-orang tidak curiga.
Dari dia juga saya jadi tahu ternyata Shinta tidak seperti yang saya kira. Adikku ini pendiam dan tidak banyak maunya. Tadinya aku berpikir, Shinta akan pasif di tempat tidur. Ternyata aku salah besar. Menurut Edwin, sejak malam pertama, Shinta selalu berusaha mencari sesuatu yang baru dalam berhubungan suami istri. Nafsu seksualnya juga besar, kadang, masih menurut Edwin, mereka melakukannya tiga sampai empat kali sehari. Dalam hati aku berkata, sama saja dengan kakaknya. Kami amat menyadari, apa yang telah terjadi diantara kita
adalah sebuah perselingkuhan. Kami juga sepakat tidak mengaitkan hal ini dengan keberadaan Shinta. Dengan Rico, walaupun kami sangat terbuka, saya juga tetap merahasiakan hubungan gila ini. Mengapa? Semata-mata agar kami tidak merasa bersalah. Nikmati saja dulu apa yang kini sudah terjadi


Ibu mertua tersayang...

Umurku 30 tahun, sebut saja namaku Pento, Indri istriku Berusia 29 Tahun. Kami baru dikaruniai seorang anak lelaki yang lucu yang ku beri nama Piko, berusia 2,5 tahun. Pada hari yang sudah kami tentukan aku sekeluarga berangkat ke Kota Surabaya. Penumpang kereta Argo Lawu tidak terlalu penuh! Mungkin, dikarenakan hari libur masih beberapa hari lagi, jadi aku istri dan anakku lebih leluasa beristirahat selama dalam perjalanan.
Jam 5:30 pagi kereta tiba di stasiun kota Surabaya, Kami di jemput Ibu mertuaku dan pakde Man sopir keluarga Mertuaku. Ibu mertuaku begitu bahagianya dengan kedatangan kami, anak kami Piko pun langsung dipeluk dan diciumi, maklum anak kami Piko cucu lelaki pertama bagi keluarga bapak dan Ibu mertuaku.
Akhirnya, kami sampai juga di Lamongan tempat tinggal mertuaku, suasana desa yang cukup tenang langsung terasa, ditambah lagi rumah mertuaku yang begitu besar, hanya dihuni oleh Bapak dan Ibu mertuaku saja. kelima anak bapak dan Ibu mertuaku semuanya perempuan, dan sudah pada menikah semua! kecuali Adik iparku yang paling bungsu saja yang belum menikah! dan saat ini sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negri di kota Bandung. "Bapak mana Bu? Tanya Indri istriku".
"Bapakmu lagi kerumah temannya, Biasalah paling-paling ngomongin proyek!", Jawab Ibu mertuaku.
Ibu mertuaku seorang wanita yang berumur kurang lebih 48 tahun, kulitnya putih bersih. Bapak dan Ibu mertuaku menikah disaat usia mereka masih remaja, namun begitu, Ibu mertuaku masih tetap terlihat cantik walaupun usianya hampir memasuki kepala lima. Istriku sendiri anak kedua dari 5 bersaudara. Setelah mandi dan beristirahat kamipun makan pagi bersama. Kami bercerita kesana kemari sambil melepas lelah dan rasa rindu kami, tanpa terasa haripun sudah menjelang sore . Selepas mahgrib bapak mertuaku kembali dari rumah bupati, kami pun kembali bertukar cerita, semakin malam semakin sepi padahal baru jam 8 malam. Maklumlah didesa!
"Ini minum wedang buatan Ibu! Biar kalian segar saat bangun pagi harinya". Aku, istriku dan bapak mertuaku pun langsung memimum wedang buatan Ibu mertuaku. "Enak sekali Bu! apa ini Tanya Indri istriku ". "Itu wedang ramuan Ibu sendiri! Gimana, seger kan?".
Kamipun melanjutkan obrolan kami kembali, kurang lebih setengah jam kami ngobrol, rasanya mata ini kok berat sekali. Istiku pamit menyusul anak kami yang sudah duluan tertidur. Aku mencoba bertahan dari rasa ngatuk! dan melanjutkan cerita kami, namun apa daya! rasa ngantuk ini sudah terlalu berat. Akupun pamit tidur pada bapak dan Ibu mertuaku. Sambil menguap aku berjalan menuju kamar tidur kami yang cukup besar, kulihat istri dan anakku sudah tertidur dengan nyenyaknya. Tumben dia nggak nungguin aku? Akupun langsung merebahkan diri karena rasa ngantuk yang begitu berat. Tak lama aku pun langsung tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasakan seperti ada yang menciumku, membelaiku, aku mencoba untuk membuka mataku, namun aku tetap tidak sanggup untuk membuka mataku ini. Rasanya seperti ada yang mengganjal dimataku, yang membuat aku terus tertidur. Aku juga merasakan nikmat saat berejakulasi. Dan Aku berangapan bahwa semua ini hanya mimpi basah saja. Ketika pagi harinya aku terbangun, kulihat istri dan anakku masih lelap tertidur, aku ke kamar mandi untuk kencing! begitu aku melihat kemaluanku, ada bekas sperma kering? Kupegang kemaluanku dan jembutku kok lengket? ketika kucium, aku mengenal betul bau yang begitu kas, bau dari lendir kemaluan perempuan. Aku berpikir kok mimpi basah ada bau lendir perempuannya?, apa semalam aku diperkosa setan? Saat kami semua sarapan pagi, aku hendak menceritakan peristiwa yang kualami semalam, tapi aku malu, takut ditertawakan, jadi aku diamkan saja peristiwa semalam. Hari kedua disana, aku, istri dan anakku tamasya ke daerah wisata, kami pulang sudah malam. Seperti hari kemarin, setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya, aku dan istrikupun langsung meminumnya. Herannya kurang lebih 30 menit setelah aku menghabiskan wedang buatan Ibu mertuaku, rasa ngantuk kembali menyerang aku dan istriku.
Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngantuk yang begitu sangat, kami berdua pamit hendak tidur, untungnya anak kami sudah tertidur dalam perjalanan pulang. "Mas aku ngantuk! selamat tidur ya Mas!". Langsung istriku merebahkan badan dan tertidur dengan pulasnya. Akupun ikut tertidur. Apa yang kemarin malam terjadi, malam ini terulang kembali. Pagi harinya setelah aku melihat bekas sperma dan bekas lendir perempuan yang sudah mengering dan membuat kusut jembutku, aku bertanya tanya dalam hatiku?, apa yang sebenarnya terjadi? Hari ketiga, aku tidak ikut pergi jalan jalan!, hanya istri anak serta Ibu mertuaku saja yang pelesir ke tempat sanak pamily keluarga istriku. Aku hanya rebahan ditempat tidur sambil melamun dan mengingat kejadian yang kualami selama 2 malam ini. Apa ada mahluk halus yang memperkosaku disaat aku tidur? Kenapa setiap habis meminum wedang, aku jadi ngantuk? apa karena suasana desa yang sepi? Padahal aku biasanya kuat begadang, atau karena wedang? Nanti malam aku coba untuk tidak meminum wedang buatan Ibu, batinku. Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, karena lelah akhirnya akupun tertidur. Saat malam menjelang, kami sekeluarga berkumpul dan berbincang bincang. Seperti hari kemarin-kemarin pula, Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya. Istri dan bapak mertuakupun sudah menghabiskan minumannya, sementara aku belum meminumnya. "Kok nggak diminum Mas wedangnya", tanya Ibu mertuaku?
Aku memang mencoba untuk tidak meminum wedang tersebut, walaupun badan segar saat bangun tidur! namun aku berniat untuk tetap tidak memimumnya. Karena aku penasaran dengan apa sudah aku alami beberapa hari ini. Saat aku hendak meminumnya aku berpura pura sakit perut, sambil membawa wedang yang seolah olah sedang kuminum aku berjalan kearah dapaur menuju toilet. Padahal sesampainya dikamar mandi, aku langsung membuang wedang tersebut. Aku berkumpul kembali ke ruang keluarga, kurang lebih tiga puluh menit! kulihat istiku dan bapak mertuaku sudah mengantuk dan berniat untuk tidur. Namun hal itu tidak terjadi denganku, apa karena aku tidak meminum wedang tersebut? Aku masih segar dan belum mengantuk. Aku pun berpura-pura seperti orang mengantuk, kami berdua pamit dan masuk kekamar, istrikupun mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang cukup nyaman dimata.
"Mas aku ngantuk sekali! Kamu nggak kepengen kan? Besok aja ya Mas! aku ngantuk sekali Mas" Kukecup kening istriku dan dia pun langsung tertidur. Aku masih melamun, kenapa hari ini aku tidak mengantuk seperti biasanya? Apa karena aku tidak meminum wedang buatan Ibu? Hampir setengah jam setelah istriku terlelap, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menghampiri kearah kamarku! Langsung aku pura-pura tertidur. Kulihat ada yang membuka pintu kamarku, saat kubuka sedikit kelopak mataku ternyata Ibu mertuaku! Mau apa beliau? Aku terus pura-pura tertidur. Untung lampu tidur dikamar kami remang-remang jadi ketika aku sedikit membuka kelopak mataku tidak terlihat oleh Ibu mertuaku. Deg.. jantungku berdebar saat Ibu mertuaku menghampiriku, langsung mengelus elus burungku yang masih terbungkus celana pendek. Aku hendak menegurnya, namun rasa penasaran dengan apa yang terjadi 2 hari ini dan .....apa yang akan dilakukan Ibu mertuaku membuat aku terus berpura-pura tertidur. Ibu mertuaku pun langsung menurunkan celana pendek serta celana dalamku tanpa rasa canggung atau takut kalau aku dan istri ku terbangun, atau mungkin juga mertuaku sudah yakin kalau kami sudah sangat nyenyak sekali. Blass lepas sudah celanaku! Aku telanjang, jantungkupun makin berdebar, aku terus berpura-pura terdidur dengan rasa penasaran atas perbuatan Ibu mertuaku. Aku menahan napas saat Ibu mertuaku mulai menjilati dan mengulum kemaluanku, hampir aku mendesih, aku mencoba terus bertahan agar tidak mendesis dan membiarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Kemaluanku sudah berdiri dengan tegaknya, Ibu mertuaku dengan asiknya terus mengulum kemaluanku tanpa tahu bahwa aku tidak tertidur. Jujur aku akui, bahwa aku juga sebenarnya sudah sangat terangsang sekali. Ingin rasanya saat itu juga, aku bangun, langsung menerkam, mencumbu dan menyetubuhi Ibu mertuaku. Kutahan semua gejolak birahiku, dan ku biarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Tiba-tiba Ibu mertuaku melepas kulumannya dan bangkit berdiri, aku terus memperhatikannya, dan bless.. mertuaku melepas dasternya, ternyata dibalik daster tersebut mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam lagi. Aku sangat berdebar, dag.. dig.. dug suara jantungku saat menyaksikan tubuh telanjang Ibu mertuaku, apalagi ketika Ibu mertuaku mulai naik ketempat tidur, langsung mengangkangiku tepat diatas burungku, makin tak karuan detak jantungku. Digemgamnya kemaluanku, diremas halus sambil dikocok-kocok perlahan, kemudian di gesek-gesekan ke memek Ibu mertuaku. Aku sudah tidak tahan lagi! Ingin rasanya langsung kumasukan kontolku! Sambil berjongkok, burungkupun diarahkannya kelubang surga Ibu mertuaku! perlahan-lahan sekali beliau menurunkan pantatnya memasukan burungku ke memeknya! sambil memejamkan mata menikmati mili demi mili masuknya burungku ke sarangnya.
"Ahh.. ahh nikmat", jerit mertuaku, saat semua burungku telah amblas masuk tertelan memek Ibu mertuaku. Sambil terus berpura-pura tertidur aku menahan gejolak birahiku yang sudah memuncak. "Ahh.. Ibu mertuaku menjerit tertahan saat beliau mulai naik turun bergoyang menikmati rasa nikmat yang beliau rasakan. Ibu mertuaku terus menjerit, mendesah, tanpa takut aku, istri dan anakku atau bapak mertuaku terbangun. Ibu mertuaku terus bergoyang naik turun. Belum beberapa lama menaik turunkan pantatnya, tubuh Ibu mertuaku mengejang.
"Ahh nikkmatt", jerit panjang Ibu mertuaku. Rupanya Ibu mertuaku baru saja mendapatkan orgasmenya. Ibu mertuaku langung rebah menindih tubuhku mencium bibirku membelai kepalaku seperti, seorang istri yang baru saja selesai bersetubuh dengan suaminya, aku langsung membuka mataku. "Jadi selama ini aku tidak bermimpi! dan tidak pula tidur dengan mahluk halus!".
Ibu mertuaku bangkit karena kaget "Mass ka.. mu ndak ti.. dur? kamu nggak meminum wedang yang Ibu bikin?".
"Tidak Bu! aku tidak meminumnya", Ibu mertuaku salah tingkah dan serba salah! mukanya memerah tanda beliau mengalami malu yang sangat luar biasa. Aku bangkit dan duduk ditepi ranjang, "Mass..", Ibu mertuaku menangis sambil duduk dan memeluk kakiku.
"Ammpuni Ibu, Mass". Aku merasa kasihan melihat Ibu mertuaku seperti itu, karena aku sendiripun sudah sangat terangsang akibat permainan Ibu mertuaku tadi. "Bu aku belum tuntas!", aku angkat mertuaku, aku peluk, kucium bibirnya. "Sudah Bu, jangan menangis!, aku juga menikmatinya kok Bu!". Kulepas bajuku, kami berdua sudah telanjang bulat, kupeluk Ibu mertuaku dan kamipun berciuman dengan buasnya. "Ahh Mas.. nikmat.. Mas..", saat kuhisap dan kuremas tetek mertuaku yang sudah kendur.. "Ah.. Mas nikmat..", kutelusuri seluruh tubuhnya, dari teteknya, terus kuciumi perutnya yang agak gendut. "Ahh Mass", jeritnya, saat kuhisap kemaluannya, kujilati itilnya sambil ku gigit gigit kecil. Dua jarikupun terbenam di dalam memek ibu mertuaku, jeritan mertuaku makin tak terkendali, apalagi disaat dua jariku mengocok dan menari-nari dilubang memeknya dan lidahku menari nari di itilnya. "Ahh.. Mass Ibu mau keluar lagi.. ahh! Ibu keluarr!, aarrgghh", jerit ibu mertuaku. Tanpa sadar kaki mertuaku menjepit kepalaku! Sampai sampai aku tidak bisa bernapas. "Enak Bu?"
"Enak sekali Mas". Kucium kembali mertuaku. "Bu.. apa Indri nanti nggak bangun?" "Tenang Mas! Wedang itu merupakan obat tidur buatan Ibu yang paling ampuh!" "Tidak berbahaya Bu?" "Tidak Mas" Kugeluti kembali mertuaku.. kucium.. kuhisap teteknya. Kucolok-colok memeknya dengan dua jari saktiku. "Oohh Mass masukin Mass Ibu sudah nggak tahan lagi.. Mas". Dengan gaya konvensional langsung kuarahkan kontolku ke lubang surga Ibu mertuaku, dan akhirnya masuk sudah. "Oh.. Mas nikmat sekali..".
"Iya Bu.. aku juga nikmat.. memek Ibu nikmat sekali.., goyang terus Bu..". Kamipun terus berpacu dalam nikmatnya lautan birahi. Aku mendayung naik turun dan Ibu mertuaku bergoyang seirama dengan bunyi kecipak-kecipak dari pertemuan dua alat kelamin kami.
"Ohh Mas.. Ibu mau keluar lagi..". Rupanya Ibu mertuaku orang yang gampang meraih orgasme dan gampang kembali pulihnya, aku pun tak mau kehilangan moment. "Tahan Buu!, sedikit lagi akuu juga keluarr..", sambil kupercepat goyangan keluar masuk kontolku.
"Akk Mass, Ibu sudah nggak kuatt". Dan serr serr aku merasakan kemaluanku seperti di siram air yang hangat rasanya. Akupun sudah tak kuat lagi menahan ejakulasiku! "Ibuu aacchh, cret.. cret.. cret..", akupun rubuh memeluk Ibu mertuaku.
"Bu!, jadi yang yang kemarin-kemarin itu Ibu yang melakukannya?" "Iya Mas, maafin Ibu! Ibu jatuh cinta sama Mas pento sejak pertama kali Ibu melihat Mas. Apalagi Bapak sudah lama terserang impotensi". "Kenapa harus seperti pencuri Bu?". "Ibu takut ditolak Mas! lagi pula Ibu malu, sudah tua kok gatel". "Apa semua mantu Ibu, Ibu perlakukan seperti ini?". Sambil melotot Ibu mertuaku berkata, "Tidak Mas! Mas pento adalah lelaki kedua setelah bapak, Mas lah yang Ibu sayangi". Kucium kembali mertuaku, kupeluk.
"Mulai besok Ibu jangan pakai wedang lagi, untuk Ibu, aku siap melayani, kapanpun Ibu mau". Kamipun bersetubuh kembali, tanpa mempedulikan bahwa di sampingku, istri dan anakku tertidur dengan pulasnya. Tanpa istriku tahu! didekatnya aku dan ibunya sedang menjerit jerit mereguk nikmatnya persetubuhan kami. Saat ayam berkokok dan jam menunjukan pukul 3:30 kami menyudahi pertarungan yang begitu nikmat, lalu Ibu mertuaku dengan santai berjalan keluar dari kamar kami sambil berkata, "Mas Pento terima kasih!".
Pagi Harinya, saat aku terbangun waktu sudah menunjukan pukul 10:15, kulihat disampingku, istri dan anakku sudah tidak ada lagi. Ahh.., akupun termenung mengingat kejadian semalam, aku masih tidak menyangka. Ibu mertuaku, orang yang sangat aku hormati, dan sangat aku kagumi kecantikannya, dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepadaku. Malah ibu mertuaku juga yang memulai awal perselingkuhan kami. ..."Selamat pagi Ma", sapaku saat kulihat di dapur istriku sedang membuatkan kopi untukku, "Kok sepi pada kemana mah?" "Kamu sih bangunnya kesiangan, Bapak pergi ke mojokerto, Ibu pergi ke pasar sama Piko". Kupandangi wajah istriku, tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Ibu mertuaku, akupun jadi terangsang, karena peristiwa semalam masih membekas dalam ingatanku.
"Ihh.. apa-apaan sih Mas.. jangan disini dong Mas..", protes istriku saat kutarik lengannya, langsung kupeluk dan kulumat bibirnya..
"Mas.. malu.. ahh, nanti kalau Ibu datang bagaimana?" Aku yang sudah benar benar terbakar birahi, sudah tidak perduli lagi akan protes istriku, kuremas teteknya, ku lumat bibirnya, yang aku bayangkan saat itu adalah Ibu mertuaku. Kubalik tubuh istriku, dalam posisi agak membungkuk, kusingkap ke atas dasternya kuturunkan celana dalamnya dan, "Uhh Mas pelan pelan dong."
Aku tak perduli, kuturunkan celanaku sebatas lutut, langsung kuarahkan burungku yang sudah tegak berdiri kelobang memek istriku.
"Mass.. pelan pelan.. dong.. sakit.. Mas." Semakin istriku berteriak, gairahkupun semakin meninggi, aku terus memaksa memasukan kontolku ke lubang memek istriku, yang belum basah benar. "Ahh..", jeritku, saat burungku amblas tertelan memek istriku.
Entahlah, saat itu aku merasakan gairahku begitu tinggi, langsung ku kugoyang maju mundur pantatku. "Ahh nikmat Ndri..", kugoyang dengan keras keluar masuk kontolku. "Mas.. enak mass." Terus kugoyang maju mundur, mungkin karena terlalu bernafsu, baru beberapa menit saja, rasanya ejakulasiku sudah semakin dekat, denyutan di kontolku semakin membuat aku mempercepat kocokan kontolku di lubang memek istriku. "Ndri .. aku mau keluarr nihh." "Tahann mass, jangan dulu.., tahan sayang", pinta istriku.
Namun, semua permintaan istriku itu sia-sia, aku sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku, sedetik kemudian aahh, seluruh syaraf tubuhku menegang dan cret.. cret.. crett.. uhh.. aku menjerit tertahan sambil dengan erat kupeluk tubuh istriku dari belakang. Kulihat, raut wajah kekecewaan diwajah Indri istriku, "Maaf.. ya.. sayang. aku sudah ngak tahan, aku terlalu bernafsu, habis kamu sexy sekali hari ini", rayuku. "Ndak apa-apa Mass..", kukecup keningnya. "Kamu aneh deh Mas?, ngak biasanya kamu kasar kayak tadi?", tanya istriku sambil berlalu menuju kamar mandi. Kasihan istriku. padahal saat bersetubuh dengannya, aku membayangkan, yang sedang kusetubuhi adalah ibu mertuaku. Saat siang menjelang, setalah makan siang, istriku dijemput oleh teman-teman genknya waktu di SMA dulu, rupanya istriku sudah janjian untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu, kebetulan salah satu sahabat karib istriku yang sekarang ini tinggal dilampung, saat ini sedang pulang kampung juga. "Pada mau kemana nih?" Tanyaku
"Mumpung kita lagi pada kumpul nih Mas, kita mau jalan- jalan aja Mas. Ya.. Paling-paling ke kota Surabaya makan Soto Ayam", Jawab mereka. Setelah berbasa basi, mereka pamit padaku dan ibu mertuaku. "Da.. da piko jagain mamah ya..", kukecup anakku.
"Bu aku pergi dulu ya", pamit istriku. "Mas aku jalan jalan dulu yahh, bye Mas" Saat aku masuk kedalam rumah aku lihat Ibu mertuaku sedang mengunci pintu gerbang. "Kok digembok bu? "Biar aman", katanya, sambil berjalan dan masuk ledalam rumah, dan klik.. Pintu rumah pun di kunci oleh Ibu mertuaku. Aku dan Ibu Mertuaku saling berpandangan, seperti sepasang kekasih yang lama sekali tidak berjumpa dan saling merindukan, entah siapa yang memulai aku dan Ibu mertuaku sudah saling berpelukan dengan mesranya, Kukecup keningnya, dan kuremas remas bongkahan pantatnya. "Mas Pento, Saat-saat seperti inilah yang paling ibu tunggu-tunggu"
kupandangi wajah ibu mertuaku, sunguh cantik sekali, kucecup kening mertuaku, kulumat bibirnya, kami berciuman dengan buasnya, saling sedot, saling hisap, kuangkat dan kulepas daster yang dipakai ibu mertuaku. Terbuka sudah, ternyata ibu mertuaku sudah tidak memakai Bh dan celana dalam lagi, kuhisap teteknya, kujilati inhci demi inchi seluruh tubuh Ibu mertuaku. "Ahh Mass, terus Mas.. sshh enak sayang.."
Kuajak Ibu mertuaku pindah ke sofa. "Kamu duduk Mas..", dilepasnya kaos dan celanaku, aku dan ibu mertuaku sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel ditubuh kami berdua. "Ahh.. nikmat bu.., ohh hisap terus bu, hisap kontolku bu.. ahh"
Nikmat sekali kuluman ibu mertuaku, kami berdua sudah lupa diri, saling merangsang saling meremas. "Ohh.. bu.., akupun bangkit untuk merubah posisi, kurebahkan ibu mertuaku dilantai, kakinya mengangkang, kupandangi memeknya, yang telah melahirkan istriku, kuhisap, kukecup dengan lembut memek ibu mertuaku, kujilati dengan penuh perasaan, kuhisap semua cairan yang keluar dari lubang sorga Ibu mertuaku "Ohh.. Mas.. jangan siksa Ibu sayang.., Mass, Pentoo.., masukin sekarang Mas.., Ibu sudah mau keluar sayang"
Langsung kuarahkan batang kontolku kelubang surga ibu mertuaku. yang sudah pasrah dan siap untuk di sodok-sodok kontolku. Kugesek-gesek perlahan kontolku di itil Ibu mertuaku yang sudah mengeras dan.. belss.. uhh, rintih Ibu mertuaku saat kepala kontolku menerobos memasuki lubang nikmatnya. "Ohh.., Mas masukin semuanya sayang.. jangan siksa ibu.. sayang.."
Lalu kuhentak dengan kasar.. ahh.. jerit mertuaku saat seluruh batang kontolku amblas meluncur dengan indahnya terbenam dijepit memek Ibu mertuaku, yang rasanya membuat aku jadi ketagihan mengentoti ibu mertuaku. Kupeluk ibu mertuaku, kamipun saling melumat, kuangkat perlahan-lahan kontolku kuhujam kembali dengan keras. "Aahh..", jerit ibu mertuaku. "Mas.. Pento.. entotin Ibu Mass.. entotin Ibu.. Mas .. ohh mass. puasin Ibu.. sayang.., uhh ahh." Akupun semakin terangang dan bersemangat mendengar rintihan dan jeritan-jeritan jorok yang keluar dari mulut Ibu mertuaku. Kunaik turunkan pantatku dengan tempo yang cepat dan kasar. "Ahh.. ahh .. Ibu.., jeritku, aku mau keluar.. buu." "Iyaa.. sayang ibu juga mau keluarr." Kupercepat kocokan keluar masuk kontol ku, plak.. plak.. plak..
"Mass.. ayo Mass.. keluar.. bareng.. sayang. Ahh.." Tubuh ibu mertuaku pun mengejang, kakinya menjepit pinggangku. "Mass ahh ahh"
"Ibuu, arrgg", jerit kami bersamaan saat nikmat itu datang seperti ombak yang bergulung gulung. "Cret.. crett.. crett..", kusirami rahim ibu mertuaku dengan spermaku. Aku dan Ibu mertuaku terus berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang begitu dahsyat yang kami raih secara bersamaan, "Bu.." kulihat ibu mertuaku masih memejamkan matanya, dengan nafas terengah-engah. "Iya Mas.."
"Rasanya aku jatuh cinta sama ibu..", kulihat ibu mertuaku tersenyum. manis sekali.. "Ibu maukan jadi kekasihku bu".
Ibu mertuakupun hanya tersenyum dan mengecup keningku dengan mesranya, sambil berkata, "Mas ini nikmat sekali..", dikecup kembali keningku. Hari itu sampai .....magrib menjelang kami berdua terus berbugil ria, aku dan ibu mertuaku seperti layaknya pengantin baru, yang terus menerus melakukan persetubuhan tanpa merasa bosan, tanpa lelah kami terus menumpahkan cairan nikmat kami, di dapur, dikamar tidur ibu mertuaku dan di kamar mandi. Yang paling dasyat, setelah aku dan ibu mertuaku, meminum jamu buatan ibu mertuaku. Badanku segar sekali, dan kontolku begitu keras dan kokoh.., kukocok kontolku dilubang surga Ibu mertuaku, sampai banjir memek Ibu mertuaku danIibu mertuaku memohon kepadaku agar aku memasukan kontolku di lubang anusnya. Nikamat sekali .. saat kutembakan spermaku didalam liang anus Ibu mertuaku. Saat istriku kembali selepas isya, kusambut istriku dan teman temannya, setelah ber bincang bincang sebentar teman teman istriku pamit pulang. Istrikupun masuk menuju kamar hendak menaruh anak kami yang sudah lelap tertidur ke pembaringan. "Mas aku taruh Piko di kamar dulu ya..", kulirik Ibu mertuaku dan kuhampiri beliau sambil berbisik. "Bu.., Indri adalah istri pertamaku, dan Ibu istri keduaku", ujarku. Ibu mertuaku pun tersenyum dengan manisnya, sambil mencubit pinggangku. Hari itu benar benar dahsyat. Dua lubang, lubang memek dan lubang anus Ibu mertuaku sudah aku rasakan. Pada hari keenam liburan kami di Lamongan, aku dan istriku terpaksa harus pulang ke Jakarta, karena dikantor istriku ada keperluan mendadak dan membutuhkan kehadiran Istriku. Mau tidak mau aku dan Istriku membatalkan semua acara liburan kami di Surabaya. Kulihat Ibu mertuaku tampak sedih dan murung, beliau bilang sama Bapak mertuaku kalau beliau masih kangen sama kami, dan kalau menunggu hari raya nanti, rasanya terlalu lama buat beliau. Padahal itu adalah alasan Ibu mertuaku, Ibu mertuaku masih belum mau berpisah denganku, kurayu istriku agar membujuk Bapak mertuaku, berkat bujukan istriku akhirnya Bapak mertuaku membolehkan ibu mertuaku ikut kami ke Jakarta. Ibu mertuaku sangat gembira sekali dan kulihat sekilas matanya melirik kearahku. Besoknya Aku memesan tiket kereta Api, karena hari itu hari kerja, maka Akupun dengan mudah memperoleh tiket, Aku membeli empat tiket dan sedikit oleh-oleh untuk teman teman kami. Sesampainya aku dirumah, kami pun langsung berkemas kemas merapikan barang bawaan kami., Jam sudah menunjukan pukul 6:30 sore. Saat aku hendak menuju kekamar mandi aku berpapasan dengan Ibu mertuaku yang hari itu tampak cantik sekali, kubisikan kepadanya, agar Ibu mertuaku tidak usah memakai celana dalam, ibu mertuakupun tersenyum penuh arti. Dengan diantar Pakde Man dan Bapak mertuaku Jam 8:30 malam kami tiba di stasiun Balapan, setelah menunggu sekitar kurang lebih setengah jam keretapun berangkat. Kuputar bangku tempat duduk kami, biar kami bisA saling berhadapan. Istriku duduk bersama anakku yang sudah teridur dipangkuan istriku sementara aku duduk bersama ibumertuaku. Setelah lewat stasiun yogyakarta, kulihat bangku disamping tempat duduk lami kosong. Berarti sudah tidak ada penumpang.., akupun pindah tempat duduk di sebelah kami, ternyata penumpang kereta hari ini tidak begitu penuh. Dinginnya AC di kereta membuat banyak penumpang yang menarik selimut dan tertidur dengan lelapnya. Kulihat istri dan ibu mertuaku pun sudah tertidur. Jam 2 pagi aku terbangun kulihat istri dan anakku masih tertidur, aku bangkit dengan perlahan lahan kucolek Ibu mertuaku, beliau membuka matanya, sstt, akupun memberi kode kepada Ibu mertuaku. perlahan lahan Ibu mertuaku bangkit, kulihat istri dan anakku masih tertidur. "Bu.. aku kepengen.. bisikku..", Ibu mertuakupun tersenyum, kami berjalan ke arah belakang melewati penumpang lain yang masih lelap tertidur.
Sesampainya kami di gerbong belakang, tepat dibelakang gerbong kami, ternyata hanya ada beberapa penumpang yang sedang terlelap dan masih banyak kursi yang kosong. Setelah mendapat tempat duduk yang kurasa aman kuputar bangku didepan biar aman dan lega bagian tengahnya. Langsung kupeluk Ibu mertuaku, kamipun saling berpagutan, kuremas tetek Ibu mertuaku, dengan perasaan yang sangat berdebar, kubuka celanaku sampai sebatas lutut, kontolku sudah tegak dengan sempurna, kuangkat rok panjang Ibu mertuaku.. woww ternyata Ibu mertuaku sudah tidak memakai celana dalam lagi. "Kamu yang suruh.. katanya", sambil memencet hidungku.
Aku duduk di lantai kereta, badanku bersandarkan tempat duduk, Ibu mertuakupun bangkit mengangkangiku, perlahan-lahan di arahkan memeknya ke burungku yang sudah tidak sabar menerima sarangnya. Diturunkan perlahan lahan dan bless.. amblas semua kontolku masuk kedalam tertelan lobang nikmat Ibu mertuaku yag sudah sangat basah sekali.
"Ahh rintih kami bersamaan.." Goncangan kereta api dan goyangan naik turun pantat Ibu mertuaku menambah nikmatnya persetubuhan kami. Dengan cepat Ibu mertuaku menaik turunkan pantatnya, kami berdua bersetubuh dengan rintihan perlahan. takut kalau-kalau ada penumpang yang terbangun dan melihat perbuatan kami. Hanya beberapa menit saja.., "Aahh, hh.. Ibuu aku.. aku.. mau keluarr..".
"Cret.. cret.. crett.." Kuangkat badanku dan kupeluk dengan erat tubuh Ibu mertuaku, tanpa sadar Ibu mertuakupun mengigit pundakku saat ejakulasi dan orgasme bersamaan hadir melanda dua insan manusia yang sedang lupa diri dan dilanda asmara.
"Deg-deg-deg-deg", suara jantungku, untungnya tidak ada seorangpun yang lewat.. modar mandir.
Buru buru Aku dan Ibu mertuaku merapikan pakaian kami dan bergegas kembali kegerbong kami, kulihat anak dan istriku masih lelap tertidur, Aku dan Ibu mertuaku kembali keposisi kami masing-masing dan tertidur dengan senyum penuh kepuasan.

