Sabtu, 31 Januari 2009

lidah

Lidahnya mulai menjilati kemaluanku
Pagi ini, aku kembali mendapat kuliah sore hari. Ah, daripada iseng, lebih baik aku ke rumah Regina. Sekalian dari sana pergi ke kampus bersama. Aku memarkir mobil di depan pintu pagar rumah Regina. Rumahnya tampak sepi. Jangan-jangan ia tak ada di rumah. Aku tekan bel pintu. Tak lama kemudian pembantunya keluar"Ada perlu apa, Non?" tanyanya."Ng.. Gina ada, Mbak?"
"Ada, tunggu sebentar ya." Sang pembantu masuk ke dalam rumah kembali."Kata Non Gina, Non Irene disuruh langsung masuk saja. Non Gina lagi ada di kamarnya.""Baiklah, Mbak."Pembantu itu mengantarkan aku ke depan pintu kamar tidur Regina. Setelah pintu dibuka dari dalam aku segera masuk. Si pemilik kamar sedang duduk di atas tempat tidur seraya membaca buku. Astaga! Ia telanjang bulat. Tubuhnya yang indah itu tidak ditutupi oleh selembar benang pun. Tampaklah payudaranya yang montok dan padat. Ditengah-tengahnya terdapat puting susu yang tinggi, yang dikelilingi oleh lingkaran coklat, sementara bagian kemaluannya ditumbuhi rambut-rambut tipis. Pahanya yang putih dan mulus menantang setiap lelaki untuk menjamahnya."Ren, duduk di sini dong. Jangan bengong saja.""Lho, kamu lagi ngapain, Gin?" tanyaku."Rasanya hari ini aku lagi malas kuliah nih, Ren.""Kenapa?""Nggak tahu tuh. Pokoknya lagi malas.""Tapi kamu nggak usah telanjang bulat kayak begitu dong", kataku sambil menyodorkan kaus singlet kepadanya. Regina bukannya menerima pemberianku, namun ia malah menyeret tanganku sehingga aku jatuh telentang di atas kasur. Tiba-tiba Regina mencium bibirku, sementara tangannya meremas-remas payudaraku yang tidak begitu besar."Gin! Aduh, kok kamu begini sih?! Jangan ah!" kataku sambil berusaha melepaskan diri. Akan tetapi Regina lebih kuat. Tubuhnya yang bugil menindih tubuhku. Akhirnya aku pasrah saja. Dengan perlahan-lahan Regina menanggalkan kaus oblong yang kukenakan. Ia menyelipkan tangannya ke balik mangkuk behaku lalu meremas payudaraku. Aku menggerinjal-gerinjal dibuatnya. Kemudian ia melepaskan beha yang kupakai sehingga terbukalah payudaraku yang kencang menantang."Ya ampun, Ren. Buah dada kamu bagus amat. Biar nggak besar, tapi kencang dan kenyal lho", kata Regina sambil mempermainkan puting susuku dengan jari-jemarinya yang lentik sehingga membuatku kegelian.Aku hanya tersenyum saja. Lalu ia meremas-remas payudaraku. Terasa kenyal dan ketat baginya. Aku semakin menggerinjal-gerinjal. Setelah itu mulutnya menghisap, mengulum, dan menyedot payudaraku. Lidahnya pun mempermainkan puting susuku yang mulai menegang. Kemudian ia menghisap-hisapnya laksana seorang bayi yang kehausan air susu ibunya.
Setelah puas merambah payudaraku, Regina membuka celana panjangku. Tangannya meraba pahaku yang mulus. Lalu ia menurunkan celana dalamku, sehingga kami berdua bugil bagai dua orang bayi yang baru saja dilahirkan. Kemudian ia menyuruhku duduk. Ia menyodorkan payudaranya ke mulutku dan aku menerimanya. Aku lumat payudara yang kenyal itu dengan mulutku, sedangkan lidahku yang menyambar-nyambar seperti lidah ular, bergoyang-goyang mempermainkan puting susunya yang tinggi menggiurkan. Aku hisap puting susu itu yang semakin lama semakin menegang saja. Regina semakin memelukku dengan erat.
"Ouuhh.. Irene.. ouuhh!"Aku dan Regina saling berpelukan. Kedua pasang payudara kami saling bersentuhan. Sejenak ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku merasakan payudaranya yang kenyal. Demikian pula Regina yang merasakan payudaraku. Ia menggesek-gesekkan puting susunya ke puting susuku, sehingga kami berdua sama-sama mendesah.
"Ouuhh.. ouuhh.." aku menjerit kecil tatkala lidah Regina mulai menjilati kemaluanku dan kemudian masuk menyusuri liang vaginaku. Ia menjilat-jilat bagian dalam "daerah terlarang"ku yang mulai basah itu. Aku menjerit lagi, ketika ujung lidahnya mempermainkan daging kecil yang menempel pada kewanitaanku itu. Lalu aku berdua berbuat serupa. Akhirnya kami berdua sama-sama kelelahan dan tergolek begitu saja di atas kasur.Tak lama kemudian, Regina bangkit. Ia mengambil es jeruk yang ada di meja di samping tempat tidurnya. Lalu ia menuangkan es jeruk itu ke kemaluanku. Aku menjerit kecil kedinginan. Sementara ia juga menuangkan es jeruk yang tersisa ke dalam kemaluannya sendiri. Tubuh Regina menindihku. Kepalanya menghadap ke selangkanganku. Demikian pula kepalaku menghadap ke selangkangannya. Lidahnya mulai menjilati kemaluanku. Ia menikmati er jeruk yang sudah mulai masuk ke dalam liang vaginaku. Lidahnya mengikuti aliran air jeruk itu sampai masuk ke dalam "gua keramat"ku itu. Dijilatinya dinding vaginaku, membuatku menggerinjal-gerinjal kegelian."Ouuhh.. Gina.. teruskan..!" desisku bernafsu. Regina melanjutkan penjelajahannya. Sementara itu di sisi lainnya, lidahku pun berbuat hal yang sama pada kemaluannya. Kami berdua dengan garang mempermainkan daging kecil yang berada di dalam liang kewanitaan lawan masing-masing. Kami berdua menggerinjal-gerinjal keras, sampai-sampai tubuh kami berdua jatuh ke lantai.Beberapa detik kemudian, tubuh kami berdua tergeletak di lantai berdampingan dalam keadaan loyo. Lelah memang, namun penuh dengan kenikmatan yang tak terhingga.
meraba-raba daerah selangkanganku
Panggil saya Kadek, ketika itu saya mempunyai kelompok belajar yang selalu rutin belajar di salah satu rumah teman kami, Bima. Saya, Bima, Hendra, Julian dan Rizki setiap akan ulangan selalu belajar berkelompok sambil menginap, karena anak kelas satu masuk sekolah selalu pada siang hari.Teman saya, Bima, memang dari keluarga yang lebih dibanding teman-teman yang lain. Dia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara (2 pria dan 2 wanita), dari ayah seorang pejabat Depkeu.(drs.E) dan Ibu dosen fakultas sastra di universitas negeri di kota B, yang biasa kami panggil Tante N. Otomatis kami selalu tidur, makan dan mandi di sana, malah kalau keluarga drs.E berpesiar, kami suka diajak.Bila Bima sedang di bawah (karena kamarnya memang di lantai 2), kami selalu membicarakan sangkakak no.3 yang bernama E. Hal-hal yang dibicarakan tidak lain adalah wajah yang good looking serta body yang aduhai disertai kulit putih mulus terawat. Tapi anehnya, saya kok lebih suka memperhatikan Tante N, yang diusia 42 tahun lebih menimbulkan hasrat serta fantasi-fantasi seksual yang membuat perasaan risih. Karena walau bagaimanapun Tante N adalah ibu kandung dari teman baikku. Jadi, saya hanya bisa berkhayal dan tidak berani cerita pada orang lain.
Karena keluarga drs.E adalah pencinta sport, maka setiap weekend selalu diisi dengan kegiatan berolahraga, terutama olah raga tennis. Karena saya cukup mahir bermain tennis, saya selalu diajak untuk bermain tennis. Karena saya dianggap paling jago, maka saya sering berpasangan dengan Tante N apabila bermain double. Selain badan Tante N yang proporsional dengan tinggi badan sekitar 165 cm, pakaian tennis Tante N memang sexy dengan rok pendek serta atasan model tank top, pelukan-pelukan serta sentuhan, apabila kami memenangkan game membuat hati saya berdebar-debar dan hasrat seksual terhadap Tante N semakin menjadi-jadi. Malah, setiap selesai bermain tennis saya bermasturbasi dengan membayangkan wajah Tante N serta bersetubuh seperti film BF yang biasa saya tonton.Pada hari Sabtu di bulan Januari, karena saya tidak memiliki pacar, saya sering berkeliling kota dengan mobil ayah untuk menghabiskan malam panjang sendirian. Karena teman-teman belajar saya semua pada ngapel, termasuk Bima. "Ah Sial.." ketika baru saja lewat rumah keluarga drs.E, mobil terbatuk-batuk seperti habis BBM. Padahal hujan begitu lebat di luar dan SPBU terdekat kira-kira 2 km dari lokasi tempat mobil saya tepikan di bahu jalan. Akhirnya, saya memutuskan untuk meminjam telepon ke rumah Bima, untuk menelepon ayah atau siapa saja untuk membantu kesulitan gara-gara lalai terhadap yang namanya BBM.Ketika saya tiba di rumah Bima, sambil hujan-hujanan suasana rumah tampak sepi, tidak ada mobil atau pun suara televisi yang menandakan adanya kehidupan. Dengan hati lemas saya pijit bel rumah 2 kali, "Tingtong.. tingtong.." Tidak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah. "Siapa..?" Hati saya berdebar, karena saya sangat mengenal suara itu. Kemudian saya menjawab, "Kadek, Tante.. maaf malam-malam Tante. Saya mau pinjam telepon, mobil saya mogok, Tante." Terdengar gerendel pintu berbunyi, dan ketika pintu terbuka tampak sebuah sosok yang sangat saya kenal, sosok yang selalu hadir disetiap fantasi seksual saya. "Aduh Kadek kenapa? kasian malam-malam gini hujan-hujanan, ayo cepat ke kamar Bima, kalo udah selesai ke ruang makan yach! Tante buatin minuman hangat." Sambil mengeringkan badan dan mengganti baju, masih terbayang siluet badan Tante N ketika tadi membuka pintu, yang membayang dari gaun tidur yang tipis.Dalam hati saya bertanya, "Kok sepi sekali, yang lain pada ke mana yach."Sambil menghirup coklat panas yang dihidangkan Tante N, akhirnya saya beranikan untuk bertanya
"Tante, Oom, Bima dan yang lain pada ke mana? Keliatannya rumah kok sepi sekali.""Ini lho, adiknya Oom yang di J, sedang sakit, karena si Mbok juga lagi pulang, terpaksadech Tante jadi hansip dulu. Eh.. kamu jadi telepon nggak.""Eh iya Tante, kok jadi lupa nih.""Makanya, jangan suka ngelamun, dari tadi Tante perhatiin kamu kok bengong terus, ada apa sih?""Nggak ada apa-apa kok Tante!"Saya langsung bergegas ke ruang keluarga, dan segera telepon ke rumah. Saya coba berulangkali tetap telepon tidak bisa aktif. Tiba-tiba terdengar suara Tante N, "Bisa nggak Dek? Kalo hujan begini biasanya jaringan telepon di sini memang suka ngadat."
"Udah deh, kamu tidur sini aja, Tante juga jadi ada yang nemenin.""Iya Tante."Setelah itu, saya dan Tante N segera beranjak untuk meneruskan obrolan di ruang keluarga. Sebelum saya sempat duduk di sofa, Tante N berkata, "Dek, tolong dong Tante ajarin lagu Turkish March-nya Bethoven, Tante masih kagok tuh perpindahan jari-jarinya.""Kapan Tante?""Ya sekarang dong! Kapan lagi coba kamu punya waktu untuk ngajarin Tante."Kemudian kami menuju piano dan duduk sama-sama di kursi piano yang tidak terlalu lebar. Karenasaya mengajari perpindahan jari-jari tangan, otomatis saya selalu memegang jari tangan Tante N yang halus dengan kuku-kuku yang terawat dengan baik. Jantung saya terasa makin lama makin berdebar, apalagi setiap menarik nafas harum tubuh Tante N, sepertinya memenuhi rongga dada dan membuat adik kecilku mengeras secara perlahan."Kamu kok suaranya bergetar Dek, lagi nggak enak badan yah?""Nggak kok Tante, saya hanya..""Hanya apa hayo! nggak mau ya lama-lama temenin Tante, atau kamu udah ada janji malem mingguan.""Saya nggak punya pacar kok Tante, nggak kayak Bima ama yang lainnya."Sambil terus duduk berdekatan, tiba-tiba kepala Tante N bersandar pada bahuku dan bertanya, "Dek, Tante mau tanya apa Bima pernah cerita nggak kalo ayahnya punya istri lagi yang jauh lebih muda dari Tante, usianya sekitar 25 tahunan lah.""Masa sih Tante, keliatannya Tante sama Om mesra-mesra aja!"Ketika tangan Tante N bergeser untuk bertumpu pada pahaku, secara tidak sengaja menyentuh adikku yang sejak tadi makin mengeras saja dan membuatku berteriak kecil, "Ah.." Sambil Tante N memandangku yang tertunduk malu dengan wajah sendu dan sensual, Tante N kembali bertanya, "Dek, kamu udah pernah berhubungan seksual belum?""Be..be..be..lum pernah Tante!""Mau nggak Tante ajarin? sebagai ganti kamu ngajarin piano sama Tante."Saya diam seribu bahasa, dan tiba-tiba bibir Tante N telah menyerbu bibirku secara bertubi-tubi sambil lidahnya terus berusaha menjilat dan meracau, "Ah..ah..ah.." Sambil terus mencium bibirku, tangan Tante N terus meremas telinga dan rambutku.Tiba-tiba Tante N berkata, "Dek! kita pindah ke kamar yuk.."Sambil bibir kami terus berpagutan, kami pindah ke kamar tidur dan langsung merebahkan badan dengan badanku ditindih Tante N. Selanjutnya Tante N segera melucuti baju tidurnya dan membentanglah suatu pemandangan indah, payudara yang proporsional (kira-kira 36B) denganputing warna merah maron dengan dibungkus kulit putih yang mulus tanpa cacat, dan yang lebih lagi adalah selangkangan dengan bulu-bulu hitam yang tidak begitu lebat dengan belahan merah muda yang mempesona. Dalam keadaan masih bengong, tiba-tiba tangan Tante N menarik tanganku danlangsung dibimbingnya ke arah payudaranya. Tanpa menyia-nyiakan waktu, saya langsung meremas dengan halus sambil memilin puting susunya yang makin tegak dan mengeras."Ah.. ah.. ah.. terus Dek, buat Tante puas Dek.." Sambil terus meracau Tante N segera melucuti seluruh bajuku, dan mulai meraba-raba daerah selangkanganku serta mulai meremas adikku yang terasa nikmat sekali."Punya kamu besar juga ya Dek""Boleh nggak Tante jilatin biar makin besar?"
"Emangnya Tante mau gitu..?"Lansung posisi Tante N berubah dan mulai turun perlahan dengan terus menjilati tubuhku, dari leher, dada, perut, dan tiba-tiba kurasakan cairan hangat mulai membasahi batang dan kepala adikku. Dan ketika saya memberanikan diri untuk melihat, rupanya kemaluanku sedang dijilati Tante N, kadang-kadang dikulumnya sambil kurasakan kepala kemaluanku menyentuh ujung kerongkongan Tante N.Tiba-tiba Tante N merubah posisinya, sambil terus mengulum dan menjilat kemaluanku, Tante N memutar badan dengan selangkangannya menghadap wajahku. Terlihatlah suatu pemandangan indah, bulu hitam dengan belahan merah dan segumpal daging merah kecil yang berkilau. "Jilat Dek, jilat Dek," pinta Tante N. Tanpa sungkan-sungkan dan membantah, langsung saja kuarahkan lidahku untuk menjelajah sambil terus menghirup harumnya kemaluan Tante N yang bagaikan candu itu.Usai kegiatan saling menjilat, Tante N segera berbaring dan memintaku untuk bangkit sambil tangannya terus menggenggam adikku dan dituntunnya ke arah kemaluannya. "Masukkan Dek, masukkan Dek!" pinta Tante N, seperti anak kecil yang sedang merengek-rengek. Sesuai permintaanku, segera Tante N menekan tubuhku hingga adikku terarah dengan sempurna, dan terasalah suatu rasa yang sensasional ketika kulit kemaluanku bersentuhan dengan dinding kemaluan Tante N yang sudah basah dengan cairan hangatnya. "Ah.. ah.. ah.." suaraku dan suara Tante N memecah kesunyian dandinginnya malam. Sambil saya terus memompa Tante N tidak lupa saya meremas-remas seluruh tubuh Tante N yang memelukku dengan goyang pinggul yang seirama.
Tanpa berkata apa-apa, Tante N membantingku dan tiba-tiba Tante N telah menduduki tubuhku dan mulai bergerak turun naik memutar. Saya semakin takjub saja melihat kedua payudara Tante N seperti bergejolak untuk memuntahkan isinya. Sambil kami terus meracau dengan kata-kata yang menunjukkan kepuasan, Tante N memintaku untuk membalikkan badannya ke posisi semula sambil memintaku untuk memompa lebih cepat. Lalu kurasakan kemaluanku semakin berdenyut dan kemaluan Tante N juga kurasakan hal yang sama. Tidak lama kemudian tubuh kami mengejang, dan seperti di komando kami berteriak, "Ah.. ah.. ah.." sambil dari kemaluanku kurasakan keluar cairan nikmat dengan denyut kenikmatan dari dalam kemaluan Tante N dan kami saling berpelukan dengan erat sambil terus menikmati kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
melepas seluruh kepuasan dengan sentakan-sentakan erotis
Oom Icar, 47 tahun juga cukup dikenal akrab oleh Sinta karena dia sering bertandang di rumah sahabatnya ini. Pada penampilan luarnya Oom Icar bertampang simpatik dan malah kelihatan sebagai orang alim, tapi kenapa sampai bisa berhubungan dengan Sinta ini awalnya cukup konyol. Secara kebetulan keduanya saling kepergok di sebuah hotel ketika masing-masing akan melakukan perbuatan iseng. Oom Icar saat itu sedang menggandeng seorang pelacur langganan tetapnya dan Sinta saat itu sedang digandeng dr.Budi. Keduanya jelas-jelas bertemu di gang hotel sama-sama tidak bisa mengelak. Tentu saja sama-sama kaget tapi masing-masing cepat bisa bersandiwara pura-pura saling tidak kenal.Kelanjutan dari itu masing-masing sepakat bertemu dikesempatan tersendiri untuk saling menjelaskan dan membela diri. Bahwa kalau Sinta mengaku hubungannya dengan dr.Budi karena kena bujuk diajak beriseng dan cuma dengan laki-laki itu saja, sedang Oom Icar mengaku bahwa dia terpaksa mencari pelarian karena Tante Vera, istrinya, katanya sudah kurang bergairah menjalankan kewajibannya sebagai istri di tempat tidur. Masuk akal bagi Sinta karena dilihatnya Tante Vera yang gemuk itu memang lebih sibuk di luar rumah mengurus bisnis berliannya ketimbang mengurus suami dan keluarganya. Itu sebabnya Asmi, salah satu anaknya juga jadi bebas dan liar di luaran.Dari pertemuan itu masing-masing nampak sama ketakutan kalau rahasianya terbongkar di luaran. Sinta takut hubungannya dengan dr.Budi didengar orang tuanya sedang Oom Icar juga lebih takut lagi nama baiknya jadi rusak. Berikutnya karena kadung sudah saling terbuka kartu masing-masing, keduanya yang berusaha agar saling menutup mulut jangan membuka rahasia ini justru menemukan cara tersendiri yaitu dengan membuat hubungan gelap satu sama lain. Ide ini terlontar oleh Oom Icar yang coba merayu Sinta ternyata diterima baik oleh Sinta.
Singkat cerita kesepakatan pun tercapai, cuma ketika menjelang janji bertemu di suatu tempat di mana Oom Icar akan menjemput dan membawa Sinta ke hotel, Sinta meskipun melihat tidak ada salahnya mencoba iseng dengan Oom Icar tidak urung berdebar juga jantungnya. Tegang karena partner kali ini hubungannya terkait dekat. Sekali meleset dan terbongkar bisa fatal urusan malunya. Begitu juga waktu sudah semobil di sebelah Oom Icar, sempat kikuk malu dia dengan laki-laki yang ayah sahabatnya ini. Pasalnya Oom Icar yang sebenarnya juga sama tegang karena kali ini yang dibawa adalah teman dekat anak gadisnya, dia hampir tidak ada suaranya dan pura-pura sibuk menyetir mobilnya sehingga Sinta didiamkan begini jadi salah tingkah menghadapinya. Tapi waktu sudah masuk kamar hotel dan mengawali dengan duduk ngobrol dulu merapat di sofa, di situ mulai ke luar keluwesan Oom Icar dalam bercumbu. Sinta pun mulai lincah seperti biasa pembawaannya kalau sedang menghadapi dr.Budi. Genit manja jinak-jinak merpati membuat si Oom tambah penasaran terangsang kepadanya. Waktu itu dengan mesra Oom Icar menawarkan makan pada Sinta tapi ditolak karena masih merasa kenyang."Aku minta rokoknya Oom.. Sinta pengen ngerokok." pinta Sinta sebagai alternatif tawaran Oom Icar."Oh ngerokok juga? Iya ada, mari Oom yang pasangin. Oom nggak tau kalo Sinta juga ngerokok.""Cuma sekali-sekali aja, abis deg-degan pergi sama Oom ke sini." jelas Sinta menunjukan kepolosannya."Kok sama, Oom juga sempat tegang waktu bawa Sinta di mobil tadi, takut kalo ada yang ngeliat."Masing-masing sama mengakui apa yang dirasakan selama dalam perjalanan. Sinta mulai menggoda Oom Icar."Masa udah tegang duluan, kan belum apa-apa Oom?" godanya dengan genit."Oo yang itu memang belum, tapi jantungnya yang tegang." jawab Oom Icar setelah membakar sebatang rokok buat Sinta yang sudah langsung menjulurkan tangannya, tapi masih belum diberikan oleh Oom Icar."Mana, katanya mau pasangin buat Sinta?""Sebentar, sebelum ngerokok bibirnya Oom musti cium dulu.."Menutup kalimatnya Oom Icar langsung menyerobot bibir Sinta memberinya satu ciuman bernafsu, dibiarkan saja oleh Sinta hanya setelah itu dia menggigit bibir malu-malu manja menyandarkan kepalanya di dada Oom Icar sambil menyelingi dengan merokok yang sudah diterimanya dari Oom Icar. Melihat ini Oom Icar semakin berlanjut."Bajunya basah keringetan nih, Oom bukain ya biar nggak kusut?" katanya menawarkan tapi sambil tangannya yang memeluk dari belakang mulai mencoba melepas kancing baju Sinta.Lagi-lagi Sinta tidak menolak. Dengan gaya acuh tak acuh sibuk mengisap rokoknya, dia membiarkan Oom Icar bekerja sendiri malah dibantu menegakkan duduknya agar kemejanya dapat diloloskan dari lengannya membuat dia tinggal mengenakan kutang saja. Sinta memang sudah terbiasa bertelanjang di depan lelaki, jadi santai saja sikapnya. Tetapi ketika tangan Oom Icar menyambung membuka reitsleting belakang rok jeans-nya dan dari situ akan meloloskan rok berikut celana dalamnya, baru sampai di pinggul Sinta menggelinjang manja."Ngg.. masak aku ditelanjangin sendiri, Oom juga buka dulu bajunya?""Iya, iya, Oom juga buka baju Oom.."Segera Oom Icar melucuti bajunya satu persatu sementara Sinta bergeser duduknya ke sebelah. Berhenti dengan hanya menyisakan celana dalamnya, dia pun beralih untuk meneruskan usahanya melepas rok Sinta. Sekarang baru dituruti tapi juga sama menyisakan celana dalamnya. Tentu saja Oom Icar mengerti bahwa Sinta masih malu-malu, dia tidak memaksa dan kembali menarik Sinta bersandar dalam pelukan di dadanya. Di situ dia mulai dengan mengecup pipi Sinta sambil mengusap-usap pinggang bergerak meremas lembut masing-masing pangkal bawah susu si gadis yang masih tertutup kutangnya."Sinta kurus ya Oom?" tanya Sinta sekedar menghilangkan salah tingkah karena susunya mulai digerayangi Oom Icar."Ah nggak, kamu malah bodimu bagus sekali Sin." jawab Oom Icar memuji Sinta apa adanya karena memang tubuh gadis ini betul-betul berlekuk indah nggiurkan."Tapi Oom kan senengnya sama yang mantep, yang hari itu Sinta liat ceweknya montok banget..""Iya tapi orangnya jelek, udah tua. Abisnya nggak ada lagi sih? Maunya nyari yang cakep kayak Sinta gini. Kalo ini baru asyik.." rayu Oom Icar sambil kali ini mencoba untuk membuka pengait bra Sinta yang kebetulan terletak di bagian depan."Oom sih ngerayu. Buktinya belon apa-apa udah bilang asyik duluan?""Justru karena yakin maka Oom berani bilang gitu. Coba aja pikir, ngapain Oom sampe berani ngajak Sinta padahal jelas-jelas udah tau temen baiknya Asmi, ya nggak? Kalo bukan lantaran tau kapan lagi dapet asyik ditemenin cewek secakep Sinta, tentu Oom nggak akan nekat gini. Udah lama Oom seneng ngeliat kamu Sin."Sinta kena dipuji rayuan yang memang masuk akal ini kontan bersinar-sinar bangga di wajahnya. Perempuan kalau terbidik kelemahannya langsung jadi murah hati, segera mandah saja dia membiarkan kutangnya dilepas sekaligus memberikan kedua susu telanjangnya yang berukuran sedang membulat kenyal mulai diremas tangan Oom Icar."Emangnya, Oom seneng sama Sinta sejak kapan? Kayaknya sih Sinta liat biasa-biasa aja?"
"Dari Sinta mulai dateng-dateng ke rumah Oom udah ketarik sama cantiknya, cuma masak musti pamer terang-terangan? Tiap kali ngeliat rasanya gemeess sama kamu.." bicaranya menyebut begitu sambil secara tidak sengaja memilin puting susu di tangannya membuat si gadis lagi-lagi menggelinjang manja."Aaa.. gemes mau diapain Oom?!""Gemes mau dipeluk-pelukin gini, dicium-ciumin gini, atau juga diremes-remesin gini.. sshmm.." jawab Oom Icar dengan memperlihatkan contoh cara dia mendekap erat, mengecup pipi dan meremas susu Sinta."Terusnya apalagi?""Terusnya yang terakhir ininya.. Apa sih namaya ini?" tanya canda Oom Icar yang sebelah tangannya sudah diturunkan ke selangkangan Sinta, langsung meremas bukit vagina yang menggembung dan merangsang itu."Itu bilangnya.. memek." jawab Sinta dengan menoleh ke belakang sambil menggigit kecil bibir Oom Icar. Bahasanya vulgar tapi Oom Icar malah senang mendengarnya."Iya, kalau memek Sinta ini dimasukin Oom punya, boleh kan?""Dimasukin apa Oom..?""Ini, apa ya bilangnya?" tanya lagi Oom Icar dengan mengambil sebelah tangan Sinta meletakkan di jendulan penisnya.
"Aaa.. ini kan bilangnya kontol.. Dimasukin ini bahaya, kalo hamil malah ketauan orang-orang Oom?" Sinta bergaya pura-pura takut tapi tangannya malah meremas-remas jendulan penis itu."Jangan ambil bahayanya, ambil enaknya aja. Nanti Oom beliin pil pencegah hamilnya.""Tapinya sakit nggak?" tanya Sinta sambil mematikan rokoknya ke asbak."Kalo udah dicoba malah enak. Yuk kita pindah ke tempat tidur?" Oom Icar mengajak tapi sambil membopong Sinta pindah ke tempat tidur untuk masuk di babak permainan cinta. Di sini Sinta mulai memasrahkan diri ketika tubuhnya mulai digeluti kecup cium dan raba gemas yang menaikan birahi nafsunya. Sinta sudah pernah begini dengan dr.Budi, caranya hampir sama dan dia senang digeluti laki-laki yang sudah berumur seperti ini. Karena mereka bukan hanya lebih pengalaman tapi juga lebih teliti jika mengecapi tubuh perempuan, apalagi gadis remaja seperti dia. Asyik rasanya menggeliat-geliat, merengek-rengek manja diserbu rangsangan bernafsu yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.
"Ahahhgg.. gellii Oomm.. Sshh.. iihh.. Oom sakit gitu.. ssh.. hngg.."Mengerang antara geli dan perih tapi dengan tertawa-tawa senang, yang begini justru memancing si Oom makin menjadi-jadi. Oom Icar yang nampaknya baru kali ini bergelut dengan seorang gadis remaja cantik tentu saja terangsang hebat, hanya saja dia sayang untuk terburu-buru dan masih senang untuk mengecapi sepuas-puasnya tubuh mulus indah yang dagingnya masih padat kencang ini. Dari semula saja dia sudah nekat melupakan bagaimana status hubungannya dengan Sinta apalagi setelah dilanda nafsu tinggi seperti ini. Anak gadis teman baiknya dan sekaligus sahabat anaknya ini begitu merangsang gairahnya membuat dia jadi terlupa segala-galanya. Sinta yang sudah memberi celana dalamnya diloloskan jadi telanjang bulat sudah rata seputar tubuhnya dijilati dengan rakus. Diberi bagian susunya dihisap saja sudah membuat Oom Icar buntu dalam asyik. Sibuk mulutnya menyedot berpindah-pindah diantara kedua puncak bukit yang membulat kenyal lagi pas besarnya itu, lebih-lebih waktu Sinta di bagian terakhir memberikan vaginanya dikecapi mulutnya. Jangan bilang lagi, seperti anjing kelaparan dia menyosor menjilat dan menyedot celah merangsang itu sampai tidak peduli tingkatan kesopanan lagi. Sahabat anak gadisnya yang biasanya hormat sopan kalau datang ke rumahnya, sekarang santai saja menjambak rambutnya atau mendekap kepalanya mempermainkan seperti bola kalau sosoran mulut rakusnya membuat geli yang terlalu menyengat."Ssshh.. aahngg.. gelii.. Oomm.." Oom Icar seru memuasi rasa mulutnya yang tentu saja membuat Sinta terangsang tinggi dalam tuntutan birahinya, tapi begitu pun jalan pelepasan yang diberikan si Oom betul-betul memuaskan sekali. Pada gilirannya Oom Icar merasa cukup dan menyambung untuk mengecap nikmatnya jepitan ketat vagina muda si gadis, di sinilah baru terasa asyiknya penis ayah sahabatnya.
Sewaktu partama dimasuki, Sinta masih memejamkan mata, dia baru tersadar ketika batang itu sudah setengah terendam di vaginanya. Agak ketat sedikit rasanya. Membuka mata melirik ke bawah, dia langsung bisa mengira-ngira seberapa besar batang itu. "Aahshh.." dia mengerang dengan gemetar kerinduan nafsunya hanya saja tangannya mengerem pinggul Oom Icar agar tidak sekaligus tancap masuk. Meskipun tidak diutarakan Sinta lewat kata-kata tapi Oom Icar mengerti maksudnya. Dia meredam sedikit emosinya dan menusuk sambil membor penisnya lebih kalem. Di situ batang penis ditahan terendam sebentar untuk membawa dulu tubuhnya turun menghimpit Sinta lalu dari situ dia berlanjut membor sambil mulai memompa pelan naik turun pantatnya. Untuk beberapa saat masuknya batang diterima Sinta masih agak tegang, tapi ketika terasa mulai licin dan sudah mulai bisa menyesuaikan dengan ukuran Oom Icar. Dia pun mulai meresapi nikmatnya batang Oom Icar."Wihh.. ennaak sekalii!" begitu ketat dan begitu mantap gesekannya membuat Sinta langsung terbuai dengan nikmat sanggama yang baru dibukanya dengan batang kenikmatan Oom Icar. Saking asyiknya kedua tangan dan kakinya naik mencapit tubuh Oom Icar seolah-olah menjaga agar kenikmatan ini tidak dicabut lepas sementara dia sendiri mulai ikut aktif mengimbangi kocokan penis dengan putaran vaginanya yang mengocok. Disambut kehangatan begini Oom Icar tambah bersemangat memompa, semakin lebih terangsang dia karena Sinta meskipun tidak bersuara tapi gayanya hangat meliuk-liuk setengah histeris. Bergerak terus dengan tangan menggaruk kepala Oom Icar, kakinya yang membelit tidak ubahnya bagai akan memanjat tubuh si Oom. Kelihatan repot sekali gerak sanggamanya yang seperti tidak bisa diam itu, apalagi ketika menjelang sampai ke puncak permainan, tambah tidak beraturan Sinta menggeliat-geliat. Sementara itu si Oom yang sudah serius tegang juga hampir mencapai ejakulasinya.Beberapa saat kemudian keduanya tiba dalam orgasme secara bersamaan. Sinta yang mulai duluan dengan memperketat belitannya. "Aduuhh.. ayyuhh.. Oomm.. shh.. ahgh.. iyya.. duhh.. aahh.. hgh.. aahh.. aeh.. ahduhh.. sshh Oom.. hheehh.. mmhg.. ayoh.. Sin.." saling bertimpa kedua suara masing-masing mengajak untuk melepas seluruh kepuasan dengan sentakan-sentakan erotis.

Gairah Istri Tercinta
Hai.. untuk seluruh pembaca, penggemar 17tahun.tk perkenalkan aku baruperdana mengirim cerita sex ini. Ini adalah cerita galaman aku langsung.Begini ceritanya.Aku seorang suami umur 39 tahun dan istriku berumur 40 tahun. Kamimempunyai anak 2 orang, 1 perempuan dan satu laki-laki. Walaupun kamisudah berumur tapi kehidupan sex kami sangat memuaskan.Kami selalu berhubungan sex. Istrku memang berumur 40 tahun tapi bodynyatanggung sexy dan terawat masih kelihatan seperti umur 30 tahun.Aku berpikir untuk memberikan sesuatu yang lain kepada istriku, yaitu akuinginkami bercinta dengan satu orang lain, bertiga. Dan ini aku sampaikan kepadaistriku sebut saja namanya Rina. Namaku sendiri Ricky. Pertama-tama Rinatidak setuju, tetapi setelah ku bujuk-bujuk kukatakan."Mah, ini kita lakukan untuk happy kita saja sayang"."Yah, pah tapikan saya malu bercinta dengan orang yang belum pernah sayakenal"."OK, sayang lupakan semua, yang penting saat itu kita mencapai kepuasan.Bagaimana sayang?", setelah kubujuk akhirnya Rina setuju."Terserah papah ajalah."Aku lalu mencium istrku, dan malam itu kami bercinta dan kami melakukannyasampai pagi.Waktu berjalan terus, sementara aku terus mencari orang yang cocok untukkami aja bergabung. Suatu hari aku berkenalan dengan seorang guruinstruktur senam di kota kami. Namanya Herman. Orangnya ganteng umurnyamasih 26 tahun badanya pun sangat atletis. Beberapa kali pertemuan akumenyampaikan apa rencana kami kepada Herman, dan kulihat dia tidakterkejut."Biasa Mas, aku pernah melakukan ini dengan pasangan lain," cerita herman.Oh aku sangat senag sekali, ternyata Herman sangat berpengalaman. Makakami ataur rencana, Ini akan kami lakukan disalah satu hotel terkenal dikotakami.Hari Sabtu siang Rina dan aku ngobrol berdua diruang tamu."Mah, aku kok rasanya kepengen kita tidur dihotel berdua saja malam ini",Rina menyambut dengan hangat."Boleh juga tuh Mas, hitung-hitung bulan madu," katanya.Kami sepakat memilih Hotel "S" untuk menginap nanti malam.Sesampai dihotel setelah menyelesaikan administrasi hotel, lalu kami masukkamar hotel. Rina langsung rebahan diatas tempat tidur yang cukup besar.Sedangkan aku masuk kedalam kamar mandi untuk menelpon Herman, dankami beri tahu nomor kamar dan jam berapa dia harus datang.Didalam kamar aku dan Rina ngobrol dan sekali sekali kami berciuman, Akumeremas payudara Rina dari balik bajunya sambil terus menciumi leherjenjangnya. Rina mendesah, "aaahh... mas....." sambil berciuman tangankumasuk kebalik baju yang dipakainya."Mas?...... aku mau Mas...!" Rok yaand dipakai Rina sudah naik sampaimemperlihatkan paha Rina yan mulus dan putih, Dan tanganku mengelus-elulembut memek Rina dari balik celana dalamnya dan aku merasakan cairankemaluan istriku sudah mulai keluar... yah... oh.... terus Mas..... yahhh...atatasnya yang..."Tiba2 pintu diketuk dari luar. Kami buru2 merapihkan pakain kami, biasa Rinasambil ngomel,"siapa sih, ngegangu aja?"Aku membuka pintu, Herman sudah didepan pintu dengan kaos ktetnyamemperlihatkan tubuhnya yang atletis."Siappa pah?" tanya istrku dari dalam."Ini kenalkan teman papah, tadi telpon kebetulan dia ada di hotel ini, jadipapah suruh mampir saja.""Ini Rina istriku,""Aku Herman mbak," sambil menyalami istriku.Istriku banyak diam, mungkin kesel karena nanggung tadi. Sambil memelukRina aku berkata kepada Rina."Mah, Herman ini yang akan bergabung dengan kita untuk bercinta. Rinasedikit kaget, tapi setelah kutenangkan dia dapat menerimanya. Sambilngobrol sekali-kali aku mencium Rina, pertama-tama Rina sanagt risih, tapilama lama aku dapat merasakan Rina mulai terbiasa, malah membalas ciumanaku. Herman tersenyum melihat kami berciuman. Aku melihat istriku melirikHerman pada saat kami berciuman. Hernan masih duduk disofa sementarakami duduk dipinggir tempat tidur berpelukan menghadap kesofa dimanaHerman duduk. Samil berciuman aku meraba-raba paha mulus istriku. DanRina melebarkan kakinya sehingga Herman dapat dengan jelas melihat pahabagian dalam Istriku dan celana dalam Rina. Herman berdiri menghampirikami dan jongkok didepan kami. Sementara aku dan Rina terus berciuman danpelan aku membuka satu persatu kancing kemeja Rina, dan terbukalahdadanya dengan BRa warna hitamnya. Tiba-tiba Rina tersentak, RupanyaHerman menciumi paha istriku, Rina menegang jilatan Herman terusmerambat keatas menyentuh celana dalam istriku. Sementara aku sudahmelepas beha Rina dan menciumi sambil menjilati puting teteknya."ooooohhh..... yahhhhhh... enak enak Her......jilati memek mbak Her...???"MUlut istriku terus merengek-rengek meminta Herman untuk menjilatmemeknya. Aku merebahkan Rina ditempat tidur sementara kakinya masihmenjuntai kebawah dan Herman terus menjilat dan menciumi selangkanganistriku. Rina melebarkan kakinya dan meminta Herman untuk membuka celanadalamnya."Iyah.... terus Her.... buka celana dalam Mbak.... jilati memek mbak oooohh....Mbak mau kontol mu......."Herman lalu membuka celana dalam Rina..... dan kelihatanlah memek istrikudengan bulu yang rapih terawat dan berkilat, menandakan Rina sudah sangat terangsang.Istriku sekarang sudah telanjang didepan dua laki-laki yang siap untumemberikan kepuasan kepadanya. Rina tergolek pasrah sementara kakinyatetap menapak di lantai sehingga memeknya menjadi lebih kelihat menonjolkeatas. Herman berdiri lalu membuka kaosnya, kelihatan dadanya yang bidangditumbuhi bulu, Istriku memeandang nanar, Herman juga membuka celanapanjangnya. Otomatis Herman hanya memakai celana dalam saja, dankontolnya yang belum tegang menonjol dan kelihatan jelas dimata istriku. DanRina terus melihat kebawah. Sambil berkata "Her...?Mbak mau kontol kamu!Puaskan Mbak Her........" Rina Bangkit dari tempat tidur lalu jongkok didepanHerman.Istriku menciumi kontol Herman dengan bernapsu..... lalu Rina menurunkan
celana dalam Herman, maka kelihatanlah kontol Herman begitu dekatnyadenga muka Istriku. Rina menjilati kontol Herman mulai dari pangkal sampaiujungnya. Terus berulang-ulang."ohhhhh.... enak Mbak .... enak sekali lidah kamu Mbak.." erang Herman.
Istriku memasukan kontol Herman kedalam mulutnya berulang kali."Ahhhhh enak..... sekali Mbak" sambil tangan Rina mengocok-ngocok kontolHerman. Lalu Herman menngajak Rina berdiri. Lalu mereka berciuman sambilberdiri shhhhh...suara ciuman mereka sampai kekupingku aku terpancing, lalumenghampiri mereka. sambil jongkok dibelakang Rina, aku menciumi pantatrina sambil tanggan ku meraba-raba memek sitriku yang sudah basah....merekaterus berpelukan sambil berciumana sementara aku menciumu pantatistriku..........Tiba-tiba rina istriku menungging mengapai kembali kontol Herman dandimasukannya kedalam mulut acchhhhhh, Herman mengerang.... sementaraaku menjilati memek Rina dari belaakng, sekali jari-jariku keluar masukankedalam memek RIna."yahhhhh... terus Mas... masukkan jarinya Mas... Rin... ga tahan...... terus...yang dalam......... Entot saya.... her..... Mbak Mau kontolmu... masukkankontol kamu kedalam memek MBak..... aaaccchhh... ssssssssshhhh.."Kami berganti posisi. Aku rebahan di kasur sementara istriku menunggingsambil menjilati kontol ku..... dari belakang Herman sudah siap-siapmemasukan kontolnya yang sudah tegang kedalam memek istriku. Heramnmengosok-gosokan kontolnya kebelahan memek istriku."yahhh.... masukan Her... Mbak sudah ga kuat....... entot Mbak Her... PuaskanMbak....." pelan kepala kontol Herman mulai masuk kedalam memek Rina ....,
"sssshhhh..." Rina menegang ketika kontol Herman yang sudah tegangpelan-pelan masuk kedalam memeknya istriku. Herman berhenti sebentar, lalupelan kembali menekan kontolnya masuk kedalam memek Rina kembali.Tubuh istriku bergetar.... sshhhhh..... ohhhhhh... enak sekali her.....masukan terus yang dalam oooohhhhh hangat.... kontolmu hangat sekaliHer........""yahhh...Mbak ?...memekmupun berdenyut Mbakk....." herman pelan menarikkeluar kontolnya dan memasukannya kembali."Accchhhhh..... terus Her... yang kuat terus..... entot Mbak...... siram rahimMbak dengan mani kamu....." Herman semakin memaju kontolnya dansemakain cepat...... mbakkk.... mau keluar Her......... oh... mBak ga tahan....Mbak ga tahan......." istriku menggelepar-gelepar."Oohhhh... acccchhhh..... saya keluar.... saya keluar.....ahhhhhhhhhhhhhh........." istriku menegang, sementara Herman terus memajukontolnya keluar masuk memek istriku. Istriku RIna tengkurap ditempaat tidurnafasnya memburu, sementara Herman tetap diatas tubuh Rina danmembiarkan kontolnya tetp tertancap didalam memek istriku sambilmerasakan denyutan memek Rina meremas remas kontolnya. Lalu pelan pelanHerman mencabut kontolnya dan kembali memasukannya. Rina tersentak,"ohhh.... enak sekali kontolmu Her... ohhhh... terus... Her.... Mbak mauLagi...... Mbak mau kontol mu lagi........... Mbak mau di entot berdiri.....Ayo..... Mas entot saya.... puaskan saya......... Rina mau kontol kalianberdua...."Rina berdiri di peluk Herman dari belakang sementara aku jongkok menjilatimemek Istriku yang sudah sanagt basah, sambil menjilati memek nya jarikumasukan kedalam."Yaahhhh enak Mas... terus jilati memek Rin......" Herman dan Rinaberciuman.... sementara aku terus menjilati memek Rina. Kontolku semakinmenegang aku sudah ga tahan, lalu aku melebarkan kaki Rina sambil berdiriaku memasukkan kontolku kedalam memeknya. Berdiri adalah posisi favoritistriku. Aku memutar-mutar pantataku sehingga jembutku bergesekan denganitil bagi atas istriku."Oohhhh yyahhhhh.... kena mas... gesek-gesek terus... oohhhhh enak mas.....kontolnya..... ayoh Mas kita keluarkan sama-sama....... rina mpir....achhhhh..."Rina terus mengoyang-goyangkan pantatnya sambil berciuman denganHerman sementara aku terus memacu kontolku semakin cepat. Herman terusmeremas-remas tetek Istriku."Aachhhhhh.... oohhh.. aku keluar mas....... mbak keluar lagi Her...... ohhenakks..." Seeerrrr. Aku ikut menegang dan Crottttt......... kami berdua keluarbersama-sama."Ohhhhhh...." istriku terkulai dipelukan Herman."Achhhh.. ohhh.." aku mencabut kontolku dari memek Rina, sementara Rinamasih terkulai dipelukan Herman. Kedua tangan Rina merangkul leharHerman. Kontol Herman masih sangat tegang karena memang dia belumkeluar,"Sambil berbisik... Mbak aku mau entot mbak... aku belum keluar... ahhh. Apamasih kuat mbak...?" tetap merangkul Herman lalu istriku mencium bibir
Herman, sambil bergayut dia melingkarkan kakinya kepinggang Herman."Blessssss...." masuklah kembali kontol Herman kedalam memek Istriku,sambil berdiri mereka berpacu mencapai puncak kenikmatan."Yahhhhh.... enak kontolmu Her..... terus masukan yang dalam... kontolmuhangat...... puaskan mbak" mereka berpacu semakin cepat."Her mbak gak kuat mau keluar lagi..... achhhhhh......"
"Iyah mbak aku juga mau oooohohhhh... achhhhhh... terus... mbak keluar.....ohhhhhhh crooottttachhhhhhh".Kedua tubuh itu menegang dan berpelukan sangat eratnya.Kami sangat puas sekali.jarinya keluar masuk ke pantatku ..ahhh..nikmatnya Saat itu aku, Chintya dan beberapa teman yang lain mengadakan kegiatan camping di sebuah lereng gunung. Setelah mendirikan tenda, aku dan Chintya mencari air sekalian mandi di sungai yang berada beberapa meter ke bawah dari tempat camping itu. Kami berdua sama-sama memakai celana jeans dan kaos oblong putih sambil berkalungkan handuk.Waktu itu aku sudah lupa dengan kejadian yang kuceritakan di "AKU DAN TANTE-TANTE". Aku ingat lagi ketika Chintya terjatuh masuk ke air. Pakaiannya basah sehingga bagian dalam tubuhnya kelihatan. Dia memakai BH hitam. Aku terangsang dengan keadaannya. Aku lalu menolongnya dan pura-pura terjatuh tepat di hadapannya. Dia lalu mencipratkan air ke tubuhku. Kuajak dia mandi sekalian dan diapun mau. Dia lalu naik ke atas batu dan melepas kaos dan celananya. Kemudian dia duduk bersimpuh dan mengambil sabun yang ada di saku celananya. Posisiku waktu itu berada di belakangnya. Aku semakin terangsang melihatnya hanya memakai pakaian dalam sedang menyabuni tubuhnya.Aku cepat-cepat melepas pakaianku dan kusisakan CD-ku, kuhampiri dia dan dari belakang aku melepas BH-nya. Dia tidak menolak ketika tanganku mengambil sabun dari tangannya. Aku lalu menyabuni kedua payudaranya yang sama besar dengan punyaku dari belakang sambil meremasnya. Dia membalikkan tubuhnya. Aku jadi leluasa menyabuni tubuhnya. Rupanya dia merasa aku tidak adil. Ketika aku meremas payudara kirinya dia mengambil busa sabun yang ada di payudara kanannya kemudian diusapnya kedua payudaraku. Aku memotong sabun itu dan kuberikan potongannya ke Chintya. Sekarang kami saling menyabuni kedua payudara. Kuberanikan diri mencium bibirnya. Dia membalasnya dengan lembut.Perlahan-lahan sambil kucium, dia kurebahkan di atas batu dan kuratakan sabunnya ke seluruh tubuhnya bagian atas sampai busanya hilang. Demikian juga dengan apa yang dilakukan pada tubuhku. Sekarang tubuh kami berdua sudah kering dari busa dan kutindih dia sehingga kedua payudara kami saling menempel. Kami terguling dan posisi Chintya sekarang di atasku. Dia lalu berdiri dan cepat-cepat aku dari belakang memeluknya. Aku mendesah ketika kedua payudaraku menempel di punggungnya. Tanganku meremas kedua payudaranya dan turun ke bawah masuk ke dalam CD-nya. Tetapi dia kurang suka dengan sikapku ini sehingga dia menarik tanganku kembali dan melepaskan diri dari pelukanku.
Dia kemudian turun ke air dan kuikuti dia. Kuajak dia melanjutkan permainan yang tertunda di dalam air. Dia tidak mau dan mendorongku. Aku tidak memaksanya. Ketika dia mandi aku juga mandi. Sendiri-sendiri. Malamnya, dia tidur berdua setenda denganku. Kebetulan malam itu dinginnya sampai ke tulang. Meskipun kami sudah memakai pakaian hangat plus berselimutan. Ketika itu kami tidur saling berhadapan.
Aku terbangun dan pikiran gilaku muncul lagi. Kusingkirkan selimut. Kemudian perlahan-lahan kuturunkan retsliting jaketnya. Aku kaget dia ternyata hanya memakai BH di dalamnya. Dia rupanya terbangun juga dan tidak menolak ketika kulepas jaketnya. Bahkan dia melepas jaketku sehingga kedua payudaraku yang tadi kututupi jaket sekarang sudah telanjang. Dia melentangkanku dan dihisapnya kedua payudaraku bergantian. Aku merasakan kehangatan. Mulutnya kemudian naik dan mencium bibirku sambil dia melepas BH-nya. Aku lalu meremas kedua payudaranya begitu juga dengannya. Kemudian di tidur di atasku dan berpelukan.
Kami bergulingan ke atas ke bawah sampai kami tidak merasakan kedinginan lagi bahkan berkeringat. Vaginaku mulai basah sehingga ketika dia di bawahku aku lalu duduk dan melepas retsliting celananya. Dia mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh dan langsung dipeluknya sambil dia berkata bahwa dia tidak mau bertindak lebih jauh lagi. Aku memakluminya dan kami akhirnya tidur berpelukan sampai pagi dan tidak merasakan dingin lagi. Keesokan harinya rombongan kami pulang kembali ke kota.
Beberapa hari kemudian, aku yang tidak dapat menahan nafsu untuk bercumbu lagi datang ke tempat kostnya. Kulihat di balik kaos putih tipisnya dia tidak mengenakan BH. Kutanya kenapa dia tidak memakai BH. Dia menjawab bahwa BH-nya basah semua. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku duduk mendekatinya dan kuremas kedua payudaranya. Dia mendesah yang kusambut dengan ciuman di bibirnya. Dia mendorongku dan memintaku untuk tidak kurang ajar. Aku takut dia akan menjerit dan terdengar dari luar kamar kostnya. Tapi dia kelihatanya juga kasihan padaku. Sambil dia melepas kaosnya dia mengijinkanku mencumbunya untuk yang terakhir kalinya.Dia lalu tidur dan aku mulai melepas seluruh pakaianku. Ketika aku ingin melepas CD, dia melarangnya. Aku turuti larangannya. Kemudian kucium bibirnya sambil kuremas kedua payudaranya. Dia juga meremas kedua payudaraku dan salah satu tangannya kemudian turun ke bawah ke pantatku dan diremasnya pantatku. Aku disuruhnya berdiri dan dia dari belakang memelukku dan tangan kirinya meremas kedua payudaraku bergantian sedangkan tangan kanannya masuk ke CD-ku. Jarinya masuk ke vaginaku yang sudah basah serta mengocok vaginaku perlahan-lahan.Dia kemudian berlutut di hadapanku dan melepas CD-ku. Dijilatinya vaginaku yang sudah basah. Salah satu tanganku menekan kepalanya dan tanganku yang satunya lagi meremas kedua payudaraku sendiri bergantian. Aku mendesah berkali-kali ketika jarinya mengocok vaginaku sambil dijilatinya cairan yang keluar dari vaginaku. Mulutnya kemudian naik ke atas dan menghisap kedua payudaraku sedangkan kedua tangannya melepas CD-nya sendiri.Setelah itu mulutnya naik ke atas lagi dan mencium bibirku yang juga kubalas dengan jilatan lidah. Sedangkan kedua vagina kami yang basah saling menempel. Tangannya menekan pantatku sehingga kami berpelukan sambil berciuman, berjilat-jilatan, kedua payudara dan vagina saling menempel ditambah dengan jarinya yang keluar masuk ke pantatku yang kubalas dengan jariku yang juga keluar masuk ke pantatnya. Aku tidak mengira Chintya akan sejauh ini. Aku menikmatinya sampai beberapa menit sampai kami terkulai lemas.
air mani gue muncrat didalam memeknya..ouuuhh
Untuk sambilan gue juga punya usaha kursus private komputer. Siang ituIbu Susan, salah satu klien telpon. Katanya dia belum tahu juga carakirim e-mail. Maklum baru 2 x gue ajarin. Dari pembicaraan disetujuiuntuk ketemu jam 7 malam. Karena dia sampai rumah jam 6 sore. Dia kerjajadi interpreter bahasa Jepang.Jam 7 kurang 10 gue sudah sampai di Lobby Apartemen-nya di bilanganBenhil. Nggak lama dia nongol di Lobby dengan masih pakai pakaiankerjanya. dan segera mengajak saya naik ke Apartemennya. Tanpa gantibaju, dia langsung ke meja komputernya dan menghidupkannya. Nggak lamamasalahnya beres, e-mailnya bisa terkirim semua. Dia cuma lupa nggakclik “send & receive”.Terus dia minta diajarin browsing pakai Explorer. Berhubung dia jarangpakai komputer, kagok bener dia pegang mouse-nya. Entah apa sebabnyague bermaksud kasih contoh, eh tangan dia masih pegangin mouse. Yahtangan nya keremes tangan gue yang gede. Waduh …. alus juga tuh tangan.Gue buru-buru tarik tangan, nggak enak ntar dikatain kurang ajar.Suami-nya adalah temen boss gue. Kalau dilaporin bisa-bisa gue dipecat.Dia lepasin mouse, dan gantian gue pegang sambil ngasih tau dia bedanyabentuk kursor.Gue belum suruh dia coba, eh … tangannya udah nyelosor duluan megangmouse yang masih gue pegang. Yah tahu sendiri khan tangan gue yang diapegang. Gua pengin lepasin tapi sayang abis halus banget telapaknya.Dan bau parfumnya juga lembut, membuat gua betah didekatnya. Gueantepin aja. Gua pikir dia akan lepasin …. eh nggak juga. Malah tangangua dielus-elus. Maklum tangan gua bulunya oke punya.Gue beranikan diri untuk menegurnya “Ibu …. , sebentar lagi Bapakpulang….” Belum sempat ngomong banyak, jari telunjuk tangan satunyadiletakan didepan bibir sambil …. psst….., dan kata dia “hari ini diake bini tuanya …..”. Aduh rejeki nomplok nih, kata gue dalam hati. Tapigue pura-pura nggak berminat. Meski dalam hati udah suka banget.Tangan gua yang masih pegang mouse masih di elus. Kebetulan gua dudukdisebelah kanannya, jadi tangan kiri gua bebas. Dan lagi kursinya nggakpakai tangan-tangan. Makin enak aja …. Tangan kiri nya mengelus tangankiri gue dan diangkatnya, dan ditaruh diatas pahanya yang putih andmulus. Meski dia pakai rok nggak mini, tapi karena duduk ketarik jugakeatas. Roknya yang biru tua menambah kontrasnya warna.Abis naruh tangan gue,tangannya bergerak lagi ke tengkuk gue, dandielusnya. Wow makin on gua. Secara reflek tangan gua juga membalasaksinya, dan gua elus pahanya pelan-pelan. Makin lama makin keatasmenuju pangkalnya. Roknya pun makin tersibak keatas terdorong tangangua. Makin keatas makin mulus. Gua usap pangkal pahajya dan matanyamulai nanar.Ibu Susan sebenarnya biasa saja, nggak terlalu istimewa. Tingginyajugatidak sampai 160 cm (perkiraan gue sih). Kalau berdiri dia tidaklebih tinggi dari pundak gue. Cuma dia menang body yang memang yahutdan kulitnya yang putih mulus. Maklum dia masih keturunan Chinesse dankali aja nggak pernah main di got waktu kecilnya, jadi nggak ada bekaslukanya. Cuma kasihan dia, cuma jadi bini muda. Jadi jatah batinnyanggak terima full. Padahal usianya belum sampai 30 – an, hampir sebayague. Kali aja dia “older than me”Tangan gua ngilang didalam rok kerja nya ngusap-usap pangkalpahanya.Kemudian di berdiri di depan gua yang masih duduk. Lalu kancingbaju-nya dibuka semua. Tapi bajunya nggak dilepas. Dia tarik tangan guadipindahkannya ke pinggangnya dia. Kaus dalamnya gua angkat, danperutnya yang putih bersih pun terpampang didepan gua. Kuciumi perutnyadan sekeliling pusarnya kujilati. Dia menggelinjang kegelian. Keduatangannya mengacak-acak rambutku dan kadang kala dijambaknya. Pedesjuga sih.Baju dan kaus dalamnya sudah lepas dari roknya. Kaus dalamnya kuangkatlebih keatas, dan tampak BH nya menyangga bukit yang tidak terlalubesar tapi juga tidak terlalu kecil. Pokoknya bentuknya bagus danukurannya pas. Dan tentu saja halus. Kebetulan kancing BH-nya didepan,jadi tanpa usaha lebih keras gua udah bisa nglepas tu BH. Bukitkembarnya tersaji jelas di depan gua. Sedikit kendor, tapi masih oke.Gua sambut salah satu putingnya yang berwarna coklat muda dengan bibirdan lidah. Sementara tangan kanan gua melintir puting nya yang satulagi. Seperti cari gelombang radio. Betul juga … nggak lama terdengandesis seperti gelombang FM stereo. Tangan gua yang satu lagi nyusuplagi kedalam roknya dan meremas remas pantatnya yang juga sudah agakturun. Maklum lah sudah hampir 30 an.Tangannya Ibu Susan (Oh ya gua tetep panggil dia Ibu karena diacustomer gue, padahal umur sih paling beda 1 – 2 tahun tuaan dia) yangsatu lagi sudah pindah aktivitasnya ke selangkangan gua. Barang guayang sudah on tampak jelas menonjol dari balik pantalon gua. Itu yangmenjadi sasaran aktvitasnya. Bahkan zipper pantalon gua udah diaturunin, jadi tampak jelas ujung moncong meriam gue dari balik kancutgue.Karena dielus terus moncong meriem gua tambah panjang terus sampaiukuran maksimalnya.kira 2 centimeter dibawah puser. Tangannya pun udahmasuk kedalam CD gua dan mulai mengocok-ngocoknya. Akhirnya ujungmoncong meriam keluar dengan sendirinya dari CD gua. Gua juga nggak maukalah set, tangan gua yang dipantat gua pindahin aktivitasnya kesela-sela paha dia. Dari CD nya udah terasa kalau vaginanya udah basah.Gua tarik sedikit CD nya kebawah, dan dengan sedikit digeser kesamping,gua udah bisa pegang belahannya. Lalu gua usap-usap dengan jari tengah.Sementara desis FM stereonya makin keras terdengar …. sssst ………uuhhhhhh ……. uhhhhhhh ……. sSssssssssstttttt.Dengan dibantu jari telunjuk, gua pegang kacang/itilnya -yang kebetulanagak panjang- dan gua pelintir-pelintir. Dianya makin keras gerakanbadannya dan kepalanya sering ditarik kebelakang. Dan badannyabergetar. Suaranya makin seru ….. untung di apartemen. Coba kalau kalautinggal dikampung ….. pasti banyak yang nyamperin dikira ada berantem.“Dan ….. lepasin celana ik, ….. ik udah nggak tahan. Dengan patuh guapenuhi permintaannya. Sementara tangannya sibut melepas sabuk gua danmemelorotkan pantalon dan CD gua sekaligus hingga lutut. Dia agakterkejut melihat moncong meriam gua. “Jij punya ukuran boleh juga……dari pertama jij kesini udah ik perhatikan, makanya ik pingin” katanyasetengah sadar setengah terdengarSementera CD nya sudah tergeletak dilantai. Gua masih duduk di kursitanpa sandaran tangan. Gua angkat roknya dan gua ciumin pahanya. Bahkangua sempat kasih tanda merah /cupang di kedua pangkal pahanya. Diasudah nggak sabar lagi, tanpa beri gua kesempatan untuk nglepasincelana secara sempurna, dia udah pegang ujung meriem gua dandibimbingnya, lubangnya nan basah dan hangat. Serta berbulu sedikitpada tasnya saja. Persis kaya memek anak-anak.Pelahan tapi pasti Ibu Susan menurunkan pantatnya, blesssssssssss……………Matanya terbelalak merasakan batang gua nyusup dengan hangat kelubangnya. Rupanya basahnya sudah sempurna hingga tanpa kesulitan sudah¾ batang gua masuk ke tubuhnya. Tapi berhenti sampai disitu saja, nggakdi terusin lagi.“Dan ….. batang jij panjang betul” katanya sambil mulai menaik turunkanpantatnya. Sementara gua tenangin pikiran, ambil napas, dan kosentrasiketempat lain. Biar customer gua puas duluan. Gua coba perhatiin TVyang lagi nyiarin sinetron. Jadi konsentrasi gua nggak ke kontol yanglagi dikerjain abis-abisan sama Ibu Susan. Naik turun …. digoyangkekiri dan kekanan……. diputar. Entah diapain lagi. Eh …. Bener nggaklama badannya terasa bergetar lalu melenguh kaya sapi .. uhhhh …. yanglebih keras dari sebelumnya dan tiba memeluk gua kenceng bener danjarinya meremas punggung gua. Untung gua masih pakai baju. Kalau nggakbisa nancep tuh kuku ke punggung. Peluhnya menetes ke baju kerjanyayang belum sempat dilepas, terlihat makin cantik dengan peluh di rambutkeningnya.Sementara telor gua juga terasa basah kena cairan dari vaginanya.“Uggghh … gila, enak sekali” katanya. “Ibu terusin aja” gua nimpali.“Ah … panggil San aja, entar ik lemes banget” jawabnya. Batang gua jugaudah terasa senut-senut, mau explode muatan. Tapi gua tahan dulu. Guaangkat kedua kakinya pada belakang lututnya dengan kedua tangan,sehingga seperti digendong. Tapi batang gua masih nacep di lubangvaginanya.Lalu gua jalan ke tembok dan gua pepetin dia ketembok dengan tetap guagendong. Buat gua tidak ada masalah ngangkat dia. Nggak percuma guahobby olah raga. Lalu gua mulai kerja nggoyangin pinggang maju mundur …goyang kiri …. goyang kanan. Matanya sebentar-sebentar terpejam,sebentar-sebentar terbuka lebar. Sisa air yang dia keluarkan tadimenimbulkan irama yang teratur ….. cik … cik …. cik ….. seirama dengangoyangan pantat gua. Nggak lama dia keluarkan lagi muatan dari dalamvaginanya. Suara erangannya lebih seru dari yang pertama. Leher guadipeluknya kenceng didekep ke dadanya, disela sela bukit.“Dan …. jij sudah nyampe belum ?” tanyanya setelah berhasil mengaturnafasnya. “Hampir bu”. “Turunin ik dulu” tanpa mengiyakan dia gueturunin lalu melangkah ke meja tamu mengambil tisue. Dia masukintangannya ke rok dan dia lap memeknya yang basah kuyup. Sementarabatang saya senut-senutnya makin keras pertanda muatan minta dibongkar.Dengan tidak sabar gua ikuti Ibu Susan ke ruang tamu, dan dari belakangua peluk dia. Lalu gua minta dia menunduk dengan kaki mengangkang.Lalu gua naikin rok kerjanya hingga pantatnya yang putih kemerahan (lopercaya nggak kalau pantatnya berjerawat, padahal lainnya mulus) danmemeknya yang putih kemerahan dengan bulu yang tipis tampak menantanguntuk dijamah. Dengan bepegangan pada sandaran tangan kursi tamu.Dia menikmati lagi sentuhan gua. Kali ini yang bekerja lidah gua. Guajilat sedikit kacangnya dan di "suck” agar basah lagi. Nggak samapaidua menit udah tampak ada cairan bening lagi di memeknya. Maklumlampu-nya nggak dimatiin dan terang lagi. Jadi detilnya kelihatanjelas. Gua udahin “sucking & licking”, karena muatan gua udah merontaminta dikeluarin. Lalu gua masukin lagi dari belakang kontol gua kememeknya. Dia mendesis lagi demikian juga gua. Hangat dan lembab. Lalugua mula goyang kiri kanan, kadang-kadang gua putar. Sementara guamakin berat nahan muatan gua, gua tanya .“Bu boleh keluari di dalam …. “. “Boleh, emang sudah hampir…. “."#147;Ya”. “Kita sama-sama yal. Gua goyang terus sampai gua terasa enakbener karena muatan gua udah sampai deket pintu. Lalu gua peleuk diadari belakang sambil gua remes dadanya. Dan ….. cret ……. cret ……… cret……. cret, air mani gua muncrat didalam lubang vaginanya. Dan Ibu Susanpun merintih …………dan lalu mencengkeram tangan tangan kursi dengan eratserta badannya bergetar dan menegang.. Rupanya dia klimaks juga.