Janda Muda

Saya Firman Rusadi 23 tahun dan saat ini saya kuliah dan bekerja. Cerita ini bermula pada saat saya jalan-jalan dengan teman-teman saya di suatu kawasan di Jakarta yang memang sudah cukup terkenal di kalangan anak muda.
Saat saya sedang melintas di jalan Sudirman saya melihat seorang wanita dan saya menghentikan kendaraan saya lalu kami pun berkenalan. Wanita tersebut bernama Nia dan dia masih berumur 19 tahun dengan tinggi kurang lebih sekitar 175 dan dengan ukuran bra sekitar 36 C akhirnya saya menawarkan dia untuk mengantar pulang dan dia pun setuju, maka akhirnya kami jalan pulang tanpa ada apa-apa. Kesokan harinya pada pukul 10.00 Nia menghubungi saya via HP saya “Hallo, Firman Rusadi ya?” “Siapa nih?”, tanya saya
“Nia, masa lupa yang semalam kenalan..” “Oh, iya.. lagi dimana nih.” “Lagi di Blok M, kamu ada acara nggak hari ini?”
“Ehmm, nggak ada tuh kenapa?”, jawab saya “Bisa jemput?” “Ya udah dimana?” “Di McDonald Blok M aja ya jam 11.00″ “Ok”
Singkat cerita langsung saya meluncur ke arah Blok M Sesampainya disana kami ngobrol sejenak lalu kami memutuskan untuk pergi.
“Mau kemana nih?” tanya saya “Terserah kamu aja..” “Main kerumahku sebentar yuk mau nggak?” “Ok”, jawabnya dengan santai.
“Ga takut?”, tanya saya “Takut apa?” “Kalo diperkosa gimana?” Tapi dia dengan santainya menjawab, “Ga usah diperkosa juga mau kok.. he.. he..” sambil melirik kearahku dan mencubit manja pinggangku. Kemudian saya bertanya, “Bener nih?”
Dia menjawab, “Siapa takut?” Lalu segera kita meluncur ke arah rumahku di bilangan Tebet yang memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai saya lalu mempersilahkan Nia untuk masuk lalu kami duduk bersebelahan dan saya menggoda dia.
“Bener nih nggak takut diperkosa?” Dia malah menjawab, “Mau perkosa aku sekarang?” ujarnya sambil membusungkan dadanya yang montok itu. Aku tidak tahu siapa yang memulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu dan saling melumat, dan memainkan lidah nya di mulutku. Tangan kirinya melepas bajuku dan aku tak mau ketinggalan, saya ikut membuka kaos ketatnya itu dan melepas BH nya.
Ciumanku menjalar menyusuri leher dan belakang kupingnya. “Ahh.. esst.. terus yang..”, Nia udah mulai meracau tidak jelas saat lidah saya turun ke dadanya diantara kedua bukitnya. Lidah saya terus menjalar di buah dadanya namun tidak sampai pada pentilnya.
Nia mendesah-desah, “Man isep Man ayo Man gue pingin elo isep Man..” Namun aku tidak memperdulikannya dan masih bermain di sekitar pentilnya dan turun ke perut sambil perlaha-lahan tanganku membuka celananya dan masih tersisa celana dalamnya.
Akhirnya kepalaku ditarik Nia dan ditempelkannya teteknya ke mulutku. “Ayo Man isep Man jangan siksa gue Man..”
Akhirnya mulutku menghisap tetek sebelah kirinya sedangkan tangan kanan ku meremas-remas tetek sebelah kanannya.
“Ohh.. aah.. esst.. enak Man terus sedot yang keras Man gigit Man ohh..”, racaunya.
Sambil kusedot teteknya bergantian kiri dan kanan tanganku bergerilya di bagian pangkal pahanya sambil menggosok- gosok klitorsnya dari bagian luar celana dalamnya. Nia pun tidak sabar, akhirnya dia membuka celanaku termasuk celana dalamku sehingga mencuatlah ‘adekku’ yang sudah berdiri tegak itu dan Nia terpana. “Gila gede banget Man punya elo..”
Dan tanpa dikomando langsung Nia memasukan kontolku ke dalam mulutnya yang mungil, terasa penuh sekali mulut itu, Nia menjilat-jilat ujung kemaluanku terus turun ke bawah sampai selurh batangnya terjilat olehnya. “Ah.. enak Ni terus Ni” aku pun menahan nikmat yang luar biasa. Akhirnya aku berinisiatif dan memutar tubuhku sehingga posisi kami menjadi 69. Sesaat aku menjilati bagian bibir vaginanya Nia mendesah. “Ah.. enak Man esst.. terus Man..” Akhirnya Nia menggelinjang hebat ketika lidahku menyentuh bagian klitorisnya.
“Ahh.. Man aku sampai Man..” sambil mulutnya terus mengelum penisku sedotan Niapun semakin cepat dan kuat pada penisku maka aku merasakkan denyut-denyut pada penisku. “Ni, gue juga mau sampai Ni ahh..”
“Barengan ya..” Mendengar itu Nia makin bernafsu menyedot-nyedot dan menjilati penisku dan akhirnya..
“Acchh.. ach..”, crot.. crot.. crott.., 8 kali penisku menyemprotkan sperma dalam mulut Nia dan dia menelan semuanya sehingga kamipun keluar secara bersamaan. Akhirnya Niapun menggelimpang disampingku setelah menjilati seluruh penisku hingga bersih.
“Makasih ya Man aku dah lama nggak orgasme sejak suami gue kabur..”, kata Nia “Emang suami kamu kemana?”
“Ga tau tiba-tiba dia ngilang setelah gue ngelahirin anak gue” “Lho kamu dah punya anak?” “Udah umur setahun, Man”
Kemudian Nia memeluk saya dengan eratnya. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke arah saya, lalu saya cium bibirnya lembut dia pun membalasnya tapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Kemudian Nia memgang kemaluan saya yang masih terbuka dan meremas-remasnya sehingga secara otomatis ‘adikku’ langsung berdiri dan mengeras.
Kemudian Nia menaiki tubuh saya lalu menjilati habis seluruh tubuh saya mulai dari mulut hingga ujung kaki.
“Ach..” desahku sejalan dengan jilatan di tubuhku. Kemudian Nia mengulum penisku terlihat jelas dari atas bagaimana penisku keluar masuk mulutnya yang mungil itu. “Ah. sst.. enak Sayang terus sedot Sayang achh..” desahanku semakin mengeras.
Lalu kuputar tubuhku sehingga posisi 69 dengan Nia diatas tubuhku lalu aku menjilati vagina Nia dan kuisep klitoris Nia.
“Ahh.. enak Man terus Sayang, aku Sayang kamu achh..” desah Nia meninggi. Kemudian Nia memutar tubuhnya kembali dan dia memegang ‘adikku’ yang sudah siap tempur itu, dipaskannya ke liang vagina setelah pas perlahan-lahan diturunkannya pantat Nia. Sehingga perlahan-lahan masuklah penis saya ke liang senggama Nia “Auw.. sst.. ohh.. geede banget sih punya kamu yang” lirih Nia.
“Punya kamu juga sempit banget Yang, enak.. ah..” kataku. Perlahan-lahan aku tekan terus penisku ke dalam vaginanya yang sempit itu. Akhirnya setelah amblas semuanya Nia mulai mengerakan pinggulnya naik turun sehingga membuat penis saya seperti disedot-sedot.
Nia berada diatasku sekitar 15 menit sebelum akhirnya dia mengerang. “Ahh.. Sayang aku keluar Yang, ahh..” racaunya.
Setelah itu tubuh dia melemas dan memeluk aku namun karena aku sendiri juga mengejar puncak ku maka langsung kubalik tubuhnya tanpa melepas penisku yang ada di dalam vaginanya. Setelah aku berada diatasnya maka langsung kugenjot Nia dari atas terus menerus hampir kurang lebih 20 menit hingga akhirnya Nia mengalami orgasme yang ketiga kali dalam waktu yang singkat ini.
“Ahh.. Sayang aku keluar lagi Sayang ahh..” Desah Nia. “Kamu lama banget sih Sayang” desah Nia sambil terus menggoyangkan pinggulnya memutar. “Ahh terus Sayang sstt enak Sayang terus..” racaunya. “Iya aku juga enak Sayang terus Sayang ahh.. enak Sayang mentok banget ah..” racauku tak kalah hebatnya. Akhirnya setelah aku menggenjot Nia selama kurang lebih 40 menit aku merasakan seperti ada yang mendesak ingin keluar dari bagian penisku. “Sayang, aku mau keluar Sayang” “Mau di dalam atau diluar Sayang?” kataku. “Bentar Sayang aku juga mau keluar lagi nih ahh..” desah Nia. “Di dalem aja Sayang biar aku tambah puas” desah Nia lagi.
“Ahh.. sst.. Sayang aku keluar Sayang ahh..” racauku “Barengan Sayang aku juga sampai ah.. ahh.. oh..” desah Nia.
“Ahh.. Sayang aku keluar Sayang ahh.. sst.. ohh..” desahku. “Aahh” menyemprotlah spermaku sebanyak 9 kali.
“Emmhh..” saat itu juga si Nia mengalami orgasme. “Makasih ya Sayang” kata Nia sambil mencium bibirku mesra.
Setelah itu kami langsung membersihkan diri di kamar mandi dan didalam kamar mandi pun kami sempat ‘main’ lagi ketika kami saling membersihkan punya pasangan kami masing-masing tiba-tiba Nia jongkok dan mengulum punyaku kembali dan au dalam posisi berdidi mencoba menahan nikmatnya. Namun aku tidak tahan menahan gejolak yang ada maka aku duduk di ws dan Nia duduk di atasku dengan posisi menghadapku dan dia memasukkan kembali penisnya kedalam vaginanya. “Bless.. ahh.. sst.. enak Sayang ahh..” racaunya mulai menikmati permainan. Namun setelah 15 menit aku merasa bosan dengan posisi seperti itu maka aku suruh memutar tubuhnya membelakangi aku dan aku angkat perlahan tanpa melepas penisku dan aku suruh Nia menungging dengan berpegangan pada tepian bak mandi dan ketika dia menungging langsung aku genjot maju mundur sambil meremas-remas buah dadanya yang mengayun-ayun.
“Ah.. Man aku mau keluar Man..” desahnya. “Man aah..”, terasa cairan orgasme Nia kembali membasahi penisku.
Karena kondisi Nia yan lemas maka aku memutuskan untuk melepaskan penisku dan Nia melanjutkannya dengan mengulum penisku hingga akhirnya.. “Ni aku mau keluar Sayang.. ah..”, Sambil kutekan dalam-dalam kepalanya ke arah penisku sehingga terlihat penisku amblas semua ke mulutnya yang mungil itu. Dan ketika Nia menyedot penisku maka.. “Ah.. Ni..” akhirnya aku semprotkan seluruh spermaku ke mulut Nia dan aku lihat Nia menelan semua spermaku tanpa ada yang tumpah dari mulutnya bahkan dia membersihkan penisku dengan menjilati sisa-sisa seluruh sperma yang ada. Setelah itu kami saling membersihkan tubuh kami masing-masing dan kami kembali ke kamar dengan tubuh yang sama-sama telanjang bulat dan kami tiduran sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami dan kami saling mencium dan meraba serta ngobrol-ngobrol sejenak.
Tanpa terasa kami sudah berada di rumahku hampir selama 4 jam. Maka akhirnya kami mengenakan baju kami masing-masing dan setelah itu aku mengantarkan Nia pulang ke kostannya di daerah Blok M dan berjanji untuk saling menghubungi. Hingga saat ini diturunkan kami masih sering melakukan hubungan intim.




Anakku Iparku

Apakah dengan menceritakan aib ini dapat meringankan beban yang selama ini kuemban? entahlah, mungkin di antara pembaca ada yang pernah mengalami kisah yang pernah aku jalani. Aku hanya ingin berbagi bahwa anda tidak sendirian atau satu-satunya yang memperoleh pengalaman itu, atau justeru aku lah yang sendirian?
This is The Story. Saat itu aku, seorang wanita berumur 24 tahun, baru saja melepas masa lajangku dalam mahligai pernikahan bersama seorang pria pujaan hatiku dan amat kucintai. Mas Hadi namanya, seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta . Kebahagiaan selalu menghias hari-hari kami meskipun kami masih menumpang di rumah ayah Mas hadi, seorang duda mantan lurah berumur 65 tahun dan sepasang kakinya telah lumpuh karena penyakit darah tinggi. Selama ini mas Hadi lah yang merawat ayah mertuaku karena anak-anaknya yang lain hidup di perantauan. Mulai dari memandikan, mengantar berobat dan lain-lain. Ayah mertua menolak dirawat pembantu yang sempat di bawa mas Hadi dengan alasan lebih comfort jika dirawat anak sendiri. Untungnya mas Hadi adalah tipe anak berbakti dimana hal itu pula yang semakin menambahkan kekagumanku padanya. Sayangnya kebahagiaan kami terasa belum lengkap karena kami belum dikaruniai anak.
Sudah hampir 2 tahun kami berupaya dengan berbagai macam cara untuk dapat menghasilkan keturunan. Mulai dari mengikuti saran tetangga, minum ramuan tradisional, orang pintar, dukun, sampai pengobatan medis modern. Namun sejauh ini belum mendapatkan kemajuan berarti, sampai suatu ketika dokter langgananku memanggilku khusus aku sendiri yang harus datang. Bagaikan di sambar petir dan dadaku di timpa gunung ketika pak dokter menyampaikan bahwa suamiku tercinta divonis tidak akan mampu menghasilkan keturunan alias mandul, dan mengharapkan aku sendiri yang harus menyampaikan kenyataan itu padanya. Hatiku miris dan bingung, tak mungkin hal itu kulakukan, aku begitu amat mencintai suamiku dan hal itu pasti akan sangat melukainya, bagaimana jika dia depresi, bagaimana jika ia meninggalkanku, segala macam kemungkinan buruk melintas dalam pikiranku.Namun selama berbulan-bulan berikutnya aku mampu menjaga sikapku di hadapan suami hingga tidak menimbulkan kecurigaan. Apakah aku harus berselingkuh?bagaimana jika rupa anakku nanti tidak sama dengan suamiku? Sampai suatu hari, ditengah keputus asaanku timbul ide gila yang menurutku saat itu adalah solusi terbaik.
Malam itu, usai kami berhubungan intim dan melihat suamiku terlelap, aku beranjak dari tempat tidur dan perlahan-lahan keluar dari kamar tidur menuju satu tempat : kamar ayah mertuaku. Perlahan pintu kamar ayah kubuka dan di temaram cahaya kulihat ayah mertua tengah tertidur pulas dengan suara mendengkur.Dengan mengendap aku mendekati ranjang ayah yang saat itu,seperti biasanya memakai oblong dan sarung. Perlahan tanganku menyingkap sarung ayah sampai kepangkal paha sehingga dengan jelas terlihat kemaluannya yang terkulai layu namun cukup besar. Dengan lembut tanganku mengusap-usapnya dan kini mulai bereaksi degna semakin memanjang, agak sedikit terkejut bathinku menyaksikan ternyata penis mertuaku lebih besar dari milik suamiku. Suara dengkuran mertuaku berhenti dan kini hanya tarikan nafas tenang yang terdengar meskipun aku yakin ia masih tertidur. Tanganku masih mengelus-elus batang kemaluannya tetapi belum menegang sempurna, hingga aku putuskan untuk menggunakan mulutku untuk merangsangnya seperti adegan film bf yang pernah kusaksikan. Kepalaku segera menunduk, kucium aroma khas kelelakian ayah mertuaku, lalu lidahku mulai menjilatinya hingga daging panjang itu berkilat-kilat tertimpa cahaya redup lampu kamar. Kemudian , hap...., separuh batang kontol itu tenggelam dalam kuluman mulutku sambil tanganku mengocok-ngocoknya lembut. Nafas mertuaku kini mendengus-dengus dan mulutnya menceracau, agaknya ia menggigau, pikirku. Aku terus mengulum,menghisap dan mengunyah lembut alat kejantanan mertuaku hingga kurasakan sudah amat keras tanda ereksi yang sempurna. Inilah saatnya, pikirku, namun tiba-tiba ayah mertuaku terbangun dan dengan suara parau berkata " Diah, apa yang kamu lakukan nak?aku ini ayah mertuamu bagaimana jika....!tanganku segera membekap mulut ayah mertuaku, dengan terisak aku berkata.."ayah,mas Hadi sudah divonis mandul, aku tidak ingin memberitahukannya, aku kasihan mas Hadi, dan aku mengharapkan bantuan ayah dalam hal ini..."kepalaku terkulai di dada ayah mertuaku namun satu tanganku masih menggenggam dan mengocok batang penis ayah mertua. "....ahhh, Diah...tapi...ssshh...sudahlah, lakukanlah...tapi untuk sekali dan terakhir...ayah juga sudah lama tak merasakan tubuh wanita sejak ibunya Hadi meninggal", ujar mertuaku sambil membelai rambutku lembut. "Terima kasih...ayah" kataku seraya beranjak naik ke atas tempat tidur ayah mertua lalu merangkak di atas tubuhnya. Dengan berlutut tepat di atas selangkangannya aku loloskan gauun tidurku di mana aku tidak menggunakan sesuatupun di baliknya. Mata ayah mertua membelalak kagum dan penuh hasrat melihat kemolekan tubuh telanjangku yang dibalut kulit kuning langsat itu, matanya terpaku pada sepasang payudara ranum milikku yang cukup besar. Manakala aku sedikit menunduk di atas dadanya untuk memudahkan penetrasi rudalnya kedalam vaginaku tangannya langsung menangkap buah dadaku dan meremas-remasnya dengan gemas sehingga aku merasa sedikit kesakitan,"...pelan..pelan dong yah, sakit", ujarku lirih. Sejujurnya aku sama sekali tidak begitu nafsu melihat tubuh mertuaku yang sudah banyak keriput dan sedikit timbunan lemak di sana sini, apalagi jika mengingat suamiku, maka kucoba membayangkan aku tengah bersetubuh dengan suamiku sendiri. Ayah mertua kebetulan juga sangat mirip dengan mas Hadi.
Penetrasi itu gagal berkali-kali, apakah karena kemaluan ayah yang terlalu besar atau karena aku yang belum terangsang sehingga memekku masih kering?!. Entahlah, karena kulakukan ini bukan untuk bersenang-senang tapi untuk membahagiakan mas Hadi dengan memberikan keturunan meski dengan cara yang salah.Kuludahi batang kontol ayah namun belum mampu juga menembus vaginaku. Kemudian ku lepas tangan ayah yang tengah merermas-remas payudaraku lalu aku merangkak ke depan kemudian berlutut tepat di atas wajah mertuaku, dengan perlahan kuturunkan selangkanganku sehingga menyentuh hidung dan mulut mertuaku.."ayah..jilat", pintaku pada ayah mertua. Dengan penuh nafsu lidah mertuaku mengusap-ngusap menjilati mount veneris, labia mayora dan minora serta clitorisku. Tangannya pun ikut membantu dengan menekan dan menggaruk-garuk pelan klentitku, sesekali ia hujamkan jarinya ke lubang senggamaku, sementara tangannya yang lain menekan-nekan mencoba menembus lubang anusku. Saat itu pula hasratku berdesir mengaliri setiap pembuluh darahku, tanpa terasa aku mulai mendesah-desah dan kurasakan vaginaku mulai membengkak dan memproduksi cairan pelicin yang dengan rakus dihisap-hisap oleh mertuaku. " Ayah,..cukup", ujarku dengan suara bergetar. Lalu beringsut mundur ke posisi semula. Ku genggam batang kemaluan ayahku untuk kuarahkan tepat di mulut liang senggamaku lalu perlahan tapi pasti tongkat daging keras itu tertelan dalam vaginaku,"sshhh...ayaahhh", aku mendesah merasakan rangsangan yang amat hebat di tengah-tengah antara dua pangkal pahaku.Pantatku segera mengayun ke atas-bawah, ke samping kanan-kiri. "Ohhhhss...Diah mantuku..hhhh", desah mertuaku yang tangannya dengan trampil meremas-remas payudaraku yang montok. Sesekali kudekatkan di wajahnya sehingga ia bisa menghisap putingnya dengan rakus, menyebabkanku menggerinyit menahan ....sakit karena ayah nyaris menggigitnya. "ayahhh...kalo mau keluar..... bilang ya? kataku sambil terus berkelojotan di atas tubuhnya.Dan semenit kemudian ayah memberikan isyarat bahwa ia akan orgasme,"diah..aku sudah tidak tahan..uuhhhg", erang mertua nyaris berteriak jika saja tak keburu kubekap mulutnya. Dengan segera tubuhku rebah di atas dadanya, kurangkul erat lalu dengan sekuat tenaga aku berguling membawa tubuh ayah mertuaku yang telah lumpuh itu sehingga kini posisi tubuhnya berada di atas tubuhku. Dengan segera kurangkul pantatnya dengan kedua kakiku, menariknya kebawah sehingga kurasakan ujung kontolnya menyentuh mulut rahimku dan sedetik kemudian tubuh mertuaku menegang seiring dengan semprotan-semprotan kuat cairan hangat dalam rahimku..crot...crot...crot...crot, banyak sekali sampai semenit semprotan sperma itu dengan deras keluar dari ujung penis mertuaku. Maklum hampir 10 tahun tidak pernah berhubungan sex dengan lawan jenis. Lama tubuhnya terkulai lemas di atas tubuhku yang basah kuyub oleh keringat. Dengan pelan kudorong tubuh mertua kesamping. Nafasnya masih ngos-ngosan dan matanya menerawang. Aku sendiri cukup lama berbaring telentang di sampingnya, kakiku kutumpangkan di atas sandaran ranjang, berharap spermanya tidak tumpah keluar dan berharap pembuahan segera terjadi. 1 jam kemudian aku bangkit di mana mertuaku sudah kembali mendengkur kelelahan namun dengan wajah bahagia. Sarungnya masih tersingkap dan kemaluanya masih berselemotan sperma. Kurapikan pakaianya dan segera kupakai kembali gaun tidurku, kukecup kening ayah mertuaku lalu berjalan meninggalkan kamarnya dengan salah satu tangan mendekap memekku takut kalau cairan sperma ayah mertuaku segera tumpah. Kemudian kembali aku menyelinap ke balik selimut di sisi suamiku yang masih terbawa mimpi.
Esoknya hari berjalan seperti biasa. Hanya ada sedikit perubahan pada sikap mertuaku yang tadinya cenderung murung kini agak lebih rileks. Walau terkadang tatapan matanya kepada suamiku menyiratkan suatu beban tapi its oke. Sebagai manusia normal hal itu ku anggap wajar, manusia mana sih yang tidak merasa berdosa karena menyelingkuhi menantunya kendati dalam masalah ini akulah yang memulai. Tetapi ayah memang memegang janji, bahwa peristiwa malam itu adalah pertama dan terakhir, meskipun matanya kadang memandang nakal kepadaku. Demikian pula halnya denganku yang hanya menginginkan timbulnya kehidupan di dalam rahimku. Namun aku harus menghadapi kenyataan pahit manakala harapanku tidak tercapai. 2 minggu kemudian aku mengalami haid. Aku sedemikian panik hingga nyaris depresi meskipun aku mampu menyembunyikannya di depan suamiku. Mertua ku pun tidak mengetahui hal ini. Sampai suatu ketika menjelang suamiku berangkat ke kantornya aku berkata, "mas, ayahmu kan berarti ayahku juga, bagaimana bila besok pagi aku saja yang mandikan ayah, mas sorenya, aku kasihan melihat mas pulang malam, bangun pagi-pagi mempersiapkan kerjaan harus dibebani pula ngurusi ayah"."Diah, itukan memang sudah kewajibanku sebagai anak, emangnya kamu gak risih dan malu?tanya suamiku. "Ngga mas, kan tadi sudah kubilang kalau..." sssst..!, desis suamiku memotong ucapanku,"oke kalau memang itu maumu nanti aku bilang sama ayah, kamu memang istri ideal, sayang suami dan sayang mertua, cup"katanya seraya mengecup pipiku lalu segera pamit.
Keesokan harinya ketika suamiku sudah berangkat, kudekati ayah yang sedang membaca koran di atas kursi rodanya di halaman belakang rumah." Ayah,...waktunya mandi", ujarku lirih seraya meletakan koran ayah dan mendorong kursi rodanya menuju kamar mandi yang cukup besar dan telah disiapkan kursi khusus untuk mandi ayah. Setibanya di sana aku segera memapah dan mendudukan ayah lalu melepaskan kaus oblong dan sarungnya sehingga kini telanjang. Dengan rikuh ia memandangiku, sementara aku mulai menyiraminya dan menyabuninya. Sengaja agak lama kusabuni kemaluannya sehingga lambat laun berdiri tegang, tiba-tiba ayah mertua memegang tanganku yang masih mengusap-usap alat kejantanannya,"ada apa nduk?", tanyanya lembut. "Ayah,...hampir dua minggu yang lalu aku mens,...dengan kata lain...benih ayah tidak berhasil membuatku hamil", jawabku dengan suara bergetar nyaris terisak. Lama ayah mertuaku tercenung sampai akhirnya ia berkata,"baiklah, mungkin perlu kesempatan kedua, tapi Diah,...setelah ini ayah tidak sanggup lagi, orangtua yang tinggal matinya seperti ayah ini mestinya tidak lagi berbuat dosa, kamu mengerti kan?" katanya lembut. Aku mengangguk. Lalu kembali melanjutkan memandikan ayah mertuaku dan setelah usai segera melap tubuhnya dengan handuk. Aku berjalan mendekati pintu kamar mandi dimana kapstok tergantung, lalu mulai melepaskan pakaianku satu per satu di hadapan mertuaku yang menatapku dengan tajamnya. Kerongkongannya naik turun seiring dengusan nafasnya yang terbakar nafsu. Kudekati tubuhnya lalu dengan berlutut kutundukan kepalaku di pangkuannya dan sekali lagi batang kontol mertuaku kembali berada dalam kekuasaan mulutku. Haru aroma sabun membuatku semakin bergairah untuk menjilat, mengulum dan menghisap-hisap penis tegang mertuaku sampai kuarasakan cairan asin mulai keluar dari ujungnya.Mertuaku dengan mengerang-erang menggerumusi rambutku dan meremas-remas payu daraku."Diahh.....cepat lakukan, oohhh", perintahnya sambil mengerang, aku berdiri,"tapi ayahh, aku belum basah", jawabku sambil mendekati tubuhnya sehingga ujung payudaraku menyentuh wajahnya.Mulutnya segera menelan puting buah dadaku lalu mengunyah-ngunyahnya dengan buas sehingga kembali aku meringis menahan sedikit rasa sakit dan geli.Tangannya menggaruk-garuk klitorisku sementara tangannya yang lain dari belakang pantatku menerobos lubang memekku dan menekan-nekan lubang duburku. Tubuhku bergetar tanda hawa nafsu telah bergejolak dalam setiap simpul urat syarafku kendati wajah suamiku lah yang selalu kubayangkan.Tiba-tiba tangan mertuaku melepaskan eksplorasinya dari area sekitar selangkanganku,selintas kulirik tangan itu menggapai potongan sabun yang ada di dekatnya, mengusap-usapnya hingga timbul busa, dan,"ahhhh...ayahhh", aku terkejut menahan sakit dan nikmat sekaligus manakala satu jari ayah mertua berhasil tertanam dalam lubang anusku sementara satu jari lainnya menghujam lubang kenikmatanku. Dengan segera ia memasuk-keluarkan jemarinya di dalam dua rongga tubuhku sekaligus, dan yang aku rasakan adalah kenikmatan luar biasa. Vaginaku segera menghasilkan cairan pelumas yang cukup banyak sehingga gerakan jari-jari mertuaku menimbulkan suara berkecipak.dan sepuluh detik kemudian ledakan-ledakan nikmat mendera lubang senggamaku.. "ayahhh...auh..auhhh.."teriakku seiring orgasme dahsyat di dalam organ kewanitaanku. Semburan cairan ejakulasiku membasahi pangkuan dan kaki mertua ku yang dengan giat tangannya terus beraktivitas menusuk, menggelitik,dan berputar-putar di lubang memek dan anusku sampai aku kembali mengerang, merintih dalam kerasukan birahi."ayo, Diah...tunggu apa lagi?", tanya mertuaku. Aku segera membelakangi mertua ku mencoba duduk di atas pangkuan...dan...jleb, batang kontol besar itu sukses tenggelam dalam cengkraman liang vaginaku, dan aku mulai bergerak maju mundur di mana mertuaku membantu dengan merangkul pinggangku menarik dan mendorong. Kali ini aku ingin menikmatinya usai kurasakan orgasme paling sensasional tadi.Keringat membasahi kening, punggung, dan dadaku. Mertuakupun kini berkeringat padahal baru saja dimandikan.Beberapa menit kemudian aku bangkit merubah ...posisi, kini dengan berhadapan kembali aku duduk di pangkuan ayah mertuaku yang kedua kakinya lumpuh, tapi tidak kaki tengahnya. Dengan segera payudaraku dilahap oleh mulut mertuaku setelah sebelumnya lidahnya menjilati leleran keringatku."Diaahhh,...ayah mau keluaarrrr...", erangnya denga parau."Ayo...ayaahhh, bentar lagi yahh, Diah..juga mau keluarrr,..ssshh, ayahhhh, keluarin sekarang,...aahhhhh", teriakanku seiring datangnya orgasmeku yang kedua bersamaan dengan muncratnya lahar sperma ayah di dalam vaginaku. Lama sensasi nikmat itu kami rasakan. Hingga akhirnya kulepaskan rangkulanku dari tubuh ayah. Kemudian aku rebah di atas lantai kamar mandi dengan kaki tertekuk sambil mengatur nafas.Ayah mertua mengawasiku dengan wajah puas. 2 jam kemudian aku bangkit berdiri, segera cairan sperma ayah mertua mengalir keluar dari mulut vaginaku, membanjiri paha dan terus ke betisku hingga menggenang di lantai, banyak sekali, pantas punya anak sampai 7.Aku segera membilasnya, lalu berjongkok, kencing, tepat di hadapan dan di bawah tatapan tajam ayah mertuaku yang sekilas kuperhatikan kontolnya kembali berdiri . Kami lalu mandi berdua dan kuantar ayah kekamarnya untuk beristirahat.
3 Minggu kemudian aku dinyatakan positif hamil. Dan suamiku menyambut kabar gembira ini dengan amat bahagia. Demikian juga ayah mertuaku yang sebenarnya punya andil besar atas kehamilanku.Sebagai ucapan terimakasihku pada ayah, sesekali aku puaskan dirinya secara sexual sampai usia kandunganku 5 bulan ketika ia memutuskan untuk tidak lagi melakukannya lagi . Ketika anakku berumur 1 tahun ia meninggal dunia. Anakku mirip sekali dengan suamiku, tentu saja, karena tak lain ia adalah adiknya sendiri. Namun kini aku kembali menemui dilema, suamiku menginginkan adik untuk anakku. Adakah pembaca yang bisa membantu?