Tante menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku yang mulai tegang
Pada bulan Mei tersebut aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, tapi memang kata orang bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang kita duga, apalagi di kota metropolis. Pada suatu malam minggu aku tersesat pulang dan tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah menghampiriku. Terus dia berkata,"Hey.. kok.. melamun?" katanyaAku sangat kaget sekali ternyata yang menyapaku itu adalah seorang wanita cantik dan aku sempat terdiam beberapa detik."Eee.. Ditanya kko masih diam sih?" wanita itu bertanya lagi. Lalu aku jawab,"Ii.. nii.. Tante aku tersesat pulang nih?""Ooohh.. Mendingan kamu ikut Tante saja yah?""Kemana Tante?" tanyaku."Gimana kalau ke rumah Tante aja yah?" karena aku dalam keadaan bingung sekali dan tanpa berpikir apa-apa aku langsung mengiyakannya.Singkat cerita aku sudah berada di rumahnya, di perumahan yang super elit. Kemudian aku diperkenalkan sama anak-anaknya yang memang pada cantik dan sexynya seperti Mamanya. Oh yah, setelah aku dan mereka ngobrol panjang lebar ternyata Tante yang nolong aku itu namanya adalah Tante Mey Lin yang dipanggil akrab Tante Mey, anak pertamanya Mbak Hanny, dia masih kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, anak yang kedua namanya Sherly kelas 1 SMU dan yang ketiga namanya Poppy kelas 1 SMP, mereka berdua di sekolahkan di sekolah yang terkenal dan favorit di Jakarta.Walaupun aku baru pertama kenal, tapi aku sama bidadari-bidadari yang pada cantik ini rasanya sudah seperti seseorang yang telah lama berpisah. Lalu kami berlima menonton acara TV yang pas pada waktu itu ada adegan panasnya, dan aku curi pandang sama Tante Mey, rasanya Tante ini enggak tenang dan merasa gelisah sepertinya dia sudah terangsang akan adegan itu, ditambah ada aku disampingnya, namun Tante rupanya malu sama anak-anaknya. Tiba-tiba Tante berkata,"Hanny, Sherly, Poppy cepat tidur sudah malam?" yang memang pada waktu itu menunjukkan jam 10.30."Memangnya kenapa Mami, filmnya kan belum selesai", kata Mbak Hanny.Memang dia kelihatannya sudah matang betul dan apa yang akan dilakukan Maminya terhadap aku? Lalu mereka bertiga masuk ke kamarnya masing tapi Sherly dan Poppy tidur satu kamar. Dan kejadian kurang lebih tiga bulan yang lalu terulang lagi dan sungguh diluar dugaan aku."Nah dewa sekarang tinggal kita berdua", katanya."Mrmangnya ada apa tuh Tante?" kataku heran."Dewa sayang, Tante enggak bisa berbuat bebas terhadap kamu karena Tante malu sama anak-anak," begitu timbalnya."Dewa mendingan kita ke kamar Tante aja yah, please.. temanin Tante malam ini sayang, Tante sudah lama sekali enggak dijamah sama laki-laki", sambil memeluk aku dan memohon,"Yah sayang? Mau kan?" katanya lagi"Ii.. Yaa, mau.. Tante?" jawabku gugup. Karena Tante sudah mau menolongku.Tiba di kamar Tante rupanya enggak bisa nahan lagi nafsunya dia langsung mencium seluruh tubuhku, lalu kami berdua tanpa terasa sudah seperti sepasang kekasih yang sudah lama pisah. Hingga kami berdua sudah setengah bugil, aku tinggal CD saja dan tante Mey tinggal BH dan CDnya. Tante sempat menari-nari di depanku untuk membangkitkan gairahku supaya semakin nafsu. "Wahh..!! Gile benar nih Tante, kok kayak masih umur 23 tahun saja yah?" gumamku dalam hati. Itu tuh.. Kayak Mbak Hanny anaknya yang pertama. Sungguh indah tubuhnya, payudara yang besar, kencang dan sekel sekali, pinggulnya yang sexy dengan pantat yang runcing ke atas, enak kalau dientot dari belakang? Terus yang paling menggiurkan lagi vaginanya masih bagus dan bersih. Itu gerutuku dalam hati sambil melihat Tante menari-nari.
Tante langsung menindihku lalu mencium bibirku dengan ganasnya lalu aku juga membalasnya, Tante menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku yang mulai tegang, juga kedua payudaranya ke dadaku. "Ooohh.. terus.. Tante, gesek.. dan.. Goyang.. yang kerass.. aahh.. oohh.." desahku."Dewa sayang itu penismu sudah bangun yah, rasanya ada yang menganjal di vaginaku cinta," kata Tante Mey.Lalu kami berdua tanpa ba.. bi.. bu.. langsung melakukan 69, dengan jelas terlihat vagina Tante Mey yang merah merekah dan sudah sangat basah sekali, mungkin sudah terangsang banget karena tadi habis menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku. Lalu aku menjilat, mencium dan menghisapnya habis-habisan, kupermainan kritorisnya. Tante mengerang"Ooohh.. Eennaakk.. Dewaa.. sayang.. terus.. makan vagina Tante yahh..?"Begitu juga dengan aku, penis rasanya sudah enggak tahan banget ingin masuk ke lobang vagina kenikmatannya."Ooohh.. yahh.. eenaakk terus.. Tante.. yang cepet kocokkannya..?"Cclluup.. Ccluupp.. Suara penisku didalam mulutnya."Dewa, vagina Tante sudah enggak tahan lagi sudah cepet lepasin, cepet masukin saja penis kamu cinta?" Tante Mey meringis memohon.Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..
"Awww.. Yeeahh.. Ssaakiitt.. De.. Waa?""Kenapa Tante?""Pelan-pelan sayang, vaginaku kan sudah lama enggak dientot?""Ooohh..?" jawabku."Tahan sebentar yah cinta, biar vagina Tante terbiasa lagi dimasukin penis," katanya.Selang beberapa menit,"Nah Dewa, sekarang kamu boleh masukin dan entot vagina Tante sampai puas yah?""Ssiipp.. Siap..!! Tante Mey?"Memang benar vagina Tante rupanya sudah lama enggak dimasukin penis lagi, terbukti aku sampai 3 kali hentakan. Bleess.. Bless.. Bblleess.. Akhir aku masukin semuanya penisku ke vaginanya. Tiga kali juga tente Mey menjerit."Dewa genjot dan kocok vaginaku sayang?" lalu aku mulai memasuk keluarkan penisku dari lambat sampai keras dan cepat sekali. Tante Mey mengerang dan mendesah."Ooohh.. ahh.. enak.. sekalii.. penis kamu Dewaa.., akhirnya vagina Tante ngerasain lagi penis.. terus.. Entot vagina Taann.. tee.. Dewaa.. Sayaanngg..?" ceracaunya."Uuuhh.. Oohh.. Aaahh.. Yeess.. Ennaakk.. vagina Tante seret sekalii.. Kaya vaginanya perawan?" timbalku.Tiba-tiba, "Dewaa.. Aku mau keluar nih? penis kamu hebatt..?""Tunggu Tante sayang, aku juga mau keluar nih..?"Akhirnya Tante Mey orgasme duluan. Crott.. Ccroott.. Crroott.. Banyak sekali cairan yang ada dalam vaginanya, rasanya penisku hangat sekali."Tante aku mau keluar nih..?" kataku, "Dimana nih keluarinnya..?""Didalam vagina Tante saja Dewaa.. Please.. ingin air mani kamu yang hangat..?"
Ccrett.. Ccroott.. Ccrroott.."Aaarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.. Mmhh.. Nikmat vagina Tantee..?" erangku.
TANTE menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani
Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawarandari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPAbagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan.Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bungakampus kami, sebut saja Indah untuk memberikan les privat bagiadiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kotadimana saya kuliah.Keluarga Indah adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerjasebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen,berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa sayapanggil Tante Stella, adalah ibu rumah tangga yang sangatmemperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Stella adalah mantanratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayaikarena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarikdiusianya yang ke 36 ini. Adik Indah murid saya bernama Noni, amatmanja pada orangtuanya, karena Tante Stella selalu membiasakanmemenuhi segala permintaannya.Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kalibuat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuantersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanyasedikit malas belajar. Tetapi Tante Stella malah menyarankan untukmemberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.Setiap saya selesai mengajar, Tante Stella selalu menunggu saya untukmembicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkapmenyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewatisatu bulan saya mengajar Noni, hubungan saya dengan Tante Stellasemakin akrab.Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Noni, saya datangseperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatotsepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karenasudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Noni, minimalselama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, TanteStella datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Noni sedangmenghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hariitu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Stella tetap minta sayamenunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.Ketika Tante Stella memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkahkagetnya saya, ternyata Tante Stella telah memakai baju yang sangatseksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulaiberumur, Tante Stella masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukansenam "BL" seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut sayamempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambahukuran payudaranya kira-kira 36B.Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanyaberkisar masalah perkembangan pendidikan Noni. Tetapi lama kelamaansejalan dengan cairnya situasi, Tante Stella mulai bercerita tentangkesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingungmengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayalentah kamana."Rud, kamu lugu sekali yah..?" tanya Tante Stella."Agh... Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?"jawab saya."Yah... lebih dewasa Dong..!" tegasnya.Lalu, tiba-tiba tangan Tante Stella sudah memegang tangan sayaduluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati."Rud... mau kan tolongin Tante..?" tanya si Tante dengan manja."Loh... tolongin apalagi nih Tante..?" jawab saya."Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!" jawab si Tante.Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulutTante Stella yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidakmembayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid sayasendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginanuntuk "bercinta" dengan Tante Stella ini, karena selama ini sayamenganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab."Wah... saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?" tanya sayasambil bercanda."Yah... kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?" jawabnya.Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikandiri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya.Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulaimeremas-remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Stella jugatidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengankeras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskannafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu,Tante Stella menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamartidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama diamelepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya siTante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapanafsunya dia ingin melepaskan celana Levi's saya. Dan akhirnya diadapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya."Wah... Rud, gede juga nih punya kamu..." kata si Tante sambilbercanda."Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!" jawab saya.Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Stella yang sudah jongkok didepan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengancepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya.Aghhh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini sayamerasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluansaya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membukabajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelahmelihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tibalibido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumipayudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Stella terlihatsenangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailahsaya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras."Oghh... saya merindukan suasana seperti ini Rud..!" desahnya."Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?" katasaya.Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tantejatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yangberwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liangkemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalusaya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan."Ogh... Rud, pintar sekali yah kamu merangsang Tante..." dengan suarayang mendesah.Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuhTante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjirikemaluannya, wah... ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih,karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunyasudah tidak menjadi masalah.Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertamakalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. MulutTante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupunmulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puasmelakukan oral seks, akhirnya Tante Stella sekarang meminta sayauntuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya."Rud... ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahannih..!" pinta si Tante."Wah... saya takut kalo Tante hamil gimana..?" tanya saya."Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!" sambil berusaha meyakinkan saya.Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya sayanekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh,nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan."Ahhh... dorong terus Dong Rud..!" pinta si Tante dengan suara yangsudah mendesah sekali.Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulaimendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyikmeremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Stellamengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atassaya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Danternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar sayamerasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambilmerasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetapsibuk meremas payudaranya lagi."Oh... oh... nikmat sekali Rudy..!" teriak si Tante."Tante... saya kayaknya sudah mau keluar nih..!" kata saya."Sabar yah Rud... tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluarlagi nih..!" jawab si Tante.Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani sayadi dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante."Arghhh..!" teriak Tante Stella.Tante Stella kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memelukbadannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-ototkemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejambersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali danmenuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Stella dalam keadaantelanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entahkenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnyadari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Stelladari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnyayang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya denganpenuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluksaya dengan erat."Ih... kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?" kataya sambiltertawa kecil."Agh... Tante bisa aja deh..!" jawab saya sambil menciumi bibirnyakembali.Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagibersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dariTante Stella, kali ini saya langsung membuka celana dan baju sayakembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruangkeluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanyamelakukannya dengan gaya dogie style."Um... dorong lebih keras lagi dong Rud..!" desahnya.Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangatseksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante,sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapatsaya jangkau."Rud... mandi yuk..!" pintanya."Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin sayayah..?" jawab saya.Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamarmandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik TanteStella untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tantemulai terangsang kembali."Hm... nikmat sekali jilatanmu Rud... agghhh..!" desahnya."Rud... kamu sering-sering ke sini Rud..!" katanya dengan nafasmemburu.Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Stella agar duduk diatas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk kedalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyakterasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepatmembuat saya akhirnya "KO" kembali. Saya mengeluarkan air mani kedalam lubang kemaluannya. Tante Stella kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampaibersih. Setelah itu kami mandi bersama.

Cerita Seru Panas kuturunkan celana dalamnya perlahan
aku bangun kesiangan, lalu aku mandi dan buru-buru berangkat ke kantor. Di kantor seperti biasa banyak kerjaan menumpuk dan rasanya sampai jam sembilan malam aku baru selesai. Meja kubereskan, komputer kumatikan dan aku pulang naik taksi dan sekitar jam sepuluh aku sampai ke tempat kostku. Setelah makan malam tadi di jalanan, aku masih membuka kulkas dan meminum bir dingin yang tinggal dua botol. Aku duduk dan menyalakan TV, ku-stel volumenya cukup pelan. Aku memang orang yang tidak suka berisik, dalam bicarapun aku senang suara yang pelan, kalau ada wanita di kantorku yang bersuara keras, aku langsung menghindar, aku tidak suka. Acara TV rupanya tidak ada yang bagus, lalu kuingat kamar sebelahku, Melda.., yang tadi malam telah kusaksikan segalanya yang membuat aku sangat ingin memilikinyaAku naik ke tempat biasa dan mulai lagi mengintip ke kamar sebelah. Melda yang cantik itu kulihat tengah tidur di kasurnya, kulihat nafasnya yang teratur naik turun menandakan bahwa dia sedang betul-betul tidur pulas.Tiba-tiba nafsu jahilku timbul, dan segera kuganti celana panjangku dengan celana pendek dan dalam celana pendek itu aku tidak memakai celana dalam lagi, aku sudah nekat, kamar kostku kutinggalkan dan aku pura-pura duduk di luar kamar sambil merokok sebatang ji sam su. Setelah kulihat situasinya aman dan tidak ada lagi orang, ternyata pintunya tidak di kunci, mungkin dia lupa atau juga memang sudah ngantuk sekali, jadi dia tidak memikirkan lagi tentang kunci pintu.Dengan berjingkat, aku masuk ke kamarnya dan pintu langsung kukunci pelan dari dalam, kuhampiri tempat tidurnya, lalu aku duduk di tempat tidurnya memandangi wajahnya yang mungil dan, “Alaamaak”, Melda memakai daster yang tipis, daster yang tembus pandang sehingga celana dalamnya yang sekarang berwarna merah muda sangat jelas terbayang di hadapanku. “Ohh.., glekk”, aku menelan ludah sendiri dan repotnya, penisku langsung tegang sempurna sehingga keluar dari celana pendekku. Kulihat wajahnya, matanya, alisnya yang tebal, dan hidungnya yang mancung agak sedikit menekuk tanda bahwa gadis ini mempunyai nafsu besar dalam seks, itu memang rahasia lelaki bagi yang tahu. Ingin rasanya aku langsung menubruk dan mejebloskan penisku ke dalam vaginanya, tapi aku tidak mau ceroboh seperti itu.Setelah aku yakin bahwa Melda benar-benar sudah pulas, pelan-pelan kubuka tali dasternya, dan terbukalah, lalu aku sampirkan ke samping. Kini kulihat pahanya yang putih kecil dan padat itu. Sungguh suatu pemandangan yang sangat menakjubkan, apalagi celana dalamnya yang mini membuat gundukan kecil ibarat gunung merapi yang masih ditutupi oleh awan membuat penisku mengejat-ngejat dan mengangguk-ngangguk. Pelan-pelan tanganku kutempelkan pada vaginanya yang masih tertutup itu, aku diam sebentar takut kalau kalau Melda bangun, aku bisa kena malu, tapi rupanya Melda benar-benar tertidur pulas, lalu aku mulai menyibak celana dalamnya dan melihat vaginanya yang mungil, lucu, menggembung, ibarat kue apem yang ujungnya ditempeli sebuah kacang.
“Huaa”, aku merinding dan gemetar, kumainkan jariku pada pinggiran vaginanya, kuputar terus, kugesek pelan, sekali-sekali kumasukkan jariku pada lubang kecil yang betul-betul indah, bulunyapun masih tipis dan lembut. Penisku rasanya makin ereksi berat, aku mendesah lembut. Ahh, indahnya kau Melda, betapa kuingin memilikimu, aku menyayangimu, cintaku langsung hanya untukmu. Oh, aku terperanjat sebentar ketika Melda bergerak, rupanya dia menggerakkan tangannya sebentar tanpa sadar, karena aku mendengar nafasnya yang teratur berarti dia sedang tidur pulas.Lalu dengan nekatnya kuturunkan celana dalamnya perlahan tanpa bunyi, pelan, pelan, dan lepaslah celana dalam dari tempatnya, kemudian kulepas dari kakinya sehingga kini melda benar-benar telanjang bulat.Luar biasa, indah sekali bentuknya, dari kaki sampai wajahnya kutatap tak berkedip. Payudaranya yang masih berupa puting itu sangat indah sekali. Akh, sangat luar biasa, pelan-pelan kutempelkan wajahku pada vaginanya yang merekah bak bunga mawar, kuhirup aroma wanginya yang khas. Oh, aku benar-benar tidak tahan, lalu lidahku kumainkan di sekitar vaginanya. Aku memang terkenal sebagai si pandai lidah, karena setiap wanita yang sudah pernah kena lidahku atau jilatanku pasti akan ketagihan, aku memang jago memainkan lidah, maka aku praktekan pada vagina si Melda ini. Lereng gunung vaginanya kusapu dengan lidahku, kuayun lidahku pada pinggiran lalu sekali-kali sengaja kusenggol clitorisnya yang indah itu.Kemudian gua kecil itu kucolok lembut dengan lidahku yang sengaja kuulur panjang, aku usap terus, aku colok terus, kujelajahi gua indahnya sehingga lama-kelamaan gua itu mulai basah, lembab dan berair. Oh, nikmatnya air itu, aroma yang khas membuatku terkejet-kejet, penisku sudah tidak sabar lagi, tapi aku masih takut kalau kalau Melda terbangun bisa runyam nanti, tapi desakan kuat pada penisku sudah sangat besar sekali. Nafasku benar-benar tidak karuan, tapi kulihat Melda masih tetap saja pulas tidurnya.-Akupun lebih bersemangat lagi, sekarang semua kemampuan lidahku kupraktekan saat ini juga, luar biasa memang, vagina yang mungil, vagina yang indah, vagina yang sudah basah. Rasanya seperti sudah siap menanti tibanya senjataku yang sudah berontak untuk menerobos gua indah misterius yang ditumbuhi rumput tipis milik Melda, namun kutahan sebentar, karena lidahku dan jilatanku masih asyik bermain di sana, masih memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa bagi Melda.Sayang Melda tertidur pulas, andaikata Melda dapat merasakan dalam keadaan sadar pasti sangat luar biasa kenikmatan yang sedang dirasakannya itu, tapi walaupun Melda saat ini sedang tertidur pulas secara psycho seks yang berjalan secara alami dan biologis,..nikmat yang amat sangat itu pasti terbawa dalam mimpinya, itu pasti dan pasti, walaupun yang dirasakannya sekarang ini hanya sekitar 25%, Buktinya dengan nafasnya yang mulai tersengal dan tidak teratur serta vaginanya yang sudah basah, itu menandakan faktor psycho tsb sudah bekerja dengan baik. Sehingga nikmat yang luar biasa itu masih dapat dirasakan seperempatnya dari keseluruhannya kalau di saat sadar.Akhirnya Karena kupikir sudah cukup rasanya lidahku bermain di vaginanya, maka pelan-pelan penisku yang memang sudah minta terus sejak tadi kuoles-oleskan dulu sesaat pada ujung vaginanya, lalu pada clitorisnya yang mulai memerah karena nafsu, rasa basah dan hangat pada vaginanya membuat penisku bergerak sendiri otomatis seperti mencari-cari lubang gua dari titik nikmat yang ada di vaginanya. Dan ketika penisku dirasa sudah cukup bermain di daerah istimewanya, maka dengan hati-hati namun pasti penisku kumasukan perlahan-lahan ke dalam vaginanya.., pelan, pelan dan, “sleepp.., slesepp”, kepala penisku yang gundul sudah tidak kelihatan karena batas di kepala penisku sudah masuk ke dalam vagina Melda yang hangat nikmat itu.Lalu kuperhatikan sebentar wajahnya, Masih!, dia, Melda masih pulas saja, hanya sesaat saja kadang nafasnya agak sedikit tersendat, “Ehhss.., ehh.., ss”, seperti orang ngigau. Lalu kucabut lagi penisku sedikit dan kumasukkan lagi agak lebih dalam kira-kira hampir setengahnya, “Akhh.., ahh, betapa nikmatnya, betapa enaknya vaginamu Melda, betapa seretnya lubangmu sayang”. Oh, gerakanku terhenti sebentar, kutatap lagi wajahnya yang betul-betul cantik yang mencerminkan sumber seks yang luar biasa dari wajah mata dan hidungnya yang agak menekuk sedikit,.. ohh Melda, betapa sempurnanya tubuhmu, betapa enaknya vaginamu, betapa nikmatnya lubangmu. Oh, apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab untuk semuanya ini. Aku sangat menyayangimu.Lalu kembali kutekan agak dalam lagi penisku supaya bisa masuk lebih jauh lagi ke dalam vaginanya, “Bleess.., blessess”, “Akhh.., akhh”, sungguh luar biasa, sungguh nikmat sekali vaginanya, belum pernah selama ini ada wanita yang mempunyai vagina seenak dan segurih milik Melda ini.Ketika kumasukan penisku lebih dalam lagi, kulihat Melda agak tersentak sedikit, mungkin dalam mimpinya dia merasakan kaget dan nikmat juga yang luar biasa dan nikmat yang amat sangat ketika senjataku betul-betul masuk, lagi-lagi dia mengerang, erangan nikmat, erangan sorga yang aku yakin sekali bahwa melda pasti merasakannya walaupun dirasa dalam tidurnya.Akupun demikian, ketika penisku sudah masuk semua ke dalam vaginanya, kutekan lagi sampai terbenam habis, lalu kuangkat lagi dan kubenamkan lagi sambil kugoyangkan perlahan ke kanan kiri dan ke atas dan bawah, gemetar badanku merasakan nikmat yang sesungguhnya yang diberikan oleh vagina Melda ini, aneh sangat luar biasa, vaginanya sangat menggigit lembut, menghisap pelan serta lembut dan meremas senjataku dengan lembut dan kasih sayang. Benar-benar vagina yang luar biasa. Oh Melda, tak akan kutinggalkan kamuLalu dengan lebih semangat lagi aku mendayung dengan kecepatan yang taktis sambil membuat goyangan dan gerakan yang memang sudah kuciptakan sebagai resep untuk memuaskan melda ini. Akhirnya senjataku kubenamkan habis ke dasar vaginanya yang lembut, habis kutekan penisku dalam-dalam. Aakh, sumur Melda memang bukan main, walaupun lubang vaginanya itu kecil tetapi aneh dapat menampung senjata meriam milikku yang kurasa cukup besar dan panjang, belum lagi dengan urat-urat yang tumbuh di sekitar batang penisku ini, vagina yang luar biasa.
Lama-kelamaan, ketika penisku benar-benar kuhunjamkan habis dalam-dalam pada vaginanya, aku mulai merasakan seperti rasa nikmat yang luar biasa, yang akan muncrat dari lubang perkencinganku. “Ohh.., ohh”, kupercepat gerakanku naik turun, dan akhirnya muncratlah air maniku di dalam vaginanya yang sempit itu. Aku langsung lemas, dan segera kucabut penisku itu, takut Melda terbangun.Dan setelah selesai, aku segera merapikan lagi. Celana dalamnya kupakaikan lagi, begitu juga dengan dasternya juga aku kenakan lagi padanya. Sebelum kutinggalkan, aku kecup dulu keningnya sebagai tanda sayang dariku, sayang yang betul-betul timbul dari diriku, dan akhirnya pelan-pelan kamarnya kutinggalkan dan pintunya kututup lagi. Aku masuk lagi ke kamarku, berbaring di tempat tidurku, sambil menerawang, aku menghayati permainan tadi. Oh, sungguh suatu kenikmatan yang tiada taranya. Dan Akupun tertidur dengan pulas.
Gairah adikku merenggut perawanku..ahhhh
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh pintu kamarku yang terbuka dan melihat Dody sedang memegang botol Sari Ayu-ku dan terpaku di pintu. "Eh.. Mbak.. udah pulang ya?" tangannya berusaha menutupi botol lotion itu tapi tak berhasil. "Itu Sari Ayu-ku khan? Buat apa hayo?" Didikan papaku tiba-tiba saja keluar, tegas dan tanpa basa-basi. Dody berdiri di pintu dan memandangku. Aku masih duduk di tepi ranjang, aku melihatnya berkeringat deras sekali. "Ke sini!" aku sedikit menguatkan suaraku, dan dia bergerak mendekatiku terus duduk di sampingku. Aku memeluknya dan terdiam beberapa saat. Aku tidak sanggup memilih kata-kata, aku menyadari apa yang dilakukannya barusan jauh lebih baik daripada dia melakukannya benaran untuk melampiaskan nafsunya. "Sudah sana mandi dulu, Mbak udah tahu semua!" dia pun bangkit dan bergerak keluar kamarku. Sempat-sempat aku melirik pantatnya yang bagus bulat dan tampak kokoh, tercetak di balik celana pendeknya. Kejadian ketiga inilah inti dari keseluruhan ceritaku. Saat itu Dody sudah naik kelas tiga dan aku sendiri sudah berani raba-rabaan sama Pin-pin. Meski jarang yang sampai telanjang bulat, kadang-kadang apa yang dilakukan Pin-pin bisa membuatku melayang, aku tidak tahu apakah itu yang disebut orgasme atau tidak. Cuma setelahnya memang membuatku sayang banget sama Pin-pin. Kadang-kadang aku melakukan masturbasi juga. Sebaliknya Dody dalam pengamatanku sekarang jadi anak yang serius dan cenderung jadi pendiam. Sesekali Pin-pin mengajakku nonton film blue, kadang-kadang di rumahnya yang besar kadang-kadang juga di kamarku, untuk menambah pengetahuan alasannya. Meskipun tidak sering, sesekali setelah nonton film itu, kami bercumbu. Pertama sih cuma cium-ciuman saja, lama kelamaan aku jadi semakin berani dilucuti. Kalau dulu diraba saja sudah gemetaran, sekarang kalau cuma dicium rasanya seperti ada yang kurang. Kadang-kadang rabaannya membuatku melayang dan membuatkan membiarkannya melepaskan pakaianku. Sering cumbuannya begitu merangsangku sehingga kadang ketika tersadar Pin-pin sudah berada di antara pahaku yang terbentang dan aku merasakan batang kemaluannya sudah menempel di pintu lubang kemaluanku dan kurasakan seperti sedang menekan-nekan masuk. Kadang kepalanya sudah hampir masuk semua. Sampai tahap itu biasanya aku tersadar, bangkit dan mendorongnya perlahan-lahan, memeluknya sambil berbisik. "Kamu kan janji, nggak sampai begini khan?" Biasanya Pin-pin tersadar dan tidak marah. Kadang sebagai tanda terima kasihku, aku membaringkannya dan sambil duduk di atas lututnya bertelanjang bulat, aku menyelesaikan nafsunya itu. Aku urut batang kemaluannya perlahan-lahan, dan mengadopsi dari ilmunya si Dody, aku mengoleskan Sari Ayu untuk bahan pelicin. Ejakulasinya kadang-kadang kuat sekali menerpa dada dan perutku. Begitu kuat sampai lututnya kurasakan gemetar dan kejang kurasakan di selangkanganku yang mendudukinya. Secara umum aku masih perawan sampai saat ini (jika ukurannya sudah penetrasi atau belum). Kejadiannya dengan Dody terjadi di suatu sore hari. Hari itu hari libur dan di kampus ada acara hiking pada hari sebelumnya dan baru selesai pada sekitar jam 3 sore. Pokoknya super lelah deh. Saat itu hujan deras sekali, dan sekalian berbasah-basah aku boncengan sama Pin-pin pulang. Pin-pin hanya mengantarku sampai depan rumah dan langsung pulang. Aku sambil berbasah-basah, aku membuka kunci pintu rumah, langsung ke kamar mandi belakang untuk melepas bajuku yang basah kuyup. Aku lihat Dody sedang tertidur nyenyak di atas karpet di ruang tengah. Sementara itu hujan di luar tampak semakin deras saja. Aku segera melepas kaosku yang basah kuyup, bra, celana jeans dan celana dalamku. Aku merasakan kulit pinggulku seperti berkerut-kerut kedinginan terkena air hujan, terutama di bagian karet celana dalamku yang membentuk tekstur akibat tergencet dua hari berturut-turut. Perutku rasanya dingin sekali, payudaraku mengeras dan terutama putingnya yang tegak mengacung akibat kedingingan. Aku memakai piyama warna pink muda yang tadi aku sambar dari jemuran dan tanpa mengenakan apa-apa di baliknya aku mengenakannya setelah membilas diri di shower. Guyuran airnya rasanya hangat dibandingkan terpaan air hujan tadi. Aku keluar dari kamar mandi berpiyama dan memasukkan pakaian kotor tadi di tempat cucian dan bergegas masuk rumah. Dody masih tertidur dengan nyenyak di karpet, TV masih menyala, sementara itu hujan terdengar semakin keras saja disertai angin dan petir. Perutku tiba-tiba terasa begitu lapar, sementara itu badanku rasanya pegal-pegal. Aku ambil roti di atas meja dan memakannya dengan rakus sambil rebahan di sofa. Dody bercelana pendek dan berkaos oblong sedang tertidur nyenyak terdengar dari suara dengkurannya perlahan-lahan. Di celana pendeknya terlihat bongkahan besar buah zakarnya dan samar-samar tercetak sebentuk batang seukuran lem UHU stick ukuran kecil tampak mengarah ke atas agak miring ke kiri. Kaosnya agak terangkat sedikit ke atas sehingga perutnya terlihat samar-samar ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku habiskan setangkup sandwich dan mulai memakan setangkup berikutnya sambil rebahan di sofa panjang di ujung karpet di mana Dody sedang tertidur. TV sedang menayangkan MTV most wanted, VJ-nya Sarah, kemudian ada lagu dari Westlife. Boleh juga boys-band sekarang, mereka keren-keren. Karena lelahnya, aku rebahan di sofa sambil merasakan secara perlahan-lahan tubuhku mulai menghangat meskipun hanya diselimuti piyama tipis itu tanpa apa-apa di baliknya. Aku ambil bantal kecil dan menyelipkannya di antara pahaku dan merasakan hangatnya meresap ke dalam tubuku bagian bawah. Dody membalikkan badannya dan tengkurap dan terus tidur nyenyak. Maksudku saat itu rebahan sebentar kemudian aku masuk kamar ganti baju dan terus tidur di kamar, eh nggak tahunya tanpa terasa aku benar-benar tertidur di sofa saat itu. Biasa saja sebenarnya aku tertidur di sofa dan bukan kali itu saja. Tapi kali itu karena lelahnya aku tidak sempat berganti piyama, atau setidaknya memakai sesuatu di baliknya. Sehingga aku tidak menyadari saat aku tertidur, sesosok mata sedang menyaksikanku dari jarak yang begitu dekat. Begitu lelahnya aku sehingga tanpa kusadari kain piyamaku tersingkap dan ketika kaki kananku terangkat dan menyandar di sandaran sofa, selangkanganku yang penuh rambut betul-betul terbuka lebar hanya sekian meter saja dari seorang anak muda yang sedang dalam puncak-puncaknya mencari pengetahuan tentang seks. Sementara aku sendiri sedang bermimpi. Dalam mimpiku aku merasa sedang dituntun Pin-pin sedang menuruni bukit. Tapi saat itu aku merasakan hanya kami berdua saja dan merasakan tiba di suatu padang yang luas dan penuh dengan rumput-rumput yang tinggi dan hijau muda, dengan bunga-bunganya yang indah. Pin-pin mengajakku beristirahat dan kami rebahan sambil memandangi dataran di bawah yang tampak kotak-kotak seperti puzzle. Pin-pin memelukku dan aku merasakan dadanya yang luas dan kuat sedang merengkuhku dengan hangat mengalahkan dinginnya hembusan angin gunung itu. Kemudian aku merasakan nikmatnya ketika jemari-jemarinya mulai meremas-remas payudaraku, putingku dijepitnya dengan jari tengah dan telunjuk. Aku mulai merengkuh pinggulnya dan menggerakkan tanganku ke selangkangannya dan menemukan bahwa batang kemaluannya itu telah terbuka sehingga aku bisa merasakan tekstur kulit yang seperti berulir oleh urat-urat yang menonjol. Sementara itu aku merasakan tangannya bergerak menyusup di antara pahaku dan tiba-tiba aku merasakan telah telanjang bulat. Jemarinya membelai-belai selangkanganku dan mengucek klitorisku dengan cepat. Aku merasakan gairah yang semakin naik, dan tiba-tiba aku merasakan ada anak-anak kecil berlarian di antara kami. Aku melihat senyuman Pin-pin dan ketika aku meraih wajahnya aku merasakan sesuatu yang hangat mulai masuk perlahan-lahan ke dalam tubuhku melalui selangkanganku. Gairahku semakin naik seiring dengan masuknya batang kemaluannya itu. Dody meletakkan kedua sikunya di antara dadaku sehingga dadanya menghimpit payudaraku dan tiba-tiba kurasakan sesuatu yang keras menghentak masuk luabang kemaluanku dan aku merasakan sedikit rasa perih tepat ketika sesuatu menggelitik klitorisku. Tampaknya seluruh batangnya telah masuk. Dia mengangkat pahaku dan membukanya lebar-lebar sebelum dia menarik pinggulnya sehingga batangnya tertarik keluar perlahan-lahan. Rasanya mulai terasa nikmat. Aku merangkulkan tanganku ke lehernya dan tiba-tiba dia menghentakkan pinggulnya dengan kuat. Ketika aku membuka mata aku akan menjerit tapi segera tertutupi sepasang bibir hangat. Tubuhku tergeletak sebagian di sofa, posisiku sedikit miring sehingga pinggulku berada di pinggiran sofa. Piyamaku terbuka lebar sehingga perut dan dadaku terbuka. Sepasang tangan merangkul punggungku dengan kuat di antara piyamaku yang terbuka. Paha kananku terbentang ke sandaran sofa, tertindih pinggul dan perutnya sementara paha kiriku berjuntai ke lantai tertahan sebentuk paha kokoh. Tapi bukan itu yang membuatku menjerit. Sesuatu yang keras dan hangat terasa mengganjal di dalam kemaluanku yang terasa seperti tertusuk-tusuk jarum tapi ada sedikit rasa enak ketika ditarik dan ditusukkan lagi perlahan-lahan. Kesadaranku masih sedikit melayang antara mimpi dan kenyataan dan ketika mulai sadar penuh aku meronta. Dody menindihku dan sedang bergerak-gerak perlahan menusuk-nusukkan batang kemaluannya ke dalam liang kenikmatanku. Kedua tangannya merengkuh punggungku di antara piyamaku yang terbuka sehingga membuat kedua tanganku berada di antara lehernya. Dadaku terhimpit kuat di bawah dadanya yang telanjang. Pinggulnya terus bergerak-gerak dengan kuat. Aku meronta-ronta sambil menjerit tapi kembali bibirnya menutupi bibirku sehingga jeritanku seperti tertelan suara hujan yang masih saja deras. Aku menjambak rambutnya dan meronta-rontakan kedua pahaku tapi himpitannya benar-benar kuat. Kedua tangannya mengelus-elus punggungku. Tapi tampaknya tenagaku tak cukup kuat melawan kehendaknya, apalagi kondisiku saat itu begitu lelahnya. Sehingga akhirnya yang terjadi aku menyerah, dan merasakan tubuhnya memompaku dengan cepat dan kuat. Gesekan-gesekan batang kemaluannya betul-betul mengkanvaskanku. Antara rasa nikmat yang kadang-kadang sempat muncul dan rasa perih yang juga bersamaan terasa, membuatku benar-benar di bawah kungkungan nafsunya. Rasanya lama sekali dia melakukan itu, cukup lama untuk merubah rasa perih yang ada menjadi rasa nikmat yang aneh. Sampai suatu saat Dody melepaskan rangkulannya dan mulai bergerak cepat sekali menggesek-gesekkan batang kemaluannya. Meskipun tubuhku lepas dari kungkungan itu, tapi tubuhku sudah tidak sanggup lagi bereaksi terhadap perbuatannya dan membiarkannya menyelesaikannya. Beberapa saat kemudian Dody seperti mengejang dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat di dalam liang kenikmatanku, sesuatu yang tiba-tiba mengalirkan rasa nyaman yang teramat sangat di tubuhku sebelum aku sadar apa yang terjadi dan bangkit sambil berteriak dan mendorong tubuhnya sehingga menekuk batang kemaluannya yang sedang menusuk-nusuk sangat cepat ke dalam tubuhku. "Dod.. jangan di dalam..!" Tapi aku terlambat, Dody telah menyuntikkan sejumlah besar sperma ke dalam lubang kemaluanku. Dody berkeringat deras dan masih bergerak-gerak cepat ketika aku meronta dan menyebabkan batang kemaluannya terlepas dari dalam lubang kemaluanku. Aku melihatnya tampak berkilat, kokoh dan mendongak ke atas, kepala pelernya tampak penuh dan berkilat merah tua, ujung masih sempat menyemprotkan cairan spermanya dan jatuh bergerai-gerai di atas rambut kemaluanku, tampak setitik cairan putihnya menetes jatuh ke karpet.