Banjir Membawa Kehangatan

Saya benar benar tidak menduga Jakarta akan kebanjiran seperti itu dan semua di luar perkiraan. Di hari yang mereporkan itu seperti biasa saya pergi bekerja, hanya saja hari itu saya harus keluar kantor ke tempat lain yang berada agak jauh dari pusat kota. Sebenarnya saya sudah malas untuk pergi hari itu karena cuacanya juga tidak enak, tapi terpaksa harus pergi juga. Dari kantor saya diantar mobil kantor sampai ke tempat tujuan melalui jalan toll arah ke Merak. Sesampai di tujuan saya di drop saja karena waktu itu saya pikir nanti sore biar mobil saya saja yang menjemput ke tempat saya.
Urusan kerjaan di tempat itu lancar tidak ada masalah, bahkan sempat sedikit santai di restoran dekat sana untuk sedikit makan makanan ringan dan minum bersama relasi. Kami berempat dan hanya saya sendiri yang wanita, cerita sedikit soal kerjaan dengan diselingi cerita di luar itu. Cukup enak juga suasananya, entah mengapa mereka begitu antusias mendengarkan cerita saya, tapi kadang agak kikuk juga ya dilihat tiga pria yang matanya semua melihat ke saya. Tapi biasalah namanya pria, kadang kadang matanya mencuri curi pandangan melihat sekitar dada saya dan kadang ke arah paha saya yang sedikit terliaht karena rok saya yang mini itu, yang penting kan mereka tetap sopan.
Menjelang sore ketika saya akan pulang, saya telpon ke suami menanyakan apakah supir sudah menuju tempat saya, karena belum juga tiba, tapi menurut suami mobil sudah dari tadi menuju tempat saya. Melihat saya agak kebingungan, salah satu dari mereka menawarkan untuk ikut mobilnya dan mau mengantarkan saya. Tapi saya merasa tidak enak jadi saya tolak. Karena sudah sore maka kami keluar dari restoran kemudian berpisah di sana. Tinggal saya sendiri yang masih di sekitar sana. Tidak lama setelah itu handphone saya berbunyi dan itu dari suami dan katanya dia dapat telpon dari supir, mengatakan supir tidak bisa menuju tempat saya karena jalanan yang akan di lewati banyak yang tergenang air dan jalan toll macet hampir tidak bergerak. Suami sendiri pulang pakai mobil dari kantor dan sedang menuju rumah dan katanya dia juga mengalami macet.
Saya jadi semakin khawatir dan bingung. Akhirnya saya beritahukan suami biar saya pulang pakai taksi saja yang kebetulan banyak terliaht di sekitar saya.
Saya lupa nama taksinya tapi yang penting ada kendaraan untuk pulang walaupun pasti mahal nantinya. Hujan mulai turun agak lebat, tapi jalanan lancar lancar saja dan saya pikir akan tidak ada masalah, paling hanya macet sedikit nanti di pintu keluar toll. Tapi ternyata salah dugaan saya. Mau keluar jalan toll, padahal masih jauh tapi sudah macet dan hampir tidak bergerak. Entah seberapa lama baru bisa keluar dari toll, tapi diluar sudah mulai gelap dan jalanan tetap macet.
Ahirnya taksi yang saya tumpangi keluar juga dari jalan toll, tapi yang jelas memerlukan waktu lebih dari sejam bahkan mungkin lebih, saya sendiri sudah tidak peduli lagi waktu itu. Padahal pada hari biasa mungkin kurang dari setengah jam sudah bisa keluar dari toll yang saya maksud.
Tapi saya belum bisa tenang, karena perjalanan masih jauh dan jalanan begitu macet hingga tidak bergerak sama sekali. Sementara itu hujan di luar semakin lebat dan jalanan yang awalnya hanya tergenang air sedikit, semakin lama semakin tinggi. Sampai selang beberapa waktu supir taksi mengatakan sesuatu yang membuat saya shock. Supir taksi minta saya turun di jalan saja karena taksinya sudah kehabisan bensin dan tidak bisa terus lagi. Tentu saja ini membuat saya sangat bingung karena bagaimana selanjutnya untuk bisa pulang. Saya juga tidak bisa bilang apa apa lagi ke supir taksi, segera saya bayar dan keluar dari taksi. Di luar hujan masih turun tapi tidak lebat tapi tetap saja baju menjadi basah, apalagi tidak membawa payung saya.
Dengan berjalan kaki menyelusuri trotoar saya berusaha mencari tempat bisa berteduh. Air sudah dari tadi terasa masuk ke dalam sepatu dan bajupun semakin basah. Sampai akhirnya saya mendapatkan tempat untuk berteduh yang agak luas, tapi itu juga sudah ada beberapa orang yang bertujuan sama dengan saya. Tepatnya itu di depan toko yang sudah tutup dan depannya sedikit luas dan terlindung dari hujan yang sedang turun, selain itu lampu penerangannya cukup terang jadi terasa agak aman.
Ketika saya datang untuk ikut berteduh, pandangan semua orang yang berada di situ yang kebetulan semua pria, tertuju ke saya. Tadinya saya tidak begitu menghiraukan karena mungkin karena melihat seorang wanita yang sedang basah kuyup. Baru saya sadar setelah beberapa menit di situ. Saya melihat baju atasan yang berwarna putih yang dipakai sudah basah sekali hingga melekat di badan. Karena bahannya tipis maka terlihat benar badan saya mendekati transparan. Dalam keadaan biasa saja bra yang saya kenakan terlihat dengan jelas, apalagi sekarang. Ditambah lagi hari itu saya memakai bra yang tipis mendekati transparan. Jadi kalau kena air seperti itu sudah pasti dada saya kelihatan dan mengecap, terutama bagian tengahnya. Kalau di luar negeri mungkin saya masih bisa tenang sedikit karena tidak terlalu banyak yang memperhatikan dan peduli dengan penampilan saya. Begitu kikuknya sampai sengaja kedua lengan saya tempelkan ke dada saya, pura pura seperti orang kedinginan.
Dalam keadaan bingung seperti itu tiba tiba pria di sebelah saya yang juga sedang berteduh mengajak bicara saya. Sepertinya pria kantoran yang juga hampir senasib dengan saya. Bicaranya cukup sopan walaupun pandangan matanya tetap saja mencuri curi kesempatan melihat badan saya yang sudah basah itu. Awalnya dia menanyakan mengapa saya bisa sampai basah kuyup begitu. Sayapun mulai menceritakannya secara garis besarnya saja. Ada beberapa pria lain yang ikut juga mendengarkan cerita saya.
Entah karena kasihan dengan saya atau ada maksud tertentu, dia menawarkan sama sama mencari kendaraan lain yang bisa sampai ketempat tinggalnya yang relatif tidak begitu jauh dari situ dan kemudian dari sana dengan kendaraan pribadinya dia mau mengantarkan sampai ke rumah. Sesaat saya anggap suatu ide yang bagus, tapi terus setelah lebih lama saya pikir akhirnya saya menolaknya dengan halus dengan mengatakan saya lagi menunggu kenalan untuk menjemputnya di situ. Pada saat itu memang saya terpikir sesuatu yang lain.
Saya teringat dengan teman saya yang rumahnya yang tidak jauh dari tempat itu. Saya coba menelpon rumahnya, setelah agak lama baru ada yang mengangkat, ternyata hanya anaknya saja yang ada, tapi saya di beritahu nomer hp nya dan segera saya menghubunginya. Dia cukup surprise juga mendapat telpon dari saya karena sudah lama kami tidak berhubungan. Dia sedang dalam perjalanan pulang bersama suaminya juga. Saya ceritakan masalah saya dengan ringkas dan kemudian minta tolong apakah bisa mampir sebentar di rumahnya. Mendengar itu teman saya segera mempersilahkan untuk mampir ke rumahnya. Tapi karena dia juga dalam perjalanan pulang dan kondisi jalanan juga macet maka dia mau menghubungi anaknya di rumah supaya menjemput saya. Seperti mendadak mendapat suatu jalan keluar, hati menjadi senang dan lega rasanya. Berarti saya tinggal tunggu saja untuk di jemput di tempat saya berteduh.
Mungkin setelah menunggu sekitar setengah jam, baru anak teman saya datang. Ketika datang saya tidak sadar dan tidak begitu memperhatikannya karena tidak di sangka anak itu menjemput saya dengan motor trail nya. Saya juga sedikit lupa wajahnya karena sudah lama tidka bertemu. Tadinya dia hanya melambai lambaikan tangan saja ke arah saya, baru setelah dia memanggil mangil nama saya ..."tante!...tante!...tante Rxxxx !!..." saya sadar itu adalah anak teman saya.
Sebutlah namanya Aris. Waktu terakhir ketemu dengan Aris, dia masih di smp dan tidak setinggi sekarang. Umurnya beberapa tahun diatas umur anak saya yang paling besar. Dia sekarang terlihat lebih dewasa. Dia minta maaf karena menjemput saya pakai motor karena menurutnya lebih cepat pakai motor dan tidak terkena macet. Saya katakan tidak apa-apa, saya juga dulu waktu muda senang naik motor, dan memang cukup lama juga tidak merasakan naik motor, apalagi ini di bonceng, padahal dulu saya lebih sering membonceng orang termasuk suami saya sendiri ketika masih muda. Ketika dibonceng saat itu saya tidak begitu merasakan apa apa selama perjalanan ke rumah dia, tapi kalau sekarang saya ingat mungkin telah mengganggu perasaan si Aris, apalagi lagi masa puber. Saya dibonceng dengan duduk seperti tidak memakai rok saja, karena memang tidak biasa dari dulu kalau duduk miring di bonceng. Waktu itu saya tidak sadar memeluk Aris dari belakang dengan erat dan begitu merapat. Saya sendiri mungkin refleks karena kedinginan sehingga begitu hangat rasanya.
Awal perkenalan saya dengan ibunya Aris, Frida (bukan nama sebenarnya) ini agak unik. Sebenarnya suaminya lah yang teman suami saya sejak dahulu. Sampai suatu waktu ketika kami bersama sama berlibur keluar kota, saya mengenal mereka lebih dekat dan akrab, terutama dengan Frida. Sebelum dengan Frida, suaminya sudah pernah menikah dengan wanita lain dan Aris adalah anak dari perkawinan dengan istri sebelum Frida. Istri pertamanya kalau menurut suami saya, sudah tidak ada karena sakit. Saya sendiri tidak pernah menanyakan soal itu ke Frida karena segan untuk menanyakannya. Frida sendiri baru berumur sekitar awal tiga puluhan, agak jauh jaraknya dengan suaminya.
Singkatnya, waktu kami pertama kali berlibur itu dengan ide suami dan suaminya, kami berempat menikmati permainan sex bersama sama di hotel kami menginap. Di double bed yang lebar itu kami bersama sama melakukan sex. Awalnya kami mulai pemanasan dengan pasangan masing masing dan sedikit melakukan oral sex. Tapi kemudian dengan tuntunan suami dan suaminya, saya dan Frida seperti disatukan dan suami kami saling menikmati tubuh kami dengan meraba dan mencium berbagai tempat pada badan saya dan Frida. Saya menikmati permainan kami, ada rasa nikmat yang berbeda kalau dibanding dengan sex berdua saja.
Pada saat itu saya baru mengetahui dan tebakan saya ternyata memang benar, Frida adalah wanita yang memiliki kepribadian bi-sex. Itu terlihat ketika mulut suaminya sedang menikmati mulut vagina dan clitoris saya, Frida dengan semangat dan agresifnya menciumi dan menjilati kedua payudara saya dengan selingan menciumi bibir saya sesekali kali. Tentu saat itu begitu nikmatnya sehingga saya sendiri sudah tidak begitu memperdulikannya lagi. Padahal saya bukan orang yang suka dengan sejenis, tapi ciuman Frida di sekitar dada dan bibir saya menambah kenikmatan dan benar benar terangsang saya saat itu. Mungkin karena kami ada prianya di situ dan kami menikmati bersama sama, kalau itu semua wanita mungkin saya tidak mau.
Pada akhir dari permainan kami itu, para suami saling menikmati klimaksnya dengan pasangan temannya, jadi suami Frida benar benar "in" dan sampai klimaks di dalam vagina saya. Sejak pengalaman menarik dengan mereka, setelah itu sempat beberapa kali kami bermain seperti itu di tempat lain. Sudah lama juga saya tidak bertemu dan ngobrol ngobol dengan Frida, mungkin kalau tidak musibah banjir ini saya tidak menghubungi dia, masing masing sibuk.
Ketika sampai di rumah Frida memang tidak ada orang di sana selain Aris dan pembantunya. Rumahnya terasa sepi sekali. Aris mempersilahkan saya masuk dan menawarkan mandi dan ganti baju di tempatnya, karena dia sudah di pesani oleh orang tuanya.
Dia mengantarkan saya ke kamar mandinya yang berada di dalam kamarnya yang agak besar dan dia mengatakan akan kembali lagi untuk mengantarkan handuk dan pakaian sementara yg saya bisa pakai.
Kamarnya seperti umumnya anak pria zaman sekarang, tapi terlihat cukup rapih. Disamping tempat tidurnya yang lebar terlihat meja belajar dan stereo set. Di salah satu sudut kamarnya juga ada tv yg agak besar. Saya segera masuk ke kamar mandinya yang hanya di sekat dengan kaca buram yang besar, tidak ada pintu. Saya sudah tidak tahan untuk segera membuka baju yang sudah melekat dan basah itu. Celana dalam dan bra saya juga sudah basah dengan air hujan, segera saya cuci supaya besok bisa dipakai lagi. Rasanya begitu nikmat ketika shower yang hangat membasahi badan dari ujung kepala sampai ke kaki. Ketika lagi mandi yang sampai sekarang masih saya ingat adalah terasa payudara terasa kencang dan kedua puting saya keras dan tegang. Terutama ketika saya menyabuni seluruh badan, sempat saya menekan nekan sedikit kedua payudara, seperti ada perasaan yg memanas di dalam hati saat itu.
Ketika sedang asyik shower tiba tiba terdengar sekat kaca kamar mandi di ketuk dan segera saya menoleh ke arah sekat kaca itu. Ternyata si Aris yang mengetuk dan dia membawakan handuk dan pakaian dan dia letakkan di luar kamar mandi. Saya agak curiga sepertinya dia sudah dari tadi ada di sana, karena tadi sebelum kaca di ketuk, seperti ada suara orang yg memanggil manggil. Mungkin dia sempat mengintip atau melihat saya yg sedang telanjang dari balik kaca buram itu. Maklum anak lagi dalam masa puber.
Sebelum meninggalkan kamarnya dia berpesan agar setelah selesai mandi saya diminta ke ruang makan. Selesai mandi dan mengeringkan badan dengan handuk yg tadi disediakan Aris, saya memakai baju yg dipinjamkannya. Ternyata dia menyediakan baju model kimono untuk tidur yang seperti biasanya ada di hotel hotel. Apaboleh buat terpaksa saya pakai. Sebenarnya agak kurang sreg juga dengan mekai kimono ini tanpa didalamnya memakai celana dalam dan bra. Penutup kimono ini hanya tali pengikat di pinggang, kalau kurang rapih memakainnya tentu bagian dada bisa di intip dan juga paha.
Di ruang makan saya dan Aris makan malam berdua saja, Frida dan suaminya belum juga sampai di rumah. Selesai makan kami pindah ke ruang keluarga dan sambil menonton tv kami pun berbincang bincang. Beberapa kali sejak di meja makan beberapa kali dia mencuri curi pandangan ke saya. Memang dia sekarang semakin dewasa dan mukanya cakep mirip bapaknya, perawakannya juga sudah postur orang dewasa. Di ruang tamu ketika bicara, beberapa kali saya membetulkan belahan kimono saya, karena duduk di sofa yg agak rendah. Itu pun selalu setelah saya melirik ke mata Aris yg mulai resah duduknya dengan mata memandang ke bagian kaki saya. Cukup lama juga kami berbincang bincang, sempat menanyakan ke dia soal hobby nya dan masalah pacar dan lain lain.
Orang tuanya baru tiba di rumah setelah agak malam. Merekapun terjebak macet karena hujan dan banjir. Karena sudah lama tidak bertemu, membuat suasana menjadi begitu meriah. Ketika bertemu Frida, dia segera merangkul saya dan menciumi kedua pipi saya. Saya juga menyalami suaminya dan dia tersenyum dengan senyuman khasnya sambil mencium kedua pipi saya. Saya juga membalasnya dengan ciuman di pipinya. Kita berbincang bincang sebentar di ruang keluarga, terutama cerita soal banjir. Frida segera minta maaf ketika dia melihat kimono yg saya kenakan, dan dia berjanji mau meminjamkan baju yg lainnya. Tidak lama setelah itu saya di antarkan Frida ke ruang tidur tamu dan kunci pintu kamar dia bukakan dan dia serahkan ke saya, tidak lupa saya ucapkan terimakasih karena ....sudah merepotkan mereka. Kamar tidur Frida dan suaminya terletak di sebelah kamar tamu.
Kamar tamunya terlihat rapih dan memang jarang dipakai selain oleh tamu. Antara kamar tamu dengan kamar Frida ada connecting door yang bisa di kunci dari kedua sisi. Saya sempat rebahan sebentar di tempat tidur dan menelpon suami agar tidak perlu khawatir lagi dan minta besok pagi di jemput.
Tidak lama setelah saya berbaring di tempat tidur, terdengar ketukan dan suara Frida memanggil saya dari balik connecting door. Saya segera membuka kunci pintu dan membuka pintunya. Frida dengan membawa beberapa bajunya masuk ke kamar tamu dan semua baju di letakkan di tempat tidur. Saya diminta mencobanya satu satu. Dia juga membawa celana dalam baru yang masih dalam pelastik, tapi saya menolaknya. Baju atasan dan bawahan saja yg saya pilih pilih. Frida ukuran badannya sedikit lebih kecil dari saya sehingga saya harus memilih baju yang ukuran free size atau yg dari bahan elastis, seperti bahan kaos. Frida juga sibuk membantu memilih baju. Sementara dia memilih saya membuka baju kimono yg saya pakai, Frida sedikit tersenyum ketika saya membuka baju, mungkin karena saya tidak memakai apa apa lagi di dalamnya. Dua tiga baju di coba tapi kurang pas di saya, semua bajunya kebanyakan baju yang ngepas di badannya. Ketika saya melepas baju yang dicoba, dia juga membantu melepaskannya dan dengan sedikit memandang ke badan saya dia memuji muji bentuk postur badan saya. Sempat tangannya menyentuh pinggang dan payudara saya dengan ringan. Ukuran payudara dia sedikit lebih kecil dari saya. Sepertinya dengan basa basinya dia ingin lebih menyentuh badan saya, tapi saya segera mengalihkan pembicaraan agar dia berhenti menyentuh badan saya. Saya kurang biasa kalau disentuh wanita, apalagi kami hanya berdua saja. Sementara saya sedang sibuk mencari baju, terdengar suara suami Frida dari ruangannya memanggil Frida, sepertinya baru selesai mandi. Frida memberi tahu bahwa dia ada di kamar sebelah sedang memilih baju untuk saya. Suaminya kemudian mengatakan ke Frida kalau sudah selesai, saya di suruh ke kamar mereka untuk ngobrol ngobrol kalau belum mau tidur. Kamar tidur mereka cukup besar dan di dalamnya ada ruangan lain kecil untuk duduk duduk dan menonton tv, hanya di sekat dengan sederhana. Kamar itu dilapisi permadani yang tebal bulunya seakan kulit binatang buas dan sekelilingnya tersedia bantal bantal duduk, jadi kita bisa duduk di permadani dengan santai sambil menonton tv.
Akhirnya saya memilih baju atasan kaos lengan panjang berwarna cream dengan kancing di depan, bahannya agak tipis tapi bagian dadanya cukup tertutup kalau kancing yg atas di tutup, karena ukurannya tidak pas dengan saya, terkesan sempit dan kancing kancingnya seperti tertarik ke samping terutama bagian dadanya, sehingga baju sedikit terangkat dan bagian pinggul dan puser saya sedikit terlihat. Bawahannya hanya dapat celana jeans pendek yang ujungnya berserat serat, sebenarnya kalau bisa mau cari yg lain lagi karena terlalu pendek, hanya sebatas pangkal paha lebih sedikit, tapi ya sudah lah. Tapi baju dan celana itu tidak segera saya pakai, sayang, untuk besok pagi saja setelah mandi, sekarang biar dengan kimono ini.
Suasana ruangan duduk di kamar tidur mereka cukup menyenangkan, kami bertiga duduk berderet, Frida duduk di tengah. Sambil menonton tv kami berbincang bincang dengan santainya dan penuh tawa. Awal pembicaraan suami Frida menanyakan keadaan keluarga saya termasuk suami saya. Suami Frida sangat gembira bisa bertemu saya, apalagi menurutnya sudah lama kami tidak bertemu, mungkin sudah setahun lebih. Sebenarnya saya tahu setelah pertemuan terakhir kami waktu itu, Frida sempat bertemu dengan suami saya dan mereka sempat menikmati tidur bersama, semua itu suami pernah cerita ke saya, tapi karena Frida diam saja soal itu maka saya juga pura pura tidak tahu dan mungkin Frida memang tidak cerita ke suaminya.
Ada satu hal yg membuat terpancing hati saya memanas, suami Frida sempat bicara katanya mereka suami istri tidak menyiapkan acara khusus karena saya datang mendadak ke rumah mereka. Dia sempat bicara ke Frida dan saya di rungan itu bahwa malam ini kita harus ada acara khusus. Frida tersenyum penuh arti dan begitu juga saya.
Fokus pembicaraan kembali soal saya yg kehujanan, suami Frida sampai bertanya soal baju saya yang basah berikut bra dan celana dalam saya dengan penuh humor. Kira kira pembicaraannya seperti berikut waktu itu;
"jadi kamu benar benar basah kuyup sampai kedalam..."
"ya iya lah mas...lihat saja sekarang apa yg dia pakai", kata Frida.
"ini dia didalam kimononya tidak pakai apa apa lagi...", Frida meneruskan.
Suami Frida tertawa dengan penuh arti yang sedikit ngeres.
"Tuh kan...mulai pikiran kotor" kata Frida sambil tertawa, dan kami pun bertiga tertawa.
"Dia ini Rxx, sekarang lagi enggak mood sama aku, padahal aku sudah pakai baju tidur tipis seperti ini...", kata Frida sambil kedua tangannya meremas payudaranya dari luar baju tidurnya.
Memang malam itu Frida pakai baju tidur yang begitu sexy, kelihatan kedua payudaranya membayang bayang dibalik bajunya.
"Dia lagi kepingin megang ini kamu...", kata Frida sambil salah satu tangannya memegang dada saya dan menggenggam payudara saya dari atas baju saya.
Saya agak kaget, tapi entah kenapa waktu itu, saya hanya diam saja membiarkan tangan Frida menggenggam payudara saya, dan anehnya suasana tetap saja penuh humor.
Suaminya pura pura tidak mendengar, matanya di alihkan ke tv, Frida juga mulai iseng dengan tangan yg satunya segera menuju ke daerah bawah puser suaminya yang juga mengenakan baju tidur kimono seperti saya. Tangan Frida menyelinap ke balik kimono suaminya dan sepertinya mengelus elus penis suaminya.
"Tuh...kan Rxx, lihat ini...dia sudah tegang", kata Frida sambil meminta saya melihatnya.
Sebenarnya saya juga sudah mulai terangsang ketika Frida meremas dada saya, terasa dari dalam vagina saya cairan sedikit keluar dan terasa basah.
Begitu cepatnya kejadian berlangsung, tangan Frida yang tadi menggenggam payudara juga menyelinap ke balik belahan kimono di dada saya dan telapak tangannya langsung menggenggam payudara saya. "Rxx, kamu juga sudah keras begini...", Frida berbisik di kuping saya.
Saya sama sekali tidak bereaksi, malah membiarkan tangan Frida memainkan payudara saya. Pada saat itu saya masih ingat, suami Frida menoleh ke kami berdua dan pandangan matanya beretemu dengan mata saya saling memandang.
Setelah itu saya sudah tidak ingat lagi kejadian selanjutnya dan tidak ingat lagi urut urutannya. Pokoknya waktu itu terus kami saling memulai permainan yg mengasyikan. Yg masih ingat dan terkesan ketika Frida dan saya ber posisi 69, dia terlentang di bawah dan saya diatas seperti anak bayi merangkak, dan suaminya berlutut tepat dia depan saya, penisnya diberikan ke saya dan saya melakukan oral, terasa begitu keras dan tegang di dalam mulut. Sementara itu kedua tangan suami Frida terus meremas remas dan mempermainkan payudara dan puting saya. Terasa mulut frida dan lidahnya menjilat jilat mulut vagina dan clitoris saya dan kadang kadang terasa lidahnya memasuki vagina saya. Rasanya ketika itu susah untuk diceritakan, pokoknya saya begitu terasngsang, semakin lama semakin basah mulut vagina saya, banyak mengeluarkan cairan, tapi Frida terus tidak henti hentinya menjilatnya, terdengar suara lidahnya.
Penis suami Frida juga terus saya mainkan, ...sepertinya dia juga begitu terangsang, dari ujung penisnya terasa cairannya keluar sedikit sedikit setiap sedikit saya hisap, rasanya asin dan agak lengket dan setiap itu juga tangannya semakin keras memainkan payudara saya.
Suami Frida dengan baiknya memperlakukan Frida dan saya, bergantian kami dipeluk, begitu juga ketika kami memasuki permainan utamanya, secara bergantian suami Frida memasuki saya dan Frida. Kami bertiga seakan bersatu menjadi satu saling merangsang dengan permainan sex itu. Pada saat saat terakhir suami Frida mencapai klimaks, Frida menyuruh suaminya menyelesaikannya dengan saya, tqpi walupun begitu suami Frida tetap minta izin ke saya dengan berbicara dekat kuping saya untuk menyelesaikannya di dalam saya. Saya menyetujuinya dengan aba aba kepala saya, pada saat itu mulut saya sudah tidak bisa bicara apa apa lagi, yg keluar dari mulut hanya suara yg sedang menikmati sex. Sampai akhirnya saya merasakan sesuatu yg panas menekan masuk di dalam vagina, suami Frida mencapai klimaks di dalam vagina saya. Saya juga sudah tidak ingat persis kejadiannya waktu itu, hanya terkesan waktu itu begitu nikmat dan mengesankan walaupun sebenarnya saya belum mencapai klimaks. Setelah selesaipun suami Frida menciumi Frida dan saya dan kami berdua dipeluknya. Kami sempat terdiam tidak bergerak disana.
Setelah selang waktu beberapa saat kemudian saya kembali kekamar saya menginap dan connecting door saya kunci kembali. Begitu capai dan ngantuknya, saya langsung merebahkan diri di tempat tidur dan tidak sadar saya sudah tertidur dengan lelapnya sampai tidak sempat memakai kimono tidur saya, dibiarkan tergeletak di sudut tempat tidur.
Pagi hari saya terbangun dengan sedikit kaget karena pintu kamar ada yg mengetuk dan saya lihat jam, ternyata saya sudah tertidur begitu lelap sampai hari sudah agak siangan.
Ternyata yg mengetuk adalah Aris. Begitu tergesa gesa mau membukakan pintu, saya tidak sempat memakai rapih kimono tidur saya. Tanpa mengikat tali kimono dan hanya dirapatkan dengan tangan kemudian pintu saya buka. Aris tidak langsung bicara tapi dia sempat memandang saya yang agak kacau penampilannya, dia tersenyum dan menanyakan ke saya apakah tidurnya nyenyak, sayapun membalsnya dengan senyum. Kemudian saya tanya tentang orangtuanya. Ternyata mereka sudah pergi kerja dan sengaja tidak membangunkan saya. Aris hanya dipesani oleh ibunya untuk nanti mengajak sarapan pagi saya dan menemani saya sampai supir saya menjemput.
Karena ingin mandi saya minta izin ke Aris untuk pinjam kamar mandinya, selain itu saya masih menjemur celana dalam dan bra saya di kamarmandinya Aris. Mungkin karena selama ini Aris saya anggap masih kecil jadi tidak terlalu peduli menjemur pakaian dalam saya di kamar mandinya.
Saya sendiri masuk ke kamar Aris dan menuju kamar mandinya. Ternyata celana dalam dan bra saya belum kering, sayapun terus mandi saja di situ. Ketika mandi dan menyabuni badan, saya masih merasakan payudara saya kencang dan puting saya terus mengeras seperti kemarin.
Selesai mandi dan mengeringkan badan saya memakai baju Frida yg tadi malam di pinjamkan ke saya, baju kaos lengan panjang dengan kancing baju didepan yg agak kekecilan sedikit dan celana jeans pendek. Waktu memilih baju tadi malam karena lampu kamar tidak begitu terang maka tidak terlalu perhatikan benar, ternyata di kamar Aris yg terang ini ketika saya pakai baju itu, sayapun langsung sedikit tersenyum. Karena bahannya agak tipis, kalau tidak pakai bra terlihat payudara agak membayang sedikit walaupun tidak begitu ketara. Tapi yg agak membuat menantang dan menjadi perhatian adalah puting saya terlihat jelas mengecap di baju, dan karena agak sempit kancing kancingnya sedikit tertarik dan terlihat celah celah diantara kancing. Begitu juga bagian bawah baju, karena terangkat di bagian dada sehingga puser dan pinggul sedikit terlihat, tapi kalau kedua tangan keatas, perut terlihat jelas. Saya jadi ketawa sendiri dalam hati.
Kalau celana lumayan cukup, hanya saja paha jadinya kelihatan kemana mana. Tapi sudahlah, waktu itu saya pikir hanya baju sementara untuk pulang ke rumah, tidak untuk dipakai kemana mana. Setelah beres semua saya menuju ruang keluarga dan menemui Aris dan minta kantong plastik kecil untuk menyimpan pakaian dalam saya yg masih basah itu. Aris sempat bertanya untuk apa, sayapun tanpa ada perasaan apa apa dengan polosnya saya katakan untuk menyimpan pakaian dalam yg masih basah sambil menunjukkan ke Aris. Di segera ke kamarnya dan kembali dengan kantong plastik yg bagus, saya surprise juga begitu perhatiannya ke saya. Ketika saya memasukkan bra dan celana dalam kedalam pelastik sepertinya aris dengan teliti memandang saya dari ujung rambut sampai kaki, terutama bagian dada saya, berkali kali dia melirik mencuri pandangan. Begitu juga ketika kami berdua sarapan duduk berhadap hadapan. Ketika sarapan itu saya baru sadar anak ini sudah dewasa, sudah mengenal wanita walaupun tidak tahu sejauh mana. Perasaan selama ini menganggap masih kecil dan memang saya kenal waktu dia di smp.
Ketika sedang makan saya baru merasakan kepala agak pusing dan badan seperti mau flu, mungkin karena kehujanan kemarin, tapi saya tahan dan memeruskan sarapan pagi. Setelah selasai kami kembali ke kamar keluarga dan Aris menyalakan tv untuk saya. Kemudian dia minta izin mau ke garasai untuk mengerjakan sesuatu, dan kalau ada perlu minta di dipanggil saja. Sepertinya dia sedang asyik dengan hobynya mengotrak atrik mobilnya. Saya duduk sebentar di ruang keluarga dan sempat membaca koran dan majalah yg ada di dekat situ. Acara tv tidak ada yg bagus, berita di tv banyak membahas masalah banjir. Saya sempat menelpon ke rumah untuk menanyakan jam berapa saya akan di jemput, ternyata menurut pembantu, suami saya pagi itu tidak mengantor.
Ternyata pusing saya tidak hilang, malah sepertinya bertambah saja dan mulai bersin bersin. Karena takut keterusan, segera saya menuju garasi untuk bertemu Aris untuk minta obat pusing dan flu. Di garasi saya temui Aris sedang mengerjakan sesuatu di bawah dashboard tempat duduk kanan. Saya masuk kemobil dari pintu kiri dan memanggil Aris, dia sedikit kaget dan terjedut dashboard. Melihat itu saya jadi ketawa dan diapun ikut ketawa dan katanya kaget. Kemudian saya bilang bahwa saya agak pusing dan minta obat pusing atau flu. Aris minta waktu sebentar karena sedang tanggung kerjaannya. Selagi menunggu saya duduk di kursi kiri sambil memperhatikan dia bekerja, tapi tidak lama dia berhenti dan meninggalkan kerjaannya, sepertinya tidak konsentrasi di lihat oleh saya.
Setelah mencuci tangan dia terus menuju meja bar yg ada di salah satu sudut ruangan keluarga dan saya mengikutinya dari belakang. Di dekat meja bar itu ada rak tempat obat, tapi sepertinya dia tidak menemukan obat sakit kepala. Sementara menunggu saya duduk di kursi bulat untuk meja bar, meja dan kursinya persis seperti yg ada di bar bar itu. Kemudia Aris melihat ke atas meja bar persis di atas saya duduk, ada laci kecil disana. Dia minta tolong saya membuka laci itu. Karena agak tinggi terpaksa saya harus jinjit dan membuka laci itu. Di dalamnya ada kotak kecil dan Aris minta itu diturunkan. Karena agak tinggi saya tidak bisa memegang dengan benar kotak itu dan kepeleset. Kotak itu hampir jatuh meniban saya. Untung Aris segera menolong merauk kotak itu hingga tidak jadi menjatuhi saya. Tapi ketika dia mau menolong itu badannya menubruk saya dan saya juga refleks takut tertiban, dengan cepat memeluk Aris.
Setelah kotak itu ditaruh Aris di meja bar, ...saya dan dia sedikit terdiam, dia minta maaf karena kejadian itu, tapi saya hanya senyum saja. Ternyata obat pusing ada di kotak itu.
Ketika dia mau memberikan obat itu tiba tiba dia bicara yg agak lucu. Dia minta izin mau mencium saya. Tentu saja saya tidak ada perasaan apa apa dan langsung memiringkan pipi saya untuk di cium. Tapi kemudian dia bilang bahwa dia masih ingat dahulu waktu pesta ulang tahunnya, saya memberi selamat dan mencium bibirnya. Kemudian saya jadi teringat waktu itu, memang saya cium dia dengan ringan bibirnya. Rupanya dia masih teringat terus ketika itu dan sekarang dia ingin membalasnya rupanya, tapi tentu dia sekarang bukan Aris yg dulu kecil itu. Tapi sudahlah, saya izinkan dia mencium saya, soalnya dia begitu lucu sekali cara bicaranya.
Dia mencium bibir saya dengan lembut awalnya, tapi semakin lama dia semakin berani dan memang pintar dia cara mencium saya. Secara refleks ciuman dia saya balas dengan mesra, tapi ini malah membuat perasaan dan suasananya menjadi aneh, karena terus terang menjadi terangsang ciuman Aris ini. Takut keterusan, segera saya lepas bibir saya dari bibir Aris, tapi sepertinya dia seakan tidak mau berhenti. Saya bilang ke Aris dengan pelan dan halus untuk menyudahkannya karena saya terus terang bilang nanti keterusan dan itu tidak baik karena saya ini kan seperti tante nya saja, bukan temannya. Seperti tidak mau berhenti disana, dia minta sekali lagi saja dan entah kenapa waktu itu saya membolehkannya, seakan tindakan saya tidak sesuai dengan ucapan saya ke dia. Aris kembali mencium saya dan sayapun menyambutnya, tapi kali ini dia lebih berani lagi, lidahnya berusaha mau membuka mulut saya dan inginmelakukan french kiss sepertinya. Karena memang pintarnya, sayapun kalah dengan kemauan Aris. Saya memerimanya dengan membuka mulut saya dan lidahnya dengan cepat masuk ke mulut saya. Sayapun menyambutnya dengan lidah saya sampai akhirnya kami melakukan deep kiss. Terus terang saya waktu itu jadi terangsang.
Tapi Aris ternyata tidak berhenti sampai di situ. Tangannya mendadak memegang dada saya, kaget saya karena sangat terasa sekali tangannya menyentuh payudara saya yg hanya ditutupi baju kaos tipis. Saya pegang tangannya dan saya coba menariknya dari dada saya, tapi seperti tidak mau menyerah, dia semakin kuat bertahan. Tapi kemudian dia melepas ciumannya dan mengatakan ke saya sejak tadi malam dia terbayang terus tentang saya dan mengganggu pikiran dia. Dia bilang mulai merasakan sesuatu ketika saya di bonceng dengan motornya, ketika saya mandi malam itu dia sempat mengintip lama, baru setelah itu dia mengetuk kaca kamar mandi. Begitu juga ketika sarapan pagi, dia terus berusaha memandang dada saya dan puting yang mengecap di baju, begitu juga paha saya. Dia sengaja tidak mememani saya di ruang keluarga pagi ini karena kalau tidak katanya semakin kacau pikirannya.
Sementara dia bercerita begitu, tangannya sudah membuka hampir semua kancing baju saya. Akhirnya saya kalah dengan alasan dia dan membiarkan tangannya terus bergerak. Saya hanya bisa memejamkan mata saja dan sayapun tidak sadar sudah terangsang. Dengan tangannya dia memainkan payudara dan puting saya dan kemudian mukanya pun membenamkan ke dada saya dan menciumi payudara saya yg sebelahnya. Entah kenapa hari itu terasa begitu tinggi naluri sex saya, padahal semalam baru saja saya bermain dengan Frida dan suaminya bertiga.
Terasa bagian vagina saya mulai basah. Sayapun akhirnya berusaha membuka celana Aris dan dengan mudah bisa terbuka dan bersama celana dalamnya saya tarik kebawah hingga penisnya tampak jelas. Perlahan lahan saya mainkan penisnya, dia sudah seperti bapaknya saja. Penisnya keras sekali terasa. Kemudian Aris saya dorong dia duduk di kursi bar dan saya berlutut. Saya mulai mainkan penis Aris dengan mulut. Ketika pertama kali masuk kemulut, terasa penisnya bergetar dan spertinya Aris begitu menikmati seakan belum pernah mengalami hal yg demikian. Ketika saya hisap beberapa kali, dia sdikit mengeluarkan suara dan menggenggam pudak saya. Dari ujung penisnya terasa banyak sekali keluar cairan asin terus menerus. Saya tahu dia tidak bisa lama lama. Ketika sedang menikmati oral itu tiba tiba pembantu rumah Frida masuk ke ruang keluarga dan dari jarak agak jauh dia mengatakan ke Aris bahwa supir saya sudah datang menjemput. Dari balik meja bar saya yg sedang berlutut tidak terlihat sehingga pembantu menyangka hanya ada Aris yang sedang duduk di sana. Pembantunya tadinya sudah mau ke kamar tamu mau memanggil saya, tapi segera Aris memotongnya dan dia bilang biar dia yg memanggilnya dan dengan nada agak maksa pembantunya disuruh keluar dari ruangan keluarga.
Setelah di dengar pembantu sudah tidak di ruangan keluarga kemudian saya berhenti mencium penis Aris dan berdiri. Saya pandang mata Aris dan saya bilang sudah ya....
Kelihatan muka Aris sedikit kecewa. Saya terus meninggalkan dia dan menuju kamar tamu tempat tadi malam saya tidur untuk mengambil tas yg masih di ruangan itu. Di kamar tamu itu saya sedikit merapihkan pakaian yg sedikit sudah kusut dan menyisir rambut. Sebenarnya saya ada rasa tidak enak juga karena harus mendadak berhenti, perasaan hati ini tidak tenang, seakan tensi darah masih tinggi.
Tiba tiba terdengar suara pintu di ketuk, saya menjawabnya dan ternyata Aris yg mengetuk. Dia membuka pintu pelan pelan dan sedikit agak ragu, terus saya suruh masuk dia ke kamar. Aris masuk dan hanya berdiri di dekat pintu. Dia minta maaf atas kejadian tadi karena merasa tidak sopan dan minta jangan dilaporkan ke orang tuanya, dia mengaku sudah tidak tahan dan sabar lagi ketika di meja bar bersentuhan untuk mengambil kotak obat. Terlihat mukanya agak pucat dan sedikit ketakutan. Saya jadi kasihan dan iba dengan Aris.
Saya suruh Aris pintu kamar ditutup yg rapat dan dikunci. Kemudian dia saya suruh mendekat dan saya berdiri dari tempat tidur. Di depan saya Aris hanya menunduk saja, mungkin takut akan dimarahi oleh saya. Kemudian saya peluk Aris dan dengan suara pelan saya bilang ke dia bahwa saya tidak akan laporkan ke orang tuanya. Ketika berpelukan saya merasakan penisnya masih tegang dibalik celananya. Dengan suara pelan mendekati berbisik, saya minta dia membukakan kancing celana jeans yg saya pakai dan resletingnya. Dengan agak ragu ragu dia melepaskan kancing celana saya berikut resletingnya. Saya merasakan bagian bawah sudah basah dari tadi. Kemudian saya berbaring terlentang di atas tempat tidur dan menunggu Aris menghampiri saya. Seperti sudah diberi lampu hijau, Aris dengan tergesa gesa melepas celananya, dam memang ketika celananya dilepas terlihat penisnya sudah begitu tegang. Dia segera naik ke tempat tidur dan seakan mau menerjang saya. Tetapi ketika dia memeluk saya dan berusaha membuka kancing baju saya, saya katakan agar pelan pelan dan jangan tergesa gesa. Dia begitu nafsunya menciumi payudara saya, dan terasanya pinggulnya bergerak kekiri kekanan seakan mencari posisi yg tepat untuk masuk ke saya. Penisnya segera saya pegang dan saya tunjukkan ke mulut vagina. Seperti sudah mengetahinya saja, Aris segera mendorong pinggulnya dan secepat itu pula penisnya masuk kedalam vagina. Saya sempat mengelurkan suara ketika penisnya masuk, karena begitu merangsang.
Sepertinya Aris sudah pernah melakukan hubungan sex, terasa gerakan pinggulnya begitu membuat saya nikmat, awalnya saya masih bisa mengontrol diri. Saya biarkan dia yg aktif bergerak, hanya kadang kadang saja saya jepit penisnya. Begitu menggebu gebu dia, tapi itupun tidak bisa bertahan lama. Akhirnya dia ....mengeluarkan suara agak keras dan bersamaan dengan itu terasa penisnya bergetar berkali kali, terasa dari penisnya keluar cairan yg panas berkali kali menekan ke dalam vagina, banyak sekali dia mengeluarkan spermanya dan begitu kental, terasa setelah selesai ketika penisnya keluar dari vagina, cairannya banyak keluar kembali. Begitu perhatiannya dengan saya, Aris segera membuka baju kaosnya dan membersihkan punyanya yg keluar dari vagina saya, sementara itu saya masih terbaring dan nafas agak sesak seperti orang habis lari lari.
Ketika saya masuk mobil, terasa nafas saya masih cepat dan supir sempat menanyakannya, saya bilang tadi lari lari waktu mau masuk mobil. Di mobil saya cepat tertidur dan terasa nyenyak sekali tidurnya, ketika sampai rumah supir membangunkan saya.
Waktu masuk ke kamar, saya lihat suami lagi tidur terlentang dengan pulasnya. Saya dekati dia dan kening dan bibirnya saya cium dengan ringan. Dia kaget terbangun dan segera tersenyum sambil mengelus elus pipi saya. Dia tersenyum melihat baju yg saya pakai dan dia tanyakan baju yg sempit itu. Tidak lama saya bediri menuju kamar mandi untuk mandi. Ketika membersihkan vagina, sisa sperma Aris masih ada di dalamnya.
Setelah mengeringkan badan saya langsung menuju tempat tidur dan rebahan diatas suami saya. Dia tersenyum dan menciumi saya. Saya senganja menggoda dia supaya penisnya mengeras, kemudian sambil saya bercerita tentang banjir, dirumah Frida dan tentang Aris, penis suami saya masukkan kedalam vagina dan sedikit pinggul saya gerakkan. Kami tidak melakukan sex sampai selesai. Setelah selesai cerita, saya rebahan di samping suami dan kami tertidur.

Ahoy.

Saya ingin membagi sebuah cerita kepada rekan-rekan disini. Sebuah pengalaman berbeda yang baru beberapa minggu yang lalu.
Nama telah dirubah untuk melindungi privasi. Hahaha.
********
Siang itu, aku dan Lina sedang bercakap-cakap dengan mesra. Topiknya juga seru, yaitu tentang sex. Kita sudah jadian selama hampir 3 tahun. Aku lalu menunjukkan email yang aku dapat dari milis, tentang tawaran untuk swing sex. Pertama dia nggak begitu mengerti mengenai swing. Setelah aku jelaskan, dia baru tahu. "Piye, Lin. Pengen nyoba kagak? Buat variasi aja, gitu.", godaku.
"Wah. Jadi ganti pasangan maen gitu? Nyeleweng donk", tanyanya. "Yes. Tapi dibilang nyeleweng ya...sulit juga. Soale masing-masing
pasangan kan tahu dan membiarkan. Batasannya tipis, Lin.", sahutku. "Katanya sih, bisa semakin mempertebal rasa cinta diantara pasangan." "HA? Kok bisa?" "Ya ga tahu. Itu kan KATANYA. Hehe...", sahutku sambil terkekeh-kekeh.
"Hm, gimana ya melihat kamu maen ama gadis lain?", jawab Lina. "Ya, pasti kamu cemburulah, kesal. Tetapi sekaligus terangsang dan
tegang. Katanya, disitulah kenikmatan swing. Mix of Emotions.", kataku sambil berpromosi. Lina diam saja.
"Lalu aku maen ama cowok lain, dan kamu liat aku digituin?", tanya Lina lagi. "Hm. Kayaknya begitu. Kalo dia menyakitimu, biar aku tendang pantatnya.", sahutku. "Haha...", kami lalu tertawa. "Gimana?" Tanyaku lagi, "Pengen nyoba? Aku akan pastikan semuanya beres, aman,
dan lawan main kita sehat dan bersih.". Lagi-lagi Lina diam. Ah sudahlah. Aku juga ga mau memaksa dia. Saat aku lipat kertas itu dan hendak aku masukkan kedalam kantung, Lina lalu berkata, "Seru juga ya, kayaknya. Tapi kalo aku ga
suka ama cowoknya, batal lho.". Aku seakan tidak percaya, lalu dengan cepat aku berkata, "Ok say.". Rekan-rekan. Tahu ga, aku sedikit kesal dia menyetujui. Berarti dia ada niat untuk maen ama cowok lain donk! I know, I know, aku yang nawarin. Tapi ya...gimana. Namanya juga egoisme cowok. Pengennya ngesex dengan cewek lain, tetapi tidak bersedia ceweknya disetubuhi. Hehehe...Boleh donk!
Singkat cerita, aku me-reply beberapa email dari milis itu dan menyaringnya secara subjektif sampai aku menemukan sebuah pasangan yang menurutku OK. Kami lalu janjian untuk bertemu di sebuah hotel mewah di Surabaya. All expenses
ditanggung dia, katanya. Alasannya simple, kami belum berpengalaman dan hendak diajak untuk ikut masuk kedalam komunitasnya.
Malam itu, saya dan Lina meluncur ke hotel tempat kita janjian (rendezvous) dengan perasaan tegang. Didalam mobil kami bergurau sambil tertawa cekikian, membayangkan apa yang akan kami jadikan pengalaman baru nantinya. Sesampainya di lobi, aku mencari pemuda yang memakai baju merah dengan pasangannya yang berbaju baju merah juga. Setelah beberapa menit mencari-cari, akhirnya ketemu juga.
Oh...Ternyata dia tak lain adalah teman aku juga! Kami berempat sempat kaget dan terpana sesaat. Tidak menyangka kalo bakal pasangan swing kita adalah SAHABAT SENDIRI. Hehehe... "Wah. Rizky. Kamu toh orangnya?", sapaku dengan penuh keheranan. "Aku ga nyangka lho, kalo kalian swinger.". "Haha. Lha kamu sendiri? Anggota kami memang tidak terduga, Jim. Kamu ga bakal bisa menebak. Maklum, kita kan kaum eksklusif. Hahahaha.", sahutnya sambil tertawa lebar. "Omong-omong, loe tahu Pak Sindhu nggak? Aku pernah sama istrinya juga lho...". Wuah...Aku benar-benar kaget. Tidak menyangka. Salah seorang rekan bisnis ayahku ternyata seorang swinger juga. Yang didepan ini malah sahabatku sendiri. Rizky(25thn) tuh anak juragan rempah-rempah di Jawa Tengah. Cewek(22thn) yang dibawanya itu adalah seorang model di sebuah agensi. Mereka menikah di usia muda, gara-gara MBA (Married By Accident).
Hehehe...Anaknya sudah 1, cewek. "Dewi, kamu kok ga keliatan udah punya anak. Kayak masih single aja.", goda Lina.
"Haha..Thanks. Kamu kan tahu, aku model. Entar ga laku donk kalo aku ga bisa jaga tubuh.", sahutnya sambil melirik ke arah rizky.
"OK. Enough talking. Shall we go to the room?", tanya Rizky. "Wew. Udah ga sabar nih ye....", sahutku. Kami berempat lalu tertawa renyah sampai beberapa orang yang lagi santai di lobi hotel pada melihat kearah kami. Setelah membayar tagihan minuman
di cafe hotel tersebut, kami segera menuju ke kamar yang telah di-booking oleh Rizky untuk malam minggu itu. Hm, a new adventure of sex. What a life. Hahaha. Setelah didalam kamar, Aku dan Lina duduk di ranjang. Dewi juga duduk disebelah kami.
"Nah, Ayo siap-siap. Yang cowok lepas semua, tinggal CD saja, sedang yang cewek terserah sih, yang penting sexy. Hehehe", kata Rizky.
Kami lalu bersiap-siap. Aku dan Rizky melepas seluruh pakaian hingga tinggal CD saja. Dewi tampak takjub melihat tubuhku yang lumayan kekar (maklum, rajin fitnes) dibandingkan dengan Rizky yang cenderung terlihat gemuk. Apalagi dengan adanya tato naga berukuran besar dipunggung aku. Hehe...Kayak anggota mafia TRIAD saja. Dewi melepas syalnya dan aku lihat dia memakai tshirt hitam ketat dengan
lengan yang pendek. Sexy sekali. Lina juga melepas jaket yang dia pake. Hm...Lina juga tak kalah sexy. Tubuhnya yang putih langsing dibungkus oleh TankTop putih tipis yang ketat, ditambah payudaranya yang ditutupi BH pink, menyembul dari balik TankTopnya. Fiuh...
"Alright. Cewek kamu ok Jim. Ga rugi deh swing sama kamu.", goda Rizky. Aku tersenyum saja. "Eh, Lin, anggap aja Jimmy kamu ga ada disini ya. Ga seru deh waktu lagi maen, kamunya liat pacar kamu dan bukannya memandang aku dengan nafsu.", goda Rizky. Kami berempat lalu tertawa. Kamar ini memiliki double bed, aku dan Dewi duduk di ranjang yang dekat jendela, sedangkan Rizky dan Lina sedang bersiap-siap di ranjang satunya. Aku memandangi mereka dengan tegang, sekaligus bernafsu. Disebelahku, si Dewi nampak sekali juga lagi horny, dan berbisik mesra, "Jim, loe keren juga ya. Kayak bintang film Hong Kong.". Hahaha...Aku cuman tersenyum aja, "Eh, kita nonton mereka aja dulu yuk, entar kalo dah ga tahan baru kita maen", usulku. Dewi mengangguk sambil merebahkan kepalanya ke pundakku. Tangannya pelan-pelan masuk kedalam celana dalamku dan memegang batang penisku yang sudah membesar. Uh...
Rizky nampaknya sudah memulai permainannya. Dia menarik Lina dari tempat tidur sehingga mereka berdiri di tepi ranjang. Lalu dengan ganas Rizky melumat bibir Lina yang tipis itu. Serangan ini membuat Lina gelagapan dan sedikit menolak kebelakang. Tapi lama kelamaan dia sudah mulai terbiasa 'dicium" oleh lelaki lain dan membalasnya dengan nafsu pula. Setelah beberapa menit berciuman, Rizky menghentikan aktifitasnya dan membuka kancing rok mini Lina hingga lepas, membuat CD pink mini Lina terekspos dengan jelas.
Dia lalu memandangi tubuh pacarku ini selama beberapa detik, dari atas kebawah. Aku melihat ada tatapan kekaguman
dimatanya. Lalu sambil terus berdiri, dia mencumbui tanktop tipis Lina, menjilati daerah payudaranya dengan penuh nafsu. Kedua tangannya sibuk memegang dan meremas pantat Lina. Aku semakin bergairah sekaligus tegang melihat pemandangan itu. Apalagi tangannya Dewi terus meremas dan mengkocok penisku dari tadi. Tanganku lalu memeluk Dewi dari belakang dan membelai-belai punggungnya. Rizky mengangkat Tanktop Lina dengan cepat dan membuangnya ke ranjang, melepas BH pinknya sambil
mulutnya terus menciumi leher Lina. Lina hanya bisa mengerang sambil memejamkan mata. Setelah berhasil melepas
BH, dengan rakusnya Rizky menyedot puting payudara pacarku sambil tangannya memilin puting satunya. Aku
mendengar erangan Lina semakin intens. Rizky memainkan lidahnya di sekitar puting Lina dan mulai menggosok-gosokkan penisnya ke vagina pacarku yang masih tertutup celana dalam. Rizky melakukan cumbuan itu selama beberapa menit. Lina memandangku sambil merintih nikmat. Duh, saat itu aku merasa cemburu, tetapi herannya juga sangat bergairah. Tak lama kemudian, Rizky menghentikan sedotannya. Dia lalu melepas CD Lina dengan kasar, dan melemparkannya ke ranjang. Kini Rizky berlutut dan mulai menjilati vagina Lina. Lidahnya masuk kedalam liang kenikmatan pacarku itu dan menari-nari didalamnya. Tak merasa nyaman dengan posisnya, Rizky lalu duduk di lantai sambil menarik pantat Lina agar bisa dengan mudah menjilati vaginanya. Pelan tapi pasti, Lina mengaitkan kedua kakinya diatas bahu Rizky dan mengepit kepalanya. Rizky terus menyedot dan memainkan lidahnya didalam liang vagina Lina. Pacarku semakin tidak bisa menahan diri dan mengerang semakin keras, penuh nikmat. Tangannya menjambak rambut Rizky dan menekan kepala sahabatku itu
agar lebih dalam mengoral vaginanya. Setelah beberapa menit meng-oral, Rizky lalu berhenti. Dia mendudukkan Lina keatas ranjang dan
dia segera memasang kondom. Setelah itu, dia menyuruh Lina untuk menungging diatas ranjang dan dia jongkok
dibelakangnya. Pelan-pelan dia mulai memasukkan penisnya kedalam liang vagina pacarku. Lina melenguh,
terangsang oleh sentuhan penis di bibir vaginanya. Dorongan pertama penisnya Rizky gagal masuk. Padahal
ukurannya biasa saja, mungkin sedikit lebih kecil dari punyaku. Setelah beberapa kali dorongan, akhirnya SLEB...
masuk juga penisnya. Lina merintih keras saat vaginanya menelan penis si Rizky ini. Uh, dapat dibayangkan
betapa CEMBURUNYA aku saat itu, melihat Rizky menyetubuhi Lina. Tapi, sekali lagi, ada perasaan aneh yang
membuatku semakin ingin melihat. Perasaan yang campur aduk, cemburu iya, kesal iya, terangsang iya, tegang iya.
Lina mengerang dengan keras saat Rizky dengan nafsu mengkocok penisnya didalam vaginanya. Kedua tangan Rizky
memegang pantat Lina lalu menariknya maju mundur, mengkocok penisnya dengan cepat. Aku semakin terangsang
melihat pemandangan itu. Karena tak dapat lagi menahan nafsu, segera aku berpaling pada Dewi.
Aku biarkan tangannya bekerja dengan penisku. Kucium bibirnya dengan penuh gairah, dan dia juga membalasnya
dengan penuh gairah juga. Aku segera menidurkannya keatas ranjang dan memandangi tubuhnya. Uh, sexy sekali.
Tubuhnya yang langsing dibalut Tshirt hitam ketat (mungkin super ketat ya), tipis lagi, dengan lengan yang
pendek. Aku lalu menciumi bulatan payudaranya yang menonjol dibalik tshirtnya. Tanganku meremas payudaranya
yang lain. Kuciumi payudaranya bergantian, lalu pelan-pelan turun ke pusarnya. Dewi merintih penuh nikmat.
Aku melepas celana pendek jeansnya dan melemparnya ke lantai. Wow, sebuah CD hitam mini menutupi vaginanya.
Sungguh indah dan sexy. Sambil memegang kedua pahanya, aku menciumi CD itu, tepat diatas vaginanya selama
beberapa menit. Dewi hanya bisa melenguh sambil sesekali menggelinjang. Aku lalu melepas CD-nya dan mulai
memainkan lidahku divaginanya. Kuangkat kedua pahanya lalu kujilati vaginanya dari arah anus ke atas sambil
menekan lidahku dengan lembut kedalam liangnya. Jilatan itu aku ulangi terus. Kadang aku memvariasinya
dengan menyedot bibir vaginanya dan menusukkan lidahku kedalam. Dewi mengerang semakin keras dan menjambak
keras rambutku. Uh, sakit juga ya kalo dijambak. Setelah puas bermain-main dengan vaginanya, aku lalu melepas CDku. Dia masih memakai tshirt seksinya itu. Aku duduk diranjang dan menariknya agar posisi dia diatas pangkuanku. Dewi rupanya
mengerti maksudku dan langsung mengarahkan vaginanya ke penisku dan uh.....sebuah sensasi yang berbeda
merasuki syaraf-syaraf seksualku. Dewi mengerang saat penisku menembus dan ditelan oleh vaginanya.
Kami seakan-akan melayang. Erangan demi erangan keluar dari mulutku dan Dewi, sebagai manifestasi
kenikmatan seksual berbeda yang kami rasakan. Dewi menggerakan pinggulnya naik turun dengan cepat, mengkocok
penisku didalam vaginanya yang hangat dan becek ini. Setelah beberapa menit dia menggoyang penisku, Dewi
memandangiku dengan nakal, melepas sendiri tshirt dan BHnya, lalu melumat bibirku dengan penuh nafsu. Uh,
gila juga nih cewek. Setelah puas saling berciuman bibir, Dewi lalu mengarahkan putingnya ke bibirku.
Dengan nafsu aku sedot puting coklat itu sambil meremas payudara satunya.
Selama beberapa menit kami terus bersetubuh. Dewi masih tetap aku pangku, sambil dia terus menggoyangkan
pinggulnya dengan cepat. Kami berpelukan berhadap-hadapan. Sambil aku sedikit menggoyangkan penisku dan
memeluk dia dari depan, aku mencumbui leher dewi yang indah. Uh, sensasi yang luar biasa.
Tiba-tiba aku mendengar Rizky mengerang dengan keras. Aku menoleh kearah mereka. Rizky dengan ganas
menarik pantat Lina untuk mengkocok penisnya. Aku bisa mendengar bunyi gesekan antara penisnya dengan vagina
pacarku yang sudah banjir itu, clek...clek...clek, berirama dengan cepat dan teratur.
Beberapa detik kemudian, Rizky mengalami orgasm dan jatuh merebah diatas punggung Lina yang masih
menungging. Warna kulit Rizky yang kehitaman tampak sangat kontras dengan Lina yang putih.
Hm...Kulihat pacarku hanya memejamkan mata sambil menggigit bibirnya.
Nafas Rizky sangat memburu dan kedua mata Rizky terpejam menahan kenikmatan.
Kedua tangan Rizky yang hitam berbulu itu meremas dengan gemas payudara Lina yang putih mulus dari belakang sambil
sesekali panggulnya menyodok kedepan, menuntaskan semprotan spermanya.
Aku lalu menidurkan Dewi keranjang dan menindihnya. Kami lalu berciuman dengan penuh nafsu. Aku terus mengkocok
penisku didalam vaginanya selama beberapa menit. Uh, enak tenan. Lebih kering dibandingkan dengan punya Lina yang
becek dan banjir (saat itu aku memang tidak memakai kondom).
Dan sekitar 10 menit kemudian aku rasakan Dewi menggelinjang dengan tiba-tiba.
Vaginanya meremas penisku dan rambutku dijambaknya. Aku tahu dia bakal mengalami
orgasm. Aku terus mengkocok penisku didalam vaginanya sambil lidahku memainkan puting susunya.
Tak lama kemudian, diiringi dengan sebuah teriakan lirih, Dewi menyambut orgasmnya. Tubuhnya berkelojotan dan
penisku terasa agak ngilu karena dijepit dengan keras oleh vaginanya. Setelah beberapa saat kemudian, Dewi menjadi
lemas. Dia baru saja mengalami orgams yang kuat. Kami berpelukan dengan sangat erat diranjang, dengan penisku masih
kokoh menancap didalam vaginanya.
Aku merasakan dengusan nafas Dewi yang ngos-ngosan. Kemudian aku dengar dia berbisik, "Oh, Jim. Enak banget.".
Hehehe...Orgasm ya memang enak, non. Gimana sih? Emang ga pernah merasakan ya?
Aku lalu membalasnya dengan lirih, "Tapi saya belum keluar, Mbak.".
Dewi lalu menatap wajahku, seakan tidak percaya.
"Sungguh?", tanya dia takjub.
"Yep.", sahutku enteng.
Nampak sekali Dewi ingin melakukan persetubuhan lagi, tetapi kayaknya dia sudah kelelahan setelah aku berikan
sebuah powerful orgasm. Kuberi Dewi sebuah kecupan manis dikeningnya dan aku mencabut
penisku dari lubang vaginanya. Aku lalu berjalan menuju ke ranjang sebelah, dimana Rizky nampaknya sudah kelelahan
dan Lina nampak masih nungging. "Bentar ya, Riz. Aku ambil Lina dulu.", kataku enteng. Rizky cuman bisa mengangguk
lemah kecapaian.
Aku menarik Lina untuk tidur di sebelah Dewi. Aku lalu menindihnya dan memasukkan penisku kedalam vagina pacarku.
Uh, terasa sangat becek, dan sedikit longgar. Mungkin karena telah dipakai untuk bersetubuh dengan Rizky. Gapapalah.
Kami lalu bersetubuh dengan penuh gairah. Aku lingkarkan tanganku ke punggungnya agar bisa memeluk Lina dengan erat,
lalu dengan cepat aku kocok penisku didalam vaginanya. Ah, nikmat sekali.
Saat aku hendak mencium bibirnya, aku lihat Dewi dan Lina tiba-tiba sudah saling berciuman bibir.
Wow, sebuah pemandangan yang seksi. Karena bibirnya sudah diambil Dewi, aku lalu menciumi leher dan belahan kuping
pacarku ini, sambil dengan penuh nafsu mengkocok penisku. Jari tangan Lina masuk ke liang vagina Dewi dan menusuknya
perlahan, mengsimulasikan hadirnya sebuah penis. Dewi nafasnya semakin memburu dan begitu juga Lina.
Kira-kira 15 menit kemudian, Lina tiba-tiba menyentakkan tubuhnya dan dengan sebuah jeritan keras dia mengalami
orgasm. Ah, untuk kedua kalinya penisku dijepit dengan erat oleh vagina wanita yang mengalami orgasm, uh...terasa
ngilu. Selama Lina didalam periode orgasm, aku terus mengkocok penisku didalam vaginanya walaupun dijepit, agar
dia tetap merasakan sensasi seksual yang terus-menerus. Dia kelojotan beberapa kali, menyalurkan kenikmatan seksnya.
Karena aku belum orgasm, aku masih terus menyetubuhi pacarku ini. Butir-butir keringat menetes dari dahiku. Lina
cuman bisa memejamkan mata dan mengerang setiap kali aku menusuk penisku kedalam. Setelah beberapa menit berlalu,
akhirnya aku merasakan bakal datangnya ejakulasi.
"Uh..Lin, aku mau keluar Lin. Diluar atau dalam?", tanyaku sambil terengah-engah.
"Diluar aja jim.", sahutnya lemah.
Ok. Aku terus mengkocok penisku dengan cepat dan persis sebelum keluar, aku mencabutnya dari liang vagina pacarku.
Tanganku mengkocok sendiri penisku untuk meningkatkan sensasi ejakulasi. Tiba-tiba, Lina dan Dewi bangun dari
tempat tidur dan berebut menyedot penisku. Aku hanya bisa merem-melek sambil berjongkok saat kedua gadis cantik
dan seksi itu dengan penuh nafsu bergantian menyedot penisku, juga buah zakarku. Aku mati-matian berusaha menahan
ejakulasi. Setelah beberapa detik berhasil menahan, akhirnya jebol juga pertahananku. Dengan memegang kedua kepala
gadis yang lagi asyik mengulum penis dan buah zakarku, aku mengalami ejakulasi. Semprotan demi semprotan sperma
keluar dengan cepat, memberikan sebuah kenikmatan seksual yang tiada tara. Saat itu aku sampai gemetar merasakan
kenikmatan tersebut.
Uh...
Aku mencoba membuka mataku dan kulihat Lina dan Dewi menjilati habis seluruh cairan spermaku, kayak sedang minum jus saja.
Uh...Lidah mereka yang menari-nari di penisku membuatku lemas dan akhirnya aku rebahkan tubuhku ke ranjang. Capek
sekali, tetapi juga nikmat.
Ah.....YES! Kedua gadis tadi juga ikutan rebah disampingku, mereka memeluk tubuhku dengan mesra. Wow. SIP.
----
Setelah kami berempat selesai mandi, kami lalu keluar kamar sambil menggandeng pasangan asli masing-masing. Lina
dan Dewi ternyata telah mengganti pakaiannya menjadi lebih sopan. Sepanjang jalan keluar dari hotel, kami berempat
terus bergurau dan menggoda. Kami pun berjanji kapan-kapan akan melakukan hal itu lagi.