Bercinta dengan guru bahasa inggris
Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.
Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku."Kenapa Jack""Ah.. tidak apa-apa", jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar)."Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan", kata Ibu Shinta."Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya", jawabku dengan ragu-ragu."Terima kasih Jack".Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku suka kepadanya, "Oh my God what i'm doing", dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, "Jack kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya dulu dong", bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.
"Mau apa kau sshh... sshh", tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.Ooo... oh.. oh..", desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.
Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. "Aahh... Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh..."Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya. "Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?", tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus."Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.." Ibu Shinta pun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya."Gantian dong.." Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. "Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?", tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri. Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar. "Ohh...", desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. "Ooo... ahh... hmm... ssshh...", desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. "Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!" Aku mengatur badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. "Gaya apa lagi ini?", tanyanya.Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat."Capek?", tanyaku. "Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku".
"Tapi kan nikmat Bu..", jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan."Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas", kataku sambil mengatur posisinya.Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. "Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh.." Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. "Uuuhh.., mmmhh..", Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. "Ehhh..., mmmhh..". Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan."Ooohh.., aduuuhh..". Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. "Mmmhh..., mmmhh.., ooohhm..". Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. "Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss...", erangku.Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. "Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus", teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., "Creet.., suuurr.., ssuuur..""Oughh.., Jack.., nikmat..", erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, "Crooot.., croott.., crooot..", banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya."Aaahkk.., ooough", ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. "Ohm, masuk.., augh.., masukin"Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, "Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack"Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
Guru wali kelas anakku
Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi denganku dikala anakku yang bernama Jerry telah memasuki SD kelas 1. Setelah istriku meninggal dunia karena terkena penyakit kanker payudara, akulah satu-satunya yang mesti mengurusi anakku, Jerry. Secara jujur, kehidupanku sangat menyedihkan dibandingkan sebelum istriku meninggal. Sekarang semuanya kulakukan sendiri seperti mengajari anakku mengerjakan PR-nya, memasak yang tentunya bercampur dengan kesibukanku di kantor sebagai salah satu orang terpenting di perusahaan Jepang yang berdomisili di Jakarta.Kadang-kadang aku menjadi bingung sendiri karena bagaimanapun masakanku tidak sesempurna istriku dan untunglah Jerry, anakku satu-satunya tidak pernah mengkritik hasil masakanku walaupun aku tahu bahwa semua hasil masakanku tidak bisa dimakan karena kadang-kadang terlalu asin dan kadang-kadang gosong. Suatu hari Jerry memberitahuku bahwa aku mesti datang ke sekolahnya karena gurunya ingin bertemu denganku.Pada hari yang sudah ditentukan, aku pergi ke sekolah anakku untuk bertemu Ibu Diana dan sewaktu aku bertemu dengannya, aku menjadi cukup gugup dan untunglah perasaan itu dapat kukuasai karena bagaimanapun aku pergi dengan anakku dan aku tidak ingin anakku membaca kegugupanku itu. Akhirnya aku dipersilakan duduk oleh ibu guru yang ternyata belum menikah itu karena aku tidak melihat cincin kawin di jarinya dan juga dia mengaku sendiri bahwa dia masih single ketika kupanggil dia dengan sebutan Ibu Diana. Didalam percakapan itu, dia menceritakan mengenai pelajaran Jerry yang agak tertinggal dengan murid-murid lainnya. Ternyata baru ketahuan dari pengakuan Jerry, bahwa walaupun dia rajin mengerjakan PR tetapi dia tidak pernah mengulang pelajarannya karena waktunya dihabiskan untuk bermain Play Station yang kubelikan untuknya sehari setelah kepergian istriku supaya dia tidak menangis lagiAkhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Ibu Diana akan memberikan anakku les privat dan setelah kami sama-sama sepakat mengenai harga perjamnya, kami bersalaman dan meninggalkan sekolah itu. Selama perjalanan ke rumah, aku selalu teringat dengan wajah imut guru muda anakku itu
Sore harinya setelah aku tidur sore, aku teringat bahwa 1 jam mendatang guru anakku akan datang dan berarti aku juga harus bersiap-siap untuk menyambutnya. Setelah guru Jerry datang dan aku mengajaknya ngobrol untuk beberapa saat, dia kemudian minta izin untuk memulai les privat untuk anakku. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Aku mulai membaca koran Kompas hari itu dan aku sekali-kali mencuri pandang pada guru anakku yang sedang mengajari Jerry. Kulihat bahwa Ibu Diana ini cukup pengertian dalam mengajari anakku yang kadang-kadang masih cukup bingung akan materi yang dipelajarinya.Dua jam berlalu sudah dan kusadari bahwa jam privat les sudah usai dan ketika dia hendak pulang ke rumahnya, aku menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya berhubung hari sudah malam dan aku tahu persis bahwa tidak ada lagi kendaraan umum pada jam-jam begitu di sekitar rumahku. Akhirnya aku mengeluarkan mobil BMW kesayanganku dan setelah aku bersiap-siap, aku menyuruh Jerry untuk mengulang pelajaran yang tadi sementara aku akan mengantarkan gurunya pulang. Jerry menuruti ucapan ayahnya dan tanpa basa basi, dia mulai membuka kembali bukunya dan mengulang materi yang baru saja dipelajarinya.Aku kemudian mulai menyuruh Ibu Diana untuk masuk dan kemudian aku memulai mengendarai mobil itu setelah aku menutup pintu gerbang tentunya karena aku tidak mempunyai pembantu rumah tangga saat itu. Di tengah perjalanan, kami bercakap-cakap mengenai segala hal dan mengenai perubahan yang dialami Jerry setelah ibunya meninggal dunia. Nampaknya Ibu Diana serius sekali mendengarkan curahan hatiku yang kesepian setelah ditinggal oleh istriku.Tiba-tiba ketika kami sedang asyik bercakap-cakap, aku melihat sekilas seorang anak kecil yang sedang lari menyeberang sehingga dengan secepat kilat, aku langsung mengerem secara mendadak dan disaat aku mengerem mendadak itu, karena Ibu Diana lupa tidak memakai "Seatbelt", dia langsung jatuh kedalam pelukanku. Dia nampaknya malu sekali setelah kejadian itu tetapi setelah aku bilang tidak apa-apa, dia kembali seperti sediakala dan sekarang kami nampaknya semakin akrab dan aku menjadi sangat kaget dikala dia minta tolong untuk pergi ke motel terdekat karena dia ingin buang air dengan alasan bahwa rumahnya masih sangat jauh. Aku melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang menahan sesuatu sehingga akhirnya aku menyetujui untuk pergi ke motel terdekat untuk menyelesaikan 'bisnis'nya.Akhirnya kami berada di dalam sebuah motel murah yang tidak jauh dari tempat aku mengerem mendadak tadi. Setelah berada di dalam kamar, aku langsung duduk di tepi ranjang sementara Ibu Diana dengan kecepatan yang luar biasa langsung pergi ke arah toilet yang berada di dalam kamar motel itu. Beberapa menit kemudian, aku dikagetkan oleh Ibu Diana yang keluar dari dalam toilet dengan mendadak."Bu.. ada apa?" aku mendadak gugup bercampur kepingin melihat tubuh Ibu Diana yang sangat indah itu. Tapi tiba-tiba Diana menarikku dan langsung mencium bibirku. Sepertinya aku mau meledak! Ibu Diana yang tingginya 172 cm, rambut panjang dan tubuhnya sempurna sekali, padat, keras, sedikit berotot perut, pokoknya seksi sekali. Diana menuntun tanganku ke dadanya. Disuruhnya aku meremas-remas dadanya. Belakangan kuketahui ukuranya 34C. Kemudian dia sendiri melepas bajunya dengan senyumnya yang menggoda sekali. Aku hanya diam terpaku melihat caranya melepas pakaian dengan pelan-pelan dengan gaya yang menggairahkan sambil menggoyang pinggulnya.
Kemudian terlihatlah semua bagian tubuhnya yang biasanya tersembunyi. Dadanya yang montok kencang menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi, tubuhnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Batang kejantananku juga sudah membesar mengeras lebih dari biasanya. Lalu Diana kembali merapatkan tubuhnya ke arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku, menjilatinya dan berbisik kepadaku, "Kamu akan merasakan seperti di surga." Tapi aku masih berusaha menghindar walaupun sebenarnya aku mau kalau tidak pemalu."Nanti kalau teman-teman datang bagaimana?""Tenang saja saya sudah bilang mau tidur sebentar di sini dan jangan diganggu."Gile sudah direncanaka!Tanpa kusadari kemejaku sudah lepas (ke mana-mana aku biasa memakai kemeja lengan pendek) Diana menjilati perutku dan terus ke bawah. Aku masih diam ketakutan. Sampai akhirnya dia membuka celana dalamku. "Wah, ini akan hebat sekali. Begitu besar, keras. Belum pernah aku melihat seperti ini di film porno."
Diana mulai mengisap-isap batang kemaluanku (baru-baru ini aku tahu namanya disepong karena almarhum istriku tidak pernah melakukannya). "Aaarghh.. argh.." aku baru sekali senikmat itu. "Kamu mulai bergairah kan, Sayang?" Baru kali itu dia memanggilku sayang. Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati liang kewanitaannya yang sudah basah itu. "Nnngghhh.. ngghhh.. aaahh... ahhh" Diana mulai mengerang-ngerang. Tapi itu membuatku makin bergairah. Kuhisapi puting susunya yang berwarna pink. "Aahhh.. yeahh.. Tak kusangka kamu agresif sekali." Kumasukkan jariku ke liang senggamanya. Kusodok-sodok makin lama makin cepat. Diana hanya bisa mengerang, mendesah-desah. "Ricky, cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat, Diana udah nggak tahan.. ahhh.. Tapi pelan-pelan, Diana masih perawan."Waktu itu aku tidak memikirkan dia perawan atau tidak. Aku hanya memasukkan batang kemaluanku dengan pelan-pelan, sempit sekali. Benar-benar masih perawan, kupikir. Liang kewanitaannya begitu ketat menjepit batang kejantananku. Sampai akhirnya batang kemaluanku yang panjangnya 20 cm dan diameternya 3,8 cm amblas semua. "Aaakkhhh..." lagi-lagi teriakannya membuatku bersemangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-kencangnya. "Ngghhh.. Rickkk.. gede banget.. aanggghh.. indah sekali rasanya."Kemudian kami mengganti posisi nungging. "Plok.. plok.. plok.." suara waktu aku sedang menggenjotnya dari belakang. Dadanya berayun-ayun. Diana kadang meremasnya sendiri. "Aahhh.. lagi.. lebih cepat.. Aaahhh.. Diana udah keluar.. Kamu keluarin di luar, ya!" Tidak lama kemudian akupun keluar juga.Kusemprot maniku ke sekujur tubuh Diana yang lemas tak berdaya. Dijilatinya lagi batang kenikmatanku sampai lama sekali sampai-sampai keluar lagi. Dengan nafas masih memburu terengah-engah, Diana memakai pakaiannya kembali. "Kamu hebat sekali Rick. Diana puas sekali. Sebenarnya aku sudah jatuh hati kepadamu pada pandangan pertama." Kemudian sebelum keluar kamar Diana kembali mencium bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi, kucium dia sambil kupegang payudaranya.Setelah kenikmatan bersama itu, kami berpelukan untuk beberapa menit dan kami berciuman lagi untuk beberapa lama. Sejujurnya aku sudah jatuh hati kepada guru anakku sejak pertama kali bertemu dan sekarang baru kusadari bahwa dia juga telah jatuh hati kepadaku. Setelah itu aku kemudian berkata kepadanya, "Diana, aku ingin kamu menjadi kekasihku yang bersedia mengajari Jerry.." Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Diana langsung menciumku dan aku membalasnya dengan penuh kemesraan dan tentunya berbeda dengan perlakuan kami yang baru saja terjadi.Setelah kami berciuman untuk beberapa menit, Diana langsung berkata kepadaku, "Ricky, aku juga ingin memiliki kekasih dan ternyata aku sekarang menemukannya dan aku ingin menikah denganmu dan kita bisa bersama-sama mendidik Jerry." Setelah kejadian itu, Diana sering pergi keluar bersamaku dan Jerry.
sentakan aliran cairan hangat dari batang kemaluan Shin Chan segera dirasakan oleh dinding-dinding liang kenikmatan mamanya.
Sudah satu minggu ini Shin Chan melihat papanya secara diam-diam mengambil botol ungu dari atas lemari obat didapur dan meminum sebutir obat warna merah dari dalamnya. Setiap kali Shin Chan bertanya pada papanya, ia selalu memperoleh jawaban yang tak memuaskan. Shin Chan berpikir bahwa yang diminum papanya setiap akan berangkat kerja itu adalah permen yang sangat enak rasanya dan disembunyikan darinya. Timbullah keinginannya untuk mencoba obat yang dikiranya permen enak itu.Sepulang sekolah ia langsung kedapur karena lapar. Lalu ia mencoba berteriak memanggil mamanya tapi ia hanya mendengar jawaban samar-samar dari belakang. Mamanya meminta Shin Chan untuk sabar menunggu karena beliau masih sibuk mencuci pakaian. Duduk di depan meja makan pandangannya tertuju pada lemari obat yang ada dipojok dapur. Dilihatnya juga sebuah botol ungu diatasnya."Uhh, lapar begini paling enak makan permen dulu ya", katanya dalam hati.Otaknya berputar mencari cara meraih botol ungu yang terlalu tinggi dari jangkauannya. Akhirnya ia mengambil kursi tinggi dan berhasil meraihnya. Di botol itu tertera "Penis Enlargement", (pembesar kelamin), tapi Shin Chan tak tahu maknanya dan dianggapnya isinya adalah permen manis. Ketika akan membuka didengarnya suara mamanya mulai mendekat ke dapur. Dengan buru-buru ia mengambil 2 butir dari dalam botol itu lalu ditutup dan dikembalikan ketempat asalnya. Sambil mengunyah 2 butir obat yang dikiranya permen itu ia mendorong kursi ketempat semula.
"Hmm, rasanya manis, enak", katanya dalam hati."Shin Chan, kamu makan apa?", tanya mamanya ketika melihat anaknya lagi mengunyah sesuatu."Permennya Papa", jawab Shin Chan santai tanpa rasa bersalah.Tanpa memikirkan soal permen itu, mamanya Shin Chan kemudian menyiapkan makan siang Shin Chan. Sejak saat itu bila Shin Chan harus menunggu untuk makan siang ia pasti akan mengambil dan mengunyah permennya Papa tanpa sepengetahuan siapapun. Meskipun tidak setiap hari ia mengambil permennya Papa tapi setiap pengambilan bisa 2 sampai 3 butir. Hal itu ia lakukan selama hampir 3 bulan. Papa Shin Chan yang banyak disibukkan pekerjaan kantor tak pernah curiga akan singkatnya persediaan obatnya karena sering lupa dan selalu membeli lagi setelah habis.Shin Chan sendiri tak pernah merasakan efek dari obat itu karena ia sama sekali tak mengerti. Efek yang ditimbulkan permen yang dikunyahnya adalah pembesaran alat kelamin pria hanya pada saat ereksi. Oleh karena Shin Chan kecil belum pernah ereksi maka ia pun tak merasakan apa-apa.Suatu sore hari ketika Shin Chan menonton TV bersama mamanya, ia melihat penyanyi wanita yang hanya mengenakan bikini."Ma, Mama, yang nyanyi cantik ya Ma", kata Shin Chan pada mamanya."Cantik mana sama Mama?", tanya mamanya."Cantik Mama dikit, tapi banyakan penyanyi itu", jawab Shin Chan santai."Ehh, Shin Chan nakal ya", teriak mamanya."Kalau begitu nanti nggak kubuatkan mie kesukaanmu", sambung mamana."Ma, Mama, buatkan mie-nya dong", rengek Shin Chan berkali-kali tanpa dihiraukan mamanya."Mama cantik kok, Mama lebih cantik dari penyanyi itu, sungguh Mama tambah cantik lagi kalau buatin Shin Chan mie kesukaan Shin Chan", rayu Shin Chan pada mamanya.Akhirnya luluh juga hati mamanya mendengar rengekan dan rayuan anaknya semata wayang itu."Iya Shin Chan, Mama akan buatkan tapi nanti ya", ujar mamanya.
"Shin Chan mau sekarang Ma, Mama buatin sekarang dong, Shin Chan lapar sekali", rengek Shin Chan lagi.Tak tahan mendengar rengekan Shin Chan, mamanya langsung ke dapur dan menyiapkan mie kesukaan Shin Chan."He, hehe, Shin Chan akan makan enak", katanya dalam hati sambil menonton goyangan penyanyi-penyanyi cantik di TV."Uhh, asyiik cantik-cantik goyang ngebor, ayo terus ngebor", kata Shin Chan dalam hati sambil terus mendekat ke arah TV dengan tengkurap.Tanpa disadarinya, kemaluan Shin Chan bergeser dengan karpet yang ada dilantai. Semakin asyik, Shin Chan mengikuti irama lagu di TV dan menggerak-gerakkan pinggulnya. Semakin lama ia merasakan rasa yang enak kemaluannya ketika bergesek dengan karpet."Uhh, enaak, ayo terus goyang", kata Shin Chan.Tiba-tiba kemaluan Shin Chan bertambah besar karena ereksi. Semakin lama semakin besar hingga panjangnya sekitar 20 cm, sebuah ukuran panjang kemaluan yang berlebihan untuk anak seusia Shin Chan. Karena celana Shin Chan ukurannya pas-pas-an untuk anak seukuran Shin Chan maka Shin Chan menjerit kesakitan karena kemaluannya yang panjang itu menabrak dan terjepit karet celananya."Aduh, Aduh, Mama, Mama sakit Ma", jerit Shin Chan pada mamanya.Terkejut Mama Shin Chan langsung berlari ke ruang tengah dan mendapat Shin Chan lagi terlentang kelimpungan dengan tonjolan celananya yang sangat besar."Kamu kena? Mana yang sakit?", tanya mamanya pada Shin Chan kebingungan."Ini Ma, burung Shin Chan kejepit celana, tolong Ma, aduh sakit", teriak Shin Chan sambil meringis dan memegang burungnya.Sekilas Mama Shin Chan juga melihat tontonan TV yang masih memeprlihatkan goyangan-goyangan erotis dari penyanyinya. Mengertilah Mama Shin Chan tapi tetap heran dengan besarnya tonjolan burung Shin Chan. Untuk mengurangi rasa sakit jepitan celana pada burung Shin Chan maka mamanya melorotkan celana Shin Chan yang lagi terlentang. Bertambah terkejutnya Mama Shin Chan setelah melihat burung Shin Chan yang berdiri tegak dengan ukuran melebihi milik suaminya. Dipegang dan diusap-usap burung Shin Chan oleh kedua tangan mamanya yang lembut.
"Enaak Ma, terus.", kata Shin Chan nakal sambil tersenyum lega."Shin Chan, ini akibatnya kalau kamu lihat TV yang seperti gituan", teriak mamanya dengan muka merah dan segera mematikan TV."Mama, Mama, maafin Shin Chan.", rengek Shin Chan hampir menangis.Tapi tetap saja burung Shin Chan berdiri tegak karena usapan mamanya.Mamanya Shin Chan tahu bahwa untuk menidurkan kembali burung Shin Chan ia harus menyudahi usapannya pada burung itu, tapi karena ia belum pernah melihat dan memegang penis pria sebesar itu maka dengan ia masih tetap berlama-lama menatap dan mengusap burung anaknya. Melihat jam dinding, dengan berat hati ia meninggalkan Shin Chan dan kedapur untuk menyiapkan makan malam suaminya yang akan tiba dari pulang kerja tak lama lagi."Ma, Mama, gimana ini, Shin Chan kok ditinggal", teriak Shin Chan."Lepas dulu aja celanamu, duduk dan tunggu aja, kalau burungmu sudah tidur pakai lagi celanamu", teriak mamanya dari dapur."Hihihi, dingin-dingin empuk", tawa Shin Chan sambil memijat-mijat burungnya sendiri.Lupa akan perintah mamanya, Shin Chan lari berputar-putar diruang tengah tanpa celana menirukan aksi superhero kesayangannya ketika membasmi kejahatan."Hmm, mana monster-monster jahat itu biar kutembak dengan senjata baruku ini", teriak Shin Chan memegang burungnya dan memainkannya bak senjata.Kelakuan Shin Chan yang belum tahu apa-apa ini, membuat burungnya tetap saja berdiri tegang tak mau segera tidur. Tapi Shin Chan malah senang karena punya mainan baru.Mama Shin Chan yang telah usai menyiapkan makan malam keluarga, kembali keruang tengah untuk melihat kondisi anaknya."Ma, Mama, ayo Ma main superhero lawan monster, Shin Chan jadi superheronya, Mama jadi monsternya ya", teriak Shin Chan pada mamanya."Shin Chan kamu kok nakal banget sih, disuruh duduk kok malah lari-lari", teriak mamanya tak dihiraukan Shin Chan yang lagi asyik main dengan berlarian.Mamanya berusaha menangkap Shin Chan untuk dipaksa duduk tenang, tapi Shin Chan malah menganggapnya bermain-main dan tetap terus menghindar dari tangkapan mamanya lalu sesekali memegang burung dan mengarahkannya pada mamanya sambil beraksi menembak."Dor, dor, dor", teriak Shin Chan.Gemas campur marah mamanya Shin Chan mengancam tak memberinya mie, tapi Shin Chan nakal sudah tak mendengarkan lagi ancaman mamanya yang sudah dianggapnya monster yang berusaha menangkapnya."Ayo monster kalau bisa tangkap Super Shin Chan", ujar Shin Chan.
Mendengar kata-kata Shin Chan, mamanya punya akal untuk menangkapnya."Awas Super Shin Chan kalau ketangkap akan kuberi pelajaran", kata mamanya Shin Chan berlagak jadi monster.Lalu mamanya Shin Chan segera mematikan lampu diruang tengah sehingga kondisinya menjadi remang-remang."Mama, Mama Shin Chan takut, nyalain lagi lampunya", jerit Shin Chan ketakutan sehingga tak mampu beranjak dari tempatnya berdiri.Tiba-tiba dua tangan mamanya sudah menangkap tubuhnya dari belakang.
"Hehehe, ketangkap kamu", ujar mamanya Shin Chan dengan suara monster."Mama, Mama mainnya sudahan", ujar Shin Chan sambil merobohkan dirinya diatas karpet ruang tengah."Mamamu sudah tak ada, yang ada hanyalah monster yang akan memberimu pelajaran", kata mamanya bak monster jahat yang siap menerkam mangsanya.Merasa tertantang, keberanian Shin Chan muncul kembali mengingat ia punya senjata pamungkas yaitu burungnya yang masih berdiri."Super Shin Chan tidak takut sama monster jelek, sini biar kutembak", teriak Shin Chan dengan memegang dan mengarahkan burungnya ke arah wajah mamanya yang mendekat.
"Aku bukan monster jelek tapi monster cantik dan tak takut dengan senjatamu, terimalah pelajaran dariku", ucap mamanya Shin Chan langsung menangkap dan menjilati burungnya Shin Chan yang mengarah kemukanya.Shin Chan yang tak berdaya melepas tangannya dari burungnya dan terlentang mengaduh"Aduh, aduh, geli Ma, geli Ma"Tak mendengarkan rintihan Shin Chan, mamanya terus menjilati dan mengulum batang kemaluan Shin Chan. Kuluman maju mundur pada ujung batang kemaluan Shin Chan ia tambahkan kocokan dengan tangannya pada pangkal batang kemaluan Shin Chan."Uhh, uuh, mmh, Ma, Ma, en, en, enaak", ucap Shin Chan terbata-bata."Teruus Ma, iya gitu, mmh, uhh, lagi Ma, mmff", kata Shin Chan yang membuat mamanya makin mempercepat kuluman dan kocokan pada batang kemaluan Shin Chan."Ma, Ma, Sin, Sin, Shin Chan mau.", belum habis ucapan Shin Chan, batang kemaluannya berdenyut hebat mengeluarkan cairan putih dan langsung menyemprot kedalam kerongkongan mamanya."Mmmh, mmh.", suara mamanya sambil terus menyedot batang kemaluan Shin Chan dan menelan cairan putih itu seperti menyedot plastik sedotan ketika minum es juice sirsak."Mama, Mama kok doyan sih Shin Chan pipisin", ujar Shin Chan setelah lepas mulut mamanya dari batang kemaluannya."Shin Chan, itu tadi bukan pipis tapi peluru dari senjata Shin Chan yang harus dimakan oleh monster", kata mamanya Shin Chan dengan kalem.Bersamaan dengan itu terdengar suara telpon dan ternyata dari papanya Shin Chan yang memberitahu istrinya bahwa ia akan lembur malam ini hingga tengah malam.Dengan sangat kecewa, mamanya Shin Chan menutup gagang telepon. Ia kecewa karena hasrat nafsunya yang tinggi setelah bermain dengan Shin Chan hingga basah celana dalamnya ternyata tak dapat ia lampiaskan bersama suaminya yang akan pulang larut malam."Mama, Mama siapa yang nelpon kita?", tanya Shin Chan yang masih belum bercelana meski burungnya sudah kembali pada ukuran semula."Itu tadi papamu, pulangnya akan malam. Kamu cepat pakai celanamu, makan lalu segera tidur", perintah mamanya dengan nada agak keras sambil kembali menyalakan lampu ruangan tengah.Di kamar tidur, Shin Chan yang bersiap-siap menuju ke pembaringan bercakap-cakap dengan mamanya."Mama, Mama besok disekolah akan aku tunjukkan senjataku pada teman-teman".Mamanya langsung menjawab"Shin Chan kamu tidak boleh menunjukkan senjatamu itu, senjatamu itu hanya boleh kamu tunjukkan sama Mama saja, dan jangan sekali-sekali cerita pada papamu atau orang lain, ngerti?"."Memangnya kenapa Ma?", tanya Shin Chan tak puas."Kalau kamu ceritakan dan tunjukkan sama orang lain, Mama nggak mau lagi main sama kamu dan Mama nggak akan membuatkan mie kesukaan Shin Chan", jawab mamanya yang direspon dengan anggukan oleh Shin Chan.Ditempat tidur Shin Chan masih bingung dengan apa yang dikatakan mamanya tadi."Mama curang, masa senjata kok nggak boleh dikeluarkan, eh tapi kalau nggak dituruti nggak bisa dapat mie dan nggak bisa main, wah nggak asyik".
Gemericik air terdengar oleh Shin Chan dari arah kamar mandi. Shin Chan nakal segera bergegas membuka selimut lalu turun dari tempat tidurnya."Uhh, Mama mandi, ngintip ahh, seperti apa sih Mama punya senjata? punyaku kalah nggak ya?", pertanyaan dalam benak Shin Chan.Didalam kamar mandi yang hanya ditutup separuh itu terlihat mamanya Shin Chan sedang telanjang sambil menunggu tingginya air dalam bathtub. Berdiri bersandarkan dinding kamar mandi tangan kanan mamanya Shin Chan mengusap-usap daerah kemaluannya sendiri dan sesekali memasukkan jari tengahnya kedalam vaginanya. Sementara itu tangan kirinya meremas payudaranya sambil memejamkan mata membayangkan burungnya Shin Chan.Shin Chan yang sedang mengintip keheranan melihat senjata mamanya yang hanya berupa lubang kecil yang ditumbuhi rambut-rambut halus tanpa ada moncongnya seperti miliknya. Lebih heran lagi ketika melihat payudara mamanya."Uhh, Mama punya 2 senjata, tapi kok diatas ya?", pertanyaan dalam benak Shin Chan.
Merasa ingin lebih jelas ia bergerak lebih maju tapi badannya menyenggol pintu kamar mandi sehingga mengejutkan mamanya.
"Shin Chan, kamu kok nakal sekali", teriak mamanya.Dengan nyengir di bibir Shin Chan berkata"Mama, Mama maafin Shin Chan".
Berhadap-hadapan dengan mamanya yang telanjang, piyama Shin Chan mulai terbuka bagian bawahnya karena tertonjol oleh batang kemaluan Shin Chan yang berdiri mengeras. Hal itu tak luput dari pandangan mamanya."Shin Chan kamu haru diberi pelajaran lagi karena nakal, kesini dan buka piyamamu", perintah mamanya.Shin Chan yang ketakutan hanya menuruti perintah mamanya. Dengan telanjang bulat ia masuk kedalam kamar mandi dan berdiri tepat didepan mamanya.Dengan tinggi badan Shin Chan, mukanya tepat menghadap pada daerah kemaluan mamanya."Mama, Mama mana senjatanya yang seperti punya Shin Chan?", tanya Shin Chan.
"Senjataku nggak kelihatan karena ada didalam, coba lihat", jawab mamanya Shin Chan."Mana, nggak kelihatan?", tanya Shin Chan.
"Memang nggak, tapi bisa mengeluarkan peluru, coba rasakan dengan lidahmu", perintah mamanya Shin Chan dengan menarik kepala Shin Chan hingga lidahnya menyentuh bibir vagina mamanya."Ohh, Shin Chan rasakan lubangnya dan masukin dengan lidahmu", perintah mamanya.Lidah Shin Chan akhirnya menemukan lubang vagina mamanya dan tanpa diperintah lagi bergerak-gerak secara bebas dalam liang kenikmatanan mamanya."Ahh, terus Shin Chan, lagi, jangan berhenti ohh.", ucap mamanya sambil mendesah keenakan.Tarikan tangan Mama semakin erat memegang kepala Shin Chan membuat Shin Chan agak gelagapan.
"Cepat Shin Chan, Mama mau keluarin pelurunya, ahh.", desah mamanya sambil menggelinjangkan tubuhnya.
Shin Chan merasakan semprotan kecil yang hangat dari dalam liang kenikmatan mamanya dan berusaha menelannya.
Selepas itu mereka berdua mandi bersama dalam bathtub yang telah terisi air hangat. Berdekapan dengan mamanya, tangan Shin Chan yang nakal meremas-remas payudara mamanya. Shin Chan kecil duduk dipangkuan mamanya, burungnya yang makin mengeras bergeseran dengan perut mamanya. Shin Chan terus meremas semua bagian tubuh mamanya yang sudah merebahkan tubuhnya. Seperti mendapatkan mainan baru, tubuh Shin Chan yang berada diatas tubuh mamanya bergerak keatas kebawah sambil merasakan rasa enak pada bagian burungnya karena bersentuhan dan bergeser dengan tubuh mamanya. Mamanya Shin Chan membiarkan tingkah polah anaknya pada tubuhnya menunggu tertumpuknya hasrat nafsu yang tak akan dibendungnya.
"Shin Chan, ayo kita adu senjata Shin Chan dengan senjata Mama", ajak mamanya Shin Chan."Mama, Mama gimana caranya?", tanya Shin Chan bingung."Masukin aja senjata Shin Chan kedalam lubang yang Shin Chan masuki lidah tadi, nanti didalam akan beradu sendiri", jawab mamanya menjelaskan."Ayo, ayo Ma, diadu, tapi yang kalah tandanya apa Ma?", tanya Shin Chan kembali.
"Yang mengeluarkan peluru duluan yang kalah", jawab mamanya.Mama Shin Chan kemudian mengatur posisi tubuh Shin Chan yang berada diatasnya agak ke belakang sehingga batang kemaluan Shin Chan tepat berada diatas vaginanya. Dipandu oleh tangan mamanya, ujung batang kemaluan Shin Chan masuk sedikit kedalam lubang vagina mamanya."Shin Chan ayo dorong biar masuk terus", ucap mamanya sudah tak sabar."Mama, Mama rasanya geli", jawab Shin Chan polos.Ditariknya tubuh Shin Chan oleh mamanya sehingga seluruh batang kemaluan Shin Chan masuk dalam vagina mamanya."Ahh, ah.", desah mamanya merasakan kenikmatan gesekan burung Shin Chan dengan liang kenikmatannya yang lain dibandingkan burung milik suaminya.
"Uhh, mmh, mmff, enaak Ma", kata Shin Chan kegirangan."Shin Chan, cepat kamu maju mundur tapi jangan sampai lepas ya senjatamu", perintah mamanya lagi.Menuruti kata-kata mamanya, Shin Chan terus melakukan gerak maju dan mundur dan semakin lama semakin cepat hingga membuat gelombang yang lumayan dalam bathtub. "Shh, aah, terus Shin Chan", desah mamanya.
"Mmh, mmff, iya Ma", kata Shin Chan mengiyakan.Beberapa saat kemudian Shin Chan berkata"Mama, Mama aku mau keluarin pelurunya"."Tahan Shin Chan.", ucap mamanya sambil mepercepat gerakan tubuhnya untuk mengimbangi gerak maju mundur Shin Chan.Lalu didekapnya tubuh Shin Chan yang sudah kelihatan tak dapat menahan ejakulasinya."Mamaa..", ucap Shin Chan lirih dibarengi rasa denyutan dari batang kemaluannya.Satu sentakan aliran cairan hangat dari batang kemaluan Shin Chan segera dirasakan oleh dinding-dinding liang kenikmatan mamanya.Lalu mamanya menggendong tubuh Shin Chan kecil yang sudah didekapnya. Dalam gendongan mamanya yang dalam posisi bediri Shin Chan menguncikan kakinya pada bagia belakang tubuh dan kaki mamanya agar tak jatuh. Dalam gendongan mamanya ini Shin Chan merasakan tubuhnya digoyang keras oleh mamanya sehingga gesekan yang ia rasakan pada batang kemaluannya semakin ia rasakan enaknya. Sehingga meluncurlah peluru-peluru berikutnya tak tertahankan lagi. Sementara itu mamanya juga merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sehingga iapun mencapai puncaknya. Gelinjang tubuh mamanya seakan tak mau berhenti mengeluarkan segalanya dari dalam liang kenikmatannya yang terdalam.
Ahhh Ommm..Enak banget sih batangnya...
Aku yang sudah merasa lemas akhirnya tak mampu bergerak lagi. Aku lega sejauh ini aku masih mampu mempertahankan mahkota keperawananku. Aku langsung tertidur. Mungkin Oom Heru juga ikut tertidur. Karena aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Aku bangun ketika aku merasakan geli saat payudaraku ada yang menjilati. Aku membuka mata dan kulihat Oom Heru sedang sibuk menyedot kedua payudaraku secara bergantian. Kembali aku harus menggelinjang dan nafsuku perlahan mulai bangkit. Tubuh telanjang Oom Heru menindihku. Tubuhnya yang tinggi besar membuat tubuhku seolah-olah tenggelam dalam spring bed. Tanpa kusadari tanganku pun mulai bergerak meremas-remas rambut Oom Heu yang sedang sibuk melumat kedua puting payudaraku bergantian. Tubuh kami sudah mulai basah oleh peluh kami yang mulai mengucur deras. Dalam posisi seperti itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal mengganjal diatas perutku. Semakin lama benda yang terjepit di antara perut kami itu makin mengeras dan terasa panas. Ohh, ternyata benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Oom Heru yang mulai mengeras. Perlahan namun pasti lidah Oom Heru mulai menelusuri setiap lekuk liku tubuhku. Tanpa rasa jijik dijilatinya ketiakku yang bersih mulus, karena aku memang rajin mencabuti bulu ketiakku. Rasanya geli luar biasa diperlakukan seperti itu. Lidahnya yang basah dan panas seolah-olah menggelitik ketiakku. Setelah puas menjilati kedua ketiakku bergantian, lidah Oom Heru mulai menelusuri tubuhku bagian samping ke aras bawah. Sekarang pinggangku dijadikannya sasaran jilatannya. Aku semakin tak mampu menahan diri. "Oshhh.. Ohhh Omm.. Ohh" aku hanya mampu merintih. Karena bukan hanya itu rangsangan yang diberikannya. Tangannya yang nakal ternyata tak tinggal diam. Ditangkupkannya telapak tangannya yang besar ke bukit kemaluanku lalu dengan gerakan lembut diremas-remasnya bukit kemaluanku. Beberapa saat kemudian sambil bibirnya menjilati perut bagian bawahku, jari jari Oom Heru mulai bergerak menyusuri celah hangat di antara bibir kemaluanku yang sudah sangat basah. Jarinya bergerak sepanjang celah itu dari atas ke bawah hingga menyentuh lubang analku. Dengan dibantu cairan yang keluar dari liang kemaluanku jarinya mulai dimasuk-masukkan ke dalam lubang analku hingga lubang analku kurasakan mengedut-ngedut. Tiba-tiba Oom Heru membalik posisi tubuhnya. Wajahnya sekarang menghadap ke selangkanganku dan selangkangannya pun dihadapkannya ke wajahku. Sekarang aku dapat melihat tanpa malu-malu lagi bentuk kemaluan laki-laki. Batang kemaluan Oom Heru yang sudah sangat keras menggantung di atas wajahku. Uratnya yang seperti tali kelihatan menonjol sepanjang batang kemaluannya yang berwarna hitam kecoklatan. Gagah sekali bentuknya seperti meriam kecil antik yang banyak kulihat dijual di sekitar candi Borobudur sana. Aku tidak sempat mengagumi benda itu berlama-lama, karena tiba-tiba kurasakan batang kemaluan itu mengganjal tepat di bibirku. Rupanya Oom Heru menginginkan batang kemaluannya kujilati seperti tadi. Aku pun membuka bibirku dan dengan lembut mulai menjilati ujung batang kemaluannya yang mengkilat. Tubuhku pun tersentak dan tanpa sadar pantatku terangkat ke atas saat bibir Oom Heru mulai menciumi bukit kemaluanku. Bibirnya dengan gemas menyedot labia mayoraku lalu disisipkannya lidahnya ke dalam bibir kemaluanku. Saking gelinya tanpa sadar kedua kakiku menjepit kepala Oom Heru untuk lebih menekankan wajahnya ke bukit kemaluanku. Oom Heru pun menekan pantatnya ke bawah hingga batang kemaluannya lebih dalam memasuki mulutku. Aku hampir tersedak dan susah bernapas karena batang kemaluan oom Heru yang besar itu menyumpal mulutku dan ujungnya hampir menyentuh kerongkonganku, sementara rambut kemaluannya yang sangat lebat menutupi hidungku!! Aku gelagapan hingga tanpa sadar kucengkeram pantat Oom Heru agar mengangkat pantatnya. Rupanya tindakanku berhasil karena Oom Heru mengangkat pantatnya sedikit hingga aku dapat bernapas lega. (Pembaca dapat membayangkan bagaimana rasanya hidung pembaca tersumpal jembut... Eh rambut kemaluan laki-laki!! Sudah baunya apek... Ting kruntel lagi kayak indomie pula!! Sedangkan mulut tersumpal batang kemaluan!!) Tubuhku semakin menggeliat liar saat lidah Oom Heru mulai menggesek-gesek kelentitku. Kelentitku rasanya membengkak dan berdenyut-denyut seolah mau pecah. Mataku sudah membeliak hampir terbalik. Aku merasa hampir mengalami orgasme lagi... Namun saat desakan di bagian bawah perutku hampir meledak tiba-tiba Oom Heru menjauhkan bibirnya dari selangkanganku. Aku kecewa sekali rasanya. Orgasme yang hampir kuperoleh ternyata menjauh lagi. Ternyata ini memang taktik Oom Heru agar aku penasaran. Oom Heru mengubah posisi lagi. Kini wajahnya menghadap ke wajahku lagi. Tubuhnya ditempatkannya di antara kedua pahaku yang memang sudah terbuka lebar. Kemudian bibirnya mencium bibirku dengan lembut. Akupun membalasnya. Lidah kami saling berkutat. Sementara itu tubuh bagian bawah Oom Heru mulai menekan selangkanganku. Hal ini kurasakan dari tekanan batang kemaluan Oom Heru yang terjepit bibir keamaluanku, walaupun belum masuk ke dalam liang kemaluanku tentunya!! Hangat sekali rasanya batang kemaluan itu. Nikmat sekali rasanya gesekan-gesekan yang ditimbulkannya saat pantatnya bergerak maju-mundur. "Oomhh.. Ja.. Jangan dimasukkan..!" kataku sambil tersengal-sengal menahan nikmat. Aku tidak tahu apakah permintaan aku itu tulus atau tidak, sebab sejujurnya aku juga ingin merasakan betapa nikmatnya ketika batang kemaluan yang besar itu masuk ke lubang kemaluanku. "Oke.. Sayang... Kalau nggak boleh dimasukkan, Oom gesek-gesekkan di bibirnya saja ya..?" jawab Oom Heru juga dengan napas yang terengah-engah. Kemudian Oom Heru kembali memasang ujung batang kemaluannya tepat di celah-celah bibir kemaluanku. Aku merasa gemetar luar biasa ketika merasakan kepala batang batang kemaluan itu mulai menyentuh bibir kemaluanku. Lalu dengan perlahan digoyangkanya pantatnya hingga batang kemaluannya mulai menggesek celah bibir kemaluanku. Hal ini berlangsung beberapa saat dengan irama yang teratur seperti pemain biola yang menggesek biolanya dengan khidmat. Rupanya Oom Heru tidak puas dengan cara seperti itu (Aku pun juga kurang puas sebenarnya..! Tapi gengsi dong masak cewek minta duluan!!). "Oom masukkin dikit ya sayang.." bisik Oom Heru dengan napasnya mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya sudah semakin meningkat. Aku sendiri yang juga sudah sangat terangsang dan tidak berdaya karena sudah terbakar birahi hanya diam saja. Karena aku hanya diam, Oom Heru lalu memegang batang kemaluannya dan dicucukannya ke celah-celah bibir kemaluanku yang sudah sangat licin. Dengan pelan didorongnya pantatnya hingga akhirnya ujung kemaluan Oom Heru berhasil menerobos bibir kemaluanku. Aku menggeliat hebat ketika ujung batang kemaluan yang besar itu mulai menyeruak masuk. Walaupun mulanya sedikit perih, tetapi perlahan namun pasti ada rasa nikmat yang baru kali ini kurasakan mulai mengalahkan perihnya selangkanganku. Seperti janji Oom Heru, batang kemaluannya yang seperti lengan bayi itu hanya dimasukkan sebatas ujungnya saja. Meskipun hanya begitu, kenikmatan yang kurasa betul-betul membuatku hampir berteriak histeris. Sungguh batang kemaluan Oom Heru itu luar biasa nikmatnya. Liang kemaluanku serasa berdenyut-denyut saat menjepit ujung topi baja batang kemaluan Oom Heru yang bergerak maju-mundur secara pelahan. Oom Heru terus menerus mengayunkan pantatnya Mamaju-mundurkan batang batang kemaluan sebatas ujungnya saja yang terjepit dalam liang kemaluanku. Keringat kami berdua semakin deras mengalir, sementara mulut kami masih terus berpagutan. "Sakkith.. Oomhh..?" Aku menjerit pelan saat kurasakan betapa batang kemaluan oom Heru menyeruak semakin dalam. Namun rasa perih itu perlahan-lahan mulai menghilang saat Oom Heru menghentikan gerakan batang kemaluannya yang begitu sesak memenuhi liang kemaluanku. Rasa sakit itu mulai berubah menjadi nikmat karena batang kemaluannya kurasakan berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku. Lalu aku semakin mengawang lagi saat lidah Oom Heru yang panas mulai menyapu-nyapu seluruh leherku dengan ganasnya. Bulu kudukku serasa merinding dibuatnya. Aku tak sadar lagi saat Oom Heru kembali mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya yang terjepit erat dalam laing kemaluanku semakin menyeruak masuk. Aku yang sudah sangat terangsang pun tak sadar akhirnya menggoyangkan pantatku seolah-olah memperlancar gerakan batang kemaluan Oom Heru dalam liang kemaluanku. Kepalaku tanpa sadar bergerak-gerak liar merasakan sensasi hebat yang baru kali ini kurasakan. Liang kemaluanku semakin berdenyut-denyut dan ada semacam gejolak yang meletup-letup hendak pecah di dalam diriku. Aku tak tahu entah bagaimana, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan yang besar itu telah amblas semua kevaginaku. Bless... Perlahan tapi pasti batang kemaluan yang besar itu melesak ke dalam libang kemaluanku. Vaginaku terasa penuh sesak oleh batang batang kemaluan Oom Heru yang sangat-sangat besar itu. Ada rasa pedih menghunjam di perut bagian bawahku. Oohhh rupanya mahkotaku sudah terenggut. "Akhh.. Sakk... Kitthh.. Oomhh.." aku merintih dan tanpa sadar air mataku menetes. Ada sebersit rasa penyesalan dalam diriku, mengapa aku begitu mudah menyerahkan mahkotaku yang paling berharga. "Oomh.. Kok dimaassuukiin seemmua.. Ah..?" tanyaku. "Maafkan Oom saayang. Oom nggak tahhan..!" ujarnya dengan lembut. Ia pun menghentikan gerakan pantatnya. Air mataku mengalir tanpa dapat kutahan lagi. "Jangan menangis sayang.." bisik Oom Heru di telingaku, "Oom sayang kamu" Ada secercah rasa bahagia saat kudengar bisikan mesranya di telingaku. Aku pun terdiam dan ia pun terdiam. Kami terdiam beberapa saat. Ooh betapa indahnya.. Dalam diam itu aku dapat merasakan kehangatan batang kemaluannya yang hangat dalam jepitan liang kemaluanku. Kembali rasa nikmat menggantikan rasa sakit yang tadi menghentakku. Kurasakan batang kemaluannya mengedut-ngedut dalam jepitan liang kemaluanku. Kemudian dengan perlahan sekali Oom Heru mulai mengayunkan pantatnya hingga kurasakan batang kemaluannya menyusuri setiap inci liang kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Aku tak sempat mengerang karena tiba-tiba bibir Oom Heru sudah melumat bibirku. Lidahnya menyeruak masuk mulutku dan mencari-cari lidahku. Aku pun membalasnya. "Hmmgghh" Kudengar Oom Heru mendengus tanda birahinya sudah mulai meningkat. Gerakan batang kemaluannya semakin mantap di dalam jepitan liang kemaluanku. Aku merasakan betapa batang kemaluanya yang keras menggesek-gesek kelentitku. Aku pun mengerang dan tubuhku bergerak liar menyambut gesekan batang kemaluannya. Pantatku mengangkat ke atas seolah-olah mengikuti gerakan Oom Heru yang menarik batang kemaluannya dengan cara menyendal seperti orang memancing hingga hanya ujung batang kemaluannya yang masih terjepit dalam liang kemaluanku. Lalu setelah itu didorongnya batang kemaluannya dengan pelahan hingga ujungnya seolah menumbuk perutku. Dilakukannya hal itu berulang-ulang. Aku merasa ada semacam sentakan dan kedutan hebat saat Oom Heru menarik batang kemaluannya dengan cepat! (Belakangan aku baru tahu kalau itu namanya teknik sendal pancing setelah Oom Heru menceritakannya! Intinya teknik ini adalah mendorong secara pelan hingga batang kemaluannya masuk seluruhnya lalu menarik dengan cepat seperti orang menyendal saat memancing hingga hanya ujung batang kemaluannya yang masih tertinggal! Wow.. Ternyata teknik inilah yang kurasakan paling nikmat dan menjadi teknik favoritku!! Pembaca bisa mencobanya dan wanita ditanggung akan ketagihan deh!!). Napasku semakin terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin tak tertahankan. Begitu besarnya batang kemaluan Oom Heru, sehingga lubang vaginaku terasa sangat sempit. Sementara karna tubuhnya yang berat, batang kemaluan Oom Heru semakin menyeruak ke dalam liang kemaluanku dan melesak hingga ke dasarnya. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang kemaluan Oom Heru menggesek-gesek dinding liang kemaluanku. Tanpa sadar aku pun mengimbangi genjotan Oom Heru dengan menggoyang pantatku. Semakin lama, genjotan Oom Heru semakin cepat dan keras, sehingga tubuhku tersentak-sentak dengan hebat. Slep... slep... slep... sleep... bunyi gesekan batang kemaluan Oom Heru yang terus memompa liang kemaluanku. "Akhh...! Aakhh.. Oomhh..!" erangku berulang-ulang. Benar-benar luar biasa sensasi yang kurasakan. Oom Heru benar-benar telah menyeretku menuju sorga kenikmatan. Persetan dengan keperawananku. Aku sudah tak peduli apapun. Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan nikmat yang luar biasa dari ujung kepala hingga ujung kemaluanku!! Tubuhku mengelepar-gelepar di bawah genjotan tubuh Oom Heru. Seperti tidak sadar, aku dengan lebih berani menyedot lidah Oom Heru dan kupeluk erat-erat tubuhnya seolah takut terlepas. "Ooh.. Oomh.. Akhh..!" akhirnya aku menjerit panjang ketika hampir mencapai puncak kenikmatan. Tahu aku hampir orgasme, Oom Heru semakin kencang menyendal-nyendal batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku. Saat itu tubuhku semakin menggelinjang liar di bawah tubuh Oom Heru yang kuat. Tidak lama kemudian aku benar-benar mencapai klimaks. "Ooh.. Aauuhh.. Oomh...!" Jeritku tanpa sadar. Seketika dengan refleks jari-jariku mencengkeram punggung Oom Heru. Pantatku kunaikkan ke atas menyongsong batang kemaluan Oom Heru agar dapat masuk sedalam-dalamnya. Lalu kurasakan liang kemaluanku berdenyut-denyut dan akhirnya aku seolah merasakan melayang. Tubuhku serasa seringan kapas. Aku benar-benar orgasme!! Gerakanku semakin melemah setelah kenikmatan puncak itu. Oom Heru menghentikan sendalannya. "Bagaimana rasanya sayang..!" bisik Oom Heru lembut sambil mengecup pipiku. Aku pun hanya terdiam dan wajahku merona karena malu. "Istirahat dulu ya sayang" bisiknya lagi. Oom Heru yang belum orgasme membiarkan saja batang kemaluannya terjepit dalam liang kemaluanku. Kami kembali terdiam. Mungkin Oom Heru sengaja membiarkan aku untuk menikmati saat-saat kenikmatan itu. Aku kembali mengatur napasku sementara kurasakan batang kemaluan Oom Heru terus mengedut-ngedut dalam jepitan liang kemaluanku. Tubuh kami sudah mengkilat karena basah oleh keringat. Memang udara saat itu panas sekali, apalagi kami juga habis bergumul hebat ditambah kamar itu tidak ber AC, hanya kipas angin yang membantu menyejukkan ruangan yang sudah berbau mesum itu. Setelah beberapa saat Oom Heru yang belum orgasme itu mulai menggerak-gerakkan batang kemaluannya maju mundur. Kali ini dia bergerak tidak menyendal-nyendal lagi. Masih dengan posisi seperti tadi, yaitu kakiku menjuntai ke lantai dan pantatku terletak di tepi pembaringan. Sedangkan oom Heru tetap posisi setengah berdiri karena kakinya masih di lantai. Kembali gejolak birahiku terbangkit. Dengan sukarela aku menggoyangkan pinggulku seirama dengan gerakan pantat Oom Heru. Rasa nikmat kembali naik ke ubun-ubunku saat kedua tulang kemaluan kami saling beradu. Gerakan batang kemaluan Oom Heru semakin lancar dalam jepitan liang kemaluanku. Meskipun masih ada rasa sedikit ngilu, kubiarkan Oom Heru memompa terus lubang kemaluanku. Aku yang sudah cukup lelah hanya bergerak mengimbangi ayunan batang kemaluan Oom Heru yang terus memompaku. Batang kemaluannya yang hitam kecoklatan dan sudah berkilat karena basah oleh cairan licin yang keluar dari kemaluanku tanpa ampun menghajar liang kemaluanku. Edan tenan!! Liang kemaluanku dimasuki batang kemaluan sebesar itu. Kalau akau tak malu ingin rasanya aku menjerit meneriakkan kata-kata Oom Timbul dalam iklan jamu yang terkenal "Uenak tenaaann!". Memang enak, bagi yang belum pernah merasakan boleh coba! Ditanggung ketagihan. Memang kupikir-pikir mendingan enak ngeseks begini daripada ikut-ikutan teman kuliahku yang sok idealis berdemo panas-panasan!! Memang banyak teman yang ngajak aku berdemo, tapi aku emoh! Ngapain toh enggak ada untungnya! Paling-paling kita cuman diperalat sama pemimpin demo! (Rupanya ada benarnya juga pilihan yang kuambil untuk tidak ikut-ikutan berdemo! Soalnya ternyata ketahuan ada beberapa rekan yang terima duit dari demo itu!) Oom Heru semakin lama semakin kencang memompakan batang kemaluannya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi dan leherku dan kedua tangannya meremas kedua buah dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti itu nafsuku semakin memuncak kembali. Kurasakan kenikmatan mulai menjalar lagi. Bermula dari selangkanganku kenikmatan itu menjalar ke putingku lalu ke ubun-ubunku. Aku lalu balik membalas ciuman Oom Heru, pantatku bergerak memutar mengimbangi batang kemaluan Oom Heru yang dengan perkasa menusuk-nusuk lubang kemaluanku. Gerakan Oom Heru mulai semakin liar. Napasnya mendengus seperti kerbau gila! (Mungkin kerbau kalau lagi gila begini kali ya?) Pantatku kuputar-putar, kiri-kanan semakin liar untuk menggerus batang batang kemaluan Oom Heru yang terjepit erat dalam lubang kemaluanku. Aku pun semakin tak mampu menahan diri. Kusedot lidah Oom Heru yang menyelusup ke dalam mulutku. Tubuh Oom Heru mengejat-ngejat seperti orang tersengat listrik karena kenikmatan. Lalu di saat aku menjerit panjang saat merasakan orgasme untuk yang ke sekian kalinya. Oom Heru pun mengejat-ngejat. "Ough.. Ugh... Ughhh" dengan napas yang terengah-engah, Oom Heru yang berada diatas tubuhku semakin cepat menghunjamkan batang kemaluannya. Lalu Crrtt.. Crrtt.. Crrttt... Crttt... Crttt... Aku merasakan betapa batang kemaluan Oom Heru menyemprotkan air maninya dalam kehangatan liang kemaluanku. Matanya membeliak dan tubuhnya terguncang hebat. Batang kemaluannya mengedut-ngedut hebat saat menyemburkan air maninya. Aku merasakan ada semprotan hangat di dalam sana, nikmat sekali rasanya. Rupanya kami mencapai orgasme bersama yang dahsyat
Kisah panas persetubuhan senggama nikmat
Kali ini akan kuceritakan pengalaman pertamaku melakukan hubungan sex atau make love (ML) yang sebenarnya. Ini kulakukan saat aku memasuki bangku kuliah di Universitas Airlangga (Unair) . Aku memang kuliah di sana mengambil jurusan kedokteran hewan. Di antara teman cowokku saat itu, yang paling akrab denganku adalah Charles, anaknya cukup ganteng dan pandai.Namun sayangnya Charles akhirnya tidak meneruskan kuliahnya karena dia merasa patah hati denganku (bukan GR lho!). Charles memang merupakan cowok yang pertama kali merasakan mahkota kegadisanku, kulakukan semua itu dengan suka rela tanpa ada tuntutan.Kuanggap saat itu kami memang saling suka sama suka dan saling membutuhkan, bukan berarti itu sebagai suatu ikatan yang mana aku harus bersedia menjadi istri Charles kelak. Hal inilah yang membuat Charles akhirnya harus terpukul dan patah hati, karena setelah kupersembahkan mahkota kegadisanku, Charles merasa harus bertanggung jawab dan akan menikahiku. Sedangkan aku tidak ingin mendapat ikatan apa-apa, maka akhirnya Charles patah hati dan berhenti kuliah, sejak saat itu aku juga tidak tahu dia ada dimana, kalau seandainya saat ini di manapun Charles berada dan sedang membaca kisahku ini, aku mohon maaf, bukannya aku bermaksud menyakiti hatinya, tapi begitulah aku, Natalia yang masih tetap seperti yang dulu.Sejak awal perkenalanku dengan Charles, kami memang telah merasa saling cocok satu sama lain. Banyak hal yang kami selalu lakukan dan lalui bersama, entah bagaimana perasaan Charles padaku saat itu, namun aku menganggap Charles tak lebih sebagai seorang teman yang akrab dan enak diajak berbincang maupun bergaul, atau mungkin sebagai kakak yang bisa diajak curhat misalnya.Hubungan kami makin hari makin dekat dan akrab, kami juga mengawali dengan saling berciuman, berpelukan sambil terkadang saling raba dan saling remas, tentunya di tempat-tempat sepi yang memungkinkan. Belakangan kami juga sering melakukan petting atau oral sex.Kalau yang satu ini kami lakukan terkadang di rumahku saat tidak ada siapa-siapa, terkadang juga di tempat kost Charles, atau di losmen-losmen murah dengan membayar patungan, maklum Charles bukan asli anak , kedua orang tuanya asli dan tinggal di Medan sana.Kami gapai kepuasan itu melalui hubungan oral sex, kami saling cium, saling lumat dan saling cumbu. Tangan-tangan kami saling meraba dan mengelus daerah sensitif kami masing-masing, hingga pada puncaknya kami saling jilat dengan posisi 69. Kepala Charles membenam di selangkanganku, mengoral vaginaku dan menjilati klitorisku.Sebaliknya aku juga sibuk mengocok batang kemaluan Charles sambil mulutku mengulum kepala batang kemaluannya, kujilat biji pelirnya hingga ke bagian kepala batang kemaluannya. Awalnya aku tidak mengizinkan sperma Charles tumpah keluar di mulutku, namun akhir-akhirnya sering kali kubiarkan spermanya menyembur di dalam mulutku.Bahkan beberapa kali sperma itu yang awalnya tidak sengaja tertelan menjadi sengaja kutelan sampai habis. Memang awalnya aku merasa jijik dan hampir mau muntah rasanya, apa lagi kalau semburan spermanya muncrat dengan keras hingga langsung menyumbat kerongkonganku.Memang pengalaman adalah guru yang terbaik, akhirnya aku pun terbiasa dan boleh dibilang piawai dalam melakukan oral sex sampai lawan mainku orgasme, dan spermanya menyembur keluar di mulutku, kemudian langsung kutelan habis sampai bersih kembali.Hal yang sama justru sudah dilakukan Charles sejak dari awal kami melakukan hubungan oral sex, dan Charles pula yang mengawali mengoral vaginaku, jauh hari sebelum aku berani dan mau melakukan oral sex pada dirinya. Charles selalu tidak membiarkan cairan hangat yang keluar dari dalam liang vaginaku, tumpah begitu saja membasahi sprei tempat tidur yang kami pakai.Charles selalu menjilat dan menelas habis semua cairan beningku saat aku mengalami orgasme saat dioralnya, soal kenikmatan yang kualami saat itu, sungguh sangat sulit kulukiskan dengan kata-kata, karena rasanya tidak ada kata atau kalimat yang dapat mengartikan bagaimana nikmatnya saat orgasme itu.Suatu siang yang tanggal dan harinya aku sudah lupa, aku dan Charles pulang kuliah agak siang karena memang tidak ada kegiatan di kampus. Kuajak Charles mampir ke rumahku seperti biasanya, dan waktu itu di rumahku juga sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku sibuk dengan urusannya masing-masing, sedang adikku ada yang masih kuliah dan yang kecil juga belum pulang dari sekolahnya.Suasana dan kondisi rumahku yang kosong dan sepi memungkinkan Charles untuk bebas mencumbuku, Charles mengawalinya dengan mencium lembut bibirku yang tipis dan mungil. Kami saling berciuman dan berpagutan, bibir kami saling mengulum, dan tangan kami saling meraba dan meremas daerah-daerah yang sensitif.Cukup lama kami bergumul di tempat tidurku, sampai akhirnya kami saling menanggalkan busana kami masing-masing, seperti biasanya saat kami melakukan oral sex. Lalu kami sudah telanjang bulat tanpa sehelai pun benang yang menutupi tubuh kami.
Dan cumbuan dan ciuman tadi sudah berubah menjadi jilatan yang kami lakukan, kami saling menjilati hingga mencapai posisi favorit kami yaitu 69. Ternyata aku lebih dahulu mengalami orgasme saat melakukan oral sex kali ini, aku benar-benar hanyut dan terobsesi dengan permainan lidah Charles yang menyapu rata setiap bagian vaginaku.Terus terang aku paling tidak tahan saat klitorisku dijilat apa lagi dikulum-kulum. Biasanya darahku seakan serentak secara bersamaan mengalir ke atas kepalaku dan berkumpul di ubun-ubun kepalaku, kalau sudah demikian bendungan pertahananku jebol diterjang badai dan gelombang birahiku yang dahsyat.Namun kali ini rupanya Charles lebih lama bertahan daripada biasanya, memang tidak biasanya Charles mampu mempertahankan orgasmenya sebegitu lama saat kukulum batang kemaluannya. Kali ini rupanya lain, dan karena orgasmenya tak kunjung tiba, Charles mengubah posisinya dengan menindih tubuhku dengan posisi kami saling berhadap-hadapan.Charles kembali mencium dan melumat bibirku, masih terasa sisi bekas lendirku yang menempel di mulut Charles, rasanya sedikit asin dengan aroma yang khas sekali, karena aku juga pernah menjilati jari-jariku setelah melakukan masturbasi, saat itu jari-jariku juga dipenuhi oleh cairan kenikmatan sisa orgasmeku.Sambil menciumku, Charles memegang batang kemaluannya dan menggosok-gosokkan ujung kepala batang kemaluannya di antara celah belahan bibir vaginaku, aku merasakan geli yang bercampur kenikmatan, ada rangsangan tersendiri yang kurasakan saat itu, sehingga membuat liang vaginaku kembali basah dibanjiri oleh cairan birahi yang mengalir dari dalam rahimku.
Charles mulai menusuk-nusukkan ujung kepala batang kemaluannya di celah liang vaginaku, desakan batang kemaluannya terasa agak sakit saat memasuki terlalu dalam ke liang vaginaku, hingga terkadang aku sedikit tersedak dan mengaduh, namun lama kelamaan aku juga menjadi tidak tahan dengan perlakuan seperti itu, ingin rasanya aku merasakan batang kemaluan Charles dimasukkan lebih dalam lagi ke liang vaginaku.Charles sepertinya juga tahu apa yang kumau, ia mulai menggosokkan batang kemaluannya masuk lebih dalam lagi ke liang vaginaku. Aku kembali merasakan sakit di dalam liang vaginaku yang memang belum pernah dimasuki benda apa pun, kali ini ada sedikit rasa perih dari dalamnya.Charles rupanya juga mengerti akan hal itu, dan ia tidak melanjutkannya dengan gegabah, sambil sesekali meneruskan dorongannya agar batang kemaluannya masuk lebih dalam lagi, Charles juga memberikan aku waktu luang untuk menarik nafas menahan rasa sakit dan perih yang bercampur nikmat di vaginaku.
Akhirnya setengah dari batang kemaluan Charles berhasil menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku, dan Charles mulai memompanya pelan-pelan sambil terus melakukan tekanan hingga batang kemaluannya benar-benar dapat masuk secara utuh di dalam kemaluanku.Rasa sakit dan perih yang kualami juga makin lama makin hilang berganti dengan rasa nikmat yang selama ini belum pernah kualami. Charles makin mempercepat pompaannya, batang kemaluannya digenjot keluar masuk di liang vaginaku, yang makin becek oleh lendir yang tak terbendung, keluar dari dalam rahimku."Oo.. Ooh! Aduu.. Uuh!"Aku hanya bisa menyeracau tidak karuan, tanganku berusaha meraih apa saja yang ada di sekitarku, dan kain sprei tempat tidurku yang menjadi sasaran jambakan tanganku, kuremas kain spreiku hingga tempat tidurku makin acak-acakan. Tubuhku sedikit bergetar, kurasakan ada sesuatu yang aneh di dalam liang vaginaku, aku sepertinya sedang kencing namun bukan air seniku yang mengalir keluar, namun kutahu itu adalah semburan pelumasku, yang kembali membasahi liang vaginaku.Vaginaku mengedut kuat meremas batang kemaluan Charles yang masih asyik terus memompa liang vaginaku, kedutan vaginaku itu akhirnya juga membuat pertahanan Charles ikut jebol juga. Dapat kurasakan semburan dahsyat di dalam liang vaginaku saat Charles melepaskan orgasmenya.Cukup lama kami berpelukan sambil posisi batang kemaluan Charles masih tertancap di dalam liang vaginaku, kurasakan batang kemaluan Charles pelan-pelan kembali mengecil seukuran normal di dalam liang vaginaku. Cairan birahi kami berdua yang bercampur di dalam liang vaginaku merembes keluar melalui celah lipatan bibir vaginaku, belakangan baru kutahu diantara rembesan tersebut ada bercak merah yang membasahi sprei tempat tidurku.
Nikmatnya goyangan batang kemaluan dalam liang senggamaku..ahhhh
Biasanya para kaum wanita kalau berkuliah kebanyakan suka memakai celana panjang, namun aku lebih suka tetap memakai rok saja untuk bawahannya kalau sedang ke kampus. Rokku mini sekali dengan bawahan yang lebar, bentuknya seperti yang biasa dipakai oleh para cheerleader (pemandu sorak). Yang membedakan hanya dalamannya saja, biasanya para cheerleader masih menggunakan celana pendek di dalamnya walau agak mini untuk membungkus CD yang mereka pakai. Bedanya dengan diriku, aku tidak pernah memakai penutup lain untuk menutupi bagian tubuhku yang paling vital kecuali CD.CD yang kupakai sangat mini dan sexy, bentuknya G String dua jenis, yang satu model berenda dan yang satu lagi model tali tang terbuat dari nylon. Sexy sekali karena hanya ada seutas yang melingkari pinggangku, bedanya hanya yang tali nylon dengan ikatan di kiri kanan pinggangku, selebihnya sama saja ada bagian yang hanya selebar ukuran satu jari turun dari belakang pinggang mengitari selangkangan melalui belahan pantatku. Hanya ada secarik kain yang lebarnya tidak lebih dari ukuran dua jari di bagian depan yang fungsinya hanya mampu menutupi lubang vaginaku. Yang berenda berbentuk hati kecil ada renda di pinggirannya, sedang yang model bertali, bentuk penutup bagian depannya berbentuk segitiga kecil, tipis dari bahan sutera.Sebagai atasannya aku lebih sering memakai hem lengan pendek agak longgar. Kupilih ini karena aku memang tidak pernah memakai BH di dalamnya. Seperti kisahku terdahulu, aku memang sejak kecil tidak suka dan tidak pernah memakai BH hingga tak heranlah sampai detik ini aku juga tidak mengetahui berapa besar ukuran payudaraku.
Payudaraku tidak terlalu besar. Ukurannya sedang-sedang saja tetapi bentuknya cantik dan padat. Warna puting susuku dan sekitarnya merah muda sedikit kecoklatan, sungguh menggairahkan sekali. Untuk yang satu ini aku sering mendapat pujian dari kaum lelaki yang sudah pernah melihat atau meremas payudaraku.Terus terang dosenku yang cowok sering kali harus menelan ludah apa bila melihat penampilanku. Apa lagi saat melihatku duduk dengan berpangku kaki hingga bagian atas pahaku tersingkat sedikit ke atas. Pahaku yang mulus itu juga ditumbuhi bulu-bulu halus yang menurut istilah beberapa orang temanku, itu namanya bulu-bulu monyet.Aku kuliah di Universitas Airlangga (Unair) , mengambil jurusan kedokteran hewan dan saat ini aku sudah menjadi seorang dokter hewan yang magang di Kebun Binatang (KBS). Kali ini aku ingin menuliskan kisahku tentang pengalaman pertamaku bercinta sungguhan (ML) yang kulakukan saat masih duduk di bangku kuliah.Aku berkenalan dengan seorang mahasiswa yang juga mengambil jurusan yang sama denganku, namanya Hamid asal juga, namun akhirnya Hamid tidak meneruskan kuliahnya karena patah hati denganku. Sekarang entah Hamid ada dimana aku sendiri juga tidak pernah tahu.Hubunganku dengan Hamid akrab sekali, sehingga pertama kali aku melakukan hubungan sex yang sebenarnya juga dengannya. Kupersembahkan kegadisanku pada Hamid yang betul-betul sangat mencintaiku. Namun aku masih tidak ingin melanjutkan hubungan itu dengan serius karena apa yang kulakukan bersama Hamid bagiku hanyalah suatu pelampiasan atas kebutuhan biologisku saja.Hal ini rupanya membuat Hamid patah hati dan akhirnya drop out dari kampus, dan entah kini kemana dia aku juga tidak pernah mendengar kabar beritanya lagi sejak kami berpisah dulu. Kalau kebetulan Hamid yang kumaksud sedang membaca kisahku ini, aku mohon maaf padamu, karena aku memang belum bisa jatuh cinta dengan siapapun hingga saat ini.Hubunganku dengan Hamid sebenarnya biasa saja seperti remaja lain saat berpacaran. Kami sering berciuman baik di mobil, di kampus maupun di rumah, pokoknya di mana saja kalau ada kesempatan untuk melakukannya. Kami juga sering saling meraba bagian-bagian sensitif kami. Lebih sering Hamid mengajakku ke rumahnya yang keadaannya memang selalu sepi itu, karena Hamid adalah anak tunggal yang kedua orang tuanya selalu sibuk di luar, jadi sekali lagi praktis rumah Hamid yang tidak terlalu besar di kawasan Ngagel itu selalu dalam keadaan sepi.Hal ini sangat menguntungkan bagi kami berdua. Di rumahnya itulah aku pertama kalinya merasakan nikmatnya ML. Kami bercumbu, berciuman di atas tempat tidur di kamar Hamid. Mulut Hamid menciumi bibirku yang mungil dan tipis, lumatannya membuatku sangat bergairah sekali.Sambil melumat bibirku, jari tangan Hamid melepaskan kancing bajuku satu persatu hingga terlepas semua dan langsung ditanggalkannya hem yang kukenakan hingga bagian atas tubuhku terbuka polos tanpa sehelai benang pun. Hamid langsung memegang dan meremas-remas payudaraku hingga aku jadi sangat terangsang oleh perlakuannya.Kulepas dengan menarik ke atas kaos yang dipakai Hamid dan dia pun membantu untuk melepaskannya. Selanjutnya kubuka kancing celana jeans yang ia pakai, kuturunkan gespernya dan Hamid pun membantu untuk melepaskan sendiri celana yang masaih ia kenakan berikut CD-nya sehingga Hamid terlebih dahulu telanjang bulat di hadapanku.Lalu kuraba seluruh bagian tubuhnya, kuraih batang kemaluannya yang sudah mengeras dan berdiri tegak bagaikan tugu pahlawan. Aku merasa sedikit aneh karena tanganku tidak menyentuh bulu kemaluan Hamid. Rupanya Hamid rajin mencukur habis bulu kemaluannya sehingga bagian kemaluannya tampak bersih dan polos. Hanya ada sedikit bulu di bagian tertentu saja. Ada bagian yang terasa sedikit kasar karena bulu-bulu kemaluannya mulai tumbuh, sehingga ujung-ujungnya yang tajam terasa sedikit kasar bila tersentuh, namun ini justru membuat rangsangan tersendiri bagiku. Penis Hamid lumayan besar dan panjang, diameternya sekitar 6 cm dengan panjangnya sekitar 17 cm.Mulut Hamid menjelajahi wajahku hingga seluruh bagian leher dan telingaku. Lidahnya dijulurkan menjilati seluruh bagian leherku. Sesekali Hamid memberikan kecupan di leherku dan lidahnya menjalar ke bagian belakang telingaku. Lubang telingaku pun tak luput dari sapuan lidahnya. Tangannya membuka pengait rok miniku dan kini kubantu memerosotkannya dengan bantuan kedua kakiku. Tangan hamid langsung meraba bagian luar CD yang kupakai. Ikatan tali nylon G Stringku di samping pinggang ditariknya sehingga terlepas sudah penutup akhir di tubuhku dan CD-ku dilempar jauh ke lantai.Kini kami sudah sama-sama bugil, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami lagi. Lalu kami saling bergumul, bibir kami kembali saling lumat dan tangan kami pun saling meraba bagian sensitif lawan masing-masing. Nafsu birahiku naik ke ubun-ubun rasanya. Vaginaku yang sudah basah sejak tadi jadi menjadi semakin basah saja.Cairan bening yang mengalir keluar dari dalam liang vaginaku seakan tak terbendung lagi, semakin lama alirannya semakin deras saja. Entah sudah berapa banyak cairan kenikmatanku keluar membanjir hingga sekitar selangkanganku. Kemudian kuraih batang kemaluan Hamid sambil kukocok-kocokkan dengan sedikit kasar karena menahan gejolak rangsangan yang kualami.Mulut Hamid mencium bagian dadaku. Kedua payudaraku dicium dan dijilatinya secara bergantian. Lidahnya menyapu rata puting susuku. Ujung putingku dijilat dan dihisapnya sehingga menimbulkan rasa geli bercampur nikmat. Tangan hamid mulai menelusuri selangkanganku, seluruh bagian luar kemaluanku pun tidak luput dari belaian tangannya.Jari-jarinya digaruk-garukkan di belahan bibir vaginaku, hingga aku sedikit mendesah tertahan. Ujung jari tangan Hamid mulai memainkan klitorisku. Ujung klitorisku sedikit ditekan dengan ujung jarinya kemudian digesek-gesekkan secara teratur hingga aku mengaduh tapi bukan karena kesakitan."Aa.. Aacch!" pekikku nyaring sambil menggeliat tidak karuan.Rupanya aku telah mencapai orgasme hingga lendirku menyembur memenuhi bagian dalam liang senggamaku. Dapat kurasakan vaginaku mengedut sambil melepas lendir. Hamid semakin bergairah mencium dan menjilati bagian depan tubuhku. Jilatannya mengarah turun ke bawah menyapu setiap jengkal kulit tubuhku. Perut hingga lubang pusarku disapu dengan lidahnya. Dia semakin ke bawah ke arah paha, kembali naik ke atas menjilati bagian dalam paha, semakin naik lagi hingga pangkal paha, kemudian bibirnya menciumi bibir vaginaku. Dengan tanpa sedikit pun merasa jijik Hamid menjilati dan menelan cairan lendir bening dari vaginaku.Bibirnya mengulum bibir vaginaku dan lidahnya dijulurkan di antara belahan bibir vaginaku. Dapat kurasakan ujung lidahnya menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku sambil sesekali menyentuh dinding luar vaginaku yang kembali membasah lagi. Lidah Hamid menyapu ujung klitoris lalu mulutnya dibenamkan ke vaginaku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.Aku kembali tidak mampu membendung gelombang orgasmeku yang mengulung-gulung liar dari dalam tubuhku. Kujambak rambut Hamid yang kepalanya masih membenam di selangkanganku. Kutarik kepalanya agar lebih terbenam lagi di selangkanganku, kujepit kepalanya sambil kurasakan semburan lendir kembali membasahi liang vaginaku.
Hamid kembali menjilat dan menelan habis cairan yang keluar dari dalam liang vaginaku sebelum dia merambat naik kembali melumat bibirku sambil memegang dan mengarahkan batang kemaluannya di depan liang vaginaku. Digesek-gesekkan sebentar kepala kemaluannya di belahan bibir vaginaku, baru kemudian didorongnya sedikit hingga kepala kemaluannya mulai memasuki liang vaginaku."Aduuh..! Sakit..! Pelan dong!" jerikku menahan sakit yang bercampur nikmat.Hamid memberiku waktu untuk menarik napas sejenak, kemudian kembali dia mendorongkan batang kemaluannya agar masuk sedikit lebih dalam lagi."Aa.. Uuhh! Aduuh..!" jeritku kembali menahan rasa perih di dalam liang vaginaku.Hamid bukannya menarik keluar batang kemaluannya dari dalam liang vaginaku, tetapi dia malah menekan lebih dalam lagi, dan tekanannya se makin kuat dan akhirnya."Bleess.. Uu.. Uucch! Sleep..! Aa.. Aacch! Sleep..! Oo.. Oocch!" suara desahanku seakan bersahutan dengan suara pompaan batang kemaluan Hamid.
Rasa sakit yang kualami juga sudah semakin menghilang bersamaan dengan deru pompaan batang kemaluan Hamid yang memompa liang vaginaku yang semakin lama semakin kencang. Aku rasanya benar-benar hampir pingsan, tidak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana. Aku tidak mampu melukiskan kenikmatan yang kualami saat itu dengan kata-kata.
Kisah Nikmat Orgasmeku..aouuhhh
siang itu tidak ada sesuatu yang harus kukerjakan hingga aku duduk seorang diri di kantor klinik hewan. Karena ruangannya yang sepi, kuangkat kedua kakiku dan kuletakkan di atas meja. Sebagian pembaca tentu masih ingat, aku selalu mengenakan rok mini yang lebar di bagian bawahannya hingga tentu saja posisiku duduk sekarang membuat pantat dan paha bagian belakangku terbuka lebar.