Murid Baru

Namaku Ng Wai Wan. Aku adalah seorang imigran dari Hongkong yang datang ke negeri baru yang bernama Indonesia. Umurku 17 tahun dan aku adalah pelajar SMU di sekolah negeri. Aku tinggal di Jakarta Selatan bersama dengan kedua orang tuaku. Ayahku Ng Yu Po, bekerja sebagai manager bagian pemasaran mobil. Ia adalah orang yang berpikiran luas dan bebas. Aku jarang bertemu dengannya. Ibuku telah meninggal beberapa tahun yang lalu akibat perang triad.
Dulu ayahku adalah anggota triad di daerah Kowloon. Aku sendiri adalah ketua anak brandalan disana. Karena perang triad yang mengakibatkan kematian pada bos ayahku, maka kami sekeluarga harus pindah. Perpindahan ini tidaklah sulit mengingat jumlah keluarga kami yang hanya berdua saja. Pada pertama kalinya aku enggan meninggalkan teman-temanku, namun karena sudah dalam keadaan terdesak, aku hanya bisa menuruti ayahku saja.
Hari ini adalah hari pertama aku pergi ke sekolah. Aku tidak dapat berbicara bahasa Indonesia selancar warga pribumi disini, namun aku akan mencoba sebaik mungkin untuk berbaur dengan teman-teman baru. Saat aku datang ke sekolah aku dipelototi oleh banyak orang karena kulitku berwarna kuning langsat sendiri, sedangkan yang lainnya berwarna kecoklatan. Aku berjalan menuju kesana kemari karena tidak dapat menemukan ruang guru. Aku tidak begitu mahir dalam membaca huruf abjad. Tiba-tiba ada seorang gadis cantik memanggilku dari belakang.
"Hai ada yang bisa saya bantu?" aku terkejut dan melihat ke belakang.
Wajahnya manis sekali dan kulitnya kecoklatan menggoda. Rambutnnya panjang membelai ke bawah. Tinggi badannya sepundakku, dan ia tersenyum manis. Aku menjadi grogi karena jujur saja, aku lebih suka gadis berkulit kecoklatan daripada berkulit putih. Lalu aku pun berkata.
"Teum Ci (yang artinya maaf), saya mau menuju ruang guru" jawabku tersenggat-senggat.
Itulah pertama kalinya aku berbicara dengan menggunakan bahasa asing. Ia tersenyum dan menunjuk ke arah depanku "Itu disana" Lalu bel pun berdering.
"Maaf yah, aku harus masuk kelas sekarang, namaku Santi, senang berkenalan denganmu," katanya lalu ia menjabat tanganku.
Tangannya halus sekali dan aku makin grogi.
"Ngo hai Ng Wai Wan," jawabku.
"Hah? Apa?" tanyanya kebingungan.
"Sorry, Saya Ng Wai Wan" Ia tersenyum lalu lari ke kelasnya.
Akupun segera lari ke ruang yang ia tunjuk itu dan mengetuk pintu itu. Lalu keluarlah guru-guru dan berjalan ke kelas masing-masing. Salah satunya melihatku dan segera menunjukkan ruang pribadi yang ada di ruang guru itu.
"Kamu harus kesana, cepat. Nanti terlambat masuk kelas"
Lalu aku pun berlari ke ruang pribadi itu yang bertulisan ruang kepala sekolah. Aku pun masuk ke sana dan kepala sekolah ngobrol denganku agak lama disana. Aku binggung karena aku sudah telat masuk kelas. Aku bahkan tidak tahu yang mana kelasku. Setelah agak lama ia pun berkata.
"Mari aku antar ke kelasmu. Tenang saja, tidak perlu buru-buru. Kita semua selalu santai-santai dalam melakukan sesuatu. Lambat asal selamat" katanya.
Aku tidak begitu mengerti kata-kata terakhir yang ia ucapkan itu. Lalu aku pun mengikutinya masuk ke kelas baruku. Guruku menyuruhku berdiri disampingnya dan memperkenalkan diriku.
"Saya.. Adalah.. Ng Wai Wan"
Beberapa murid di depanku tertawa karena aksenku yang aneh. Aku menjadi malu. Lalu setelah itu kepala sekolah meninggalkanku, guru disampingk mencoba mencari tempat duduk kosong. Tiba-tiba ada seorang gadis berkata dengan suara keras.
"Duduk disini saja, kosong kok"
Ternyata ia adalah Santi. Wajah manisnya tersenyum dan aku pun menjadi grogi. Guruku menyuruhku duduk di sampingnya. Selama pelajaran berlangsung aku tidak bisa konsentrasi. Mataku terus-terusan terpaku melihat pahanya yang seksi dan mengkilat itu. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke samping dan berkata.
"Äda apa?" Aku kaget dan pura-pura bertanya, "Boleh pinjam ini?" tanganku menunjuk ke arah tip-ex dia.
"Boleh," lalu ia memberi tip-exnya padaku.
Aku berpura-pura menip-ex tulisanku dan menulis ulang serta mengembalikan tip-exnya. Tak lama kemudian guruku berkata.
"Tugas ini agak susah, harap kalian membuat grup 4 orang"
Lalu kami pun membuat grup yang terdiri dari 4 orang. Santi menyuruhku duduk di kursinya, dan ia sendiri berpindah ke kursi depan yang di geser ke arah belakang. Dua orang lainnya duduk disampingku dan di samping Santi.
"Halo, aku Tono dan ini temanku Budi" kata kedua orang baru itu.
Aku pun memperkenalkan diri dan merekalah sahabat baruku. Lalu kamipun membuat tugas komputer bersama-sama. Pelajaran komputer sangatlah mudah bagiku, bahkan sudah ketinggalan jaman. Aku menjawab semua soal susah dalam waktu 15 menit. Setelah itu kelompok kami selesai. Kelompok lain menjadi kaget karena mereka membutuhkan waktu 1 jam lebih untuk menyelesaikannya. Karena mempunyai waktu luang yang lama, aku membuka buku pelajaran matematika dan mencoba untuk lebih mengerti rumus-rumus yang susah. Sedangkan semua teman kelompokku sudah santai dan ngobrol.
"Orang Hongkong rajin yah" kata Budi.
"Pintar lagi," kata Tono menyambung.
"Ah tidak juga kok, pelajaran Matematika kalian juga susah. Aku tidak mengerti sama sekali" kataku.
"Yang mana?" kata Santi.
Ia lalu menerangkan bagian yang susah itu padaku. Seragamnya tidak dikancing semua terutama bagian atasnya sehingga aku dapat melihat belahan payudara atasnya yang montok itu dan berwarna kecoklatan. Penisku langsung berdiri dan menabrak meja. Aku langsung memegang penisku itu dan menahan sakit.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Ah tidak apa-apa kok" jawabku.
Anto yang duduk disampingku itu tersenyum karena melihat hal itu. Lalu ia mengajak Budi untuk pergi ke toilet dan meninggalkanku bersama Santi.
"Kami mendukungmu, teman" katanya berbisik padaku.
Penisku makin lama makin berdiri kuat karena aku melihat buah dada itu dan Santi tidak memakai BH pada saat itu. Hari itu adalah hari pertamaku yang membahagiakan. Ternyata aku tidak salah memilih untuk pindah ke Indonesia. Saat aku pulang ke rumah aku segera ganti baju dan membantu ayahku melanjutkan membereskan barang kami. Pada sore hari datanglah teman ayahku dan memperkenalkan 5 pembantu rumah tangga untuk kami sewa. Kami terkejut karena gaji mereka jauh lebih murah dari yang kami bayangkan. Mereka pun pandai memasak.
Pada malam itu setelah saya mengatur kamar tidur saya, saya pun mandi dan siap untuk makan malam. Dimeja kami banyak terdapat makanan kari. Saat aku cicipi rasanya pedas sekali, tapi enak juga. Pembantu kami telah menyiapkan air dingin untuk kami. Setelah makan malam aku menelepon Santi untuk mengajaknya ngobrol sebentar. Yang disayangkan adalah Santi sedang pergi entah kemana. Dia sendiri tidak punya handphone. Malam itu aku tidak bisa tidur karena terus membayangkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya.
Keesokan harinya aku pergi kesekolah. Ternyata Santi menungguku di depan pagar sekolah.
"Selamat pagi" sapanya dengan suara manis.
"Kemarin, kamu telepon saya yah? Sori yah saya sedang pergi dengan Mamaku ke Ancol"
Aku pun langsung memberinya sebuah handphone agar kami dapat berkomunikasi dengan mudah. Pada pertama kalinya ia tidak dapat menerimanya karena handphone itu harganya mahal. Namun setelh kurayu ia menerima juga. Tiba-tiba ia memelukku dan berterima kasih padaku. Wajahnya tersenyum manis. Buah payudara montoknya menempel di dadaku. Penisku langsung berdiri dan tanpa kusadari kedua tanganku otomatis merangkul punggungnya.
"Ih genit ih kamu" katanya setelah merasakan kerasnya batang penisku yang menusuk roknya.
Aku menjadi malu dan melepaskan rangkulanku. Ia lalu mengandeng lenganku dan menarikku ke kelas.
"Äyo cepat, nanti telat loh" katanya. Lalu kami berdua masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran. Sejak hari itu aku dan Santi makin dekat saja.
Beberapa bulan kemudian sekolah kami mengadakan karya wisata ke taman safari. Aku senang sekali karena aku belum pernah menemui binatang liar sebelumnya di Hongkong. Lalu kami pun naik ke bus dan Santi duduk disampingku sambil mengandeng tanganku. Perjalanan ini seperti honey moon kami saja. Setelah sampai disana aku melihat banyak binatang melalui bus kami. Aku menerima banyak pengalaman seperti dijilat jerapah, dijambak monyet, bahkan memeluk singa. Saat aku melihat Santi memeluk anak harimau wajahnya terlihat makin manis saja. Lalu ia pun mengajakku untuk jalan-jalan ke rumah hantu. Didalam rumah hantu aku menaiki sebuah kereta kecil dan Santi tepat disampingku. Didalamnya sangat gelap. Tiba-tiba muncul hantu pocong disamping Santi. Ia lalu berteriak dan memelukku. Aku pun kaget dan tanpa sengaja mencium bibirnya. Ciuman itu terasa hangat sekali. Yang anehnya adalah ciuman kami tidak lepas pada saat itu. Ciuman yang hangat dinikmati bersama.
Akhirnya kami baru berhenti berciuman dan berpelukan setelah kereta kami hampir keluar dari arena rumah hantu. Saat kami pulang rankulan kami berdua makin mesra di dalam bus, dan sempat digoda teman-teman kami. Saat kami sampai disekolah ia bertanya apakah rumahku dihuni banyak orang. Aku pun menjelaskan bahwa ayahku sedang ada urusan dikantor sehingga ia selalu pulang jam 2 pagi. Lalu ia menanyaiku apakah ia boleh tinggal dirumahku semalam. Aku pun kaget dan grogi. Aku langsung mengiyakan saja. Ia bertambah senang dan menciumku. Lalu kami pulang kerumahku.
Pada mulanya ia hanya bercanda dirumahku dan makan malam. Lalu tiba-tiba ia ingin melihat kamarku. Kamarku agak besar karena ada kamar mandi pribadi didalamnya. Santi lalu meminta ijin untuk mandi sebentar. Aku pun mengiyakan saja. Pada saat ia mandi aku makin terangsang dan akhirnya kuberanikan diriku untuk mengintipnya. Terlihatlah tubuh basah yang indah sekali. Warna kulit coklatnya membuatku terangsang sampai ngiler. Aku pun menelanjangkan diriku dan mencoba untuk beronani. Namun 2 menit kemudian ia sadar bahwa ia sedang di intip.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
Aku terkejut dan baru sadar kalau mulutku sudah penuh liur. Karena sudah tertangkap basah aku langsung memberanikan diriku dan masuk ke kamar mandi. Aku langsung memeluknya dan menciumnya. Ia terkejut dan memberontak, namun setelah agak lama ia tidak memberontak lagi dan memelukku. Payudara montoknya menempel didadaku, penisku berdiri dan kugosok-gosokkan ke vaginanya. Kututup keran air dan kami saling menyabuni tubuh lawan. Sabun yang licin itu membuat tubuh Santi makin bergairah dan enak dielus.
Lalu aku membuka keran air itu lagi dan melanjutkan mandi kami. Setelah bersih aku membuka air hangat dan memenuhi seluruh bak mandi. Aku lalu berbaring diatas bak mandi, sedangkan Santi menindihku dan memelukku. Tubuh kami berada didalam air hangat. Tanganku mengelus-elus pantat dan paha Santi didalam air.
Setelah 20 menit kemudian kami keluar dari air. Santi kugendong sampai ke ranjangku. Lalu aku segera menjilati vaginanya sampai basah semua. Vagianya terasa manis sekali. Aku terus terusan menjilati lubang pantatnya. Setelah puas, lalu kujilati pahanya selama 10 menit. Setelah itu aku mengangkat badannya dan menjilati payudaranya. Putingnya kukulum dengan ganas. Ia berdesah keras. Lalu kami berciuman dan saling bertukar air ludah. Ia mengunyah mulutku dengan ganasnya. Setelah itu dengan posisi duduk, kucumbui vaginanya.
"Ah.. Ah.." desahnya.
Ia duduk dipahaku, kakinya menyilangi punggungku dan tanganya merangkul leherku. Kami melakukan cumbuan dalam posisi tersebut sambil berciuman selama 5 menit. Lalu aku berganti posisi dan mencumbui pantatnya. Dadaku menekan punggungnya dan kedua tanganku meremas-remas dadanya. Buah dadanya terasa hangat dan enak diremas.
Kami melakukan doggy style sampai 20 menit. Lalu aku tidak tahan lagi dan spermaku muncrat didalam pantatnya. Kami berdua berdesah keras sekali. Kami jatuh ke ranjang bersama dan tidur karena sudah lelah. Kami tidur dalam keadaan telanjang.
Pada pagi harinya aku bangun duluan. Lalu badanku terasa tertindih. Ternyata Santi kedinginan dan memelukku erat-erat. Aku membangunkannya dengan kecupan pelan dibibirnya. Tak lama kemudian ia terbangun dan kami melakukan cumbuan untuk kedua kalinya. Lalu setelah itu kami mandi bersama dan berangkat ke sekolah.

Birahi Ayah Kandung

Cerita ini seperti disampaikan Mar (18) kepada penulis. Ditulis ulang tanpa mgnhbuerubah maknanya, sebagai sumbangsih untuk pencinta dan pembaca cerita situs 1riqf7tahun
*****
Sebut saja aku Mar, wanita berusia 18 tahun, sudah menikahhjwxo dan sedang hamil 8 bulan. Aku berani menceritakan kisahku setelah Sam (60), fazkayah kandungku diamankan polisi lima bulan lalu, setelah sempat digebuki Mas rotmsnHamdi (25), suamiku.
Sebagai wanita yang tumbuh ditengah keluarga miskin d , ilingkungan pesisir, aku terbiasa hidup dan kerja keras membantu orangtuaku ytowdeang nelayan. Kampung kami di pulau L (Edited ***) agak jauh dari kota dan sep , erti terisolir membuat tatanan kehidupan bermasyarakat disana kurang terbuka,vpac aku pun tumbuh menjadi gadis kurang pergaulan.
Sejak berusia 11 tahun, aynjmxbuah dan ibuku bercerai. Ibu kawin lagi dengan lelaki idamannya membawa Fery, amaeoqdikku. Mereka pun tinggal di kota, dirumah barunya. Sejak itu pula aku hidup pnkazqbersama ayahku dirumah kami dikampung pesisir itu, karena Anto dan Santi, kedxcreubua kakakku sudah merantau kepulau seberang.
Kehidupanku bersama ayah berjaamldtulan wajar. Untuk makan sehari-hari, ayah masih sanggup mencari nafkah sebagaikwhl nelayan, sedangkan aku turut membantu bibi berjualan dipasar. Hingga aku men , ginjak usia 17 tahun, dan tumbuh menjadi gadis yang kata masyarakat kampungkulicdf aku lumayan cantik. Diusia itu aku disunting Mas Hamdi, anak lelaki bibiku.
"Kamu sudah dewasa nak, setelah menikah nanti jadilah istri yang taat kepaimchoda suami. Ayah harap kamu tidak seperti ibumu yang tergiur harta kekayaan lelhcujnaki lain sehingga kamu menderita," kata ayah setelah menerima pinangan bibi, , orang tua Hamdi.
Pesta penikahan yang cukup mewah untuk ukuran kami tak me , mbuat aku bergembira karena pikiranku tertuju iba pada ayahku yang nantinya azisuagkan sebatangkara kutinggalkan. Tapi aku pun sangat mencintai Mas Hamdi, suamiuczpsjku.
Dimalam pertama kami, aku benar-benar bahagia bersama Mas Hamdi. Malam , itulah kuserahkan semua yang kumiliki padanya, sangat berkesan bagiku.
"Adwspku sayang kamu Mar.." Mas Hamdi mengecup keningku saat kami dipembaringan, usai pesta kawin kami malam itu.
"Aku juga Mas.." jawabanku tulus dan kami punxlazmd berpelukan erat.
Kecupan Mas Hamdi dikeningku terus turun ke pipi, hidungkpuxtf, dan selanjutnya Mas Hamdi mengecup bibirku dan mengulumnya dalam. Tangannyafmzvpg mulai melucuti kebaya putih yang kukenakan, menyibak bra yang kupakai, lalu gukfdemenyentuh puting susuku, meremas dan mencubit kecil susuku.
"Aouhh Mass, gpswlueli Mas," terus terang baru sekali itu aku dijamah lelaki, perasaanku bukan mvdxpain takut bercampur enak.
Mas Hamdi tak peduli, bagaikan singa lapar ia kehjwvumudian melucuti seluruh kain yang melilit tubuh bawahku dan juga melepaskan sbkwaeluruh pakaiannya.
"Tenang ya sayang, sakit sedikit kok.. nanti juga enak,ytfz" kata itu keluar dari bibir Mas Hamdi saat menindih tubuhku.
"Aahh mass, saeuilgmkit sekali Mas," aku agak menjerit saat benda tumpul milik Mas Hamdi mengoyakiszyoq vaginaku.
Malam pertama itu Mas Hamdi menyetubuhiku dengan beringas, dan tak memberiku kesempatan untuk mencapai klimaks yang nikmat. Tapi aku pikir mliqryungkin itulah gaya seks pria pesisir yang terbiasa hidup keras sebagai nelayawacxzn.
Meski aku bahagia hidup bersama suamiku, namun rasa BHakti pada ayah taunojqbk pernah kusingkirkan. Walau kami hidup beda rumah, dengan jarak 200 meter. Tduojmletapi seringkali kubawakan ayah makanan dan minuman, biasanya tiga hari sekalcnjzti. Apalagi Mas Hamdi pun menyuruhku untuk tetap memperhatikan ayahku yang mullfaqai tua, dan jarang melaut lagi. Tapi selama itu segela sesuatunya masih berjazonelan lancar.
Hingga suatu siang, empat bulan setelah aku menikah, aku membagkqydwakan makanan dan minuman kerumah ayah yang letaknya agak terpisah dari rumahdpmh lainnya dikampung kami. Saat itu aku sudah hamil dua bulan.
"Ini yah, say , a bawakan sayur dan ikan. Ayah nggak usah masak lagi untuk nanti malam tinggakmfxual dihangatkan saja," kataku setiba dirumah ayah.
"Duh.. makasih ya sayang. Krlwcogamu ini benar-benar anak berBHakti," kata ayah seraya menghampiri dan mengecusrewyp keningku.
Kupikir kecupan itu pertanda sayang seperti yang selama ini diymqzcperbuat padaku, kubiarkan saja itu dan kemudian aku ke dapur untuk memindahkajhoimrn makanan dari rantang yang kubawa kepiring didapur. Ayah rupanya membuntutikhfbzuu dan ikut kedapur, lalu disaat tanganku sibuk menyusun piring dimeja makan, ehbglxayah memelukku dari belakang.
"Kamu sudah hamil ya sayang," tanya ayah samurndolbil memeluk dan memegangi perutku dari belakang.
"Iya yah, sebentar lagi saycjbda akan kasih ayah cucu," jawabku membiarkan ayah tetap memelukku, karena kupipcxudkir ayah sangat menyayangiku.
"Kalau mulai hamil, perutmu harus sering diusatuoyp dan dipijit pelan supaya bayinya nggak turun," ayah berkata itu sambil mengyrhdmpusap perutku dengan posisi tetap memelukku dari belakang.
Kubiarkan ayah melspbiakukan itu sementara aku tetap sibuk memindahkan makanan untuk ayah.
"Si Hamjmpkidi sering mijitin kamu nggak sayang," ayahku bertanya lagi.
"Uh ayah ini, Maemctrs Hamdi kan kerja, pulangnya capek mana sempat mijitin saya. Bukannya saya seoegqpnbagai istri yang harus mijitin dia?" kujawab ayah dan melepaskan pelukan ayahypcsu, lalu aku pindah keruangan depan.
Siang itu, seperti biasanya sebelum pulrtjdang aku sempatkan untuk ngobrol bersama ayahku. Selain menanyakan kebutuhan awgcyipa saja yang harus kubawakan, aku juga kerab berkeluh kesah tentang sikap merlunktuaku, ibu Mas Hamdi yang sampai saat itu belum bisa kuakrabi sebagai menantuomgq. Tapi siang itu ayah justru membicarakan masalah kehamilanku, masalah perawaryplitan janin diperutku, termasuk masalah harus rajin diusap dan dipijat perutku.lqtzpn
"Nah.. suamimu kan nanti malam melaut, kamu datang kemari saja supaya ayadwoplsh bisa pijitin ya," begitu pinta ayah sebelum aku pulang.
Aku pun mengiyakqetvan saja, soalnya biasanya Mas Hamdi pulangnya agak siang setelah melaut. Lagi , pula, dirumah mertua aku sering bingung mau melakukan apa, maklum mertuaku bejcbylum sreg benar kepadaku kelihatannya.
Malam itu setelah Mas Hamdi pamit me , laut, aku langsung kerumah ayah. Tentu saja aku pamit ke mertua untuk menengodiouk ayah, kataku pada mereka, ayah sedang sakit. Waktu aku datang, ayah sedang , mendengarkan siaran radio sambil menghisap rokok tembakau lintingan diruang tboedwamu.
"Malam yah.. kok ngelamun sih?" sapaku sambil bergelayut dilengan aya , hku.
"Iya sayang, ayah lagi ingat masa muda dulu," ayahku tetap asyik denganueyzs rokok lintingnya.
Dari bibirnya segera meluncur secuil perjalanan hidupnya neviztyang sebenarnya sudah sering diceritakan pada kami, anak-anaknya.
"Tuh kan asmzrtyah jadi cerita, jadi nggak nih mijitin saya? katanya sayang sama cucu yang m , asih diperut ini?" aku merajuk menghentikan ceracau ayahku tentang hidupnya.
fpqxab "Iya..iya, tapi sekarang kamu mandi dulu sana," perintah ayahku.
Aku langyhkssung mandi dan terus kekamar ayahku. Saat itu seluruh pakaianku kutanggalkan mnqbdan hanya menggunakan kain sarung milik ayah untuk menutup tubuhku. Biasanya shdnebdikampung ini, melilit tubuh dengan sarung sudah jadi tradisi tiap wanitanya.wxvtb
"Sekarang berbaring diranjang itu ya sayang, ayah ambilkan minyak kepala nvfhdulu," ayahku memandangi tubuhku dengan senyuman, lalu meninggalkanku sendiritljvan dikamar, aku pun menunggunya sambil berbaring diranjang. Tak lama kemudiantuizcp ayah datang membawa sebotol kecil minyak kelapa.
"Memang susah anak muda sebsvagkarang, nggak perhatian sama istrinya," ayahku bicara sendiri ketika duduk dicnrehtepi ranjang.
"Iya, untung saya masih punya ayah yang perhatian ya yah," katvtukriaku.
Tangan ayah segera menyibak kain yang kukenakan dibagian atas, sehingkacqyga susuku tanpa pembungkus bebas terlihat. Tetapi aku sama sekali tak risih kojptdarena sejak kecil sampai gadis pun aku sering dilihat mandi telanjang oleh aykoutah. Jemari ayah yang kasar mulai mengusapi perutku dengan minyak kelapa, sesewlhixpkali tangannya memijit bagian perutku.
"Tuh kan? Posisi bayimu agak turun, , kamu sering merasa sakit ya?" ayah bertanya sambil tangannya terus memijiti , perutku.
"He-eh yah.., sering capek juga kakinya," jawabku menikmati pijitanfine ayah.
"Ya sudah, nanti ayah pijitin seluruh badanmu ya," ayah mengatakan it , u, lalu pijitannya pindah kebetisku, pijatannya bergantian betis dan perut.
Sambil dipijit, aku dan ayah tetap ngobrol, mulai masalah harga ikan yang slspwbmedang turun, sampai masalah masa lalu ayah dengan ibuku.
"Uhh.. sakit yah,ukwxzi" aku agak berteriak saat merasakan sakit dibagian perut saat tangan ayah memxqkhijit.
Ayah menghentikan pijitannya, tetapi tangannya tetap berada diatas permiadxutku.
"Ini ya yang sakit Mar? Wah.. ini bisa bahaya, kalau dibiarkan nanti asaboxnakmu bisa cacat lho kalau lahir," kata ayah dengan raut wajah serius.
"Cacaqbvacyt? Jadi gimana dong yah, Mar nggak mau punya anak cacat," aku takut sekali wacwijyrktu itu, takut menanggung malu jika kelak melahirkan anak yang tak normal.
A , yah tak langsung menjawab pertanyaanku, ia kelihatan sedang berpikir, tapi ketimroumudian tersenyum.
"Bisa kok ayah obatin, tapi ayah harus siapin obatnya dulu , ya," ayah kemudian meninggalkanku sendirian dalam kamar. Tak lama ayah datanpjwlg lagi dan membawa baskom plastik berisi air dan beberapa kembang kenanga.
zwrv Ayah kemudian menjelaskan padaku bahwa ia akan mengobati kehamilanku dengan , pengobatan tradisional.
"Tapi ayah harus masukan air kembang ini kedalam rahnrqfimmu sayang, kamu bisa tahan sakit sedikit kan?" ayah mengatakan itu dengan s , angat meyakinkan.
Semula aku ragu, apalagi ayah bilang kalau dia akan memaydnqzlsukan air kembang itu dengan cara menyemburkannya divaginaku. Tetapi keraguanhsdbwpku pupus setelah ayah berkali-kali meyakinkanku. Sampai sekarang pun aku tak hcmxgtahu pasti apa kata ayahku itu benar atau hanya sekedar akal bulusnya saja. Twyckdfetapi yang jelas, saat itu aku menurut saja ketika ayah menyingkap sarung yanwxmezig kukenakan dibagian bawah dan meminta aku mengangkangkan kaki dalam posisi tlfjnerlipat, seperti posisi wanita yang hendak
bersenggama dengan lelaki. Ayah szlpwendiri naik keranjang dengan posisi bersimpuh dihadapan kangkangan kakiku. Teythrrus terang aku malu dan kikuk menyadari betapa vaginaku terpampang jelas tanpveumya penghalang didepan mata ayahku.
"Kamu tenang saja ya sayang, tidak lama armnzbkok," katanya, lalu meneguk air kembang dalam baskom dan menampung dalam mulutublahtnya yeng menggelembung.
Aku sangat penasaran apa yang akan terjadi selanjhlrxutnya, apalagi saat kepala ayah mulai merunduk melewati dua pahaku, mendekatiqpncj vaginaku yang tak terbungkus CD. Beberapa detik kemudian kurasakan dingin meeiocarjalar dipermukaan kemaluanku, rupanya ayah sudah menyemburkan air dalam mulut , nya tepat kevaginaku. Yang kurasakan selain dinginnya air kembang, juga perastzgsaan geli dibagian vitalku. Ayah mengulangi lagi meneguk air itu dan menyemburolpmzkan ke vaginaku, beberapa kali. Hal itu menimbulkan perasaan tak menentu padaoufghdku, geli, dingin bercampur enak.
"Gimana Mar, sudah agak membaik rasa sakiakyuwmtnya?" ayah bertanya padaku.
Namun belum sempat kujawab tangan kanan ayah tihqncba-tiba membelai vaginaku.
"Sabar ya, ayah harus pastikan air kembang itu ma , suk sampai kerahimmu," katanya, sambil tangannya terus mengusapi bibir vaginaygcqku.
Usapan tangan ayah divaginaku yang sudah basah terkena air kembang memnswgrhbuat sensasi tersendiri kurasakan, aku pun tak bisa berkata-kata lagi karena buqodzmendadak lemas seluruh sendi tubuhku.
"Uhh yahh.. sudah yah.., Mar nggak biscbema tahan geliinya," bibirku meminta ayah menghentikan aksi usapnya, tetapi kedclsekpua tanganku tak menahan tangan ayah yang aktif, tetapi tanganku justru meremabfdacwsi sprei ranjang kanan dan kiri.
"Disini ya sayang yang geli itu," ayah bertedqwanya sambil jempol kanannya menekan klitorisku dan menguyak-nguyak benda sens , itifku itu memutar kecil.
"Nnnghh.. iya yah.. geli sekali disituhh," nafaskuohval mulai tersengal menahan geli yang nikmat dibawah usapan jempol ayah dibagianhsezw klitorisku.Rasa gatal yang sangat kurasakan dipucuk-pucuk kedua susuku yang putingnyaapyo sudah mengembang pertanda birahi yang kualami.
Ayah meneruskan aktifitasdbfngknya mengusapi klitorisku dengan jempolnya, usapan itu perlahan melemah denrogfgan posisi jempol beranjak menjauh dari klitorisku. Saat itu aku sudah san , gat terangsang oleh ayah, pinggulku kini yang naik mengejar jempol ayah agxptsgar tak meninggalkan klitorisku. Aku menggelepar dengan napas sudah sangat blhktidak beraturan lagi, pikiranku sudah melayang dan tak ingat lagi bahwa yakrwzcung merangsangku adalah ayahku sendiri. Tapi disaat aku sudah sangat terangqoexsang seperti itu, ayah justru menghentikan aktifitasnya di klitorisku. Pin , ggulku yang tadinya sedikit mengangkat mencari jempol ayah langsung terjerminacyembab lagi, aku terpejam menahan gejolak yang berkecamuk ditubuhku.
"Auaozhbmhh yahh, kenapa?" tanyaku agak kecewa, tapi mendadak malu saat ayah menataxazplpku, malu karena aku seperti meminta hal yang lebih dari ayahku.
"Mar.. scpifagepertinya air kembang itu tidak masuk benar dalam rahimmu. Ayah ulangi semkrnmluburannya ya," kata ayahku.
"Yah.. sudah saja ya, Mar.. nggak tahan gelinynzcmdea," pintaku, tapi anehnya tubuhku tetap berbaring seolah tak ingin menjauhvhiupi ayah.
Ayah tak menjawab permintaanku dan kembali meneguk air kembang uaxrlalu ditampung dimulutnya. Aku memejamkan mata saat kepala ayah kembali tulajrvynduk mendekat ke pangkal pahaku. Aku kembali merasakan dingin di permukaanzudj vaginaku saat ayah mulai menyemburkan air kembang, tapi kali ini lain, se , telah semburan itu aku merasa ada benda kenyal nan lembut menyapu permukaakmfyn
vaginaku. Kupikir itu jemari tangan ayah, tetapi tidak, itu bukan tangafwaxdqn, benda bertekstur lembut, hangat, dan kenyal itu adalah lidah ayah. Ya, krclxjayah mengusapi tepatnya menjilati permukaan vaginaku dengan lidahnya.
"pynvIhh.. mmpphh yaahh, aauhh hhsstt," aku tak kuasa menahan rasa nikmat dijilsnvtwzati ayah, terus terang sejak kawin dengan Mas Hamdi belum pernah aku diperenwpmqlakukan seperti itu. Mas Hamdi selalu main langsung tembak, tanpa rangsangwznhan lebih dulu sehingga selama ini aku sendiri belum pernah merasakan apa ytrvxang disebut kenikmatan orgasme. Jilatan ayah mulai meningkat, kini lidahny , a justru sering menelusup belahan bibir vaginaku yang mulai banjir. Cairanafxk bening kental dari vaginaku diseruput ayah seperti menyeruput kopi hangatzwglki dari gelasnya.
"Ngghhsstt.. yah.. Mar nggak bisa tahnn.. ouhh.." aku mcxgtqulai menggelinjang tak menentu rasanya.
Namun disaat aku mulai melambun , g tinggi, ayah menghentikan lagi aktifitasnya di vaginaku, membuat aku menujshfggelepar menahan birahiku sendiri.
"Mar.. ayah agak sulit masukan air kemfilyskbang itu kerahimmu. Tahan sebentar lagi ya," katanya.
"Yah.. cepetan ya, wbrveuMar nggak kuat lagi, geli sekali yah," aku merasa semakin lemas karena birsvtcahiku dipermainkan seperti itu.
Saat itu aku berhayal seandainya Mas Haubvdmdi ada tentu dialah yang akan memuaskanku dengan penisnya, karena aku mer , asa sudah siap betul dan ingin sekali untuk disetubuhi lelaki. Tapi pikira , n itu kutepis, karena bukankah ayah yang sedang mengobati kandunganku? Akuhbidrq tak berpikir bahwa ayah pun terangsang saat itu.
Tapi tak lama kemudiawaquxzn kurasakan nafas ayah kembali mendekati vaginaku, setelah meneguk air kemuyzdabang yang hampir habis di baskom. Ayah tidak lagi menyemburkan air itu denyilfgan berjarak dari vaginaku, tetapi bibir ayah langsung menempel dibibir vayazqginaku dan ia menyemburkan air itu. Kurasakan aliran air itu masuk hingga banzxwke dinding rahimku, rasanya sama seperti saat Mas Hamdi menumpahkan spermaxafknya ketika kami bersenggama. Setelah itu bibir ayah melumati bibir vaginakqaxgmu, lidahnya mulai masuk dibelahan vaginaku membuat nikmat yang sangat dibaicxqgian sensitif itu, aku benar-benar kepayang dibuat ayah. Kini jemari tangaagefn ayah turut menyibaki vaginaku, membukanya lebar dan lidahnya menyapu klizmbotorisku dari atas kebawah dan sebaliknya dari bawah keatas.
"Ouhh.. yahzrui.. suddhh yaahh, Mar mau kencingg rasanya ah.." seluruh sendiku terasa ngi , lu dan mengembang bersama kedutan kecil didinding vaginaku, aku hampir samxvywpai puncak orgasmeku.
"Iya sayang, sudah selesai kok," lagi-lagi ayah menqzlsudghentikan aktifitasnya, tapi saat kubuka mata ternyata kali ini tubuh ayahejpb sudah berada diatas tubuhku dengan bertopang pada dua tangannya.
"Yah.. psjnkok ayah begitu? Ouhh yahh.. ahh," belum habis kagetku karena ayah menindinyemqh, aku merasakan ada benda keras yang masuk ke vaginaku.
Ternyata ayah bznvtysudah melepaskan celananya dan penisnya yang tegang dimasukan ke vaginaku. , Aku hendak berontak karena hal itu tabu dikampungku dan dimanapun, bukank , ah seorang ayah tak boleh melakukan itu pada anak perempuannya. Perang battavpqhin kualami saat itu, aku ingin mendorong tubuh kekar ayahku tetapi aku sujrpfydah sangat lemas saat itu. Sementara dorongan birahiku ingin segera terpuatmacnskan dengan senggama bersama lelaki.
"Oohhgg, Mar.. angap saja ayah Hamnryolddi Mar.. ouhh ayahh nggak tahhann," ayah tetap menindihku dan kini pinggulvguatnya mulai naik turun diatas tubuhku membuat penisnya bebas keluar masuk dizikhfbliang nikmatku yang sudah licin dan becek oleh cairanku sendiri.
"Nghhg..ncyebo aahsstt, yahh.." aku tak kuasa lagi menolak penis ayah yang mulai mengobaebhzgti rasa gatal di vaginaku.
Dengan mata terpejam aku malah ikut menyambuzvrqt goyangan ayah dengan goyangan pinggulku. Merasa aku tak melawan, ayah puxrtajn semakin liar menyetubuhiku, anak kandungnya. Kini sambil menggenjotku, bkqydibir ayah menjelar menghisapi puting susuku, sehingga senggama kami sempurgkxopna dan kenikmatan yang kurasakan pun semakin tak tertara bila dibanding sejfhmlynggamaku bersama suami.
Sekalipun usia ayah sudah kepala enam, tetapi kbrpfondisi fisiknya masih kuat dan kurasakan penisnya pun masih normal dengan qthjukuran yang sedikit lebih besar dari punya Mas Hamdi.
"Yahh.. Marr mauumzsjw kencinghh yahh uuh..sstt,"
Sepuluh menit berlalu dalam senggama, kurasjhcosakan kenikmatan mulai mengumpul di pangkal pahaku, bongkahan pantatku, ujuaihmvkng-ujung jari kakiku, dan juga di liang nikmatku. Kedutan semakin terasa dpijqidinding vaginaku, dan akhirnya kurasakan kejang dibagian pinggul sampai knoirpakiku, kakiku kemudian kugunakan untuk menjepit pinggul ayah dan menekannytykra agar lebih dalam penisnya bersarang di vaginaku. Tanganku memeluk tubuh cneyberkeringat ayah, sementara kepalaku terangkat dengan bibir menyedok kulitujrx dada ayah. Dalam kondisiku yang puncak itu, ayah masih menggejot penisnyarlmdc beberapa kali sebelum akhirnya
ayaHPun mengejang dan mengerang diatas tubagybuhku.
"Ahhgg Mar.. ngghh," ayah lalu lunglai dan berbaring disampingkufdpb yang juga lemas tak bertenaga. Tulangku seakan dicopoti saat itu, namun kgzpehuuakui itulah kali pertama aku kepuncak nikmatnya senggama.
Malam itu aksdtiqvu tidur bersama ayahku dirumahnya, dan paginya kami seperti melupakan kejaxprebdian itu. Akupun pulang kerumah mertua pagi harinya, dan bersikap seperti hdkyfibiasa saat Mas Hamdi pulang melaut.
*****
Kejadian pertama bersama aurqvyah, membuat aku agak malu untuk datang kerumah ayah lagi. Sudah dua minggwfhutlu ini aku tidak menjenguk atau mengantarkan makanan untuk ayah. Entahlah, znciwalau sebenarnya aku tak keberatan disetubuhi nikmat oleh ayah, tetapi akuacixl malu kalau disangka ayah ingin mengulangi kenikmatan itu lagi.
Sore itxiqzu, sebelum Mas Hamdi melaut seperti biasa ia meminta jatah dilayani kebutusdxihan biologisnya. Sebagai istri kulayani suamiku semaksimal mungkin. Tapi s , eperti biasa juga, Mas Hamdi hanya memikirkan kepuasannya saja, dan sudah xcbzymengejang menyemprotkan air maninya sebelum aku merasa terangsang, apalagicuxrkp orgasme.
"Mhh, aku sayang kamu Mar.." Mas Hamdi selalu mengatakan itu , sambil mengecup keningku setiap kali usai menikmati klimaks diatas tubuhkuilksuw, lalu ia mengenakan kembali pakaiannya dan meninggalkanku sendiri dikamarbtegzu, ia pun melaut bersama teman-temannya.
"Hati-hati Mas..," hanya itu yangbczel kuucapkan melepas pergi suamiku.
Aku tetap berbaring diranjang tanpa mugptaengenakan kembali pakaianku, rasa kecewa terhadap suamiku tumpah lewat airrbvqn bening yang meluncur ditepian mataku. Aku merasa tersiksa dua minggu ini qfnhsetiap kali berhubungan intim dengan suamiku, tersiksa karena tak mendapatmgdbzkan nikmat yang maksimal seperti yang kudapat dari ayahku. Setelah suamikusbfaq menhilang dibalik pintu, aku bangkit dan mengunci kembali pintu kamar. Kejousmbali berbaring diranjang tanpa busana, aku menghayalkan kenangan nikmat brmgoptersama ayah. Tak terasa tanganku mulai meremasi payudara sendiri, sambil mvxzhembayangkan ada lelaki yang sedang mencumbuiku, aku pun menjelajahi bagianerjowt tubuh sensitifku sendiri. Malam itu aku mencapai orgasmeku dengan masturbvjouasi sambil menghayalkan ayahku, lalu tertidur pulas.
Esoknya, pagi-pagirzhpcs benar sebelum Mas Hamdi pulang melaut, aku menyiapkan makanan untuk kubaweiaca kerumah ayah. Entahlah, aku ingin sekali kerumah ayah pagi itu.