Kusilangkan kakiku di atas meja, pantatku kuletakkan di ujung kursi putar sambil bersandar. Aku membaca buku-buku tentang satwa dari luar negeri. Suhu udara di akhir-akhir ini sangat panas, sudah waktunya hujan namun sampai dengan saat ini kota belum juga terguyur hujan sama sekali.

Posisi dudukku saat itu terus terang sangat menyejukkan daerah sekitar selangkanganku karena hembusan hawa dingin dari AC bisa langsung menerpa daerah sekitar pangkal pahaku. Karena lelah membaca, kusandarkan kepalaku ke kursi sambil kupejamkan mata untuk tidur-tiduran, sementara HT tetap kunyalakan dan kuletakkan di atas meja dekatku agar sewaktu-waktu ada panggilan darurat aku bisa langsung memonitornya.

Kulepas satu lagi kancing bagian atas hem longgar yang kukenakan, harapanku hembusan hawa dingin AC di ruangan klinik ini dapat menyusup masuk dadaku agar tidak kegerahan. Rupa-rupanya semilir hembusan hawa dingin AC yang menyejukkan ruang klinik ini telah benar-benar membuatku tertidur cukup pulas sehingga aku tidak mengetahui saat ada orang masuk ke klinik.

Bernard salah seorang kolegaku rupanya siang itu juga mendapat giliran piket. Untuk mengusir rasa jenuhnya, rupa-rupanya Bernard berjalan-jalan mengelilingi KBS hingga sampai di klinik dan kemudian mampir sejenak. Dapat pembaca bayangkan apa yang Bernard lihat saat memasuki ruangan klinik? Mata Bernard langsung tertuju pada bagian belakang pahaku yang terbuka lebar hingga bagian pantatku. Langsung saja Bernard menelan ludahnya saat ia melihat pahaku yang mulus dan sedikit ditumbuhi bulu halus itu terpampang jelas di hadapannya.

Bernard yang sebenarnya sudah sejak lama berusaha mencoba merayuku, siang ini tanpa disangka dia bagaikan mendapat rejeki nomplok saja. Bernard sebenarnya sudah beristrikan seorang dokter umum dan juga sudah memiliki anak. Usia Bernard sekitar 36 tahun, orangnya tidak terlalu tinggi, sekitar 165 cm dan wajahnya cukup lumayan. Orangnya cukup konyol dan suka bercanda. Begitu melihat pemandangan seperti itu, dengan serta merta Bernard langsung maju dan berjongkok tepat di depan belahan pangkal pahaku. Mulutnya meniup-niup selangkanganku. Pada awalnya aku memang tidak merasakannya karena aku sedang benar-benar tertidur pulas, namun lama kelamaan aku dapat juga merasakan adanya hembusan angin yang datangnya bukan dari hembusan AC.

Kubuka mataku dan sungguh sangat terkejut karena kulihat ada orang yang sedang berjongkok menghadap selangkanganku sedang meniup pangkal pahaku. Secara spontan kuturunkan kedua belah kakiku dari atas meja. Karena kejadiannya begitu cepat, kepala Bernard tertindih oleh pahaku. Akibatnya posisi kepala Bernard akhirnya terkangkangi oleh pahaku dan wajah Bernard jatuh tepat di pangkal selangkanganku. Gila! Bernard bukannya segera berdiri dan menyingkir, tapi dengan serta merta wajahnya malah diusapkan ke pangkal selangkanganku yang terkangkang tadi. Usapannya membuatku geli. Lalu hidung Bernard menyingkap ujung G String-ku yang sexy.

Aku saat itu memakai CD model G String yang mini, bahannya hanya berupa seutas tali nylon yang melingkari pinggangku, selebihnya adalah seutas nylon lainnya menyambung dari pinggang bagian belakang, turun ke bawah mengikuti bagian belahan pantatku, melilit ke depan tepat di bagian liang vaginaku tersambung dengan secarik kain sutera tipis yang berbentuk segi tiga.

Di bagian sutera tipis benbentuk segi tiga ini, ujung hidung Bernard menyangkut di lipatan penutup liang vaginaku. Akibat gesekan wajahnya di selangkanganku maka tersingkap pula bibir vaginaku hingga Bernard dapat menyaksikannya dengan jelas sekali, karena bola matanya hanya beberapa centi saja di hadapan bibir vaginaku yang dalamnya berwarna merah muda menggairahkan itu.

Melihat pemandangan seperti itu membuat Bernard yang tadinya mungkin hanya iseng ingin menggodaku jadi semakin bernafsu saja. Mulutnya langsung menghunjam vaginaku, bibir Bernard serta merta dengan lahapnya menciumi bibir vaginaku.

Kejadiannya sejak awal terasa begitu cepat. Tangan Bernard sudah langsung menarik ikatan G String-ku yang terletak di samping kiri kanan pinggangku. Kondisi bagian bawah rok miniku yang lebar ini membuat Bernard tidak menemui kesulitan sama sekali. Dalam hitungan detik saja bagian bawahku sudah tanpa dilapisi sehelai benang pun.

Kepala Bernard tertutup oleh rok miniku, wajahnya tepat di selangkanganku dan bibirnya melumat bibir vaginaku dengan penuh nafsu. Lidahnya dijulurkan dan dikorek-korekkannya ke klitorisku. Apa yang ia lakukan membuatku yang tadinya pada saat awal-awal kejadian ingin memarahinya, tidak jadi. Aku malah jadi terangsang oleh permainan lidah Bernard yang menjilat habis bibir dan liang vaginaku.

Lidah Bernard menjulur mengorek-ngorek liang vaginaku hingga terasa menyentuh bagian dalam dinding-dinding vaginaku yang segera menjadi basah oleh cairan bening yang mengalir dari dalam vaginaku. Aku tidak bisa menahan lagi gejolak nafsuku hingga tanganku menyusup ke balik hem yang kukenakan dan jari-jari tanganku meremas payudaraku sendiri. Kupilin-pilin puting susuku dengan jari. Rasanya nikmat sekali hingga payudaraku terasa semakin keras karena aku sudah benar-benar diselimuti oleh nafsu.
Bernard mengangkat kedua belah kakiku sambil membukanya lebar-lebar. Kedua pahaku dikangkangkannya untuk memberi tempat yang lebih leluasa bagi mulut dan lidahnya untuk menjilati seputaran vaginaku. Bernard sangat piawai memainkan ujung lidahnya sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama baginya membuatku orgasme. Semburan hangat langsung muncrat dari dalam rahimku, keluar membasahi liang dan dinding vaginaku dan serta merta Bernard langsung menjilat dan menelan habis cairan pelumasku yang mengalir keluar."Huu.. Uucch! Oo.. Oocch! Aa.. Aacch!", aku melenguh bagaikan anak sapi saja. Bernard tetap saja meneruskan jilatannya sampai vaginaku benar-benar bersih dan kering kembaliAku akhirnya menarik napas panjang mengiringi semburan terakhir pelumasku yang merembes keluar melalui liang vaginaku. Selesai melakukan jilatannya, Bernard langsung berdiri sambil membuka kancing celananya. Celana berikut CD-nya diperosotkan sampat batas lututnya hingga tampak batang kemaluannya langsung menjulang keluar bagaikan torpedo yang siap diluncurkan menuju sasaran.Bernard mengangkat kedua kakiku sehingga badanku terlipat. Lututku didorong hingga berada dekat dengan wajahku, batang kemaluannya langsung diarahkan ke belahan bibir vaginaku dan tanpa harus mendapat bimbingan lagi, batang kemaluannya telah berada tepat menempel di mulut liang vaginaku. Didorong-dorongkannya sedikit sehingga kepala kemaluannya menemui sasaran yang tepat, kemudian didorongkan sedikit lebih dalam lagi dan, slee.. eep! Masuklah sebagian batang kemaluannya. Ditarik keluar sedikit dan didorongkannya lagi masuk lebih dalam.
"Oo.. Oocch! Slee.. Eep! Slee.. Eepp! Uu.. Uucch! Slee.. Eepp! Slee.. Eepp! Aa.. Aacch!", demikian suara rintihanku bersahut-sahutan dengan bunyi suara saat batang kemaluan Bernard memompa liang vaginaku.Kondisi liang vaginaku sudah sangat basah sehingga memudahkan batang kemaluan Bernard terbenam habis ke dalam vaginaku. Ujung kepala kemaluannya terasa menyodok-nyodok dinding rahimku. Ujungnya menyentuh dan menekan-tekan tonjolan daging seukuran ibu jari yang tumbuh di dalam liang vaginaku, rasanya luar biasa nikmat.Karena memang sudah cukup lama aku tidak melakukan ML ditambah dengan permainan Bernard yang cukup piawai hingga membuatku segera akan mencapai puncak kenikmatan kembali."Ayoo..! Terus..! Aku sudah hampir orgasme!", seruku."Sebentar Nat! Kita keluarin sama-sama..", jawab Bernard."Dikeluarin di dalam atau di luar nich?", tanya Bernard padaku sambil terus memompakan batang kemaluannya di dalam liang vaginaku."Uu.. Uucch! Terserah..!", teriakku dan.."Ooo.. Oocch! Aa.. Aacch!"Badanku tiba-tiba gemetar dan sedikit kejang. Bernard pun ikut melenguh sambil tetap menggenjot pompaannya lebih cepat lagi. Kami dalam waktu yang hampir bersamaan sama-sama mengalami orgasme. Terasa sekali semburan sperma Bernard yang hangat membanjiri liang vaginaku. Tumpahan cairan cinta kami tercampur jadi satu dalam liang vaginaku, saking banyaknya bahkan tidak tertampung sehingga merembes keluar mengalir mengikuti celah belahan pantatku dan membasahi anusku.

mengecup membelai dan mengulum ujung-ujung payudara
Sejak Tira mulai mengenal betapa indahnya dan bahagianya kalau bisa memuaskan birahi Mas, maka Tira jadi mulai kasi Mas "hand jobs" secara rutin. Pertama-tama sih Tira cuman nemenin Mas meng hand job dirinya sendiri, dan Tira "bantu" dengan pamer payudara aja. Abis gimana dong, Tira kan dulu masih takut-takut. Tapi lama-lama Tira jadi kepengin nyoba ikut meganging "joystick"nya Mas. Eh akhirnya jadi keterusan, hehehe. Hampir tiap Mas main ke tempat Tira, atau Tira main ke tempat Mas, pasti ada acara nyelinap ke kamar tidur, kunci pintu, dan acara hand job dimulai.
Si Mbok kayaknya sih udah tau kalau Mas sering ke kamar Tira, tapi Tira sama Mbok kan udah CS-an jadi asik aja deeh.. Yang penting jangan sampe Mama sama Papa tahu. Kalau enggak bisa gawat. Nah, ada suatu hari yang sangat berkesan banget buat Tira, soalnya ada kejadian yang seru tapi serem juga kalau diulang lagi. Jadi ceritanya begini: Mas ama Tira lagi duduk-duduk mesraan di ruang tamu, pas sore-sore jam 7. Tira pikir hari itu acaranya bakal rutin. Biasanya abis duduk-duduk mesraan sambil bikin PR (gini-gini kalau lagi mesraan pun pelajaran Tira gak lupa lho), abis itu baru deh urusan "hand job" dimulai.Kebetulan Papa ama Mama lagi gak di Jakarta, lagi keluar kota. Tira udah seneng aja. Horeee!!! Mumpung Papa ama Mama lagi gak ada, jadi acara hand-job bisa semalam suntuk! Yea! Eh gak tahunya, mendadak ada suara."Ting Tong", bel rumah Tira bunyi. Mbok Yem buru-buru pergi ke depan buat buka pintu."Eh, Bu Wida. Den Tiraaa… ada Bu Wida nih!"Matik aku, pikir Tira pas saat itu. Bu Wida itu Tante Wida, saudara Mama. Dia tinggalnya di Bandung, tapi sering main ke Jakarta. Nah, kalau dia dateng ke rumah sore-sore gini, ujung-ujungnya pasti nginep deh. Besok baru pulang, grrr…. Ganggu acara Tira ajahh."Bu Wida itu siapa Tir?" tanya Mas pada Tira."Saudaranya Mama dari Bandung Mas," jawab Tira."Oh, gitu. Ya udah, Tir, sana gih sambut Tante kamu.""Terus Mas gimana?""Ya Mas di sini aja, nanti kan kalau Tante masuk tinggal dikenalin aja ke Mas.""Mas, Tante kayaknya nginep deh, soalnya dia kan tinggalnya di Bandung.""Terus?""Terus, ya kayaknya Tira takut entar malem gak bisa… ehm…"(Tira ngomong gini sambil bikin gerakan pakai tangan kanan, seakan-akan lagi kasi Mas "hand-job"). Mas terdiam sejenak."Ya..gak pa-pa lah Tir…" kata Mas sambil menghela napas. Kalau udah gini justru Tira yang jadi blingsatan, soalnya terus terang aja, Tira seneng banget ngasi Mas hand-job. Kalau kesempatan ber hand-job ria jadi ilang, Tira bakal BT banget. Gak tahu kenapa, kayaknya ada rasa puasssss… yang gimana gitu kalau bisa bikin Mas puas juga, hehehe. mungkin udah kodrat cewek sejati kali ya, lebih senang memberi daripada diberi kepuasan. Tapi kalau mau dikasi gak nolak lho, hehehe, yang penting nikah dulu yang bener! Tira punya konsep bahwa selama masa pacaran, ngapain aja boleh asal jangan ML soalnya bahaya bo. Kalau melendung gimana? Kan repot. Kalau selain itu sih boleh-boleh aja asal jangan main paksa.
Tira suka bingung juga, kalau lagi ngerumpi ama temen-temen cewek, pasti ada aja yang bilang kalau nggak seneng ngeladenin cowoknya, baik dengan cara hand job maupun cara lain. Kalau menurut Tira sih, kayaknya bohong deh kalau ada cewek bilang sayang banget ama cowonya tapi gak mau ngeladenin napsunya si cowok. Berarti tuh cewek pacaran ama ini cowok cuman buat status doang atau experimen doang. Di sisi lain bohong juga kalau ada cowo bilang sayang ama cewek tapi terus maksa-maksa si cewek buat muasin napsunya. Kalau udah main paksa sih berarti cintanya dusta, cuman napsunya aja yang diturutin.
Dari pengalaman Tira, Tira yakin cewek-cewek yang nggak bokis, nggak tukang tipu, dan beneran sayang ama pacarnya, pasti gak keberatan kok buat kasi hand job dll sama cowoknya, asal cowoknya bisa ngerayu dan memberi rasa aman ama tuh cewek. Gitu. Cuman kadang-kadang kita suka takut keterusan. Takut jadi ML deh. Waah jangaan dong, entar kalau melendung gimana? Eh, jadi ngelantur. Sorry ya, intermezo dikit gak pa-pa kan Pak Wiro?Ah udahlah. Yang penting sekarang nyambut Tante Wida dulu. Segera Tira ke depan sambil nggandeng Mas. Mas jadi bingung tuh, hihihihi. Tante Wida lagi duduk-duduk di kursi depan, yang di depan taman. Begitu liat Tira, langsung deh keluar gaya khasnya."EEeehh Titirrr!!! Apa kabar?" Dengan pasang senyum semanis mungkin, Tira segera nyamperin Tante, and kita peluk-pelukan dech, hehehehe."Ya ampun Tir, kamu udah gede banget yah? Udah kelas berapa nih?" Tante nanya ama Tira."Udah kelas tiga Tante.""Wih, dikit lagi kuliah dong. Mau kemana kuliahnya? Ke Jepang aja? Nichidai?""Ih Ogaaaah ah. Gak mau. Pengennya di sini aja. Kalau bisa sih di UI. Oh iya Tante, kenalin dong ini ‘temen’-nya Tira." Tante Wida dan Mas berjabatan tangan. Agak kaku ya, soalnya Mas emang orangnya kalau baru kenal gak banyak ngomong, tapi Tante Wida mah kebalikannya. doyan ngomong banget, namanya juga ibu-ibu."Hallo, temennya Tira ya? Temen apa ‘Temen’…," kata Tante Wida sambil senyum-senyum."Iya Tante, nama saya (namanya Mas).""Temen sekolah?""Bukan Tante, saya kuliah di (sekolahnya Mas), sekarang lagi skripsi.""Wah, bagus dong." Ya udah deh Mas sama Tante ngobrol kemana-mana, sambil duduk-duduk di depan. Kalau nggak buru-buru di "cut" entar gak masuk-masuk nih."Tante, Mas, masuk dulu yuk! Tante udah makan belum?" kata Tira."Eh iya, belum makan nih! Laper deh. Kamu ada makanan apa Tir?""Tadi Mbok Yem bikin sukiyaki.""Wih, dasar Jepang. Udah enak dia bikinnya?""Tante rasain aja sendiri. Udah diajarin ama Mama, pasti enak laah." Tira manggil Mbok Yem dan nyuruh dia nyiapin meja makan."Tante makan duluan gih, Tira tadi udah kok. Sekarang Tira mau nerusin belajar dulu ama Mas," kata Tira.
"Belajar apa belajar?" kata Tante sambil senyum jenaka. Ih sebel deh kalau udah ngelihat tampang Tante lagi gitu. Untungnya Tante langsung lenggang kangkung ke ruang makan, jadi Tira gak perlu menjawab pertanyaan yang rada sulit tadi, hehehe. Jadi ya gitu deh, Tante enak-enakan menikmati Sukiyaki di ruang makan, sedangkan Tira dan Mas bikin PR di ruang tamu. Eh, maksudnya Mas bantuin Tira bikin PR, hehehehe. Gak kerasa waktu berlalu. Ya, udah jam 9an malem. Udah dua jam kita bikin PR. PRnya selesai lho, padahal pas bikin sambil grayang-grayangan, hehehehe. Eh, posisi Tira pas bikin PR asik banget deh. Jadi kita berdua duduk di lantai, sedangkan bukunya ditaruh di meja tamu, yang gak terlalu tinggi (paling-paling kaki mejanya tingginya cuman 40 CM dari tanah).
Tira duduk bersila, tangan Tira di meja megang bolpen dan buku. Mas duduk di belakang Tira sambil meluk, dan sekali-sekali nyium-nyiumin tengkuknya Tira, ngeraba payudara Tira, dan kadang-kadang Tira juga nengok ke belakang dan ciuman sama Mas. And hebatnya, itu dilakukan sambil bikin PR lho. Mas selain rajin nggrayangin Tira ternyata juga rajin ngajarin Tira pelajaran sekolahan. Asik ya! Udah. PR selesai. Tira nyender ke belakang deh, ke pelukannya Mas. Kayaknya Mas jadi "on" deh, soalnya dia mulai nyelinepin tangannya ke balik Tshirt Tira, terus mulai "mijetin" payudara Tira sambil nyium-nyiumin tengkuknya Tira. Aduh Tira demen bangen deh yang model kayak gini. Jadi makin "on" juga deh.Mendadak sebuah ide gila muncul di benak Tira. Tira gak tahu kenapa bisa muncul. Pokoknya tau-tau "ting!" muncul. Kayak di film kartun, di atas kepada Tira ada "lampu" yang "nyala", hehehe. Tira kebanyakan nonton Warner Bros Cartoon sih ya."Mas, Tira kedalem bentar ya," kata Tira. Mas mengangguk. Tira buru-buru bediri, ngerapihin baju, terus masuk ke dalam. Tira ngelihat ke living room, ketemu Tante Wida lagi leyeh-leyeh nonton siaran TV-3 yang pakai bahasa Melayu, ehehehe."Lagi nonton apaan Tante?""Ini lho, acara dari negeri Jiran. Seru juga," kata Tante."Tante, Tira di depan ya, kalau perlu apa-apa kasih tahu Tira aja.""Okies deh. Eh Tir, Tante nginep ya?""Oh, emang harus nginep lah. Kalau pulang sekarang kasian Tante.""Thanks Tir. Tapi, Tante tidur di mana ya?""Tante tidur di kamar Tira boleh, di kamar Papa-Mama boleh."
"Ya udah di kamar kamu aja. Pinjem baju tidur kamu ya?" Glek. Bener kan perkiraan Tira. Pasti deh Tante Wida bakal ganggu acara Tira. Tapi gak pa-pa deh, toch Tira udah memikirkan jalan keluarnya."Ambil aja Tan. Eh ngomong-ngomong soal baju tidur, Tira kayaknya perlu ganti juga deh," kata Tira sambil pasang senyum manis… banget (padahal mangkel, hehehehe.) Sambil berkata demikian, Tira berjalan ke kamar, terus pasang AC (biar Tante gak kegerahan nanti), trus buka lemari, pilih-pilih baju… Ah ketemu! Daster biru tua polos yang leher bajunya rendaaaah banget. Kalau Tira gak pakai bra, payudara Tira gampang banget diintip lewat leher baju itu. Perfect! So Tira buka T-shirt, buka rok, dan buka bra, hehehe. Ih sebel, dari dulu pertama kali bikin cerita untuk CCS sampai sekarang ukuran bra Tira gak ganti-ganti deh, 34A terus. Gimana ngegedeinnya ya? Ah sebodo, yang penting Mas seneng-seneng aja sama "perabot" Tira yang satu ini, hehehe.(Eh Pak Wiro, cerita Tira yang pertama dimuatnya kapan sih? Tira sendiri udah lupa lho. Ada dua tahun gak?) Tira melangkah ke depan, nemuin Mas, dengan memakai daster biru tua tadi, sambil bawa botol Coca Cola ukuran jumbo dan gelas dua biji."Lah Tir, Coca Cola buat apaan? Kan kamu malem-malem gak boleh minum dingin-dingin dan soda-soda katanya," tanya Mas."Udah deh. Mas santai aja. Ini surprise Tira yang kedua buat Mas," jawab Tira. Tira ambil tangan Mas, terus Tira gandeng sambil Tira jalan ke sofa. Duduk deh kita berdua di sofa. Sambil duduk bedua, Tira gak ngomong apa-apa, cuman megangin tangan Mas sambil memberikan tatapan "rahasia" ke wajah Mas, hehehe. Mas langsung ngerti, bahwa itu berarti Tira lagi pengen mesraan sama Mas.Tir, Tante kamu gimana?" tanya Mas sambil ngedeketin wajahnya ke Tira."Ya… gimana ya?" Sambil celingukan ke arah pintu yang menuju ke ruang tengah, Tira meluk leher Mas terus nge kiss duluan, hehehe. Mas jadi gelagepan. Tira sekarang kalau kissing udah mulai "jago", soalnya udah banyak latihan sih. Kita berdua kissing, lembuut deh. Tira suka bingung sama orang-orang yang kalau kissing main lidah. Kan ribet banget. Tira lebih suka kissing pakai bibir, yang lembut tapi lamaaa. Kayaknya lebih romantis. Tira biasanya merem kalau di kiss. Tapi Tira ngerasa Mas malam ini agak lain. Akhirnya Tira buka mata, terus Tira liat mata Mas juga ngelirik-ngelirik ke pintu ruang tengah. Hehehe. Rupanya Mas masih mikirin Tante juga, takut kalau-kalau dia iseng-iseng ke ruang tamu."Udah to Mas, tenang aja," kata Tira."Loh kok tenang. Nanti kalau Tante ke sini gimana?"Tira gak jawab. Tira pegang tengkuk Mas, terus narik wajahnya ke deket dada Tira. Pelan-pelan Tira turunin leher baju Tira, trus Tira bilang, "Mas, kiss dong."Mas segera melakukan yang Tira minta. Enak lho, kayaknya ada rasa gimana gitu. Enaknya gak cuma di bagian payudara aja, tapi ke seluruh badan. Kayaknya rasa geli-geli enak dan merinding itu nyebar sampai ke tulang punggung dan ubun-ubun gitu. Tira gak tau deh, apa semua perempuan merasakan seperti ini? Apa jangan-jangan Tira doang?"Mas.." kata Tira.."Jangan kuatir soal Tante.."
"Kok gitu?""Tira sengaja pake daster ini, jadi kalau Mas mau grayang-grayang and kissing-kissing payudara Tira kan gampang, tinggal tarik dikit, beres. Kalau Tante mendadak kesini, kan tinggal belagak gak ngapa-ngapain aja.""Pinter juga kamu.""Trus, untuk urusan hand-job," Tira mengambil bantal sofa ruang tamu, terus Tira taruh di pangkuan Mas. Bantal itu lumayan besar sehingga bisa menutupi hampir seluruh bagian bawah tubuh Mas kalau dia lagi duduk, mulai dari bawah puser sampai lutut. Terus, pelan-pelan Tira raba bagian depan celana Mas, sambil Tira soen pipinya, dan Tira bisikin…"Mas gak keberatan kan kalau hand-jobnya di bawah bantal ini? Jadi kalau Tante iseng-iseng ke depan, kan Tira bisa buru-buru tarik tangan.""Lah, taunya kalau Tante mau ke depan gimana?"
"Ya kan langkah kakinya kedengeran. Atau bisa juga begini." Tira bangkit sebentar trus nutup pintu ruang tengah."Nah, gitu Mas. Pintu ini kan berat, jadi kalau Tante buka pintu pasti ada suaranya, dan gak bisa langsung kebuka. Jadi ada warningnya gitu.""Trus, kalau tumpah di bantal gimana? Kamu mau nyuci sendiri?" Tira tersenyum penuh arti"Tenang aja Mas. Tira udah ada akal kok." Mas akhirnya tersenyum, dan memeluk Tira. Pelukannya erat tapi tidak membuat Tira sesak napas. Tira bisa merasakan jantung Mas (dan jantung Tira juga) berdetak agak lebih kencang. Tira bisa merasakan napas Mas agak memburu. Dan Tira bisa merasakan kecupan-kecupan dan belaian lidah Mas di leher Tira, turun ke dada Tira, ke payudara Tira, Uhh… enaknya. Tira merasa hanyut dalam cumbuannya Mas. Tira merem deh, biar bisa meresapi keindahan ini. Gak terasa Tira melenguh pelan.(Sebenarnya pas lagi kejadiannya, Tira gak sadar loh kalau Tira mengeluarkan suara-suara yang demikian. Mas yang kasih tahu, hehehe.) Mas berbisik di telinga Tira."jangan keras-keras say, nanti Tante denger lho." Tira juga nyadar sih, kalau mesraan curi-curi kayak begini memang rada kurang enak yah. Tira merasakan bahwa Mas sebenarnya kurang bisa menikmati 100% saat-saat bemesraan ini karena dia takut ama Tante Wida. Yah, gimana dong ya, biar Mas bisa enjoy? Pelan-pelan Tira tarik retsleting Mas dari bawah bantal. Uh, kok belum "keras" sih? Kayaknya butuh something extra nih. Tira tarik lagi leher daster Tira, terus Tira "tawarin" payudara Tira ke depan muka Mas, sambil "punya"nya Mas aku usap-usap dari luar underwearnya. Kontan aja "tawaran" Tira diterima.Mas dengan mesra mengecup, membelai dan mengulum ujung-ujung payudara Tira. Wuih, rasanya enaak deh. Tapi kayaknya pembaca yang cewek pasti udah tahu ya, gak perlu dijelasin lagi, hehehe. Lama-lama Tira ngerasa bahwa "punya" nya Mas udah keras, dan udah bisa di hand-job. Tira tarik underwear Mas ke bawah dikit, biar Tira bisa leluasa menggenggam "punya"nya Mas. Posisi Tira pas banget deh. Kita duduk berdampingan di sofa, Tira di kanan Mas di kiri. Tangan kiri Tira ngerangkul leher Mas, Mas mencumbui payudara Tira, tangan kanan Tira di "punya"nya Mas. Tira merasa bahwa napas Mas makin lama makin memburu, dan dia mulai memejamkan matanya.Bagus deh, berarti Mas udah mulai enjoy. Berarti "pekerjaan tangan" Tira bisa diteruskan dengan lebih serious. Tapi demi menjaga keamanan, kayaknya Tira musti cek Tante dulu nih."Mas, bentaaar aja, aku mau check Tante dulu ya. Nanti kita terusin, OK?" tanyaku pada Mas. Mas merengut sebentar, tapi terus senyum lagi dan mengangguk. Hihihi, Tira soen pipi Mas terus jalan deh nyari Tante ke dalam. Pas Tira lihat di depan TV, gak taunya Tante lagi tidur nggeletakan. Kasian, ngantuk dia. Dalam hati Tira bersorak, horeee!!Biar Tante tidurnya enak, Tira selimutin aja pakai selimut dari kamar Tira. Beress. Buru-buru Tira kembali ke ruang tamu. Mas lagi duduk-duduk nyender sambil memejamkan mata. Tangannya bergerak-gerak di bawah bantal yang tadi Tira taruh di pangkuannya."Hayo Mas, lagi ngapain? ini kan kerjaannya Tira" kataku sambil mengambil alih "pekerjaan" tadi. Kamipun kembali ke posisi tadi. Kocokan tangan Tira di "batang"nya Mas makin intens, seirama dengan desahan napas Mas yang makin memburu. Kecupan dan jilatan Mas di payudara Tira juga makin bikin Tira blingsatan, bikin Tira keenakan. Ohh Mas… Aduuh, lama-lama pegel juga ya? Kayaknya Tira perlu tambah "verbal stimulation" nih ke Mas."Mas… ayo dong. Udah mau keluar kan? Please… ayo Mas, do it for me. Squirt for me," bisik Tira di telinga Mas. Hisapan Mas di puting Tira makin keras. Aduuh sakit. Pelan-pelan dong Mas. Tapi gpp deh. Sakit tapi enak, hehehe."Tirr…..Mas udah hampir nih," desah Mas. Well, this is the moment of truth buat Tira. Now or never! Cepat-cepat Tira ambil gelas berisi Coca Cola di meja, Tira minum seteguk (tapi nggak ditelan). Tira singkap bantal yang ada di pangkuan Mas. Lalu… deg-degan juga sih. Tira masukkan "kepala"nya Mas ke mulut Tira, sambil Tira kerjain terus "batang"nya. Berhubung di mulut Tira ada Coca Cola, Tira jadi nggak ngerasain rasa "batang"nya Mas (kayak apa sih rasanya?). Mas terbelalak. Kaget dia."Tira?" Sambil tetap mempertahankan tangan dan mulut Tira di "batang"nya Mas, Tira melirik ke arah wajah Mas, hehehe. Merem-melek dia, menikmati "kerjaan"nya Tira."Tira… I love youuuu!!!!" Mas teriak ketahan (takut kedengeran orang?) Tira merasakan "punya"nya Mas menegang, dan kayak ada sentakan-sentakan keras beberapa kali. Tira bergidik juga sih, ini kan pertama kali Tira masukkin "punya"nya Mas ke mulut Tira. first blow job. Terus keluar di dalem lagi. Makanya Tira akalin pakai Coca Cola, biar gak jijik.Tira berasa sih, kayak ada "cairan" lain yang nambah masuk ke mulut Tira. Ini pasti spermanya Mas. Tira terus ngurut-ngurut "punya"nya Mas sampai Mas kayaknya udah gak terlalu tegang lagi, dan dia menarik napas legaaaaaa..banget. Pelan-pelan Tira bangkit. "Punya"nya Mas udah kecil lagi. Tira ambil botol Coca Cola, Tira tuang lagi ke gelas yang tadi, terus GLEK, Tira telen semua. Baik Coca Colanya maupun "hasil kerja"nya Tira dan Mas. Sambil minum, Tira bersihin "punya"nya Mas pakai ujung daster. Yeech, belepotan deh. Tapi gpp deh demi Mas. Mas kelihatannya masih capek banget. Tira rangkul dia, terus Tira bisikin…
Friday, February 1, 2008
Aku punya istri, namanya Ida. Dia bekerja di perusahaan swastasebagai staf pemasaran. Gaji yang dia dapat tidak mencukupi karena(setelah) dipotong dengan biaya transpotasi dan makan, hanya tinggalbeberapa ratus ribu rupiah. Sementara fixed cost COM (Cost OfMarriage) alias biaya tetap operasional rumah tangga cukup besar yangtidak sebanding dengan pemasukan, sehingga aku usulkan dia berhentibekerja saja, agar membantu usahaku dengan demikian aku dapatmengurangi karyawanku dan menambah pemasukan. Alhasil pemasukan hanyadari hasil wiraswastaku, mangan ora mangan ngumpul.Setelah dicoba beberapa bulan, akhirnya dia menolak dengan alasanpemasukanku fluktuatif, sementara dia mempunyai penghasilan tetap.Selain itu pekerjaan di rumah monoton, dan buat apa dia belajar bilatidak dipraktekkan. Semua alasannya masuk akal, sehingga dengan berathati aku menyetujuinya untuk kembali bekerja di kantor yang sama.Beruntung sebelumnya dia mendapat cuti di luar tanggungan, belummengundurkan diri, sehingga dapat kembali lagi dengan hak yang sama.Beberapa bulan kemudian istriku bilang ingin mempunyai anak. Saat inidia menggunakan spiral sebagai kontrasepsi (kita sepakat sebelumnikah agar tidak mempunyai anak bila belum siap secara materiil danmoril). Aku bilang kondisi saat ini tidak memungkinkan. Dia tetapbersikeras bahwa banyak anak banyak rejeki. Aku tertawa mendengarnya.Akhirnya dia menerima untuk sementara waktu tidak hamil dulu. Akuberikan alasan bahwa biaya terbesar untuk mempunyai anak adalahpendidikan dan kedua kesehatan, sehingga dengan kondisi yang belumstabil, aku belum berani ambil resiko - kita selalu bermusyawarahdengan memberikan alasan yang masuk akal, sehingga tidak ada larangantanpa alasan - alias otoriter.Suatu siang, aku "pingin" banget, kita berdua tinggal di rumahkontrakan di pinggiran Selatan kota Jakarta, yang hanya mempunyaitiga ruang dengan masing-masing ukuran tiga kali tiga, ruang pertamaruang tamu, ruang tengah, ruang tidur yang mempunyai pintu, sedangkanruang ketiga adalah dapur dan kamar mandi, sehingga secarakeseluruhan rumah kontrakan ini berukuran tiga kali sembilan meter,dan itupun berjajar sebanyak lima buah berdempetan.Kondisi rumah yang kecil dan panas yang terik, membuat dia tidurhanya mengenakan CD dan bra, sementara tak jauh darinya kipas angindengan kecepatan rendah, sedang berputar. Pagi hari menjelang siangaku "meminta" tetapi dia menolak karena capek. Tapi desakan "arusbawah" ini nggak tahu diri, akhirnya aku berusaha masuk ke kamar.Ternyata kamar dikunci. Dengan tidak kehilangan akal aku berusahamelepas anak kunci di dalam kamar dengan menusuk dari luar denganobeng, agar jatuh ke koran yang aku letakkan di bawah pintu. Aduh mauminta "jatah" sama istri sendiri saja susahnya minta ampun. Saat anakkunci jatuh, dia terbangun dan anak kunci itu dengan sekali gerakandengan kakinya keluar dari koran. Yah apes, gagal.Aku coba cara lain. Kabel kipas angin tertancap di stop kontak diluar kamar tidur (karena stop kontak di kamar tidur lagi rusak) akucabut sehingga udara yang dihembuskan terhenti. Tak berapa lama, diamulai berkeringat, dan berusaha menekan tombol-tombol kipas yang takbertegangan.Karena panas dia keluar dan..."Mas, aku capek tolong jangan dulu, pasang lagi kabel kipasanginnya!" katanya. Tanpa komentar kulakukan apa yang dia minta. Yahterpaksa mengalah lagi. Dia kembali masuk ke kamar untuk melanjutkantidur tanpa mengunci kamar. Gagal lagi.Suatu hari dia memintaku agar bekerja di kantoran, yang pentingmempunyai penghasilan tetap. Aku bilang umurku sudah tidak muda lagi.Mana ada kantor yang mau. Yang ada juga sekarang pada di PHK,kubilang.Saat malam, aku benar-benar "pingin" banget, soalnya yaitu, dia kalautidur nggak siang atau malam selalu hanya CD dan bra hitamnya saja,sementara kulitnya lumayan putih, jadi kan "arus bawah" selalumeronta. Aku mulai mendekati dan merayunya, karena sudah beberapahari ini aku hanya masturbasi."Ma, aku pingin, nih.." sambil mengusap paha bagian dalamnya,posisinya tidur telungkup. Dia langsung membalik badan dan dudukserta..."Kamu disuruh kerja nggak mau, aku pingin punya anak kamu nggak mau,apa-apa nggak mau, mati aja sana! ngentot mulu yang dipikirin.."katanya dengan suara cukup keras, malu juga aku didenger olehtetangga."Ya sudah Ma. Kalau nggak mau yah jangan teriak-teriak gitu dong.Didengerin sama tetangga kan malu!" jawabku. Mungkin dia ada masalahdi kantor atau kurang sehat, aku memaklumi, aku keluar kamar dantidur di ruang tamu.Di suatu sore, saat sampai di rumah dari pulang kerja, setelahmembersihkan diri dan makan, dia minta tolong aku untuk ngerokinbadannya. Katanya masuk angin. Aku sedang tanggung memperbaikiperalatan usahaku di ruang tamu. Ternyata karena nggak sabarmenungguku, dia minta tolong dengan mbak sebelah untuk ngerokinbadannya di kamar tidur kami.Setelah selesai memperbaiki peralatan, aku menuju kamar tidur dankulihat dia sedang tidur-tiduran (dia selalu tidur dengan telungkup,aku nggak bisa membayangkan saat dia nanti hamil, kalau jadi, khanrepot). Aku coba memijat pundaknya, dan mengurut punggungnya. Karenaterhalang oleh tali surga alias tali bra, kucoba melepaskan. Dia diamsaja, dan aku terus memijat dengan siku tanganku secara perlahan,kuturunkan sedikit bagian belakang celana dalamnya hingga belahanpantatnya tampak semua (kalau dia protes, akan kujawab CD-nyamengganggu).Nampaknya dari hasil pijatanku dia tertidur. Dengan perlahan kulepasCD-nya, pelan-pelan. Setelah terlepas, kupijat telapak kakinyasedikit demi sedikit menuju ke bagian atas sambil melebarkanbentangan kaki kiri dan kanan, kemudian ke arah betisnya, pangkalpahanya, dan kuusap paha bagian dalamnya, dan dia mengubah arahkepalanya dengan membelakangiku (jangan-jangan dia pura-puratidur???).Saat ini rudalku sudah siaga satu, nampak seperti joystick. Bedanyanggak ada push-button-nya.Saat kupijat paha bagian dalam sengaja kelingkingku tidak ikutmenekan tetapi kubiarkan menunjuk. Kadang kugesek ke anusnya, kadangke klitorisnya (dia mempunyai klitoris yang sangat besar serta keluardari penutupnya, baik dalam posisi terangsang ataupun tidak - mungkinitu sebabnya dinamakan IDA alias Itil kuDA). Dia ini tergolong wanitadengan bulu lebat, hingga lubang anusnya pun banyak ditumbuhi bulu.Takut dianya marah aku pindah memijat kaki sebelahnya tanpa merubahposisi dudukku, dan kuulangi lagi mengarah ke atas. Kali ini akutidak menyentuh anus atau klitorisnya, tapi kuusap bulu kemaluanserta bulu sekitar anus tanpa menyentuh kulitnya.Aku lepaskan pakaianku. Kebetulan hawanya panas sekali saat itu.Kuusap kemaluannya, terasa ada seikit lendir, kubalikkan badannya,dan..."Ma, main, yah?" bisikku ke telinganya sambil menjilat daging lunaksekitar telinga."Hmmm..." tanpa kata, tapi aku dapat menangkap maksudnya, pasti bukanpenolakan. Segera kutindih badannya, dan kuhisap putingnya yangberwarna coklat muda secara bergantian (lucu deh, balita aja kalahmimik asi-nya). Kemudian kucium mulut dan kujilati sekitartelinganya, aku tidak berani mencium lehernya karena masih ada sisabalsem, bukan terangsang yang kudapat malah kepedasan nanti.Aku tidak berani memegang rudalku, karena tangan bekas memijat taditerkena balsem bekas kerokan yang ada di punggung istriku. Sehinggadengan penuh perjuangan aku mencoba memasukkan rudalku ke dalamvagina istriku tanpa memegangnya, seperti max biagi habis finishterus lepas tangan, tusukan pertama gagal akibatnya terpeleset danmenggesek klitorisnya, istriku coba mengangkang lebih lebar agarlebih leluasa memasukkannya, kutusuk lagi, dan terpeleset dan..."Pa, pelesetin terus aja enak kok," katanya ngeledek. Dalam hati iyaenak di kamu, nggak enak di aku. Kucoba yang ke tiga, akhirnya masuk,tetapi belum masuk semua hanya bagian kepalanya saja karena agaksempit. Nggak apa-apa deh yang penting sudah masuk sasaran tembak. Yasudah, aku coba tarik-tekan dengan "space" yang kecil tadi, dengankesabaran akhirnya semakin basah dan..."Mph, eh," cuman itu yang keluar dari mulut istriku, dengan raut mukaseperti orang tidur.Lama kelamaan vaginanya semakin basah sepertinya mempersilakanrudalku masuk lebih dalam. Kutekan lebih dalam dan masuk semua, barutarik-tekan, empat kali, aku sudah keluar."Ma, maaf yah, soalnya sudah lama nggak main jadi keluarnya cepet,"kataku. Dia tidak menjawab tetapi mengeluarkan lenguhan nafaspanjang, artinya dia nggak puas. Yah siapa sih tahan "palkon" (kepalakontol, red) belum masuk semua, tapi digesek-gesek sekitar vaginasoalnya belum dipersilakan masuk. Coba deh masturbasi, tapi yangdiurut hanya "palkon"nya saja, kalau nggak cepet keluar (ya lecet).Udah gitu aku khan udah lama nggak main jadi yah cepet keluar. Akuagak heran sampe ada yang main bisa lama saat merawanin anak orang.Biasanya untuk pertama kali yang cewek akan merasakan lebih banyaksakitnya ketimbang enaknya, sementara cowok lebih cepat keluarkarena "palkon"nya akan terjepit dinding vagina karena si cewekmenahan rasa sakit. Yah kecuali kalau cowoknya memakai obat atau Cosudah pengalaman alias nggak perjaka.Setelah itu aku berdiri dengan ke dua lututku. Tampak cairan putihalias spermaku meleleh dari vagina istriku. Ada sebagian orang yangmengatakan itu cairan yang menjijikan, didorong bagaimanapun caranyatetap akan keluar dari kedudukannya (si istri pingin hamil jadiberusaha spermanya nggak keluar) - beda dengan pejabat di negaraberkembang udah menjijikan didorong pakai apapun tetap nggak mauturun juga.Kubersihkan dengan CD hitamnya, dan aku ke belakang untukmemcuci "rudalku". Setelah selesai aku kembali ke kamar tidur. Posisitidur istriku belum berubah, masih terlentang dengan kaki terbukalebar dan mata terpejam (yang jelas bukan tidur kemungkinan kesel,ya)."Ma, nambah yah?" kataku. Dia diam aja. Aku duduk di depan vaginanya.Tampak vagina labia minoranya sudah menutup, tetapi klitorisnya masihtersembul keluar. Kubuka labia minoranya yang tertutup bulu hitamkeriting, saat akan kujilat..."Jangan, Pa, kotor.." kata istriku, sambil bangun terus memegangbagian belakang kepalaku dengan kedua tangannya serta menghisap bibirbawahku, menghisap dengan sangat kuatnya dan mencari-cari lidahku.Setelah dapat, dihisapnya lidahku, terlepas, dimainkannya lidahnya digusiku. Saat dia melakukan semua gerakan kulihat matanya terpejam,saat mendapatkan lidahku, matanya setengah terbuka yang tampak bagianputihnya saja.Dijilati leherku, terus ke dua putingku, hingga "rudal"ku bergeraktetapi belum mengeras hanya "waspada satu". Selanjutnya dia menjilatilubang "rudal"ku. Poupss, rasanya mak... Dia suka meng-oral-ku,tetapi kalau di-oral nggak mau, alasannya kotor bekas darahmenstruasi, keputihan, bau, pokoknya nggak boleh, yah sudah aku nurutaja, toh aku yang diuntungkan.Dia memasukkan hanya sebatas kepala "rudal" ke dalam mulutnya,dihisap, dilepas (hingga bunyi "plop"), dijilati kepalanya, dihisaplagi, begitu keras menjadi "siaga satu", dimasukkan semuanya ke dalammulut, dilakukan berulang-ulang. Rasanya "rudal"ku sudah keras,tetapi ada sedikit rasa linu (mungkin setelah keluar yang pertamatadi dan kencing saat dibersihkan sekarang dipaksa tegang lagi),sehingga rasa linu ini mengalahkan rasa nikmat untuk segera "keluar".Tahu kalau sudah "siaga satu", dia segera mengangkangi rudalku danmemasukkan ke vaginanya, bergerak naik turun dengan sangat cepat."Oh.. oh.. ohhh.." suaranya keras bener, membuat rasa linuku hilangberubah menjadi nikmat. Kucoba menutup mulutnya agar tidak didengartetangga, malah jariku dijilati, auw, enak bener. Nggak lama digigit,langsung segera kutarik tanganku (ganas bener, anjing kalah?), Eh,malah lebih keras lagi suaranya. Bodo ah, biarin tetangga denger,kadang seperti orang kepedesan (sshuah - shuah, padahal nggak adacabenya), kadang seperti orang merintih kesakitan.Sudah capek dengan gerakan cepat naik-turun. Dia terduduk tetapitetap bergerak memutar secara perlahan, kemudian dia roboh, telungkupmemelukku, dan menghisap bibirku. Terasa "rudalku" seperti ada yangmenekan, saat dia melakukan penekanan dengan rongga vaginapada "rudalku", dia mengangkat sedikit pantatnya dan menjatuhkannyakembali, akhirnya dia nggak bergerak."Capek aku, Pa," katanya dengan napas ngos-ngosan. Kubalik badannyatanpa melepas "rudal"ku. Tampak hidungnya kembang-kempis, capek benarkayaknya. Kucabut "rudalku". Tampak banyak lendir berwarna putihmenyelimuti "rudal"ku, dan di sekitar labia minoranya ini sih bukanbecek tapi banjir, tetapi aku tetap senang (wanita tidak mengeluarkanatau menyemprot cairan sperma seperti pria, hanya lendir bening,akibat dikocok terus menerus maka berubah manjadi putih susu).
Pelajaran seks dari pembantu janda kembang
Gue adalah anak ketiga kakak gue dua-dua adalah cewek, waktu itu kakak gue dua duanya udah pada menikah karena umur mereka ama gue cukup jauh sekitar beda 10 tahun dari kakak gua yang paling bungsu. Dan mereka sekarang tinggal ama suaminya masing-masing. Jadi gua dirumah tinggal ama ibu dan bokap gua bertiga....Gua termasuk anak yang bongsor.. karena untuk ukuran kelas 3 SMP badan gua udah lebih tinggi dari babeh gue, trus juga tulang-tulang gua termasuk kekar dan besar......Tapi yang paling gua ngak tahan adalah itu tuch penis gua kalo lagi tegang .. Gedeee banget....pernah gua ukur ama temen gue waktu itu kita sama sama telanjang di kamar mandi kolam renang..dan waktu di banding ama temen-temen gue, gue punya paling panjang dan gede... dan pernah gua ukur waktu itu kira-kira panjangnya 17 Cm...Yang paling gua ngak tahan adalah kalo lagi di kelas gua suka perhatiin ibu Ina guru Bahasa Inggris... kadang-kadang tanpa sadar kalo gua liat itu ibu guru lagi duduk dan pahanya yang putih agak sedikit tersingkap ... burungku langsung mengeras... dan menonjol kedepan... kalo lagi gitu gue berdoa moga-moga jangan di suruh kedepan kelas...Gue punya temen deket sekelas namanya Joko, kita punya hobi dan hayalan yang sama... sering cerita tentang buku porno yang kita baca, dan kita juga sama-sama tergila-gila ama ibu guru Ina yang berasal dari tanah minang. Kalo ibu guru ina lagi nulis di papan kita berdua suka cekikikan memperhatikan betis ibu ina yang indah, putih dan berisi dan pinggulnya juga cukup besar dan padat.Gilanya kita berdua suka menghayal menjadi kekasih ibu ina dan melakukan hubungan sex seperti yang di buku-buku porno dengan ibu ina... wah kalo lagi menghayal berdua... burung kita ampe keras banget..Temen gue si joko pernah nyarannin gue ... eh Bram lu kalo mau tau rasanya hubungan sex ama ibu ina gampang.. caranya lu di kamar mandi bayangin Ibu ina.. terus lu kocok burung lu pake sabun.karena pengen tau waktu itu gue coba...wah memang enak mula-mula... burung gue makin lama makin gede dan keras seperti batu... tapi udah gue kocok-kocok ampe sejam lebih kok ngak keluar-keluar .. akhirnya gua bosan sendiri dan cape sendiri.... trus besoknya gue cerita ama joko .. dia bilang wah ngak normal loe.... sejak itu beberapa kali gue coba pake sabun tapi ngak pernah berhasil.... akhir gua jadi males sendiri... ngocok pake sabun.Nah ini awal mula cerita gue... waktu itu pembantu rumah tangga gua keluar, trus ibu dapet lagi pembantu baru berasal dari Tasikmalaya, orang sunda, umur nya kira-kira 27 tahun. Orangnya memiliki kulit kuning langsat wajahnya cukup cantik apalagi kalau lagi tersenyum giginya putih terawat baik.waktu baru mulai kerja aku nguping wawancaranya ama ibu gue, bahwa dia adalah janda tapi belom punya anak dia cerai ama suaminya 3 tahun yang lalu, suaminya adalah orang kaya di kampung itu tapi umurnya waktu kawin ama bi Asih udah berusia 60 tahun dan dia menikah kira-kira 4 tahun, sekarang cerai karena suaminya balik lagi ama bininya yang tua.Aku memanggil dia bibi Asih... dia pinter masak masakan kesukaanku seperti sop buntut wah enak banget masakannya. Orangnya sopan dan ramah sekali.. hampir ngak pernah marah kalo di goda ... ngak seperti mbok laskmi pembokat gua yang sebelumnya... udah tua tapi cerewetnya minta ampun.Bibi Asih sudah 3 bulan kerja di rumahku.. nampaknya dia cukup betah karena kerjaannya juga ngak terlalu banyak cuma ngelayani gue, nyokap dan bokap gue.Nah waktu itu adalah hari Jum'at... inget banget gua....... Nyokap gue dapet telepon dari jakarta bahwa kakak gue yang nomor dua sudah masuk rumah sakit bersalin mau beranak anak yang pertama.Mereka pergi dengan Sopir kantor babe gue ke jakarta jum'at sore...Aku ngak ikut soalnya sabtu besok aku ada pertandingan bola basket di sekolahan.Jum'at malem aku sendirian di kamar ku baca buku porno sendirian di kamar... wah cerita bagus sekali sambil membaca aku memegang burungku wah keras sekali.........Kira-kira waktu itu sudah jam 9.00 malam... badanku terasa gerah.. habis baca buku begituan... aku keluar kamar untuk mendinginkan otakku ... kebetulan kamarku dan kamar bi Asih tidak terlalu jauh ... dan aku melihat pintunya agak sedikit terbuka.....Tiba-tiba timbul pikiran kotorku... ah pingin tau gimana bi Asih tidurnya... trus aku berjingkat-jingkat mendatangi kamar tidur bi Asih.. pelan pelan aku dorong pintunya.... dan mengintip kedalam ternyata Bi Asih sedang tertidur dengan pulasnya... lalu aku masuk kedalam kamarnya...Kulihat Bi Asih tidur terlentang... kakinya yang sebelah kiri agak di tekuk lututnya keatas... dia tidur menggunakan jarik kebaya tapi tidak terlalu ketat sehingga betisnya agak tersingkap sedikit... aku perhatikan betisnya... kuning bersih dan lembut sekali.... kemudian aku coba mengintip kedalam kebayanya...wah agak gelap hanya terlihat samar-samar celana dalam berwarna putih.Aku menarik napas dan menelan ludah... aku perhatikan wajah bi Asih kalo-kalo dia bangun tapi dia masih tidur dengan lelap... lalu aku memberanikan diri memegang ujung kain kebayanya yang dekat betisnya tersebut... sambil menahan napas aku angkat pelan-pelan kain kebaya tersebut keatas... terus kusibak kesamping.... dan akhirnya terbukalah kain kebaya yang sebelah kiri dan tersingkap paha bi Asih yang padat dan putih kekuning-kuningan... Aku kagum sekali melihat pahanya bi Asih padat, putih dan berisi ngak ada bekas cacatnya sedikitpun juga... lalu aku pandang lagi wajah bi Asih ..ah dia masih lelap... aku memberanikan diri lagi membuka kain kebaya yang sebelah kanannya... pelan pelan aku tarik kesamping kanan... dan wah akhirnya terbuka lagi... kini di hadapan ku tampak kedua paha bi Asih yang padat dan kuning langsat itu...... aku semakin berani dan pelan-pelan kain kebaya yang di ikat di perutnya bi Asih aku buka perlahan-lahan... keringat dingin aku rasa menahan ketegangan ini... dan burung ku semakin keras sekali .... akhirnya aku berhasil membuka ikatan itu.. lalu kebuka kekiri dan kekanan... kini terlihat bi Asih tidur terlentang dengan hanya di tutupi celana dalam saja.....Aku benar-benar bernafsu sekali saat itu....Kulihat perut bi Asih turun naik napasnya teratur.. kulihat pusarnya bagus sekali... perutnya kecil kencang ngak ada lemaknya sedikitpin juga.. agak sedikit berotot kali.... pinggulnya agak melebar terutama yang di bagian pantatnya agak sedikit besar.Bi Asih memakai celana nylon warna putih dan celana itu kayaknya agak sempit.. mungkin ketarik kebelakang oleh pantatnya yang agak gede.. jadi pas di bagian kemaluannya itu ngepas banget sehingga terbayang warna bulu bulu jembutnya yang halus... ngak terlalu banyak... dan bentuk kemaluan Bi Asih lucu juga agak sedikit menggunung kayak bukit kecil.......Pelan pelan aku sentuh vagina bagian atasnya... tersasa empuk dan hangat... terus pelan-pelan kucium tapi tidak sampai menempel kira-kira 1 milimeter di depan vagina tersebut.. wah ngak bau apa-apa.. cuma agak terasa hangat aja hawanya.... Kupandangi lagi vagina yang menggunung indah itu... wah pingin rasanya aku remas tapi aku takut dia bangun.... Kulihat dia masih tidur nyenyak sekali.. dan kulihat dadanya membusung naik turun... ahhh aku pingin tau gimana sich bentuk tetek dari bi Asih......Pelan pelan kubuka baju bi Asih.. ngak terlalu sulit karena dia hanya pakai peniti saja tiga biji... dan satu satu kubuka peniti tersebut... lalu angkat geser kesamping bajunya... wah terlihat dada sebelah kiri dan kubuka baju yang sebelah lagi... Kini bi Asih betul betul hampir telanjang tidur telentang di hadapanku...Ahh baru pertama kali dalam hidupku menyaksikan hal seperti ini... BH bi Asih nampak sempit sekali menutupi buah dadanya yang padat dan berisi.... Aku perhatikan buah dadanya... naik turun.. dan kulihat ternyata BH tersebut punya kancing cantel dua buah di depannya pas di tengah-tengah di depan belahan dada tersebut... dengan agak gemetar aku pelan buka buka cantelan itu..... satu lepas... dan waktu mau buka yang satu lagi bi Asih bergerak.. wah aku kaget sekali.. tapi dia ngak bangun kali lagi mimpi...lalu aku memberanikan lagi membuka cantelan yang satu lagi.... dan akhirnya terbuka.....Aduh susunya indah sekali bentuknya besar hampir satu setengah kali bola tenis kali... terus warna pentilnya agak merah muda... bentuk susunya betul-betul bulat.. menonjol kedepan..Aku pandangi terus kedua buah dada tersebut ...indah sekali... apalagi bi Asih pakai kalung tipis warna kunig emas dan liontinnya warna ungu itu pas deket buah dadanya... serasi sekali....Aku semakin bernafsu... jantungku bedegup kencang sekali.. pingin rasanya meremas buah dada tersebut tapi takut bi Asih bangun dan apa yang harus kulakukna bila dia bangun... aku mulai takut saat itu.... akan tetapi hawa nafsuku sudah memmuncak saat itu. hingga lupa ama rasa malu tersebut... kini bi Asih udah setengah telanjang.. tinggal celana dalamnya saja... aku pingin