"Eh konmgiamu Mar.. ayah kira siapa," kata ayah menyambut ketukan pintuku.
"Iya nih , yah, bawakan ayah makanan," aku menjawab tanpa mampu menatap mata ayah, awpigku malu dan jadi canggung pada ayahku sendiri.
Ayah kemudian menyuruhku , masuk, dan seperti biasanya aku langsung kedapur untuk memindahkan makanautpqgvn dirantang yang kubawa kepiring di dapur rumah ayahku.
"Gimana sayang,kelu sudah nggak sakit lagi perutmu?" suara ayah menyapaku, dan aku agak terkewqxnmjut ketika ayah tiba-tiba sudah mendekap tubuhku dari belakang sambil tanggfxnacannya mengusapi perutku yang nampak sedikit membuncit dengan usia kehamilarhuxvdn 3 bulan.
"Eh ayah.. Mar sampai kaget. Kadang-kadang masih tuh yah, tapikctqxa agak membaik kok setelah dipijit ayah waktu itu," aku bingung harus menjasbvociwab apa saat itu.
"Gimana kalau ayah pijit lagi? biar nggak sakit-sakitanamurs perutmu itu," nafas ayah tepat menghembusi tengkukku, membuat aku menahanfwlzv geli dan merinding.
Sebelum aku menjawab, tangan ayah kurasakan membelsheoai bongkahan pantatku dan mulai menyingkap naik bagian bawah daster yang ksutxupakai pagi itu.
"Enghh ayah.. jangan lagi ah," aku berusaha menepis tazkhoungan ayah dan kembali meneruskan kegiatanku merapikan piring di meja dapurqpwj ayah. Tapi tangan ayah seperti tak mau pergi, dari belakang itu ayah mala , h memasukan tangannya kebalik dasterku dan mengusapi bongkahan pantatku, sslogqesekali meremasinya.
"Ya sudah, kalau nggak mau dipijitin dikamar, ayahazfbe pijitin disini saja ya. Kamu kan bisa sambil rapikan piring itu," ayah semahemakin berani menyusupkan tangannya kebalik CD ku, sehingga kini tangan kasjgyauarnya mengusapi pantatku tanpa penghalang. Saat tangan ayah langusng menyejkhdntuh kulit pantatku secara langsung, aku merasakan desiran aneh yang kemud , ian memacu libidoku.
Kucoba menahan desiran itu dan tetap merapikan makannzhlfuan diatas meja dapur, tetapi aku tak lagi menepis aktifitas ayah, aku membhbnuviiarkan ayah berbuat semaunya.
"Asshtt yah.. janganhh geli yah," aku menxgamdiggelinjang saat bibir ayah mengecup tengkukku, tapi aku tak mampu menghindtkbmoarinya.
"Kamu merunduk diatas meja ya sayang, tenang saja.. supaya perutmiqmwspu cepat sembuh, ayah pijitin sambil berdiri ya," ayah menekan bahuku dari , belakang sehingga posisi tubuhku merunduk dengan kedua tangan menopang dibfnhqibir meja.
Penasaran juga apa yang akan ayah lakukan, aku pun tak bisa yiedswmenjawab selain mengikuti perintah ayah itu. Kini pekerjaan merapikan pirilbnhng sudah tidak ada lagi, yang ada aku merunduk pasrah di meja itu, menungg , u apa yang akan ayah lakukan selanjutnya.Desiran yang kurasa semakin menjadi saat ayah melorotkan CD yang kupaqdpvxakai lalu menyingkap naik bagian bawah dasterku. Posisiku jadi nunggnyguping membelakangi ayah dengan tubuh bagian bawah bugil. Ayah lalu mem , andu kedua kakiku untuk lebih merenggang jarak, lalu ia pun berlututafmc dibagian itu.
"Bagus sekali kemaluanmu ini Mar.." ayah memujiku.phcbr
"Ayah, saya mau diapakan lagi sih?"
Aku penasaran apa yang akan , diperbuat ayah terhadapku. Tapi lagi-lagi ayah bilang kalau itu terziyjgmasuk pengobatan tradisional yang akan mempermudah aku melahirkan kerikjlak. Sambil menjelaskan itu padaku, tangan ayah mulai menjelajahi be , lahan pantatku
dan kadang menyusup sampai kebibir kemaluanku.
"Hsfmljksstt ahh," aku tak bisa menahan desah yang keluar akibat napasku mulglnvuzai tersengal menahan dampak aksi ayah.
Perasaan geli menjalari vi , talku dan membuat tenaga dikedua kakiku seperti melemah, posisiku jakazsdi lebih merunduk dengan tangan terlipat dimeja dan susuku terhimpitsuwx antara badan dan meja. Aku melangkah mundur sedikit menjaga agar pe , rutku tak tertindis tubuh dan terhimpit meja. Posisi itu rupanya memjwvebuat ayah semakin mudah menggapai vaginaku dari belakang karena tingrcwqmdgi meja yang hanya satu meter membuat aku nungging maksimal membelakzvkjbnangi ayah yang berlutut.
"Tahan sebentar ya sayang.. cuma sebenta , r kok,"
Ayah tak lagi mengusapi bongkahan pantatku, kini kedua tabndrfngannya menahan bongkahan pantatku dan menguaknya agar bibir vaginakodqbxfu terlihat. Ditengah penasaranku, tiba-tiba kurasakan lidah ayah sudytwchqah menyapu bibir vaginaku. Ritme jilatan ayah di vaginaku sungguh te , ratur, setiap lima kali menjilat naik turun ayah selalu menghentikankyhgcunya dibagian klitoris untuk menekan klitorisku dengan lidahnya itu.
Kendali benar-benar dipegang oleh ayah saat itu. Aku sudah tidak , mampu lagi bergerak, apalagi menolak perlakuan ayah padaku. Cairan klufyental kurasa sudah mulai keluar dari vitalku membuat ayah semakin le , luasa menjilat, mengecup, dan mengulum bibir vaginaku. Dendam nikmat , yang tak kuraih dari Mas Hamdi semalam, ingin kutumpahkan disini, bjsxnersama ayahku.
"Aduhh yahh.. gelhihh sekalhii ehhsshh," saat ritm , e jilatan ayah menekan klitorisku, pantatku menyambut bergerak kebelgzmbakanng membuat wajah ayah tenggelam dibongkahannya, aku ingin agar lhftjqidah itu menekan lebih keras klitorisku. Tanganku menggapai apa sajacugh yang ada diatas meja, meremasi gelas dan serbet disana demi menikmaiktjbfti sensasi itu. Koyakan-koyakan lidah ayah menembusi belahan bibir vrtiemaginaku, sesekali ayah menyedot dan menelan cairan kental yang keluapvcyr, lalu mengoyak lagi dan lagi.
"Ehm.. kemaluanmu sudah mulai ber , kedut Mar, apa sakit diperutmu sudah mulai hilang?" ayah menghentikakrbhpn jilatannya dan bangkit mendekap tubuhku yang tetap nungging.
"Mhhzheb aahh, belum yahh.. masih sakit perut Mar," aku menjawab begitu agarvxhamy ayah meneruskan lagi jilatannya dan membuai lagi birahiku.
"Belum?gutw Kalau begitu ayah teruskan ya pijitannya, kalau begini enak tidak skiupehayang?" ayah berdiri dibelakangku, kedua tangannya mencengkeram pingtginacgulku. Belum lagi aku menjawab pertanyaan ayah, kurasakan benda hang , at dan tegang ingin menembus vaginaku.
"Ohh yaahh..," penis ayah yaawphnsng sudah berada digerbang liang nikmatku langsung amblas separuh di pknufvaginaku saat aku mundurkan pantatku.
Tapi ayah seperti ingin men , yiksa birahiku, ia tetap berdiri mematung sekalipun penisnya sudah mbzlejyasuk separuh ke liang nikmatku. Kini akulah yang aktif memburu batanoxkdbg perkasa ayah, pinggulku memutar dan mundur-mundur menahan gatal ya , ng ingin agar penis itu masuk utuh divaginaku. Beberapa menit sepertwcvqi itu, ayah pun tak bisa lagi menahan birahinya, dan siapmenggenjocnisamtku. Tetapi baru saja ayah terasa akan menekan pinggulnya kedepan, mqavzkxendadak terdengar ketukan pintu rumah. Ayah beranjak menjauhiku dan ouisymmenaikan celananya lagi.
"Ada orang Mar.. kamu perbaiki bajumu ya , , ayah lihat siapa yang datang," ayah meninggalkanku didapur.
Agacluytxk kesal memang saat itu karena aku sudah terlanjur birahi dan ingin jzqwtasekali terpuaskan. Tapi kesal itu luntur saat terdengar suara Henny,nkzv adik bungsu Mas Hamdi.
"Mbak Mar ada Pak Sam.., saya disuruh pan , ggil, Mas Hamdi sudah pulang," begitu suara Henny terdengar.
"Oh.. whxzada nak, Mbak Mar ada disini baru ngatur makanan untuk saya. Mar, Maytofr.." ayah memanggilku.
"Eh Henny, Mas Hamdi pulang ya.., yuk kita pxdljulang. Yah Mar pulang dulu ya," aku berpamitan dan mengajak Henny pucopvshlang kerumah mertuaku, hari sudah beranjak siang saat itu.
Sampaielbxq dirumah Mas Hamdi memintaku membuatkan kopi untuknya, lalu dia banyvqjecak bercerita tentang hasil melautnya semalam.
"Cakalang sedang bavdjonyak Mar, mungkin setelah makan siang nanti saya bersama kawan-kawantlfb kembali ke laut, mumpung rejeki nih," katanya.
"Iya Mas, tapi haticxeqs-hati ya," jawabku.
Setelah minum kopi, Mas Hamdi menarikku kekamirmvar, dan minta aku melayani nafsu seksnya. Untung baru beberapa saat oxfmnwaku dirangsang ayah sehingga aku sangat senang melayani Mas Hamdi. T , api seperti biasa, Mas Hamdi main tubruk saja. Menindih tubuhku masircamh lengkap dengan baju, Mas Hamdi hanya membuka resleting celananya. pbmiqcDasterku hanya disingkap keatas dan CD dipelorot kebawah lalu ia men , ggenjotku.
"Ohh mass, enaakhh mass," walaupun Mas Hamdi tak merangzfdbegsangku namun dengan membayangkan buaian ayah tadi, aku bisa terangsdbfcyang dan benar-benar ingin dipuaskan. penis Mas Hamdi menembusi vaginlpdsuoaku dengan cepat.
"Iyahh sayangghh enaakhh sekalii.. pepekmu ougghhchfm," Mas Hamdi melenguh, padahal baru beberapa menit penisnya masuk dijwni pepekku.
"Ouhh.. Sstthh.. janghaann duluu mass, ahh," ingin kuhent , ikan saat merasakan penis Mas Hamdi berkedut menyemburkan sperma kergjieaahimku. Oh, lagi-lagi dia hanya memikirkan kepuasan sendiri, tanpa mqurepjengerti perasaanku yang juga ingin merasakan nikmatnya disetubuhi sufhumami.
"Uhh, nikmat sekali sayang, makasih ya," katanya, mengecupku, zpufanlalu pergi.
Aku ingin sekali marah, berteriak, dan maki-maki, tetdaknmrapi semua hanya bisa tumpah lewat tangisan siang itu.
Sore hari spwjiozetelah Mas Hamdi melaut, aku berpamitan kepada mertuaku untuk menjen , guk ayah. Lagi-lagi alasanku ayah sedang sakit. Begitulah, sore itu tyonhpaku kembali berada dirumah ayah, dan tak ingin membuang waktu aku lanfpeszngsung memluk tubuh ayah begitu masuk rumahnya.
"Oh.. ayahh, Mas uqztHamdi jahat yah..," aku menangis dipelukan ayah diruang tamu.
"Kamuiglmno kenapa Mar..? kenapa kamu..?" ayah nampak khawatir melihat aku mena , ngis.
"Dia menyetubuhiku tapi perutku tambah sakit yah, ini yah disgvifnini sakit," aku menuntun tangan ayah keperutku yang mulai membuncit. ,
"Disini ya, sayang. Sudah, kamu diam ya nanti ayah obati.., nah dixdmosinikan yang sakit? disini juga ya..?" ayah seperti mengerti apa yanxdqnhjg kuinginkan dalam posisi berpelukan sambil berdiri, tangan ayah mulfgmbai merayapi dari perut sampai selakanganku, membuat gairahku bangkitojuqr seketika.
"Ayo sayang, ayah obatin dikamar.., ups.."
Ayah mem , bopong tubuhku dan membaringkanku diranjang kamarnya. Setelah itu, b , agai serigala lapar, ayah melucuti pakaianku dan pakaiannya juga. Ayymsdoah langsung menerkam selangkanganku yang membasah dan menjilati lagilxmtzv vaginaku.
"Ohh iyaahh yaah.. begitu yahh.. aahh," aku tak lagi b , isa mengendalikan ocehanku, nikmat sekali perlakuan ayah itu.
Menrcgywjdengar celotehku tangan ayah naik merambati susuku, meremas, dan menyigvdcubiti putingnya. Sepuluh menit mempermainkan vagina dan susuku, ayakpaxymh rupanya tak tahan juga. Apalagi pagi tadi pasti ayah pun sangat meyptxnyesal nafsunya tak tuntas.
"Uh Mar.., angkat kakimu ya.. begini qekjsayang," ayah membimbing kakiku menopang dipundaknya.
Dengan posi , si itu ayah menepatkan penisnya dibelahan bibir vaginaku.
"Yahh..kxnz, obatin Marr yah.. cepet yahh," aku sudah merasa gatal sekali inginzxkdqb segera menerima sodokan penis kekar ayahku.
"Mar.., kalau lagi ham , il muda memang wanita butuh beginian, kalau suamimu susah, kamu serimjznng kemari ya, biar ayah obatin.
Lagipula, wanita hamil paling enak itbzmemeknya.. kayak kamu ini," ayah sengaja lagi mempermainkan birahikuaqluh, aku diajaknya ngobrol sementara kepala penisnya yang bulat dibiarkdpbfrean membenam di pintu vaginaku tanpa memasukan batangnya.
"Gimana sxhadMar? Kamu jawab donk sayang..?" tanyanya.
"Duhh ayahh.. masukinn do , ng yahh, Mar nggak bisa nahan lagihh, ahh.. iyaa uhh," belum selesai , aku memohon, ayah menekan pinggulnya, membuat penisnya masuk kelianinyhg nikmatku.Bless.. cleepp..
Posisi yang dibimbing ayah ternyata mnzedembuat syaraf divaginaku menerima rangsangan yang maksimal. Dengan pdognosisi itu penis ayah menekan cukup diklitorisku setiap kali keluar mgtaoasuk menembus bibirnya. Penis ayah yang sedikit lebih gemuk dari pen , is suamiku serasa membuat bibir vaginaku ikut monyong-monyong menerimgxama sodokannya. Tangan ayah meremasi susuku dengan keras, dan tangankswehiu hanya bisa melampiaskan nikmatku dengan meremasi bantal dikepalakuibqu.
Kunikmati setiap gerakan ayah, aku juga berusaha menggoyang ayaiqwflth dari bawah memutarkan pinggulku semampuku, aku pun ingin ayah merawklvjmsakan kenikmatan yang sama seperti yang kudapat darinya. Mungkin ben , ar kata ayah, saat hamil muda wanita sangat butuh seks dan butuh terhdzjpuaskan. Rambutku yang panjang sudah acak-acakan mengikuti gerak kep , alaku yang liar. Keringat ayah dan keringatku bercampur membasahi tulohzkmbuh kami dan juga sprei ranjang.
"Ohh Marr.. bukan mainn Mar.. enlgqxakh sekali pepekmu nak..," ayah sudah hampir jebol, gerakan menggenjcnfmptotku semakin cepat.
"Oyaahh..mmphh aahhsstt.. enaakk juggaa konntol , lnyaahh.. aahhsstt," saat gerakan ayah lebih cepat, rangsangan dikliifpgjrtorisku menjadi puncak.
Aku juga hampir jebol, meski berusaha kut , ahan tapi kedutan kecil dinding vaginaku semakin menjadi, sampai akhgiamdcirnya kupiting leher ayah dengan betisku yang menggatung.
"Amphuubspjnn yahh.. aahhsstt,.. enghh.. ahhsstt..enghmm.. yahh.. ohh," aku jebyeznol, vaginaku berkedut menjepiti penis ayah.
"Maarr.. ennaakk ohh.. lidsouhh.. ohh, ennaakkh Marr ohh," beberapa detik kemudian ayah menyusuicvqdhl orgasmeku, tubuhnya mengejang dan tangannya semakin keras meremas sgyrhdsusuku.
Ayah menurunkan kedua kakiku dari pundaknya tanpa melepasxesdnkan penisnya yang terjepit vaginaku, dan mengarahkanku untuk berbariqungojng miring berhadapan dengannya yang terkulai disampingku, kelamin kamnacemi tetap menyatu saat itu. Sampai akhirnya penis ayah mengecil dan mjruxaelepaskan diri dari jepitan vaginaku. Saat lelah kami terobati dengaxeouvkn tidur beberapa jam, malam itu aku pulang kerumah mertua, dan melanbwtvoijutkan tidur nyenyak dengan perasaan nyaman sekali.Seperti kejadian pertama, meskipun aku terpuaskan bukan main tapi kejadian kedqihmzjua bersama ayah menyisakan sesal dibathinku. Apalagi setiap kali aku mendengarrjnxm ceramah rohani, aku merasa dosa terhadap Mas Hamdi suamiku. Selain itu aku juwyuxga merasa dosa melakukan hubungan intim dengan ayah kandungku, bukankah kami saqlxedarah dan tabu untuk melakukan itu?
Tapi entahlah, dibalik rasa sesal itu,qhvxk ada rasa ingin mengulangi yang juga sama besarnya. Dua perasaan itu berkecamuhebdakk dibathinku seminggu ini, selama itu aku ingin sekali ke rumah ayah tetapi ba , tal karena rasa sesal tadi. Pagi itu aku merasa perang bathin lagi, tapi nampacjfnbqknya rasa sesalku kalah kali ini dengan rasa ingin mengulangi nikmat bersama aqpaeoyahku. Apalagi semalam aku kembali kecewa dibuat Mas Hamdi. Walaupun semalam Mkygdlvas Hamdi sampai tiga kali menindih tubuhku dengan nafsu, tetapi ia selalu selelpqjdtsai sebelum aku puncak.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahku, aku mengemyfdwbasi makanan untuk kubawa kerumah ayah yang sudah seminggu ini tak kukunjungi. , Kupikir aku bisa menghabiskan waktu disana karena Mas Hamdi baru subuh tadi becjlorangkat dan tentu pulang malam. Maklum arah angin berubah sehingga hari itu Masogrmhs Hamdi melaut pagi.
Waktu aku sampai dirumah ayahku, rupanya pintu tak tertevywkunci sehingga aku bisa langsung masuk. Kulihat ayah tertidur di kursi bambu rgyuapiuang tamu, hanya pakai sarung dan telanjang dada. Kubiarkan ayah tidur sementachwbra aku kedapur memindahkan lauk dari rantang ke piring yang ada dimeja dapur. , Setelah itu aku kembali keruang tamu dan memperhatikan ayahku yang tertidur diofldukursi panjang dari bambu. Dibanding Mas Hamdi, ayah memang bertubuh lebih bagunzrelts walau sudah cukup tua. Dada bidangnya masih menonjolkan otot semasa muda dul , u membuat tubuh yang tingginya mencapai 178 cm masih terlihat kokoh jika berdikazduri.
Mataku menjelajahi tubuh ayah yang terlentang, dari kaki sampai wajah. zldbWajah ayah juga masih menawan untuk lelaki seusianya, mirip-mirip aktor gaek Pkjrsvit Pagauw yang mancung dan ganteng itu. Kuyakin, sebenarnya banyak wanita yanglvzhbs tergila-gila pada ayah, hanya saja ayah benar-benar sudah trauma dengan kegagmteyhjalan perkawinannya dengan ibuku. Huh.. seandainya aku lahir di zaman ayah dan iwckhbukan anak ayah, ingin rasanya aku kukawini ayah dan menjadi istrinya. Tentusarqfjyja kenikmatan dapat kuraih setiap saat darinya, tapi mungkin bukan itu ukuran wkojnakebahagiaan tiap wanita, buktinya ibuku memilih meninggalkan ayah dan kawin layvopgi dengan pria yang lebih kaya.
"Ngghh.." ayah menggeliat tetapi tetap tidupglwr, kaki kanannya yang terangkat membuat sarung yang dikenakan singkap hingga pcqlrxuangkal paha ayah terlihat jelas.
Oh.. Kekarnya penis ayah langsung membayanxsahg dibenakku, apalagi saat itu ujung penis tidurnya terlihat. Ayah tak mengguna , kan CD rupanya, sehingga penisnya menggelayut keluar dari kain sarung ketika k , aki kanannya terangkat dan sarung itu tersingkap. Penis ayah yang tidur saja srudytvudah hampir sama besar dengan milik suamiku, dadaku langsung berdesir saat itutqvesy, birahiku merambat naik.
Entah setan apa yang menguasaiku saat itu, aku medkmondekat dan bersimpuh dilantai menghadap kursi tempat ayah tidur. Posisi wajahkfuaywu berada beberapa centimeter dari penis ayah yang keluar dari sarung. Dengan sqboxhangat lembut kusentuh penis ayah yang masih tidur, dan pelan-pelan kugenggam pvupsenis itu dan kuusap-usap mengocok-kocok penis ayah. Walau ayah hanya bergumam ovxkmqkecil dan tetap tidur, tetapi reaksi penisnya positif, batang nikmat itu perlasoljvhan membesar dan menegang seirama dengan kocokanku. Aku benar-benar blingsatanrpmxs sendiri menyadari penis ayah sudah on dan siap aksi, entahlah hari itu sebelucasuxvm mendapat foreplay dari ayah, aku justru sudah terbakar birahi.
"Ouhh.. Savluyyangg.." ayah mendadak terbangun, tangannya meremasi rambutku dan menuntun kep , alaku mendekat ke penisnya.
"Tolong hisap sayang, seperti ayah menjilati vagiyjtunamu itu," ayah memerintahku, dan perintah itu kulaksanakan tanpa keberatan, wxfvoalau sebenarnya baru kali itu aku menghisap penis lelaki."Mmmphh ssthh mmpphrxkyh.. Ahh, enak yah?, mmphh sshtt," kulakukan pekerjaanku dengan baik.Tubuh ctmbayah sampai menggelinjang beberapa kali menahan kenikmatan oralku. Saat mulutkswqyknu mengulum penisnya, ayah menggerakkan tangan yang memegang rambutku maju-mundqhjbylur ke arah penisnya, membuat mulutku secara otomasi maju mundur pula menelan dbiqpan melumat penis ayah. Cairan bening yang keluar dari penis ayah kutelan denga , n penuh nafsu. Sambil mengulum penis, kuperhatikan sensasi wajah ayah yang semkvpweakin tampan meringis menahan buaianku itu. Ayah mencengkeram rambutku lebih kuzeakxat dan lebih cepat menggerakan tangannya memaju mundurkan kepalaku.
"Hsstt xlusohh.. Nikmaattnyaa saayyhh.. Oghh.. Aahhgg.. Ayhh puass Marr.. Ohh," tubuh ayaxwneh kejang dan penisnya menyemburkan sperma kental yang cukup banyak, kutarik waeyzvljahku menjauh sehingga puncratan sperma ayah tercecer ke lantai.
"Ohh.. Sayanocjyfig sini sayang, duduk diatas sini ya,"
Setelah beberapa menit menarik nafas,lmvwi ayah menyuruhku duduk di kursi bambu itu sementara ia beralih berlutut dilant , ai dengan posisi menghadap perutku. Ayah mengakat kedua kakiku dan menopangnyaurvxes kemeja di depan kursi, tubuh ayah seolah kujepit diantara kedua pahaku. Kini pfiawgantian ayah yang mengoralku. CD yang kupakai tidak dilepaskan ayah, tanganya zovkrmengamit CD bagian bawah dan dibawanya kekanan sehingga bibir vaginaku tersembkycfnul lewat celah CD itu, lalu ayah merunduk dan kurasakan sapuan nikmat di permuboxtnkaan vaginaku.
"Ohh yaahh.. hhsstt," gantian juga, kini aku yang meremasi rtknvambut ayah dan menekan kepala ayah agar lebih terbenam menjilati vaginaku yangmorw membasah. Perlakuan ayah sungguh lelaki, jilatannya membuat aku menggelinjangvpiyj kenikmatan semakin memuncakkan nafsu birahiku.
"Enghh uhh.. Enak sekali yaqnkitwhh, disitu yahh, oh ya disitu.. Isap yang kuat yah," desahanku semakin menjadicqdg, sesak dadaku menahan rasa ngilu nikmat disekitar vagina dan merambat hiinggarpdvq boongkahan pantat dan jari-jari kakiku. Aku berusaha bertahan cukup lama, tetrexaapi setelah lima belas menit diperlakukan begitu akhirnya pertahanku jebol.
"jvnzDuhh yahh.. Ohh Marr yahh.. Uhh, hsstt.. Enghh enakk.. Ahhsst," saat vaginaku , mulai berkedut, kutekan kepala ayah agar lebih membenam di vaginaku, cairan yauariong keluar dari liang nikmatku disedot ayah, membuat sensasi nikmatnya orgasme qvmybagiku. Saat kedutan itu selesai, aku langsung terkulai dikursi bambu itu, danjqgnr ayah bangkit duduk disampingku membelai kepalaku.
"Enak Mar?," ayah membelaicgxylv pipiku dan menatapku.
"Enghh ayah, iya enak sekali yahh.." aku lalu menyanpqscdarkan kepala didada ayah. Kami duduk dengan posisi begitu hampir setengah jamlhms, aku dan ayah terlibat obrolan tentang kenangan indah ayah bersama ibuku, dannbgqpx juga tentang aku dan suamiku. Kepada ayah kuceritakan betapa irinya aku terhalkupdap hubungan ibu dengan ayah yang jauh lebih indah dibanding dengan aku dan Ma , s Hamdi, tak terasa aku pun menangis dipelukan ayah.
"Kasihan kamu nak, pas , ti kamu menderita tak terpenuhi nafkah bathinmu selama ini," ayah membelaiku ltegkmagi penuh kasih. Setelah membelaiku, ayah memegang tanganku dan menuntunnya keyhvq arah penisnya. Astaga, penis ayah sudah tegak kembali dengan perkasa.
"Mari vilpxdMar.. ayah tuntaskan kenikmatan tadi untukmu," ayah membimbingku lagi untuk beqmhtjrdiri menghadap kursi dan menopang tangan pada sandaran kursi bambu itu.
Akpcungu menurut tuntutan ayah, saat itu aku pun ingin segera menerima penis ayah, akahelwyu ingin disetubuhi ayah dari belakang, doggy style. CD ku yang basah dipelorotycikgzkan sampai lutut dan dasterku disingkap sehingga bongkahan pantatku terlihat jmqjyelas. Ayah memelukku dari belakang, tangannya mengusapi perut buncitku dan merfdpwremasi susuku. Ayah juga mengecupi leher belakangku.
"Ouhh yaahh.. Marr nggapxbqzek tahann yah.." aku mulai tak sabar disenggamai ayah, merasakan penis besarnyatrgjo merangsek vaginaku.
"Iyahh sayangg.. Nihh ayahh berii.. Ouhh nikmatnyya pepeblpiakk inii," ayah menepatkan penisnya dibibir vaginaku dan menekan pinggulnya kedsjfcboepan, gerakan itu membuat penisnya langsung amblas diliang nikmatku yang sudah , banjir saat itu.
"Iya yahh begiituu yahh.. Enakk sekalliihh ohh," aku merintanpuih menahan nikmat dibagian vitalku.Ayah mulai menggerakkan pantatnya maju jcpmwmundur, sehingga penis kekarnya menerobos keluar masuk di vaginaku. Senggama deaoxrdoggy style memang nikmat, apalagi baru kali itu aku mengalaminya, setelah bebeazgthrapa siang lalu gagal lantaran hampir kepergok Henny, adik iparku. Ayah benar-dgkabenar memacu birahiku, vaginaku mulai berkedut menginjak menit ke dua puluh kalkrpovmi bersenggama.
"Ahhsstt.. Hhngghh.. Duhh yaahh.. Enhaakkhh ouuhh, iyaa lebaorukih kerass yaahh.. Enaakkhh hngghh," aku kelabakan menerima sodokan ayah, kedutfkpbtan kecil divaginaku kutahan sebisa mungkin, aku belum mau secepat itu orgasme,jurzy aku ingin lebih lama merasakan kenikmatan itu. Kugoyangkan pinggulku berputarpdau mengimbangi gerakan ayah, otot perut kutegangkan sesekali agar ayah merasakanyxdlp jepitan vaginaku dipenisnya.
"Ohh Marr.. Enakknyaa pepeekkmuu.. Ohh," ayahcxdbl pun mulai merasakan hal yang sama, celotehnya semakin menjadi sambil tangannyrabga meremasi bongkahan pantatku. Ayah menggenjotku lebih keras, penisnya menumbuqhnsmoki vaginaku sampai menimbulkan keciplakan berpadunya kelamin kami.
Aku tak , tahan lagi, otot-otot kakiku mengejang seiring denyutan vagina yang semakin sexgndring muncul. Nafasku dan nafas ayah berpacu melenguh, mendesis, memndesah, danpozcb berteriak kecil.
"Iya yahh.. Kuatin yahh.. Marr sampaii yahh.. Ouhh.. Aahhciagsstt ighh.. Ammphuunn aahh," kurasakan seluruh ototku mengejang, kenikmatan medozhngumpul dari kaki, pantat hingga vaginaku yang semakin keras berkedut, aku hampofnjpir orgasme.
"OuuhHPp Marr.. Iinnii diaa.. Ohh.. Ohh ayah hampir juga Mar.. Ogmyseohh," ayah pun mengerang, tangannya menjambaki rambutku dan tubuhnya semakin ceasfqvpat menggenjot tubuhku."Ouhh.. Ammphunn yahh.. Amphunn.. Aahhsstt.. Ohh.. Amefcxgrpphunn.." aku sampai berteriak menerima orgasmeku, aku jebol.
"Iya Marr.. Iniatgki.. Ayahh juggaa.. Aahh," ayah masih menggenjotku berkali-kali saat aku sudah xbgodfpuncak.Tetapi, "braak.." pintu rumah ayah yang lupa kami kunci terbuka lebqlowzvar. Menyusul suara pintu itu, Mas Hamdi masuk dan berdiri terpaku memandang keickt arah kami.
"Ouhh Maarr.. aaghhkk.. Ohh.. Iyaahh.. Ohhggh," sangat tanggunghrzf saat itu, meskipun kami tahu kehadiran Mas Hamdi tetapi puncak nikmat yang dasjbdrotang tak mungkin lagi terhindar, ayah meneruskan memompaku sampai ia sendiri kgdebwyejang dan memeluk tubuhku dari belakang."Ohh ammphunn yaahh.." aku sangat kesemjnikmatan saat itu.
Mas Hamdi terpaku memandang kami, tetapi setelah mendengmncxar aku berkata ampun, Mas Hamdi segera menuju ke arah kami dan menarik tubuh aqkmpyah.
"Kurang ajar kau orangtua, anakmu sendiri kau perkosa.. Huh"
Sebuahombah pukulan menyasar kewajah ayah sampai ia terjerembab kelantai. Rupanya Mas Ham , di berpikir kalau barusan tadi aku diperkosa, ia lalu menghampiri ayah yang jagmvutuh dan menendang tubuh tua ayah beberapa kali. Aku tak tahu mesti bagaimana scahtqaat itu, selain mengenakan kembali CD-ku dan membenahi pakaianku.
"Kamu nggebhidak apa-apa sayang?," suamiku memelukku setelah ayah tak berdaya.
"Enggak Mas. , . Nggakk apa-apa," aku pun memeluknya, sungguh aku takut sekali saat itu.
Tmvyrqtakut ketahuan, dan takut ditinggalkan suami. Beberapa menit kemudian suara rib , ut hardikan Mas Hamdi kepada ayah mengundang masyarakat datang. Ayah kemudian mergidiarak ke rumah Pak Rahmat, Kadus dikampungku. Setelah sehari diamankan di rumiaxnah Kadus, Mas Hamdi melaporkan perbuatan ayah kepolisi dan ayah diamankan di kbuzdantor polisi sekaligus dijerat sebagai pemerkosa anak kandung. Aku ingin sekalxwugi membela ayah, tetapi aku tak mampu.Kini, sudah lima bulan berlalu. Ayah , sudah melalui proses peradilan dan meringkuk di LP sebagai terpidana tiga tahuvsmifjn penjara. Kisah kami tetap kusimpan rapi, dan sebulan sekali aku masih mengunpiuajungi ayah di LP walaupun kulakukan tanpa setahu suamiku.bpztu
Tamat