tau juga kayak apa sih yang namanya memek itu... terus terang aku seumur itu belum pernah melihat memek asli kecuali di foto...Aku cari akal gimana ya... tiba-tiba aku lihat di meja bi Asih ada gunting kecil... wah aku ada akal.. nihku ambil gunting tesebut... lalu pelan-pelan aku masukan jari telunjukku ke samping celana bi Asih di dekat selangkangannya... aku tarik pelan-pelan agar dia ngak bangun... terlihat selangkangannya berwarna putih bersih.. setelah agak tinggi aku tarik celana nylon tersebut aku masukan gunting dan pelan pelan aku gunting celana dalam tersebut.. ada kali 10 menit aku lakukan itu akhirnya... segitiga yang pas didepan memek bi Asih putus juga ku gunitng... dan aku singkap calana dalam tersebut ke atas.....Kini aku betul-betul melihat kemaluannya Bi Asih tanpa sehelai benang pun... memeknya bentuknya rapat sekali kayaknya ngak ada lobangnya... bulunya halus tipis... samping-samping bibir kemaluan tersebut putih bersih agak sedikit gelembung tapi belahannya betul-betul rapat...Wah aku betul-betul udah nafsu buta saaat itu... Aku bingung gimana nich... pingin pegang memek tersebut tapi takut dia bangun... Ah aku nekat karena udah ngak tahan... lalu aku buka celana pendek ku dan celana dalamku..... wah penisku udah gede banget kayak batu panjang dan keras.. lalu aku gosok-gosok burungku pakai tanganku sendiri sambil ngeliatin tetek bi Asih dan dan memeknya....wah tersasa nikmat sekali.. rasanya burungku sampai bunyi greng.. greng gitu.. dan nikmat sekali... rasanya seperti mau pipis.. tapi ngak keluar-keluar. aku gosok lagi yang keras sambil ngebayangin kalo penisku itu sudah berada di dalam memeknya bi Asih... tapi ngak bisa juga keluar... ada kali 15 menit aku gosok-gosok burungku....akhirnya aku udah ngak tahan dan nekat.. pelan-pelan aku naik tempat tidur bi Asih......Aku ingat seminggu yang lalu bi Asih pernah dibangunnin oleh ibu gua jam sepuluh malam waktu itu ibu gua mau minta tolong di kerokin.. nah bi Asih ini waktu di ketok-ketok pintuhnya ampe setengah jam baru bangun.. dan dia minta maaf katanya bahwa emang dia kalo udah tidur susah di bangunin nya...Inget itu aku jadi agak berani mudah-mudah malam ini juga dia susah bangun... lalu dengan sedikit agak nekat aku angkat dan geser paha bi Asih yang sebelah kanan terus melebar.. wah untung dia ngak bangun juga.. bener-bener nich bi Asih dalam hatiku punya penyakit tidur yang gawat.. aku geser terus sampai maksimal sehingga kini dia benar benar mengkangkang posisinya... aku berlutut tepat di tengah-tengah selangkangannya.......pelan-pelan aku tempelkan burungku di memeknya bi Asih... tapi lubangnya kok ngak ada... aku agak bingung .... pelan-pelan belahan daging itu ku buka pakai jari ku.. terlihat daging warna merah jambu lembut dan agak sedikit basah.. tapi ngak keliatan lubang.. hanya daging berwarna merah muda dan ada yang agak sedikit menonjol kayak kacang merah bentuknya.. aku berfikir mungkin ini yang dinamakan itil oleh kawan-kawanku.... aku buka terus sampai agak kebawah dan mentok ngak ada belahan lagi... ternyata emang ngak ada lubangnya... aku bingung..... wah gimana nich........tapi aku udah nafsu banget.. lalu pelan-pelan kutempelkan helm burungku ke vagina bi Asih ternyata...ukuran helmku itu kayaknya kegedean sekali sehingga boro-boro bisa masuk....baru di bagian luarnya saja rasanya belahan memek bi Asih udah ngak muat....tapi ku pikir udah kepalang basah aku tempel aja helm burung ku ke memek bi Asih.. wah ngak bisa masuk hanya nempel doang... tapi aku bisa merasakan kelembutan daging bagian dalam memeknya bi Asih... enak sekali hangat..... aku gosok pelan-pelan....... dan memek bi Asih agak buka dikit tapi tetap aja kepala burungku ngak bisa masuk... makin lama makin enak... aku benar-benar udah lupa daratan ... dan gosokanku semakin kencang dan agak sedikit menekan kedalam... aku ngak sadar kalo bi Asih bisa bangun... akhir bener juga ketika aku agak tekan sedikit bi Asih bangun dan dia sepertinya masih belum sadar betul.. tapi beberapa detik kemudian dia baru aja sadar akan keadaan ini.... dia menjerit den. Bram ngapain... aduh den ngak boleh den.. pamali dia bilang.. terus dia dorong tubuh ke samping dan cepat-cepat dia menutup buah dadanya dan kemaluannya.... den jangan.... den.. keluar.... den...Aku seperti di sambar petir saat itu.. muka merah dan maluuuu banget ngak ketulungan... aku ambil celanaku dan lari terbirit-birit keluar..... langsung masuk kamar......rasanya mau kiamat saat itu... .. bingung banget... gimana ntar kalo bi Asih ngadu ke orang tua gua.... wah mati gue..... .....Besok paginya aku bangun pagi-pagi... terus mandi... ngak pake sarapan aku pergi kesekolah......di sekolah aku lebih banyak diam dan melamun... bahkan ada temen gua yang godaain gue dengan mengolok gue... gue tarik kerah bajunya dan hampir gue tabok untung keburu di pisahin ama temen gue...dan waktu pertandingan basket... gue.. di keluarin soalnya gue tonjok salah satu pemain yang dorong gue.... wah bener bener kacau.. pikiran gue saat..itu.Biasanya gue pulang sekolah jam 12.30... tapi aku ngak langsung pulang tapi main dulu kerumah temen gue ampe jam 5 sore baru gua pulang......Ampe dirumah... bi Asih udah menunggu di depan rumah... dia menyambutku... kok lama sekali pulangnya den .. bi Asih sampe khawatir..... tadi ibu telepon dari Jakarta bilang bahwa mungkin pulang ke Bandungnya hari senin sore... soalnya mba Rini (kakakku) masih belum melahirkan, diperkirakan mungkin hari minggu besok baru lahir.Aku hanya tersenyum kecut.. dalam hatiku wah bi Asih ngak marah sama aku... baik sekali dia... ...aku langsung masuk kamar... dan mandi sore...... terus tiduran di kamar.....Jam 7.00 malam bi Asih ketuk kamarku den.. den... makan malamnya udah siap....Aku keluar dan santap malam... lalu setelah selesai aku nonton TV.. bi Asih beres-beres.. meja makan...selama dia memberekan meja.. aku mencuri-curi pandang ke bi Asih... ah dia ternyata cukup cantik juga...badannya sedang tidak tinggi dan bisa di bilang langsing.. hanya ukuran dada dan pinggul bisa dibilang cukup gede....... bener bener seperti gitar......setelah selesai aku panggil dia... bi. bi.... tolong dong aku di bikinin roti bakar.. aku masih laper nich...baik den.... terus dia bikiin aku roti bakar dua tangkap....dan menghidangkannya di depan aku....dan langsung mau pergi..... tapi aku segera panggil lagi bi Asih jangan pergi dulu dong.......dia Jawab ada apa den.... ehmmmm itu bi emmm bi Asih tadi cerita ngak ama ibu soal semalam..... dia senyum wah mana berani bibi cerita.... kan kasian den Bram.... lagian kali bi Asih juga bisa kena marah....wah lega hatiku... bi Asih makasih ya.. dan maaf ya yang tadi malem itu...maaf celana bibi Asih rusak.. soalnya... emmm soalnya.... aku ngak tau harus ngomong apa.....Tapi kelihatannya bi Asih ini cukup bijaksana... dia langsung menjawab iya dech den bi Asih ngerti kok itu namanya aden lagi puber... ya khan...aku tertawa.. ah bi Asih ini sok tau ah.... dia juga tersenyum terus bilang den hati-hati kalo lagi puber...jangan sampai terjerumus...... Kembali aku tertawa... terjerumus ke mana... kalo ke tempat yang asyik sich aku ngak nolak... bi Asih melotot eh jangan den... ngak baik.... Terus bi Asih langsung menasihati aku... dia bilang maaf ya den Bram menurut bibi .. den Bram ini orangnya cukup ganteng... pasti banyak temen-temen cewek den Bram yang naksir... bi Asih juga kalo masih sebaya den mungkin naksir juga ama den Bram hi hi hi nah den Bram harus hati-hati.. jangan sampai terjebak... trus di suruh kawin... hayo mau ngasih makan apa...Tiba-tiba ada semacam perasaan aneh dalam diriku aku ngak tau apa itu.... trus aku jadi agak sedikit berani dan kurang ajar ama bi Asih..... Aku pandang dia.... terus aku bertanya... bi ... bi Asih khan udah pernah kawin khan... gimana sich bi rasanya orang begituan.......bi Asih nampak terbelalak matanya dan mukanya agak besemu merah... trus aku sambung lagi .. jangan marah ya bi.. soalnya aku bener-bener pingin tau katanya temen-temenku rasanya kayak di sorga betul ngak... bi Asih diam sebentar... ah ngak den selama bi Asih kawin 4 tahun.. bibi ngak ngerasa apa-apa... maksudnya gimana bi....masa bibi ngak begituan ama suami bi Asih... eh maksud bibi.. iya begituan tapi.. ngak sampai 1 menit udah selesai.....Aku semangkin penasaran.. ah masa bi... terus itunya suami bibi ampe masuk kedalam ngak.....EEhhh ngaco kamu... dia tertawa tersipu-sipu... ehmm ngak kali ya... soalnya baru didepan pintu udah loyo.... hi hi.....eh udah ah jangan ngomong begituan lagi.. pamali dia bilang... lagian bi Asih khan udah cerai 3 tahun jadi udah lupa rasanya.... sambil tersenyum dia mau beranjak bangun dan pergi....ehh bi bi..bi tunggu dong... temenin aku dulu dong.... trus dia bilang eh udah besar kok masih di temenin bibi udah cape nich... tapi setelah ku bujuk-bujuk akhirnya dia mau menami ku nonton TV dan ngobrol ngalor ngidul ngak terasa udah jam 9.00 malam.. diluar mulai hujan deras sekali... dingin juga rasanya... bi Asih pandai juga bercerita... cerita masa remaja dia... rupanya dia sempat juga mengeyam pendidikan sampai kelas 2 SMP.......Aku duduk di sofa panjang.. bi Asih duduk di karpet bawah... terus aku panggil dia bi sini dech...tolong liatin dong ini ku di bagian pinggang belakang kok agak nyeri... bi Asih datang dan pindah ke sofaku.. mana den ini nich aku tarik tangannya kepingang belakang ku... .. trus dia dia bilang ngak ada apa-apa kok... ....Saat itu tiba-tiba timbul lagi pikiran mesumku mengingat kejadian malam kemarin dan bi Asih ngak marah... kalo sekarang aku agak nakal dikit pasti bi Asih ngak bakalan marah....Lalu aku bilang ini bi Asih tapi bi Asih matanya meram ya... soal aku malu keliatan bodongku... dia tersenyum dan menganguk... lalu memeramkan matanya.... nah ini aku pikir kesempatanku.....aku pegang kecang-kencang pergelangan tangan bi Asih... lalu aku buka resleting celanaku dan aku tarik kebawah celana dalamku.... burungku masih setengah besar belum gede banget........Lalu aku tarik tangan bi Asih dan letakkan di ata burungku.... dia bilang ehhh apa ini... trus aku bilang eh awas jangan buka matanya ya... dia nganguk dan tanya lagi apa sich ini kok anget...Begitu tersentuh tangan bi Asih menaraku mulai berdiri dengan gagah sekali dan mulai membesar cepat sekali... rupanya bi Asih curiga .. dan membuka mata... eh pamali dia bilang.... tapi aku tahan terus tangannya dan aku pandangi mata bi Asih.. dia tersnyum malu dan tersipu.. dengan lirih dia bilang jangan den ngak sopan....tapi aku bilang tolong dong bi... pingin banget dech.....Kayaknya bi Asih kasian sama aku... dia mengangguk... dan bilang.. cepetan ya den sebentar aja jangan lama-lama dan ngak boleh macam-macam...ntar kalo orang tua aden tau bi Asih kena marah.. dan dia bilang eeeh ih kok gede banget sich den...iya jawabku singkat...lalu tangan bi Asih menggenggam burungku dengan lembut dia gosok-gosok dari ujung kepala sampai kepangkal burungku... kira-kira 10 menit... dengan agak serak dia bilang udah belom den.....Saat itu aku merasa melayang... dan ntah gimana tiba-tiba keberanianku timbul... aku pegang lengan bi Asih terus naik ke bahu... leher.. pelan-pelan turun ke dadanya... dia bilang eh den mau apa... tapi aku pura-pura ngak denger tanganku terus turun dan sampai kedadanya yang agak membusung kedepan.. bi Asih agak sedikit bergetar badannya.. dia bilang dengan halus jangan den....jangan. tapi dia tidah menepis tanganku... aku semakin berani... pelan-pelan aku remas dadanya kiri kanan bergantian... nampak napas bi Asih agak memburu.. aku semkin berani lagi... teringat akan bentuk buah dadanya yang indah tadi malam.. maka dengan sedikit nekat tangan ku mulai masuk ke BH nya ......ah susunya terrasa lembut sekali...bi Asih bilang lagi dengan lirih... den jangan .... aku ngak perduli....lalu aku buka baju atas bi Asih dan ku buka juga BH nya... mula-mula bi Asih menolak untuk di buka tapi dengan agak sedikit maksa akhirnya dia pasrah... dan terbuka bagian atas badan bi Asih... susunya munjung membusung kedepan besar, putih dan bundar.... lalu mulai kuremas-remas bi Asih agak sedikit menggeliat.....napasnya memburu ........aku ingat akan buku porno yang kubaca... lalu aku coba praktekkan.... ya itu aku mencoba mencium pentil dari teteknya bi Asih dan lalu aku emut-emut seperti mengemut permen...... wah kayaknya bi Asih kenikmatan banget... napasnya memburu dan agak sedikit terengah-engah... waktu aku kenyot lagi pentilnya dia pegang kepalaku dan bilang den.. udah den... udah.... ah bi Asih ngak tahan... katanya.....aku malah semakin semangat seluruh teteknya bi Asih aku jilatin aku kulum-kulum aku emut-emut.....bi Asih semakin gelisah dan tangannya yang tadi mengocok-ngocok burungku kiri terhenti bergerak dan hanya meremas burungku dengan kencang sekali... agak sakit juga rasanya tapi aku biarin aja....Supaya lebih enak akhirnya aku buka baju atas bi Asih aku ciummi lehernya, bahunya yang putih....dan aku buka seluruh celanaku...sehingga bi Asih bebas memegang burungku dan telurku bergantian....Adegan ini cukup lama juga berlangsung hampir sejam... kali aku liat jam diding udah jam 10.30....Lalu aku rebahkan bi Asih di sofa panjangku.. mula-mula dia agak sedikit nolak tapi aku dorong dengan tegas dan lembut dia akhirnya nurut aja... kini aku lebih leluasa lagi menciumi buah dadanya bi Asih.... pelan-pelan agak turun ... aku ciummi perut bi Asih.... dia tampak agak kegelian.... aku semangkin terangsang... aku ingat-ingat apa lagi yach yang harus dilakukan seperti di buku-buku porno...Akhirnya pelan-pelan aku buka kain kebaya bi Asih... dia bilang eh den jangan mau apa... ngak bi tenang aja dech. aku bilang.. akhirnya kain bi Asih copot sudah dan aku buang jauh-jauh...dia tinggal memakai celana dalam saja.... eh.. biarpun dia ini orang desa... tapi ternyata badannya bagus banget seprti gitar dan mulus banget. betisnya indah, pahanya kencang sekali... mungkin sering minum jamu kampung sehingga badannya terawat baik.....Aku ciummi perut bi Asih terus turun kebawah... dan terus kebagian kemaluannya.... dia tampak mendorong kepalaku... jangan den... tapi lagi-lagi aku paksa akhirnya dia diam.. setelah dia agak tenang aku mulai beraksi lagi.. celana dalamnya kutarik turun... wah ini dia betul-betul melawan dan ngak kasih aku kesempatan dia pegangin celananya itu... tapi aku terus berusaha... adu tarik dan akhirnya.. setelah cukup lama dia menyerah tapi tetapnya tangannya menutupi kemaluannya... pelan-pelan aku ciummi tangannya akhir mau minggir juga dan kuciumi kemaluannya... bi Asih tampak mengelinjang.. dan dia bilang jangan den... jangan den.... tapi aku ciumi terus....akhirnya suaranya itu hilang yang terdengar hanya napasnya aja yang terengah engah.... dibagian tengah memek agak keatas memek bi Asih ada daging agak keras seperti kacang... mungkin itil... nah itilnya ini aku jilat-jilat dan kadang-kdang aku emut-emut dengan bibirku...Aku ciumi terus memek bi Asih.. dan tau tau aku merasakan sesuatu yang agak basah dan bau yang khas.bi Asih tampak menggoyang-goyangkan kepalanya dan pantatnya mulai goyang-goyang juga...cairan yang keluar dari memek bi Asih makin banyak aja.. dan makin licin....Ah aku udah ngak tahan lagi rasanya...lalu kubuka kaos bajuku... dan aku juga sekarang sama bugilnya dengan bi Asih...aku periksa lagi memek bi Asih.. yach masih seperti tadi malam ngak keliatan lobang apa-apa cuma daging-daging merah jambu mengkilat karena basah... aku coba tusuk pakai jari tanganku dan eh ada juga lubangnya tapi kecil banget pas sejari tanganku ini, rupanya lubang itu tertutup oleh lapisan daging... aku pikir-pikir apa cukup ya lubang ini kalo di masukin penisku...Aku penasaran lalu aku bangun dan belutut di pinggir sofa dan burungku aku arah kan ke memek bi Asihbi Asih nampak terkejut melihat aku telanjang bulat dan dia hendak mau bangun... dan bilang den jangan sampai ketelanjuran... ya ngak boleh... aku bilang iya bi tenang aja... aku cuma mau ngukur aja kok...dan dia percaya lagu rebahan lagi... sambil bilang janji ya den jangan di masukkin punya aden ke liang nya bi Asih... iya jawabku singkat... lalu aku ukur-ukur lagi lubang memek bi Asih dengan penisku ternyata memang penisku ini ngak normal kali.. karena jangankan lubang yang didalan tadi itu yang seukuran jari telunjukku besarnya... bibir bagian luarnya aja ngak muat... aku mulai berfikir ... wah bener kata joko aku ini ngak normal..... trus aku bilang ke bi Asih.... bi kok kayaknya lubangnya bi Asih mampetnya... ngak ada lubangnya... bi Asih mengangkat kepala... tau ya... dulu juga burungnya suami bibi rasanya ngak pernah masuk sampai kedalam...wah aku pikir yang normal aku atau bi Asih nich... tapi dasar udah nafsu banget... ngak ada lubang .... lubang apapun jadi dech aku pikir... memek bi Asih semakin basah aku pegang-pegang terus... lalu aku tarik bi Asih bangun dan ku ajak ke kamar orang tuaku... dia menolak ech jangan den... ngak apa-apa aku bilang.... aku paksa dia kekamar orang tuaku dan aku rebahkan dia di tempat tidur spring bed... kebetulan tempat tidur itu menghadap ke kaca jadi aku bisa liat di kaca... lalu aku naik di atas tubuhnya bi Asih... dan bi Asih agak sedikit meronta.. den kan janji ya ngak sampai di gituin.... iya dech aku bilang....Aku lalu turun dari tubuh bi Asih dan berlutut disamping tempat tidur lalu kutarik ke dua kaki bi Asih sampai pantat bi Asih tepat dipinggiran tempat tidur lalu aku ciumi lagi memek bi Asih ... dia kelihatannya senang diciumi lalu aku praktekkan apa yang aku baca di buku porno ... aku masukan lidahku di sela-sela memek bi Asih .. terasa hangat dan basah .. lalu aku mainkan lidahku.. aku jilat-jilat seluruh daging berwarna merah muda yang ada di dalam memek bi Asih... aku jilat terus dan kadang kadan aku sedikit hisap-hisap bagian itilnya itu... bi Asih tampak kegelian dan menggoyang-goyangkan pantatnya ke atas seolah-olah hendak mengejar lidahku.... terasa semakin basah memek bi Asih dan mungkin sudah banjir kali dan semakin banyak cairannya... semakin licin..........aku lalu bangun......dan aku dorong lagi bi Asih ketengah tempat tidur dan aku timpah lagi tubuhnya.......Aku ciumi lagi tete bi Asih yang keras dan kenyal itu... dia nampak mulai menikmati lagi dan agak sedikit mengerang-erang dan mengelus elus rambut kepalaku.... pelan-pelan aku kangkangin paha bi Asih mula-mula dia agak melawan tapi akhirnya pasrah... dan kutaruh penisku tepat di tengah-tengah vagina bi Asih...pelan-pelan aku dorong.. dorong penisku ke vagina bi Asih... yang sudah mulai banjir dan mulai licin... aku merasa bahwa sekarang helm penisku sudah mulai terjepit oleh bibir memeknya bi Asih tapi tetap belum bisa masuk... pelan pelan aku tekan agak keras bi Asih tampak agak menggelinjang dan bilang aduh den jangan di toblos den... aku ngak perduli aku tekan lagi tapi susah juga rasanya sampai dekok kedalam vagina bi Asih tapi belum mau tembus juga... aku tarik lagi sedikit kebelakang dan dorong lagi tetap seperti tadi ... tapi aku ngak menyerah aku tarik dorong tarik dorong ada kali 10 menitan.. dan waktu aku tarik-dorong itu terdengar bunyi ceprak..ceprok..ceprak... rupanya vagina bi Asih bener-bener banjir... dan tiba-tiba aku mulai merasakan ada celah yang terbuka.... aku makin semangat tarik dorong tarik dorong... bi Asih nampak mulai merem melek matanya... dan matanya membalik balik kebelakang....mulutnya mendesis desis... aku jadi semakin nafsu lalu aku kulum bibir bi Asih.. dia menyambut ciumku dengan hot sekali.. baru pertama kali ini aku berciuman ... jadi ngak tau caranya tapi.. aku pake naluri aja aku isap-isap lidah bi Asih .. wah dia makin membinal... dan celah di memek bi Asih makin terasa agak melebar... dan aku merasa kalau aku tekan agak keras pasti helm burungku ini bisa masuk.. ke dalam memek bi Asih... lalu aku ambil ancang-ancang... kebetulan kedua jari jempol kaki ku bisa masuk di sela-selah tempat tidur sehingga aku punya pijakkan untuk mendorong kedepan...pelan-pelan aku hitung dalam hati sambil tarik dorong tarik dorong satu... dua tiga.... empat ...liiimaaku tekan yang keras penisku ke memek bi Asih bibir bi Asih yang masih ada di dalam mulutku tiba... bersuara huhh...ehmmh hupelan-pelan aku hitung dalam hati sambil tarik dorong tarik dorong satu... dua tiga.... empat ...liiima aku tekan yang keras penisku ke memek bi asih, sementara bibir bi asih yang masih ada di dalam mulutku tiba... bersuara huhh...ehmmh huhuu dan bi asih memundurkan pantatnya kebelakang... dia memandang ke padaku dan menggelengkan kepala ...jangan... sakit... dia bilang... aku mengangguk.. lalu aku mulai kerja lagi.. tarik dorong... belum mauk-masuk juga.. helm penisku... tapi akibat dorongang tadi kayaknya agak sedikit terbuka....aku cari akal... wah gimana nich.. ya.... lalu kedua tanganku turun kebawah dan kumasukan kebelakang pinggang bi asih lalu turun sedikit kuremas-remas pantat bi asih yang besar ... kayaknya dia tambah semakin terangsang... dan aku pikir ini lah saatnya... aku pegang pantat bi asih keras-keras dan kutahan sekuat tenaga..dan kuhitung lagi satu. dua tiga... tekaaaaannnnnn......... bi asih tampak meronta-ronta... tapi aku ngak perduli terus kutekaaaaaaan dan blesssssss penisku masuk kira-kira sepertiga... bi asih meronta lagi...mungkin merasa sakit pada vaginanya karena penisku ukurannya kebesaran sekali sehingga aku juga merasa bahwa kayaknya lubangnya bi asih kecil sekali sampai-sampai penisku ngak bisa bergerak terjepit seperti mau dipress rasanya kurang enak juga sehingga bi asih berusaha mendorong pinggulku keatas tapi aku lebih cepat lagi... kutarik tanganku dari pantat bi asih dan ku pegang ke dua tangan bi asih dan kutarik ke atas kepalanya dan kutahan... dia berusaha meronta... dengan mengeser pantat kekiri dan kekanan tapi aku ngak mau lepas... aku ikuti arah pergerakan pantat bi asih.. dia kekanan aku kekanan bi asih kekiri aku kekiri dia mundur aku maju.... bi asih agah merintih-rintih dan seperti orang makan cabai pedas.... dia memang kuat pinggangnya... terus goyang kiri dan kanan .... tapi aku terus tancap burungku yang udah masuk sepertiga ke memek bi asih.... akibat gerakan bibi asih ini mula-mula penisku yang ngak bisa bergerak akibat terjepit memek bi asih mulai bisa bergerak dan aku aku malah semangkin terangsang karena dengan gerakan kiri-kanan gitu penisku terasa tersgesek-gesek oleh vaginanya bi asih. terus aku panteng... penisku di dalam memek bi asih dan memang saat itu rasanya lobang bi asih sempit sekali.. dan penisku terasa di emot-emot oleh memeknya bi asih... Lama-lama gerakan bi asih agak melemah dan nafas agak terengah engah... dan agaknya dia mulai bisa menerima kehadiran penisku di dalam memeknya dan sakitnya mulai hilang..... Pelan-pelan aku mulai beraksi lagi kutarik sedikit penisku keluar tapi buru-buru kutekan lagi kedalam. agar ngak lepas.. terasa agak sempit tapi enak karena memek bi asih udah basah banget jadi agak licin dan lancar pergerakkan penisku lalu aku terik sedikit..dan tekan kedalam.. kira-kira 5 menitan... aku melalukan hal itu aku benar-benar merasa nikmat sekali yang tak terhingga... lalu dengan amat sangat bernafsu aku mulai menekan lagi penisku agak masuk lebih dalam lagi... aku tarik dulu keluar sedikit lalu aku tekan keras-keras kedalam bi asih menggelinjang.. dan bersuara ... aduh.. huhh hmmm tapi suara desahan itu malah makin merangsangku dan kutekan dengan keras lagi dan .. blesssss masuk lagi penisku lebih dalam bi asih agak sedikit meronta.. mungkin agak sedikit nyeri... tapi aku ngak perduli aku tekan lagi lebih keras lagi... cabut sedikit tekan lagi... bi asih agak meronta-ronta... aku semakin nikmat sekali rasanya agak seperti mau kencing... aku semakin bersemangat... dan dengan sekuat tanaga.. aku tekan tiba-tiba pantat ku kedepan .... dan bleessssss penisku amblas kedalam memeknya bi asih.... bi asih agak sedikit menjerit..dan berusaha mencabutnya dengan menggeser pantatnya kekiri dan kekanan lagi.. tapi aku sudah samkin pintar aku tekan terus dan kuikuti pergerakannya.... setelah bi asih ngak melawan lagi mulai aku cabut setengah dan kumasukin lagi .. begitu berulang-ulang.. nampaknya bi asih mulai menikmati dan dia kelihatan menngejang dan lalu memeluk aku keras-keras..... dan mulutnya mendesis desis... aku semakin bersemangat... dan genjotanku semakin keras dan kencang.... dengan kedua kaki ku kukangkangkan paha bi asih lalu aku genjot lagi penisku keluar masuk..... kira-kira 10 menit.. bi asih mengejang lagi dan memelukku lebih kencang lagi.. kayaknya dia orgasme lagi.... dan... setelah itu dia kelihatan agak loyo... tapi aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari penisku ... aku semakin keras mengocok penisku di dalam memek bi asih...dan kulihat dari kaca.. bagaimana penisku keluar masuk memek bi asih... bila aku tekan... tampak memek bi asih dekok kedalam dan bila aku tarik keluar kelihatan bibir memeknya ikut munjung ke depan......... kira-kira.... 15 menit ... aku merasa helm kepalaku agak panas dan sret-sret.... ada sesuatu keluar dari penisku... aku merasa nikmat banget... aku tekan keras-keras penisku di dalam memek bi asih... dan bi asih yang tadi udah lemes tampak bersemangat lagi dan dia goyangkan pantatnya kekiri kekanan.... aku semakin kenikmatan... dan tiba-tiba terasa lagi seeer serr ada cairan keluar dari penisku... dan bi asih juga kelihatannya merasa nikmat juga... dia seperti mencari-cari sesuatu... pantatnya naik-naik keatas dan tiba-tiba dia mengejang dan memelukku keras sekali dan kedua pahanya melilit keras di pingganku... seperti orang main gulat.... aku ngak berkutik ngak bisa bergerak... dan terasa cairan dari dalam penisku semakin banyak keluar....... bi asih semakin menggila dia mengigit.. gigit... bahuku.... dan menjerit lirih.. den.. enak sekali den......... aku peluk bi asih keras-keras..... dan kita berpelukan kurang lebih lima menit....... penisku yang tadi keras kayak batu sudah mulai melembek... dan bi asih nampak tergelak.. lunglai di sebelahku...... Aku lalu bangun dan kucabut penisku dari memek bi asih.. dan kulihat memek bi asih.... ... Aku pegang dan aku buka belahannya kini nampak ada lubangnya.... dan aku melihat di seprai dekat memek bi asih banyak sekali cairan.. dan agak berwarna sedikit merah jambu.... aku agak kaget... dan bilang ama bi asih... bi ..... bibi masih perawan ya........... Bi Asih tersenyum manis... dan menjawab... iya den soalnya selama bibi nikah... bibi belum pernah kemasukan.... karena mantan suami bibi dulu orangnya loyo.... baru nempel udah banjir dan lemes.... Aku menggumam.... pantas susah banget masuknya.......terus si bi asih nimpali bukan susah....tapi emang burungnya den bram yang kegedean.... bibi ampe hampir semaput rasanya...... Malam itu aku tidur berdua dengan bi asih di kamar ortu gua.... kita tidur telanjang bulat.... cuma di tutup pakai selimut...... pagi-pagi jam 5 pagi udah terbangun.... dan penisku tiba-tiba mengeras lagi.... ... tanpa permisi... aku langsung naik lagi kebadan bi asih.....yang masih setengah tidur dan dia terbangun..... Aku kangkangin lagi pahanya kekiri dan kekanan... bi asih diam aja pasrah hanya memandangi perbuatan ku dengan sedikit senyum..... lalu penisku yang sudah mulai mengeras.. aku tempelkan lagi di depan memek bi asih dan aku tekan-tekan... tapi ngak bisa masuk-masuk... bi asih tersenyum.... dan dia bilang sini bi asih bantu... lalu tangannya kebawah memegang penisku dan membimbing penisku tepat di muka lubang memeknya bi asih.. terasa hangat... lubang itu dan mulai basah... ternyata kali ini ngak sesulit tadi malam... helm penisku dengan beberapa kali tusukan maju mundur... mulai bisa masuk kedalam tapi tetapnya aja terasa sempit walaupun memek bi asih mulai basah dan licin... dan kelihatanya bi asih juga merasa bahwa penisku luar biasa ukuranya... beberapa kali dia sedikit mengaduh... tapi... setelah memeknya betul-betul banjir... dan penisku bias masuk seluruhnya.. dia mulai bisa menikmati... dan... pagi itu aku bersenggama dengan bi asih sampai jam 7.00 pagi... bi asih orgasme sampai 3 kali... dan aku muncrat juga tapi ngak sebanyak tadi malam..
air mani gue muncrat didalam memeknya..ouuuhh
Untuk sambilan gue juga punya usaha kursus private komputer. Siang ituIbu Susan, salah satu klien telpon. Katanya dia belum tahu juga carakirim e-mail. Maklum baru 2 x gue ajarin. Dari pembicaraan disetujuiuntuk ketemu jam 7 malam. Karena dia sampai rumah jam 6 sore. Dia kerjajadi interpreter bahasa Jepang.Jam 7 kurang 10 gue sudah sampai di Lobby Apartemen-nya di bilanganBenhil. Nggak lama dia nongol di Lobby dengan masih pakai pakaiankerjanya. dan segera mengajak saya naik ke Apartemennya. Tanpa gantibaju, dia langsung ke meja komputernya dan menghidupkannya. Nggak lamamasalahnya beres, e-mailnya bisa terkirim semua. Dia cuma lupa nggakclik “send & receive”.Terus dia minta diajarin browsing pakai Explorer. Berhubung dia jarangpakai komputer, kagok bener dia pegang mouse-nya. Entah apa sebabnyague bermaksud kasih contoh, eh tangan dia masih pegangin mouse. Yahtangan nya keremes tangan gue yang gede. Waduh …. alus juga tuh tangan.Gue buru-buru tarik tangan, nggak enak ntar dikatain kurang ajar.Suami-nya adalah temen boss gue. Kalau dilaporin bisa-bisa gue dipecat.Dia lepasin mouse, dan gantian gue pegang sambil ngasih tau dia bedanyabentuk kursor.Gue belum suruh dia coba, eh … tangannya udah nyelosor duluan megangmouse yang masih gue pegang. Yah tahu sendiri khan tangan gue yang diapegang. Gua pengin lepasin tapi sayang abis halus banget telapaknya.Dan bau parfumnya juga lembut, membuat gua betah didekatnya. Gueantepin aja. Gua pikir dia akan lepasin …. eh nggak juga. Malah tangangua dielus-elus. Maklum tangan gua bulunya oke punya.Gue beranikan diri untuk menegurnya “Ibu …. , sebentar lagi Bapakpulang….” Belum sempat ngomong banyak, jari telunjuk tangan satunyadiletakan didepan bibir sambil …. psst….., dan kata dia “hari ini diake bini tuanya …..”. Aduh rejeki nomplok nih, kata gue dalam hati. Tapigue pura-pura nggak berminat. Meski dalam hati udah suka banget.Tangan gua yang masih pegang mouse masih di elus. Kebetulan gua dudukdisebelah kanannya, jadi tangan kiri gua bebas. Dan lagi kursinya nggakpakai tangan-tangan. Makin enak aja …. Tangan kiri nya mengelus tangankiri gue dan diangkatnya, dan ditaruh diatas pahanya yang putih andmulus. Meski dia pakai rok nggak mini, tapi karena duduk ketarik jugakeatas. Roknya yang biru tua menambah kontrasnya warna.Abis naruh tangan gue,tangannya bergerak lagi ke tengkuk gue, dandielusnya. Wow makin on gua. Secara reflek tangan gua juga membalasaksinya, dan gua elus pahanya pelan-pelan. Makin lama makin keatasmenuju pangkalnya. Roknya pun makin tersibak keatas terdorong tangangua. Makin keatas makin mulus. Gua usap pangkal pahajya dan matanyamulai nanar.Ibu Susan sebenarnya biasa saja, nggak terlalu istimewa. Tingginyajugatidak sampai 160 cm (perkiraan gue sih). Kalau berdiri dia tidaklebih tinggi dari pundak gue. Cuma dia menang body yang memang yahutdan kulitnya yang putih mulus. Maklum dia masih keturunan Chinesse dankali aja nggak pernah main di got waktu kecilnya, jadi nggak ada bekaslukanya. Cuma kasihan dia, cuma jadi bini muda. Jadi jatah batinnyanggak terima full. Padahal usianya belum sampai 30 – an, hampir sebayague. Kali aja dia “older than me”Tangan gua ngilang didalam rok kerja nya ngusap-usap pangkalpahanya.Kemudian di berdiri di depan gua yang masih duduk. Lalu kancingbaju-nya dibuka semua. Tapi bajunya nggak dilepas. Dia tarik tangan guadipindahkannya ke pinggangnya dia. Kaus dalamnya gua angkat, danperutnya yang putih bersih pun terpampang didepan gua. Kuciumi perutnyadan sekeliling pusarnya kujilati. Dia menggelinjang kegelian. Keduatangannya mengacak-acak rambutku dan kadang kala dijambaknya. Pedesjuga sih.Baju dan kaus dalamnya sudah lepas dari roknya. Kaus dalamnya kuangkatlebih keatas, dan tampak BH nya menyangga bukit yang tidak terlalubesar tapi juga tidak terlalu kecil. Pokoknya bentuknya bagus danukurannya pas. Dan tentu saja halus. Kebetulan kancing BH-nya didepan,jadi tanpa usaha lebih keras gua udah bisa nglepas tu BH. Bukitkembarnya tersaji jelas di depan gua. Sedikit kendor, tapi masih oke.Gua sambut salah satu putingnya yang berwarna coklat muda dengan bibirdan lidah. Sementara tangan kanan gua melintir puting nya yang satulagi. Seperti cari gelombang radio. Betul juga … nggak lama terdengandesis seperti gelombang FM stereo. Tangan gua yang satu lagi nyusuplagi kedalam roknya dan meremas remas pantatnya yang juga sudah agakturun. Maklum lah sudah hampir 30 an.Tangannya Ibu Susan (Oh ya gua tetep panggil dia Ibu karena diacustomer gue, padahal umur sih paling beda 1 – 2 tahun tuaan dia) yangsatu lagi sudah pindah aktivitasnya ke selangkangan gua. Barang guayang sudah on tampak jelas menonjol dari balik pantalon gua. Itu yangmenjadi sasaran aktvitasnya. Bahkan zipper pantalon gua udah diaturunin, jadi tampak jelas ujung moncong meriam gue dari balik kancutgue.Karena dielus terus moncong meriem gua tambah panjang terus sampaiukuran maksimalnya.kira 2 centimeter dibawah puser. Tangannya pun udahmasuk kedalam CD gua dan mulai mengocok-ngocoknya. Akhirnya ujungmoncong meriam keluar dengan sendirinya dari CD gua. Gua juga nggak maukalah set, tangan gua yang dipantat gua pindahin aktivitasnya kesela-sela paha dia. Dari CD nya udah terasa kalau vaginanya udah basah.Gua tarik sedikit CD nya kebawah, dan dengan sedikit digeser kesamping,gua udah bisa pegang belahannya. Lalu gua usap-usap dengan jari tengah.Sementara desis FM stereonya makin keras terdengar …. sssst ………uuhhhhhh ……. uhhhhhhh ……. sSssssssssstttttt.Dengan dibantu jari telunjuk, gua pegang kacang/itilnya -yang kebetulanagak panjang- dan gua pelintir-pelintir. Dianya makin keras gerakanbadannya dan kepalanya sering ditarik kebelakang. Dan badannyabergetar. Suaranya makin seru ….. untung di apartemen. Coba kalau kalautinggal dikampung ….. pasti banyak yang nyamperin dikira ada berantem.“Dan ….. lepasin celana ik, ….. ik udah nggak tahan. Dengan patuh guapenuhi permintaannya. Sementara tangannya sibut melepas sabuk gua danmemelorotkan pantalon dan CD gua sekaligus hingga lutut. Dia agakterkejut melihat moncong meriam gua. “Jij punya ukuran boleh juga……dari pertama jij kesini udah ik perhatikan, makanya ik pingin” katanyasetengah sadar setengah terdengarSementera CD nya sudah tergeletak dilantai. Gua masih duduk di kursitanpa sandaran tangan. Gua angkat roknya dan gua ciumin pahanya. Bahkangua sempat kasih tanda merah /cupang di kedua pangkal pahanya. Diasudah nggak sabar lagi, tanpa beri gua kesempatan untuk nglepasincelana secara sempurna, dia udah pegang ujung meriem gua dandibimbingnya, lubangnya nan basah dan hangat. Serta berbulu sedikitpada tasnya saja. Persis kaya memek anak-anak.Pelahan tapi pasti Ibu Susan menurunkan pantatnya, blesssssssssss……………Matanya terbelalak merasakan batang gua nyusup dengan hangat kelubangnya. Rupanya basahnya sudah sempurna hingga tanpa kesulitan sudah¾ batang gua masuk ke tubuhnya. Tapi berhenti sampai disitu saja, nggakdi terusin lagi.“Dan ….. batang jij panjang betul” katanya sambil mulai menaik turunkanpantatnya. Sementara gua tenangin pikiran, ambil napas, dan kosentrasiketempat lain. Biar customer gua puas duluan. Gua coba perhatiin TVyang lagi nyiarin sinetron. Jadi konsentrasi gua nggak ke kontol yanglagi dikerjain abis-abisan sama Ibu Susan. Naik turun …. digoyangkekiri dan kekanan……. diputar. Entah diapain lagi. Eh …. Bener nggaklama badannya terasa bergetar lalu melenguh kaya sapi .. uhhhh …. yanglebih keras dari sebelumnya dan tiba memeluk gua kenceng bener danjarinya meremas punggung gua. Untung gua masih pakai baju. Kalau nggakbisa nancep tuh kuku ke punggung. Peluhnya menetes ke baju kerjanyayang belum sempat dilepas, terlihat makin cantik dengan peluh di rambutkeningnya.Sementara telor gua juga terasa basah kena cairan dari vaginanya.“Uggghh … gila, enak sekali” katanya. “Ibu terusin aja” gua nimpali.“Ah … panggil San aja, entar ik lemes banget” jawabnya. Batang gua jugaudah terasa senut-senut, mau explode muatan. Tapi gua tahan dulu. Guaangkat kedua kakinya pada belakang lututnya dengan kedua tangan,sehingga seperti digendong. Tapi batang gua masih nacep di lubangvaginanya.Lalu gua jalan ke tembok dan gua pepetin dia ketembok dengan tetap guagendong. Buat gua tidak ada masalah ngangkat dia. Nggak percuma guahobby olah raga. Lalu gua mulai kerja nggoyangin pinggang maju mundur …goyang kiri …. goyang kanan. Matanya sebentar-sebentar terpejam,sebentar-sebentar terbuka lebar. Sisa air yang dia keluarkan tadimenimbulkan irama yang teratur ….. cik … cik …. cik ….. seirama dengangoyangan pantat gua. Nggak lama dia keluarkan lagi muatan dari dalamvaginanya. Suara erangannya lebih seru dari yang pertama. Leher guadipeluknya kenceng didekep ke dadanya, disela sela bukit.“Dan …. jij sudah nyampe belum ?” tanyanya setelah berhasil mengaturnafasnya. “Hampir bu”. “Turunin ik dulu” tanpa mengiyakan dia gueturunin lalu melangkah ke meja tamu mengambil tisue. Dia masukintangannya ke rok dan dia lap memeknya yang basah kuyup. Sementarabatang saya senut-senutnya makin keras pertanda muatan minta dibongkar.Dengan tidak sabar gua ikuti Ibu Susan ke ruang tamu, dan dari belakangua peluk dia. Lalu gua minta dia menunduk dengan kaki mengangkang.Lalu gua naikin rok kerjanya hingga pantatnya yang putih kemerahan (lopercaya nggak kalau pantatnya berjerawat, padahal lainnya mulus) danmemeknya yang putih kemerahan dengan bulu yang tipis tampak menantanguntuk dijamah. Dengan bepegangan pada sandaran tangan kursi tamu.Dia menikmati lagi sentuhan gua. Kali ini yang bekerja lidah gua. Guajilat sedikit kacangnya dan di "suck” agar basah lagi. Nggak samapaidua menit udah tampak ada cairan bening lagi di memeknya. Maklumlampu-nya nggak dimatiin dan terang lagi. Jadi detilnya kelihatanjelas. Gua udahin “sucking & licking”, karena muatan gua udah merontaminta dikeluarin. Lalu gua masukin lagi dari belakang kontol gua kememeknya. Dia mendesis lagi demikian juga gua. Hangat dan lembab. Lalugua mula goyang kiri kanan, kadang-kadang gua putar. Sementara guamakin berat nahan muatan gua, gua tanya .“Bu boleh keluari di dalam …. “. “Boleh, emang sudah hampir…. “."#147;Ya”. “Kita sama-sama yal. Gua goyang terus sampai gua terasa enakbener karena muatan gua udah sampai deket pintu. Lalu gua peleuk diadari belakang sambil gua remes dadanya. Dan ….. cret ……. cret ……… cret……. cret, air mani gua muncrat didalam lubang vaginanya. Dan Ibu Susanpun merintih …………dan lalu mencengkeram tangan tangan kursi dengan eratserta badannya bergetar dan menegang.. Rupanya dia klimaks juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

belajar yangrajinya