Di Kamar Tante Ninik

"Kriing.." jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata.
"Wah gawat, telat nih" dengan kahytergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi.
Pagi itu aku ada janji untuk menjaga ruvmdnmah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanyaslmje Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aeckjmrku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminyaslaz sering ditugaskan ke luar pulau. Oh ya, tante Ninik mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fxsnpifi. Dini sudah kelas 2 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangcfzphkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Sodnketiap aku berada di rumah tante Fifi aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita mwelcantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan celjdkritakan pengalamanku dengan tante Ninik di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar , pulau untuk 5 hari.
Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ninik. Setelah perdxumjalanan 15 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinnxusoya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Ninik belum berangkat kerjcvauza.
"Met pagi semua" aku ucapkan sapaan seperti biasanya.
"Pagi, Mas Firman Rusadi. Lho kok masixboapdh kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?" Fifi membalas sapaanku."Iya nih kesiangan" aku jaryezcxwab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.
"Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya.bxdvo Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh." Dari dapur tante menyuruh awbgfku.
"OK Tante" jawabku singkat.
"Ayo duo cewek paling manja sedunia." celetukku sambil mas , uk ke mobil. Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantafpiykr.
"Daag Mas Firman Rusadi, nanti pulangnya dijemput ya." Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolourhahan.
Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Ninik.
bitfms Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahadvqxepnya. Tante Ninik masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lamaufgvca, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hengqwltikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku a , dalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku be , rdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan mxsyalam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ninik tanpa ada sehelai benang yang menuiwqntutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tant , e Ninik sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedafdejngkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.
Terdengar suara denxmwsahan lirih, "Hmm, ohh, arhh".
Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil , tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ninik ini sudah mencapa , i orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruanytcxg keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bitzbxsa. Tubuh molek tante Ninik, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ninik berhuwesuoibungan badan denganku."Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hpoinayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho." Tiba-tiba suara tante Nicmatdnik mengagetkan aku.
"Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak atxsada lawannya." Celetuk tante Ninik sambil masuk kamar.
Aku agak kaget juga dia ngomong sep , erti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ninik berangkat kerja,rgvfw aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarucsjung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.
"Hmm.. geli ah" Aku terbangun dan terkejutakod, karena tante Ninik sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar litnsarung.
"Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun." Kata tante sambil dengan pela , n melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%.
"Tante minta ijin ke atasanstyu untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, , tante pulang." Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.
"Waktu tazjipnte masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehixmlbhpngga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, geelxckgdhe juga ya Mr. P mu" Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.
"Sudahlah ta , nte, gak pa pa kok. Lagian Firman Rusadi tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi" fdxymceletukku sekenanya.
"Lho, jadi kamu.." Tante kaget dengan mimik setengah marah.
"Iya, tadvxdfi Firman Rusadi ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?" agak takut juga aku kalau dia mjrwaparah.
Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ad , a gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba diaznac melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga shfxoekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempa , t tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tanfoqlpkte berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.
"Aku tahu kamu sudah lama pingin menye , ntuh ini.." dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.
"Emm.., nggazcfjauk kok tante. Maafin Firman Rusadi ya." Aku semakin salah tingkah.
"Lho kok jadi munafik gitu, seja , k kapan?" tanya tanteku dengan mimik keheranan.
"Maksud Firman Rusadi, nggak salahkan kalau Firman Rusadicrja pingin pegang ini..!" Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh kfsyddi atas tubuhku.
Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.
"Eh, nakal erjcjuga kamu ya.. ihh geli Fir." tante Ninik merengek perlahan.
"Hmm..shh" tante semakin kerasymvqe mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.
Rok , yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gund , ukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ninik. Tangan kirkqrljmiku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukarkbpn dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke svnksxela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.
"Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebgqitexih besar dari punyanya om kamu deh." tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya.
"Ytzpla sudah dibuka saja tante." pintaku.
Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD ysmowang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.
"Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lxqouebih gedhe." Gila tante Ninik ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CDwbjfhv.
Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hemb , usan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepahlvxrs CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjupijlwkkan ukuran sebenarnya.
"Tante.. ngapain berhenti?" aku beranikan diri bertanya ke tante,loxy dan rupanya ini mengagetkannya.
"Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?" agahotek tergagap juga tante merespon pertanyaanku.
"Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bzvrwbhikin tante merinding" sambil tersenyum dia ngoceh lagi.
Tante masih terkesima dengan Mr. ptesocP-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm.
"Emangnya punya om gak segini? yaqctgz sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku." Aku ingin agar tante memulai ini secepazdxcjttnya.
"Hmm, iya deh." Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P.
Ada sensasi enak dan nikmatbhcxal ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P
"Ahh.. enak qruitante, terusin hh." aku mulai meracau.
Lalu aku tarik kepala tante Ninik sampai sejajar dskbcengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama ta , di. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ninik. Akhirnya sambil mgmqopjenggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tibdgxpta, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yan , g tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.
"Ayo Fir, gantian knxycamu boleh melakukan apa saja terhadap ini." Sambil tangan tante mengusap vaginanya.
"OK tan , te" aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.
"Shh.. ohh" tante wgpjuymulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku."Hh.. mm.. enak Fi , r, terus Fir.. yaa.. shh" tante mulai berbicara tidak teratur.
Semakin dalam lidahku mene , lusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ninik. "Ahh..Fir..shh..Firr akuilsg mau keluar." tante mengerang dengan keras.
"Ahh.." erangan tante keras sekali, sambil tuutsevbuhnya dilentingkan ke kebelakang.
Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisjgicdhap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.
"Hmm..kamu pi , ntar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalashuinu om kamu lagi luar kota. Mau kan?" dengan manja tante memeluk tubuhku.
"Ehh, gimana ya tanpjsnkcte.." aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri.
"Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya"dvpyw tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas.Dipegangnya Mr. P ku sambnfukioil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelazkygh lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.
"Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah seucwtrylain besar ternyata kuat juga ya." tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuazqimwgtu dari Mr.Pku.
Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tang , gap dengan bahasa tubuh tante Ninik, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dal , am pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan thegdfiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teelojratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vapaetgina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. , Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku innsjyii membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.
"Tante siap ya, aku mau masuki , n Mr. P" aku memberi peringatan ke tante.
"Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih." t , ante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P.
Dengan pelan aku dorong Mr. P , ke arah dalam vagina tante Ninik, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahwcguekan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan zmbcjvaktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan raslnmhyqakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.
"Firsbokwm, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh" tante berbicara sambil merasa keenakan.vjerkb
"Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman Rusadi agar tante juga merasa enak" Aku membalas omongan tanefpmte.Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante., "Ahh.." kami berdua melenguh.
Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya ebzwsudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengzrdnan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ninik ini svjdymasih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik.
"Plok.. plok.. kidarfplokk" suara benturan pahaku dengan paha tante Ninik semakin menambah rangsangan.Sepuluh mpmjaenit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras "Ahh.. Fir tanphvaugte nyampai lagi"
Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan danedwm merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vaghotrina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ninik, kami melanjutkan aksi. Lbuhmwima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P.
"Tante, aku mau xmidkeluar nih, di mana?" aku bertanya ke tante.
"Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih" saabdlhhut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-clxhvsaiumannya akhirnya pertahananku mulai bobol."Arghh.. tante aku nyampai"."Aku juga Fir..erjcl ahh" tante juga meracau.
Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delucykqapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan m , esra.
"Fir, kamu hebat." puji tante Ninik.
"Tante juga, vagina tante rapet sekali" aku bktlibalas memujinya.
"Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi" pinta tante.
"Mau tante, inkfmtapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?" aku balik bertanyarmohdi.
"Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang" Tante membalas sambil tanbefoyhgannya mengelus dadaku.
Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. tbfycRasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bemvlprsama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.
*****
Itulah pengalamanku dfcjaxengan tante Ninik. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur 40-an. Semenjak itubqhtd aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan tante-tante. Rupanya tante Ninik menbastvceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya.nxmdh
Tamat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

belajar yangrajinya